Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku

Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku
CHAPTER 03


__ADS_3

Masih untung Bulan bisa berhasil dari santapan malam pria berhidung belang itu. 'Kapan aku bisa bebas dari penjara mematikan ini? kalau aku bisa kabur, mungkin aku tidak akan kembali lagi di rumah ini!' gumam Bulan sambil mencuci piring.


...••••selamat membaca••••...


...🍁🍁🍁...


...*...


...*...


...*...


...***...


...DI KAMAR BRIAN...


Brian yang baru selesai mandi langsung duduk dan membuka handphone nya. Masih memakai baju handuk kimono. Dengan rambut yang basah yang terjatuh di layar Handphonenya.


Ini lah kebiasaan Brian, Handphone lah yang lebih penting daripada makan. Main handphone hingga berjam-jam. Alasannya adalah ingin menaiki level gamenya.


Ayah Brian pun masuk dalam kamar Brian, melihat Brian sedang memainkan Handphone nya.


"HP terussss... Gak bosan-bosannya main HP, makan dulu sana. Kamu belum makan dari tadi!" suruh ayah Brian yang kesal lihat Brian yang sibuk main Handphonenya.


"Nanti aja dah, tanggung nih mau menang!" jawab cuek Brian yang tidak menoleh sedikit pun ke arah Ayahnya.


"Ini anak ya, gak mikir dengan kesehatannya sendiri!" ujar ayah Brian yang kesal sambil berkacak pinggang.


Brian pun tidak menghiraukan perkataan ayahnya. Ayahnya yang mulai geram pun langsung merebut handphone Brian.


"Ehhh yah... Ngapain di ambil, nanti Brian kalah lho!" ucap Brian mengambil handphonenya di tangan ayahnya.


Ayahnya meninggikan tangannya. "Makan dulu baru main HP" jawab ayahnya lalu keluar.


"Aaahh ayah aahhh balikin gak?" tanya Brian ikut keluar.


"Itu handuknya ayah tarik mau?" tanya balik ayahnya sambil menunjuk bagian bawah Brian.


Brian pun menelan salivanya. "Ehhh jangan, aku belum pake celana dalem!" jawab Brian lalu masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam Brian mengamuk sendiri sampai meninju ranjangnya. "Aaargghh benci bangetlah gue kalau kaya gini! aaarrgghhh!" pekik Brian yang kesal.


Brian pun memakai pakaiannya, setelah itu ia turun untuk makan siang. Saat di meja makan, ibu tiri Brian menatap sinis ke arah Brian.


"Ngapa lo lihat-lihat? biasa saja tu matanya, gue colok nanti itu mata lo!" ucap Brian yang tidak suka di tatap sinis sama ibu tirinya.


Ayah Brian tadinya mau memasuki makanan di dalam mulutnya pun terhenti karena Brian berkata tidak sopan kepada istrinya.


"Kamu kenapa sih kurang ajar banget sama ibu tiri kamu, yang sopan dong sama dia. Dia gak ngapa-ngapain kamu malah salahin dia!" jawab ayah Brian yang tidak suka dengan sikap Brian kepada istrinya.


"Gak tahu tu mas, anak kamu sensitif banget. Padahal aku cuma lihatin dia doang! dia malah marah-marah." Ujar ibu tiri Brian mengadu domba pada ayah Brian.


"Gue lama-lama muak ya sama lo, ayah juga... Sudah tahu istrinya yang salah, bukannya di tegur malah salahin orang!" jawab Briam yang tidak mau di salahkan.


"Kamunya jangan kurang ajar sama orang yang lebih dewasa dari kamu! di ajari malah gini jawabnya dasar anak kurang ajar." Ucap Ayah Brian dengan nada sedikit membesar.


"Tahu ah... Ayah selalu belain dia daripada aku, kebiasaan banget. Dari situ anak jadi benci sama ayah, ayah yang selalu belain dia. Gak ada untungnya dia di dalam kehidupan ayah. Malahan nambah kerugian dalam kehidupan ayah!" jawab Brian dengan nada lebih besar dari ayahnya.


PLAK...


Ayah Brian memberi tamparan di pipi Brian. "Anak set*n kamu... Kurang ajar banget jadi anak! kurang ajar kamu... Sudah capek ayah besarin kamu mendidik kamu! bukannya jadi anak teladan malah jadi anak set*an. Dasar biadab kamu!" ucap ayah Brian lebih besar lagi suaranya dari Brian.


Brian cuma senyum licik sekaligus meremeh. Membuang muka, dan kembali berani menatan ayahnya.


"Kalau ayahnya gitu pasti anaknya ngikut dong!" jawab Brian lalu pergi meninggalkan meja makan.


"Awas kau pulang ya, mati saja kau di jalan!" pekik ayah Brian yang terlanjur emosi.


"AMIN..." Pekik Brian sambil berjalan.


Ibu tiri Brian pun berdiri dari duduknya lalu memegang pundak ayah Brian. "Sudahlah mas... Jangan hiraukan dia lagi, nanti malah makin menjadi itu anak!" jawab ibu tiri Brian.


