Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku

Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku
CHAPTER 07


__ADS_3

"Iya, tapi aku gak bakal ngeluarin dia dari KK. Hmmm kamu kok keliatan senang banget kalau Brian bakal di jadikan anak angkat dengan adikku?" tanya tuan Sanjaya menaiki satu alis matanya.


...••••selamat membaca••••...


...🍁🍁🍁...


...*...


...*...


...*...


Seketika, Mita pun terdiam dan menyengir panik. "Aahh maksudku itu lho mas, kan Brian ada yang ngurusin. Itu jugakan Brian lagi sakit, adik kamu kan dokter. Nah jadi Brian bisa sembuh di tangan adik kamu, mas." Jawab Mita yang berbohong.


"Ooohh jadi kamu bilang aku gak bisa ngurusin anakku sendiri, gitu? hahaha aku bisa kok ngurusin dia, asal kamunya bukan istriku. Dia kabur dari rumahkan karena kamu. Dia gak suka sama kamu." Ujar tuan Sanjaya, sambil meletakkan tangannya ke pipi.


"Hmmm bu-bukan gitu mas maksud aku." Jawab Mita terbata-bata.


"Bagaimana pun dia, dia tetap anakku Mita. Hartaku pastiku serahkan padanya, karena dia anak semata wayangku. Kalau sekarang kita sudah punya anak, pasti harta itu ku bagi dua dengan Brian." Ujar tuan Sanjaya sambil memainkan pulpennya.


"Aku yakin kok mas, kita pasti punya anak. Aku yakin, tapi kalau kita cerai. Kamu harus bagikan harta gono gini ke aku." Jawab Mita sedikit emosi.


Cara Mita berbicara seperti itu, Sanjaya dapat menilai dari sifat asli Mita yang sebenarnya.


"Apa maksud kamu berbicara seperti itu? aku tau kok kamu pasti ingin mendapatkan hartaku kan? kamu gak bisa, kenapa aku bilang gak bisa. Karena semua hartaku sudah berada di tangan Brian. Semua dia yang bertanda tangan. kalau kamu ingin cerai dan ingin banget mendapatkan harta gono gini, pasti kok kamu dapat. Tapi, kamu hanya bisa dapat sedikit. Karena kamu gak pernah ikut bekerja. Ini semua harta dari harta warisan. Ini juga ada hasil dari mantan istriku. Tapi dia gak mau ngambil, karena dia berikan semua itu ke Brian." Ujar tuan Sanjaya sambil senyum remeh.


Mita lagi-lagi terdiam membatu, dan tidak terima jika harta gono gini nanti dia hanya di beri sendiri. "Yang adil dong mas, masa iya aku dapat sendiri." Jawab Mita yang tidak terima.


"Cieee... Udah siap-siap cerai ni ye..." Ujar tuan Sanjaya memancing keributan.


...***...


...DI RUMAH DOKTER HENDRY...


Brian duduk di tepi ranjang sambil menatapi setiap sisi kamar barunya. "Luasnya, bisa dilukis ni dinding." Gumam bersuara, Brian.


Brian terus menatapi setiap sisi sudah dinding kamarnya. Dan berniat ingin melukisnya. Brian pun bangkit lalu pergi keluar untuk meminta izin melukis kamar barunya.


Saat Brian membuka pintu, pembantunya dokter Hendry sudah berada di depan pintu. "Eeehh den, mau kemana? ini sup nya sudah di bikinin. Masih hangat juga, ayo den dimana supnya." Ucap pembantu rumah tangga di rumah dokter Hendry.


"Hmmm yaa... Letakkan aja dulu di meja makan, ntar juga ku makan." Jawab Brian sambil pergi ke kamar Dokter Hedry dan istrinya.


"Lho den, nanti di marahin tuan Hendry lho den." Ujarnya pembantu itu dengan tatapan kebingungan.


"Iya tau, ntar juga sup nya dimakan." Jawab Brian tanpa menoleh ke arah pembantu itu.


