Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku

Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku
CHAPTER 12


__ADS_3

Brian pun pasrah dan keluar, Brian masih menatap tajam ke arah ayah Bulan. 'Awas lo anj*ng...' Gumam kesal Brian. Brian pun pulang.


...••••selamat membaca••••...


...🍁🍁🍁...


...*...


...*...


...*...


Brian tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia harus menghadap 2 wanita. Siapa lagi kalau bukan Bulan dan Bintang. Satu ayahnya merestui, satunya lagi ayahnya tidak merestui.


Sedangkan Brian sudah menjadi kekasih Bulan. Baru beberapa jam mereka menjalin hubungan.


Tapi karena semua ini menjadi berantakan. Baru juga beberapa jam, apalagi selanjutnya pasti banyak rintangan yang menimpa mereka.


'Aku salah... Ini semua salahku! aturannya aku tidak melindungi Bintang. Tapi aku malah melindungi dia sampai kamu tersakitin. Maafin aku... Ini semua salahku.' Gumam Brian.


...***...


Pagi hari...


...DI RUMAH DOKTER HENDRY...


Keluarga baru sedang menikmati makanan yang mereka. Situasi disana terdengar hening. Hanya saja terdengar bunyi hentakan piring.


Mereka ada yang kurang, dokter Hendry pun menghentikan makannya. "Itu... Teman kamu dimana? kok gak turun?" tanya Dokter Hendry.


"Hmmm dia udah pulang ke rumahnya." Jawab Brian dengan nada lemas.


"Lho kenapa?" tanya dokter Hendry.


"Brian gak tahu, pa... Hmmm Brian mau berangkat sekolah dulu." Jawab Brian mencium tangan dokter Hendry dan Dita.


"Hati-hati di jalan ya..." Ujar Dita.


"Iya"


Brian pun pergi berangkat sekolah. "Hmmm itu Brian lemes banget deh, dia ada masalah sama Bulan? kok sampai si Bulan pulang ke rumahnya." Tanya Dokter Hendry.


"Kurang tahu juga, aku mas... Tadi malam itu, Bulan pulangnya sambil nangis tadi. Nah pas Bulan sudah pulang ke rumahnya. Si Brian baru sampai, bajunya basah kuyup. Di tanyain dia nya gak mau jawab." Jawab Dita.


"Mas yakin, mereka pasti ada masalah. Hadeh... Anak muda sekarang... Ada-ada aja deh tingkahnya." Ucap dokter Hendry.


...***...


...DI SEKOLAH...


Brian baru sampai di gerbang sekolah. Brian pun berlari dan menuju ke kelas Bulan. Saat Brian menoleh ke jendela kelas Bulan. Ia melihat Bulan berbicara dengan Fadli.


Brian pun mengepal tangan dan mengigit giginya saking geramnya. 'Biadab... Ada Fadli disana... Ngapain dia dekat-dekat Bulan?.' Gumam Brian.


Bintang pun menepuk pelan pundak Brian membuat Brian terkejut dan menoleh ke belakang. "Hai..." Sapa Bintang sambil senyum.


"Hmmm hai..." Jawab Brian.


"Lo ngapain? lihat Bulan sama Ka Fadli ya? mereka sosweet banget kan? sampai tertawa bareng. Uuuhhh gemes..." Ucap Bintang memanas-manasi Brian.


Brian yang tidak mudah terpengaruh dengan ucapan Bintang, Brian pun tersenyum. "Ya terus kenapa? lo liat itu semua kaya pasangan sosweet? gue sih nggak... Biasa aja tuh." Jawab Brian lalu memasuki kelas Bulan.


Bintang pun ikut masuk kelas Bulan. "Hai..." Sapa Bintang.


Bulan dan Fadli pun menoleh ke sumber suara. Bulan hanya menatap dingin ke arah Brian. "Bulan... Ada yang mau ku sampaikan." Ucap Brian sambil senyum tipis.


"Mau ngomong apa?" tanya Bulan dengan nada dingin.


"Ikut aku dulu yuk." Ajak Brian.


"Disini aja kan bisa kenapa harus jauh-jauh?" Tanya dingin Bulan.


"Aaahh ini kan cuma urusan kita doang... Jadi yang tahu ya kita-kita aja." Jawab Brian.


"Oh"


Bulan pun berdiri dan mengikuti jalan Brian. Sedangkan Fadli dan Bintang memberi kode dengan cara mengedip mata.


Di luar...


"Bulan... Aku mau sampaikan sesuatu sama kamu. Aku mohon... Jangan marah sama aku dengan yang tadi malam. Aku cuma panik doang, jadi refleks lakuin itu semua. Kita jaga perasaan aja deh." Ucap Brian dengan nada memelas.