"Huuufff... Mas sudah tidak mengerti lagi apa maunya Brian. Sumpah mas jadi benci sama dia kalau kaya gini terus dianya!" ujar ayah Brian sambil memijit pelipisnya.


"Sudahlah mas... Diamkan saja dia, dan kita fokus bikin anaknya. Kalau kita berhasil bikin anaknya. Anak kamu lepasin saja, biarin dia mau kemana!" jawab ibu tiri Brian yang mempengaruhi pikiran ayah Brian.


"Aaahh mas gak bisa kaya gitu, bagaimana pun dia. Dia tetap anak kandung mas!" ucap ayah Brian menepis pikirannya.


"Ya ampun mas, masih sanggup juga kamu belain anak sekurang ajar seperti dia? kalau aku bakalan tidak ngirauin dia lagi!" jawab ibu tiri Brian.


Ayah Brian pun menatap wajah ibu tiri Brian dan pikirannya pun terpengaruhi.


...***...


...DI JALAN RAYA...


Brian pergi ke luar kota dengan motornya. Tidak membawa barang apa-apa, dia pergi untuk menenangi pikirannya. Masih dengan keadaan yang kesal, Brian mengendarai motornya dengan kecepatan yang tinggi.


'Awas saja kalian peduliin gue lagi... Sudah muak gue sama kehidupan gue. Yang satu sudah gak nanyain kabar gue. Yang satunya lagi sudah gak peduli sama gue lagi. Oke, gue bikin lo pada nyesel sama gue.' Gumam Brian dalam hati.


Entah mau menuju kota mana Brian pergi. Arah yang ingin di kunjungi tidak tahu karena terhalang pikiran yang terlalu emosi.


Nekat, itulah yang bisa di juluki untuk Brian. Kenekatannya membuatnya tidak mikir dua kali untuk bertindak.


Mungkin dengan kepercaya diri dan nekat terlalu tinggi. Dia pun mungkin saja bisa menjadi kriminal.

__ADS_1


Sudah jauh Brian mengendarai motor. Hingga sampailah di perkampungan. Masih dalam emosi, Brian masih tidak sadar dia berada di mana.


Beberapa menit kemudian...


Brian pun sadar jika ia sudah sampai di jalan di kelilingin hutan lebat. "Eh... Ini gue dimana?" tanyanya sendiri sambil melihat sekeliling.


"Weeehh gila gue kesasar nih!" ucapnya dengan nada yang cemas.


Brian pun memutarkan motornya, lalu ia pergi dari hutan. Sedikit takut, Brian mendengar suara yang aneh membuat menjadi merinding.


Brian pun mengegas kencang motornya. Tidak peduli dengan suara yang mengerikan itu.


Beberapa menit kemudian...


Brian masuk kembali dalam perkampungan. Karena ada acara pernikahan, Jalan pun macet. Membuat Brian terjebak dalam kemacetan itu.


"Aaahhh gila memang... Macet lagi! dimana coba jalan keluarnya ya? tanyanya sendiri sambil berhentak kesal.


Saat pengantin itu sudah jauh dari Brian. Brian pun mengegas motornya. Dan berhasil keluar dari perkampungan.


Dan beberapa menit kemudian, Brian pun masuk dalam jalan tol. Di sana Brian berhati-hati dan mengegas kencang motornya.


Mumpung sepi, Brian pun menjadi menguasai jalan itu. Dengan mengendarai motor dengan kencang.


Beberapa menit kemudian, Brian sampai di rumah. Saat Brian masuk, ibu tirinya dan ayahnya duduk di sofa tamu sambil bermesrahan.


Saat Brian masuk mereka pun langsung menjauh. "Kamu ngapain pulang?" tanya ayah Brian dengan nada yang dingin.


"Lapar mau makan" jawab santai Brian masuk dalam rumah.


"Bagus dah kamu... Pintar..." Ujar ayahnya sambil menyindir.


"Aku memang pintar kok!" jawab Brian dengan nada santai.


Tidak lama kemudian....


Brian pun berjalan keluar sambil membawa koper dan kotak makan. "Mau kemana kamu bawa koper?" tanya ayah Brian sambil memperhatikan jalan Brian.


"Mau kabur dari rumah... Kembaliin HP ku, lumayan mau jualan pulsa!" jawab ketus Brian.


"Heh..." ucap Brian sambil melotot kaget mendengar ucapan nyeleneh Brian.


"Kamu ya berani kaya gitu, ayah hukum kamu ya..." Lanjut ayah Brian yang menganggap ucapan Brian itu dengan serius.


"Skip baperan... Dah lah mau kabur, males ladenin orang mudah baperan..." Jawab Brian lalu pergi menyeret kopernya.


"Mana ada orang kalau mau kabur harus kasih dulu, bukan kabur namanya." Ujar ayah Brian yang tidak mengerti mau anaknya apa.


"Bodo amat... Dah lah mau pergi! bye..." Jawab Brian lalu pergi.