Nama pembantu itu adalah Bibi Lasri. Dia adalah asisten rumah tangga yang sudah di percayakan oleh dokter Hendry dan Dita.


Brian pergi menuju kamar pamannya. Sampai disana, Brian pun mengetuk pintu kamar.


Tok... Tok... Tok...


"Tante..." Panggil Brian sambil mengetuk pintu kamar.


Tidak sampai 5 detik, Dita pun membuka pintu kamarnya. "Iya, Brian mau apa nak?" tanya Dita mengangkat kedua alis matanya.


"Aku mau lukis kamar aku, boleh gak?" tanya balik Brian sedikit tersenyum.


"Hahaha boleh kok, nanti ya tunggu oom pulang. Biar oom saja yang ngelukis kamar kamu." Jawab Dita sambil mengelus ubun-ubun kepala Brian, tapi Brian malah menepis tangan Dita.


"Jangan di acak, ntar rambutnya berantakan lagi. Gak ganteng lagi ntar aku." Ucap Brian sembari merapikan rambutnya.


"Uuuhhh... Anak muda sekarang ya." Jawab gemas Dita sambil tersenyum.


"Hmmm tante, gak payah kok oom yang ngelukisnya. Aku bisa sendiri kok, lebih bagus malahan dari lukisan oom. Tulisan oom aja susah di baca apa lagi ntar kalau dia ngelukis, kan makin gak jelas." Ucap Brian yang tidak mau di bantu.


"Ya tulisan dokter ya di wajarin aja, memang gak jelas. Cuma orang kedokteran doang yang bisa baca. Hmmm tapi kalau kamu bisa ngelukis, ya gak papa." Jawab Dita memberi izin.


"Aku butuh kuas ama cat dinding. Ada gak tante punya gak?" tanya Brian.


"Ya tante gak punya, kamu beli aja yang baru sana." Jawab Dita.


"Oh oke" ujar Brian yang mau pergi ke toko.


"Kamu punya uangnya?" Tanya Dita membuat jalan Brian berhenti.


"Hehehe, gak punya." Jawab Brian sembari menyegir.


"Sini tante kasih uangnya."


"Yeay"


...***...


...DI RUMAH BULAN...


Begitu jahatnya ayah Bulan sampai-sampai ia menyiram badan Bulan di dalam bathup. Padahal Bulan masih belum sadarkan diri.


Terlihat sangat jelas wajah Bulan yang pucat pasi. Entah di mana letak hati nurani ayahnya ini. Sampai-sampai menyiramnya dengan air dingin.


"Heh... Bangun kamu, gak usah pura-pura pingsan kamu ya." Ucap ayah sembari memegang sower yang masih menyalakan air.


Bulan juga belum bangun, ayahnya juga belum sadar jika anaknya pingsan. Ayahnya pun mendorong-dorong badan Bulan.


"Yah, kayaknya si bulan beneran pingsan deh. Dari wajahnya aja keliatan banget pucatnya." Ucap kakak Bulan dengan raut wajah cemas.


"Hmmm ini anak memang gak ada guna ya." Jawab ayahnya sembari menginjak kaki Bulan.


"Udahlah biarin aja dia tidur disana." Lanjut ayah Bulan lalu pergi begitu saja membiarkan Bulan berada di sana dengan basah kuyup.


Kakak Bulan pun juga ikut pergi dari sana. Mungkin kondisi Brian masih mending daripada kondisi keluarga Bulan. Bulan yang di perbuat sebagai pelayan. Sedangkan Brian di perbuat sebagai raja.


Saat ini kondisi Bulan makin memburuk. Kenapa demikian? Bulan belum menyadari jika ia menderita penyakit kanker kelenjar getah bening. Di usianya sangat muda, dan sudah di perlakukan seperti pelayan. Sanggupkah nanti Bulan di selamatkan?

__ADS_1


Bagaimana nanti keadaan kondisi Bulan yang semakin hari semakin memburuk? yakinkah dia akan dapat hidup dengan umur yang panjang?