"Gimana aku mau jaga perasaan kalau kamunya udah ngancurin perasaan aku." Jawab Bulan membuang muka.


"Kok kamu gitu? kan udah aku kasih tahu waktu itu. Ayah Bintang kasih amanat ke aku. Niatnya aku mau ajak kamu berteman sama Bintang. Tapi kaliannya gak akrap." Ucap Brian untuk meyakinkan Bulan.


"Hmmm..." Dehem Bulan dengan wajah yang memelas.


"Maafin aku ya, kamu bisakan jangan dekat-dekat sama Fadli." Ucap Brian menyengir.


"Lho kenapa?" tanya dingin Bulan.


"Karena aku cemburu..." Jawab spontan Brian.


Bulan pun terdiam dengan ucapan Brian. Brian pun pergi sambil tersenyum. Terlihat jelas di wajah Bulan, dengan pipi yang memerah merona.


Fadli pun menghampiri Bulan. "Aaahh Brian, barusan ngomong apa ke kamu?" tanya Fadli.


"Ehh... Gak ada kok ka... Hehehe!" jawab Bulan tersenyum.

__ADS_1


"Hmmm gitu ya... Nanti pas istirahat kita ke kantinnya barengan ya? dah kakak mau ke kelas dulu. Takut nanti guru masuk ke kelas kakak." Ucap Fadli lalu pergi menuju ke kelasnya.


Bintang pun datang di situasi seperti ini. "Cieee... Ada yang lagi pacaran nie, tapi bukan ama Brian... Sama Fadli." Bisik Bintang sambil senyum licik.


"Kamu kenapa hah? aku gak pernah sama sekali ganggu kamu. Tapi kamu ganggu aku terus. Mau kamu itu apa?" tanya Bulan yang emosi.


"Gue mau nya lo serahkan Brian ke gue... Itu yang gue mau." Jawab dingin Bintang.


"Maaf... Gak semudah itu aku serahkan Brian kepada kamu. Kalau kamunya anak gak benar..." Ujar Bulan lalu masuk ke dalam kelasnya.


"Dasar brengsek lo..." Jerit kesal Bintang.


...***...


Pov Bulan...


Ini baru pertama kalinya aku pacaran. Ternyata pacaran itu sulit ya. Sulit karena banyak yang suka sama pasangan kita. Waktu itu... Aku benar-benar tidak sangka. Jika Brian mengajakku menjalin hubungan.


Tapi juga tidak ku sangka, banyak yang menyukainya. Di saat kakak kelasku mendekatiku. Dia tidak segan mengatakan kalau dia cemburu.


Dia cemburu membuatku baperan. Aku menelan salivaku saat dia mengaku sedang cemburu. Tapi aku kesal padanya, tadi malam itu sungguh membuatku sakit hati.


Aku belum pernah mencicip bibirnya. Tapi dia malah memberinya kepada Bintang. Siapa coba yang tidak sakit hati saat melihat kekasihnya memberi nafas buatan kepada cewek lain? pasti sakit kan? walaupun itu hanya refleks tetap saja kok sakit di hati.


Huufff.... Tadi malam juga, aku tidak mengira jika ayahku begitu marah padaku. Sampai-sampai dia memukulku dan mengurungku.


Tuhan... Kapan aku bebas dengan penderitaan ini? aku yakin, Tuhan pasti mendengar semua ini dan mengabulkan doa ku.


...***...


Jam istirahat...


Teng... Teng... Teng..


Lonceng bel berbunyi.


Fadli sudah berada di depan pintu kelas Bulan. Dari kejauhan, Brian pun langsung menghampiri Fadli yang sedang menunggu Bulan.


"Ngapain lo ke kelas Bulan?" tanya Brian sambil memasuki tangannya ke saku celananya.


"Ck... Suka-suka gue dong. Dia kan pacar gue..." Jawab Fadli sambil senyum licik.


Brian yang emosi langsung meremas kerah baju Fadli. "Lo jangan macam-macam ya sama gue. Gue pacarnya Bulan bukan lo..." Ujar Brian yang emosi.


"Ck... Lihat aja, Bulan bakalan jadi pacar gue. Mungkin sampai di pelukan gue." Jawab Fadli sambil senyum licik.


Dug...


Brian memukul pipi Fadli. Guru yang mengajar di kelas pun langsung keluar. "Heh... Heh... Ada apa ini?" Tanya guru itu yang memisahkan mereka berdua.


Bulan pun ikut keluar dan terkejut melihat mereka bertengkar. "Brian... Kamu ketua osis lho kok sifat kamu jadi gini? biasanya kamu gak pernah lho cari keributan." Ucap guru itu yang sedikit kecewa pada Brian.


