
Brian pun ikut senang dan meloncat senang. Saking senangnya, ia pun terjatuh dari atas gendung itu. Tuan Sanjaya pun berteriak lalu dengan cepat ia menarik tangan Brian sebelum Brian terjatuh dari atas ketinggian.
...••••selamat membaca••••...
...🍁🍁🍁...
...*...
...*...
...*...
Dari bawah, Bulan pun jantungan melihat Brian berayun di atas gedung. "BRIAN... HATI-HATI..." Pekik Bulan yang cemas.
Sedangkan tuan Sanjaya menguraskan tenaganya untuk menarik badan Brian. "Ayah... Brian takut..." Ucap Brian merengek ketakutan.
"Aarrgghhh jangan lepasin ayak nak..." Jawab tuan Sanjaya dengan nada keras.
Brian pun berhasil di bawa ke atas. Tuan Sanjaya langsung menatap tajam ke arah Brian. "Gara-gara bucin, gini kamu ya... Rela mati gara-gara cinta. Hampir aja kamu jatuh terus mati kau... Bisa-bisa tulang kau kebelah 6, itu otak bakalan keluar dari kepala kau. Ada-ada aja kamu ini... Cuma mau ngungkapi perasaan sampai senekat ini? mau mati kamu?" tanya tuan Sanjaya yang marah.
"Hihihi... Gak papa yang penting di terima..." Jawab Brian lalu meninggali tuan Sanjaya.
"Astaga ini anak...." Ucap geram tuan Sanjaya melihat tingkah sang anak.
Brian pun turun dengan cepat dan kembali di posisi Bulan saat ini. "Iiihh kamu ya... Masih untung kamu gak jatuh beneran... Jangan gitu lah..." Ucap Bulan dengan raut wajah yang begitu cemas.
"Hihihi... Ya maap..." Jawab Brian sambil cengengesan.
Klien dan karyawan tuan Sanjaya pun bersorak. "Cieee... Selamat ya tuan muda..." Ucap kompak mereka.
Brian pun menahan senyum sembari merapikan rambutnya. Sedangkan Bulan menahan rasa malu. "Yuk kita pulang..." Ajak Brian.
"Hmmm iya ayo..."
Bulan pun mengangguk senyum, mereka pun pulang. Di perjalanan, bukannya mengajak Bulan pulang. Brian malah mampir ke restoran.
"Lah... Kita mau ngapain lagi?" tanya Bulan yang sudah tidak tahan ingin pulang.
"Ya kita makan disini lah, kamu lapar kan beb?" tanya balik Brian sembari senyum.
"Beb-bab-beb... Hilih." Jawab Bulan membuang muka.
"Ayo deh masuk, ayang nya aku sudah lapar kan? kuy lah masuk..." Ajak Brian.
"Jangan gitu ihh manggilnya." Jawab Bulan yang sedikit risih.
"Iya-iya... Ayo lah masuk, dah lapar nih. Perutku udah keroncongan..." Ujar Brian menarik pelan lengan Bulan.
Mereka duduk di meja yang sudah di pesan Brian tadi. "Kamu mau makan apa?" tanya Brian.
"Hmmm aku ngikut kamu aja..." Jawab Bulan.
"Selera kita berbeda, rasa lidah kita juga berbeda. Aku suka nya kamu, kamu suka nya dia. Eaaa...." Ucap Brian menggombal.
"Iiihhh kamu, apaan sih..." Jawab Bulan yang malu.
__ADS_1
"Hehehe... Aku pandai gombalkan?" tanya Brian sembari mengangkat kedua alis matanya.
"Gak, gombalan kamu gaje." Jawab Bulan yang tersenyum.
Tadinya raut wajah tersenyum, mendengar jawaban dari Bulan. Seketika raut wajahnya berubah.
"Hmmm oke..." Ujar Brian dengan raut wajah yang datar.
"Hehehe canda-canda, gombalan kamu pinter..." Jawab Bulan sembari mengedip mata.
"Eleh..." Kesal Brian.
"Ya maaf..." Ujar Bulan.
"Kamu gak salah kok beb..." Jawab Brian sembari tersenyum.
"Memang kok aku gak salah, siapa bilang aku salah. Kan aku cuma minta maaf..." Ucap Bulan menjulur lidah.
"Pengen ku potong tu lidah..." Jawab kesal Brian.
"Kalau lidahku di potong, ntar aku gak bisa bicara lagi dong." Ucap Bulan memajukan bibirnya.