Sudah beberapa jam kemudian Bulan pun sadar. Melihat dirinya sudah berada di bathup dengan basah kuyup. Bulan tak pandai mengeluh. Rasa sakit di kepala tetap ia tahan.


Bulan bangkit lalu mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang bersih dan kering. Bulan duduk di tepi ranjang sambil memegang perutnya yang lapar.


Rasa ingin keluar untuk makan, tapi merasa mental tidak kuat jika ia berada di luar. Karena mendengar cacian ayah dan kakaknya.


Bulan lagi-lagi harus sabar dan membaringkan badannya di atas ranjang. Tiba-tiba saja, entah itu hal ajaib. Kakaknya membawa sup untuknya.


"Udah sadar lo? ini makan sup nya, di habisin sup nya. Lo hari ini jangan kerja dulu. Gue kasih waktu lo 3 hari untuk istirahat. Soalnya ayah mau nikah di Yogyakarta. Jadi lo bisa bebas selama 3 hari ini." Ucap kakak nya dengan raut wajah sinis.


Bulan hanya mengangguk senyum merasa ia mendapatkan bebas, walaupun hanya 3 hari saja. Kakaknya pun pergi keluar.


'Akhirnya aku bisa bebas juga, makasih ya tuhan. Engkau memberiku kesepatan untuk beristirahat.' Gumam Bulan sambil tersenyum.


...***...


...DI RUMAH DOKTER HENDRY...


Malam hari...


Lukisannya sudah selesai di malam hari, di bantukan dengan dokter Hendry. "Waaah ternyata oom panda ngelukis juga ya, padahal tulisan oom jelek banget." Ucap Brian sambil memberi ledekan.


Dokter Hendry pun langsung menoleh ke arah Brian dengan tatapan malas. "Ya kali jelek...."


Dokter Hendry pun langsung menoleh ke arah Brian dengab tatapan malas. "Ya kali jelek...." Jawab ketus dokter Hendry.


"Ya kan memang jelek!" ujar sepele Brian sambil senyum.


"Kalau kamu jadi dokter pasti tulisan kamu kayak gitu, ya itu tulisan yang hanya bisa dapat di baca sama orang kedokteran doang." Jawab bantah dokter Hendry.


"Aku gak mau jadi dokter, aku mau astronot." Ujar Brian sambil menjulurkan lidah.


"Hilih, mau jadi astronot tu setiap hari harus belajar." Jawab dokter Hendry.


"Iya aku tau kok om... Aku aja anak yang pintar jadi gak payah belajar." Ujar Brian menyombong diri.


"Songong banget ni bocah" jawab dokter Hendry.


"Jangan panggil aku bocah oom, Brian... Aku adalah Brian..." Ujar Brian.


"Dih"


Dokter itu pun keluar dari kamar Brian dan menuju kamarnya. Sampai disana dokter Hendry langsung duduk di tepi ranjang.


"Mas kamu udah makan?" tanya Dita.


"Belum" jawab dokter Hendry.


"Itu, gimana mas di bolehin gak sama ayah Brian?" tanya Dita yang penasaran.


"Banget malahan, gak habis pikir tu orang." Jawab dokter Hendry senyum licik.


"Jadi Brian bakalan jadi anak angkat kita dong?" tanya Dita dengan raut wajah yang membinar.


"Buruan dong mas masukin Brian dalam anggota keluarga kita." Ucap Dita yang senang.


"Iya besok mas bakalan masukin dia dalam kartu keluarga kita. Itu juga niat mas, untuk nyembuhin Brian dari penyakitnya." Jawab dokter Hendry.


"Lho, Brian belum sembuh mas?" tanya Dita dengan raut wajah kecewa.


"Bukannya makin hari makin sembuh, itu penyakitnya makin lama makin memparah. Mas khawatir dengan paru-parunya dia. Itu anak gak bisa dibilangin, itu paru-parunya udah parah masih aja niat mau ngerokok." Jawab dokter Hendry.