"Bukan saya buk yang cari keributan... Dia nih yang duluan. Mancing permasalahan." Ujar Brian yang tidak mau disalahkan.


Brian yang geram pun rasa ingin mencekik leher Fadli. "Iiihh... Lo ya, lama-lama gue cekik juga lo." Ujar kesal Brian mengigit giginya.


"Udah Brian... Udah Fadli... Jangan gitu dong. Udah maaf-maafan sekarang." Jawab guru itu.


Brian dan Fadli pun hanya diam dan tidak melakukan apa-apa." Lho kok diem? ayo maaf-maafan... Peluk-pelukan gih." Suruh guru itu.


Kebetulan ada Jhordan disana dan tidak mau jika Brian memeluk pria lain. "Saya aja buk yang mewakili Brian... Sini bang gue peluk." Ucap Jhordan sambil memeluk Fadli.


"Apaan sih lo..." Jawab Fadli yang risih.


"Lah katanya di peluk..." Ujar Jhordan.


"Bukan kamu Jhordan..." Jawab guru itu sambil geleng-geleng kepala.


"Saya gak mau buk, Brian di peluk cowok lain." Ujar Jhordan.


"Lho kenapa?" tanya guru itu yang bingung.


"Brian bolehnya pelukan sama saya..." Jawab Jhordan.


"Idihhh... Apaan sih lo, gue masih normal ya." Ujar jijik Brian lalu menarik Bulan dan membawany ke kantin.


Fadli pun mengikuti mereka berdua, begitu juga dengan Bintang. "Eh... Ini masalah sudah selesai?" Tanya guru itu.


"Sepertinya mereka sudah damai..." Jawab Jhordan lalu pergi mengikuti mereka.


Di kantin...


Dimana Brian dan Bulan duduk, di situ juga Bintang dan Fadli duduk. "Hmmm hai..." Sapa Fadli sambil tersenyum ke arah Bulan.


"H-hai..." Jawab Bulan senyum tipis.


"Eh... Lo gak usah nyapa pacar gue ya." Ucap kesal Brian.


"Eh... Bulan mau makan apa? biar aku yang bayarin." Ucap Fadli kepada Bulan.


Bulan hanya menyengir tipis, sedangkan Brian sudah menahan emosi. "Woi... Itu telinga lo gak pernah di bersihin. Budeg nya minta ampun, sumpah dah..." Ujar Brian yang sakit hati.


Bintang tidak tinggal diam, dia pun memanas-manasi Bulan. "Aaah Brian... Lo mau makan apa? gue mau ngikut lo aja mau makan apa." Tanya Bintang.


Sayangnya semua itu di kacangi oleh Brian. "Aaahh Bulan... Kita pindah tempat duduk yuk. Kita cari yang aman. Okeh?" Tanya Brian menarik tangan Bulan.


"Hmmm iya-iya..." Jawab Bulan yang ikut jalan Brian.


Di sana pun, Jhordan datang dan tersenyum ke arah Brian. "Oi... Masih untung gue yang meluk Fadli. Kalau lo yang meluk dia, gue cemburu." Ucap Jhordan sambil senyum.

__ADS_1


"Hah?" Bulan yang terkejut serta kebingungan.


"Gak usah di dengerin dia..." Ucap Brian lalu menarik tangan Bulan.


Tangan Bulan pun tertarik, Brian dan Bulan pun duduk di meja makan kantin di paling ujung.


Di posisi Bintang dan Fadli, mereka pun menatap tajam ke arah Brian dan Bulan. Kesal dan cemburu, sudah teraduk campur.


"Hmmm gimana cara kita bisa memisahkan mereka?" Tanya Bintang kepada Fadli.


"Terus mendekati target kita..." Jawab Fadli sembari menatap dingin ke arah Brian dan Bulan.


"Tapi mereka makin dekat, bagaimana dong?" tanya Bintang yang kesal.


"Kita pasti berhasil kok, tidak mungkin kan kita langsung berhasil aja. Pasti bakal ada kegagalan. Dan kita jangan tinggal diam dengan semua ini. Gue bakalan ngantar dia pulang nanti, dan lo langsung duduk di motor Brian. Oke?" Ucap saran licik Fadli sembari senyum licik.


"Aaahh ya... Lo benar kak, kali ini pasti berhasil kok." Jawab Bintang sambil senyum licik juga.


Di posisi Bulan dan Brian...


Jhordan duduk di depan Bulan dan Brian. "Kalian beneran lagi pacaran?" tanya Jhordan sembari menaiki satu alis matanya.