"Iiihhh ngeselin banget ya..." Jawab kesal Brian.
"Ya maaf..."
Sudah berapa lama mereka adu mulut, pesanan mereka pun datang. "Ini pesanannya..." Ucap pelayan restoran.
"Ooo makasih..." Jawab Brian.
"Eeh... Mau bawa kemana?" tanya Bulan.
"Kamu gak boleh makan, tunggu aku udah makan dulu." Jawab kesal Brian.
"Iiihhh kamu kenapa? kok malah jadi gini sih? salah aku apa?" tanya Bulan yang merasa tidak bersalah.
"Banyak..." Jawab kesal Brian.
"Kok di bawa serius sih? Iihhh kamu sensitif banget, gak asik ah. Mau pulang aja..." Ucap Bulan yang merajuk.
Saat Bulan berdiri dan berjalan. Dengan cepat Brian menahan tangan Bulan. "Eh... Jangan pergi, iya-iya ini makan lagi." Jawab Brian sambil memdudukkan Bulan lagi.
"Aku gak mood makan... Kamu aja yang ngabisin makana aku." Ucap kesal Bulan.
"Jangan gitu dong..." Bujuk Brian yang memelas.
"Aku lagi gak mood makan. Aku mau pulang aja." Ucap Bulan yang merajuk.
"Kita bungkusin aja ya...?" Tanya Brian.
"Terserah kamu aja..." Jawab Bulan berjalan menuju keluar.
'Gini ya kalau dia ngambek... Susah banget di bujuk...' Gumam Brian.
"Mbak... Tolong di bukus dong makanannya." Ucap Brian.
__ADS_1
"Oh siap mas..." Jawab pelayan restoran.
'Dih gue di mas lagi...' Gumam Brian.
Di luar, Bulan menunggu Brian. Tidak lama Brian datang. "Udah iiihhh gak usah ngambek lagi. Aku minta maaf... Baru juga pacaran udah ngambek aja." Ucap Brian memelas.
"Ya..." Jawab singkat Bulan membuang muka.
"Kamu kaya nya benar-benar kesel deh ama aku. Kan aku dah minta maaf, kamu nya sih bikin aku kesal." Ucap Brian.
"Iya." Lagi-lagi di jawab singkat dengan Bulan.
Brian hanya bisa menghela nafas. 'Ternyata pacaran itu gak mudah bro...' Gumam Brian.
"Ayo kita pulang, kita makannya di rumah aja." Ajak Brian dengan nada lembut.
"Hmmm iya..."
Bulan pun naik di motor Brian. "Pegangan dong, nanti jatuh..." Ucap Brian lagi-lagi dengan nada lembut.
Bulan pun pegang pinggang Brian. Brian pun menarik tangan Bulan, sampai Bulan memeluk badannya.
"Biar aman..." Ucap Brian mendapatkan kesepatan emas.
Bulan hanya diam dan ngerutu dalam hati. Di dalan perjalanan, Brian mengendarai sambil senyum-seyum sendiri.
Ini lah pertama kali Brian mencoba berpacaran. Baginya pacaran itu sangat berat. Apa lagi berumah tangga.
Pov Brian...
This is my happy day, the first time i'm in a relationship with him. Really, I'm very very happy.
Di tanggal 18-bulan 3-2015. Tanggal kami jadian, hahaha iya tanggal kami jadian. Selalu ku ingat sepanjang masa.
Padahal kami baru jadian, tapi sudah bertengkar saja. Dia sangat lucu ya kalau ngambek. Tapi susah sekali untuk membujuknya.
Saat ini dia memelukku, ya memeluk karena lagi di atas motor. Kami seperti pasangan serasikan. Atau... Seperti Dilan 1990?
Hahahaha... Sekarang ini jantungku berdetak dengan kencang. Dia memelukku dan merangkul di punggungku.
Oohhh Bulan, sungguh kau sangat indah... Aaahh aku malah membuat puisi.
Hey sayang peluk lah di badanku, ku serahkan badanku menjadi bantal gulingmu di malam hari. Aaahh bunda... Ginjalku menjerit melihatnya.
Sungguh ini hal yang palingku tunggu. Bulan Yang Selalu Menyinari Waktuku.
...***...
...DI RUMAH DOKTER HENDRY...
Brian dan Bulan memasuki ruang utama. Di sana terdapat ada Dita sedang mengikis kuku nya. "EEehh kalian udah pulang... Brian keliatan banget deh bahagia. Ada apa ni?"
...*~*~*...
Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!
__ADS_1