"Aduh mas, aku gak tau deh mas bikin dia sembuh total." Ujar Dita yang panik.


"Aman aja deh, selama Brian sama kita dia gak bakal bergaul bebas lagi."


...***...


Pagi hari...


Di pagi hari yang cerah, matahari pagi yang masuk sela-sela gorden yang terbang-terbang tertiup angin pagi. Brian yang sampai kini masih tidur.


Belum juga bangun dari tidurnya. Jam sudah menuju jam pukul 7 pagi. Dokter Hendry pun menongolkan kepalanya di sela-sela pintu. Dan terdapat manusia yang masih tertidur dengan baju yang terbuka sebatas perut, dengan gaya tidur habis teler.


Dokter Hendry pun masuk dan membuka gorden jendela. Brian pun berusaha memicingkan matanya, silau cahaya matahari membuatnya terbangun.


"Bangun... Ayo olahraga, katanya mau sehat. Kapan sehatnya kalau kamu gini terus?" tanya dokter Hendry.


Brian tidak menyaut ucapan dokter Hendry. Dokter Hendry pun menarik kaki Brian. Hal itu membuat Brian langsung terbangun.


"Iiihhh oom ihhhh kurang kerjaan banget deh." Ucap kesal Brian sambil mengusap matanya.


"Maraton kuy..." Ajak dokter Hendry sembari tersenyum.


"Hmmm tapi Brian ngantuk banget, om..." Jawab Brian sambil memicingkan matanya saking ngantunya.


"Kamu mau sehat gak? gimana mau sehat kalau kamunya gitu. Ayo bangkit, mandi sana." Ujar dokter Hendry sambil menarik tangan Brian.


Brian pun bangkit dan menuju kamar mandi.


...***...


...DI RUMAH BULAN...


Saat ini Bulan merasa sudah bebas, walaupun hanya sebentar. Bulan bernekat untuk kabur dari rumah itu.


'Bagaimana pun caraku, intinya aku harus kabur dari rumah ini. Aku sudah lelah dengan ini semua...' Gumam Bulan lalu pergi dari rumahnya.


Entah kemana Bulan ingin pergi, ia berjalan entah mau kemana. Ia pergi menuju ke rumah Brian. Apa yang ia inginkan dengan Brian?


Sampai di rumah besar Brian, Bulan pun mengetuk pintu pagar rumah Brian. Seorang wanita paruh baya, pun datang dan membuka pintu pagar rumah.

__ADS_1


"Permisi... Brian nya ada?" tanya Bulan sembari tesenyum.


"Oooo raden Brian mah udah pergi di rumah oom nya. Ada apa yang neng nyariin Brian?" tanya balik wanita itu.


"Hahaha gak ada kok, cuma mau nyari dia aja. Kira-kira rumah om nya dimana ya?" tanya Bulan.


Wanita paruh baya itu pun melirik ke koper milik Brian. "Rumah om nya di XXXX" jawab wanita itu.


"Oooh makasih ya buk..." Ujar Bulan sambil tersenyum.


"Neng mau kemana kok bawa koper?" tanya wanita itu.


"Aaahhh... Hmmm gak ada hehehe, saya pergi dulu ya buk. Permisi..." jawab Bulan sambil menyengir lalu pergi.


"Oh iya neng, hati-hati dijalan..."


Bulan pun menelfon Brian.


...[Dalam telpon]...


"Hallo, Brian kamu sekarang lagi dimana?" ~Bulan.


"Gue lagi maraton nih, ama oom gue. Ada apa nih nelpon-nelpon?" ~Brian.


"Hmmm aku mau numpang sebentar aja di rumah kamu. Aku mau kabur dari rumahku, ini kesepatanku untuk kabur dari rumah. Aku gak sanggup tinggal disana." ~Bulan.


"Lo punya masalah? hmmm ntar dulu ya, gue tanya dulu ke om gue." ~Brian.


Di sebrang sana...