Brian dan Bulan pun saling bertatapan. "Hmmm iya..." Jawab Brian sambil sengangguk.


"Uwiihhh... Gile, ternyata lo bisa pacaran juga ya, Gel... Gak nyangka aja sih. Lo yang dingin banget, ternyata bisa luluh juga ya." UjarJhordan sambil senyum.


"Iya... Aaahh nanti jam 3 sore, kita ke cafe. Ada yang mau gue omongin ke lo." Jawab Brian dengan tatapan yang ingin mengungkapkan sesuatu.


"Oh oke-oke..."


"Hmmm Bulan, kamu mau makan apa?" tanya Brian.


"Aku mau makan sama dengan kamu aja deh." Jawab Bulan sambil senyum.


"Hmmm oke-oke... Aku pesanin ya."


Brian pun memesan makanan, begitu juga dengan Jhordan. Setelah pesanan itu tiba, Mereka pun memakannya. Dari kejauhan Fadli dan Bintang terus memandang ke arah Brian dan Bulan.


Karena terhalang badan Jhordan membuat mereka susah melihat orang yang mereka tujui. "Itu badan sepupu lo ngalangin pandangan." Ucap kesal Fadli menghentikan makannya.


"Hmmm iya nih..." Jawab kesal Bintang.


Fadli pun hanya menatap punggung Jhordan dengan tatapan dingin. "Oh iya... Lo punya nomor handphone nya Bulan gak?" tanya Fadli.


"Ngapain coba gue nyimpen nomor dia..." Jawab ketus Bintang sembari memutar malas matanya.


"Hmmm coba nanti lo minta ke Brian..." Ucap Fadli.


"Hmmm ya... Kalau dia mau ngasih, itu orang gak pernah banget mau nolongin orang. Apalagi minta nomor kontak orang pasti gak bakal di bales." Jawab kesal Bintang.


"Lo paksa, kalau gak lo pinjem ponsel dia." Ujar saran Fadli.


"Hmmm coba deh gue coba kalau berhasil." Jawab Bintang.


"Lo pasti berhasil kok..."


...***...


Ini adalah jam belajar telah habis. Brian dan Bulan pun berjalan menuju ke parkiran. Sedangkan Fadli dan Bintang belum keluar dari kelas mereka. Karena guru yang masuk dalam kelas mereka belum keluar.


...DI KELAS FADLI...


'AAaiisss... Ini guru kapan keluarnya sih, bisa-bisa rencana gue sama Bintang bakalan berantakan.' Gumam kesal Fadli.


...DI KELAS BINTANG...


'Oh tuhan... Ini guru lama banget jelasinnya, bisa-bisa ini rencana bakalan berantakan. Gara-gara si Brian ama si culun udah pulang. Please dong buk, coba deh jangan banyak bicara...' Gumam kesal Bintang.


...DI PARKIRAN...


Bulan sudah menaiki motor Brian, dan mereka pun sudah pergi meninggalkan kawasan sekolah. Di waktu itu juga Bintang dan Fadli baru keluar dari kelas mereka.


Melihat Bulan dan Brian sudah menjauh. Fadli pun menendang kerikil. "Aaarrggghhh biadab... Brengsek... Kita gagal lagi..." Jerit kesal Fadli sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Iya nih kak... Guru nya tadi panjang banget jelasinnya." Jawab Bintang yang ikut kesal.


"Aaarrgghh please deh kenapa harus gagal terus. Aaargghhh..." Pekik Fadli yang kesal.


"Coba deh kak besok kita cobain lagi." Jawab Bintang.


...***...


...DI JALAN RAYA...


Bulan memeluk pinggang Brian, merasa sudah nyaman berada di dekat Brian. "Bulan..." Ucap Brian sambil mengendarai motor.


"Iya...?" Jawab Bulan lalu melihat ke depan.


"Tolong deh itu kepala kamu jangan nyender di pundak aku." Ucap Brian dengan posisi kepala sudah mereng.


"Lho kenapa? kamu gak suka?" tanya ketus Bulan.


"Bukan... Ini kepalaku lama-lama bisa mereng permanen. Helm kita itu bersatu kalau di gituin jadi kepalaku jadi mereng kalau kamu nyender di pundakku." Jawab Brian menahan kepalanya yang mereng.


"Upss... Maaf ya hehehe..." Ujar Bulan lalu memperbaiki duduknya.


"Kamu gak papa kok nyender di pundakku. Setiap hari pun juga gak papa. Tapi jangan di waktu kita lagi naik motor. Soalnya kita pakai helm..." Jawab Brian.


"Hmmm iya deh iya..."

__ADS_1


...*~*~*...


Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!


__ADS_2