"Om, teman Brian mau numpang tinggal di rumah boleh gak?" tanya Brian.


"Boleh lah, boleh banget malahan..." Jawab dokter Hendry sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.


"Tapi dia cewek om..." Ujar Brian.


"Eh... Cewek? nanti kamu dibilang simpan-simpan anak orang." Jawab dokter Hendry dengan raut wajah terkejut.


"Hmmm tapi kayaknya dia punya masalah deh, dia nya nangis tadi." Ucap Brian.


"Hmmm yaudah, suruh aja deh dia langsung kerumah. Nanti om bakalan nyuruh bibi untuk bersihin kamar untuknya." Jawab dokter Hendry.


Raut wajah Brian pun senang terlukis indah di sudut bibirnya yang tersenyum mendengar jawaban dari pamannya.


"Okeh"


Kembali dalam telpon...


"Iya boleh, lo langsung aja ke rumah oom gue. Nanti gue kirim alamat rumahnya." ~Brian.


"Makasih banyak ya, maaf aku ngerpotin kamu..." ~Bulan.


...[Telponan berakhir]...


Belum di jawabnya, Brian pun mematikan telponnya dan melanjutkan olahraga.


Di posisi Bulan...


"Makasih tuhan, sudah memberiku teman seperti dia." Ucap Bulan sambil berdoa.


...***...


Di posisi Brian...


"Itu teman kamu kenapa? kok sampe nekatnya dia mau nginap di rumah kita?" Tanya dokter Hendry sambil merenggangkan badannya.


"Gak tahu deh kenapa, Brian yakin deh dia pasti kabur dari rumah karena punya masalah sama bapaknya. Bapaknya galak banget tahu gak sih om." Jawab Brian sambil berolahraga.


"Hmmm gini ya anak muda sekarang, kalau ada masalah pakai kabur-kabur segala. Hadeh-hadeh, gak ngerti lagi deh sama anak muda sekarang." Ucap dokter Hendry sambil geleng-geleng kepala.


Brian pun terdiam dan merasa dengan ucapa pamanya itu. "Ooohhh gitu ya om... Memang tuh anak muda sekarang pada kagak ada tata kramanya." Jawab Brian pura-pura tidak tahu.


"Hilih... Kamu juga gitu" Ujar dokter Hendry.


...***...


Sudah beberapa jam mereka berolahraga dan maraton. Mereka berdua pun pergi pulang. Sampai di rumah Bulan sudah ada di sana sambil menangis, dan disampingnya ada Dita mengelus punggungnya.


"Lo ngapain pakai nangis segala, kan gue udah izinin lo tinggal di sini." Ucap Brian sambil mengusap wajahnya menggunakan handuk kecil.


"Ini anak ya, orang nangis malah di gituin." Jawab dokter Hendry sambil menjewer teliga Brian.


"Aduh sakit om..." Jerit Brian menahan sakit.


"Lho kamu kenapan nangis?" tanya dokter Hendry dengan nada lembut.


Dita pun mengapus air matanya sambil geleng-geleng kepala saking sedihnya mendengar cerita dari Bulan.


"Miris mas ceritanya..." Jawab Dita.


"Lho ada apa nih?" tanya dokter Hendry yang penasaran.


"Gak deh mas, jangan sekarang nanyanya. Bulan kamu ke kamar aja ya, istirahat. Nanti bibi bawain kamu makanan." Ujar Dita sambil tersenyum.


"Iya tante, makasih banyak ya tante..." Jawab Bulan lalu pergi.


Brian pun memperhatikan jalan Bulan yang sepoyong. Dan mata Brian pun melirik Dita yang mengapus air mata.


"Ada apa, bun?" tanya Brian yang menyebut Dita dengan sebutan "Bun".


"Tadi kamu bilang apa? bun?" tanya dokter Hendry sambil tersenyum.


"Eh... Maksudnya tante, soalnya tante Dita kalau nangis wajahnya mirip banget sama bunda..."

__ADS_1


...*~*~*...


Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!


__ADS_2