Brian pun memasuki kopernya ke dalam mobilnya. Brian tidak mengira jika jawaban ayahnya hanya seperti itu. Tidak ada rasa perhatiannya pada dirinya.


Brian langsung masuk dalam mobil dan pergi mencari kos-kosan.


Di dalam perjalanan Brian mengendarai sambil mencari kos-kosan pria. Cukup lama Brian bolak-balik mencari kos, akhirnya dapat juga.


...***...


...DI RUMAH IBU KOS...


Brian pun berdiri di depan pagar rumah ibu kos. Melihat pintunya terkunci Brian pun berteriak memanggil isi rumah.


"Permisi... Ada orangnya gak?" tanya Brian sambil berteriak.


Terlihat sunyi tidak ada yang menyaut. Brian pun mengedor pagar itu sambil berteriak. "Permisi... Assalamualaikum... Eitdah... Gue lupa kalau gue bukan agama islam. Gue kan Buddha. Permisi... Pak... Buk... Bupak..." Jerit Brian sambil mengedor pagar.


Seorang remaja putri pun keluar, dengan memakai baju kodok yang pendek. Terlihat jelas paha mulusnya. Brian melihatnya bagaika bidadari yang hampirinya.


Kebetulan angin pun datang dengan sepoy-sepoy, Brian yang terpana melihatnya pun menjadi terbuyar di saat gadis remaja itu memanggilnya.


"Ada apa ya kak?" tanya cewek itu sambil melambay tangannya untuk menyadarkan Brian.


"Aaahh... Iya... Astaga, hmmm kak! saya mau ngekos di koa-kosan kakak." Jawab Brian sambil tersenyum.


"Ooo tunggu bentar ya kak... Panggilin mama saya dulu!" ujar cewek itu dengan tersenyum.


Dengan senyuman yang di berikan gadis itu kepada Brian, membuat hatinya meleleh melihatnya.


"I-iya kak..." Jawab Brian sambil terpesona melihat senyuma cewek itu.


"Masuk dulu kak, sambil saya panggilin mama!" ujar cewek itu sambil mengajak masuk Brian.


Dengan senang hati Brian menerima tawarannya. "Aaahh iya kak, makasih!" jawab Brian ikut masuk.


Brian pun duduk di kursi yang ada di teras sambil menunggu ibu kos. Tidak bersilang lama, ibu kos pun datang. Dengan badan yang sedikit gemuk, dan rambut sedikit ikal membuatnya memang cocok jadi ibu kos.


"Kamu mau ngekos di kosan ibu?" tanya ibu kos sambil duduk di kursi yang ada di samping Brian.


"Aaahh iya bu..." Jawab Brian sambil tersenyum takut.


"Kamu dari mana?" tanya ibu itu sambil mengipas.


"Dari rumah bu..." Jawab Brian sedikit tertunduk.


"Ooo kirain dari desakan kamu mau rantau!" ucap ibu kos sambil menepuk pelan pundak Brian, tapi di badan Brian merasa sedikit sakit.

__ADS_1


"Hahaha... Bukan bu... Saya cuma kabur dari rumah!" jawab jujur Brian yang sudah kena mental berbicara dengan ibu kos.


"Hah? apa? kamu kabur?" tanya ibu kos yang terkejut, suara yang besar membuat Brian makin kena mental.


Serasa terkena serangan jantung, itu lah yang di rasakan jantung Brian yang jedag-jedug bagaikan musik DJ.


"Aaahh hahaha i-iya bu..." Jawab Brian yang ketakutan.


"Lho kenapa kabur? dasar memang ya, anak jaman sekarang pada main kabur. Nanti juga pasti pulang minta makan!" ujar ibu kos kembali mengipas.


'Lho kok tahu bu? btw itu suaranya jangan di gedein dong bu... Bisa-bisa gue kena serangan jantung!' gumam Brian sambil menyengir takut.


"Hehehe..." Jawab Brian sambil tertunduk.


"Yasudah... Ibu gak mau ikut campur urusan kamu. Kamu jadi ngekosnya? sebulan 2 juta. Di sana sudah disiapkan kasur, AC, kulkas, lemari kosong dan itu juga di sana ada ruangannya, kamarnya juga ada! jadi kalau kamu nginapnya setahun berarti 24 juta. Karena ini kos khusus untuk anak sultal!" ucap ibu kos sambil mengipas.


Dari wajah Brian terlihat tersenyum dan menerima. Tapi di dalam hati Brian ngerutu kesal karena uang kosnya terlalu mahal.


'Gila emang itu harganya, bisa-bisa gue bangkrut dengan seketika!' gumam Brian.


Di dalam benak khayalan Brian saat ini:


Sudah berada di kosan, melihat dopet yang kosong tidak ada lagi isinya. Brian pun tersenyum lalu berkata. "Ini waktuku untuk mulai berkerja..." ucapnya sambil tersenyum.


Kembali di dunia nyata:


"Heh... Kamu jadi gak? kenapa berkhayal?" tanya ibu kos membuyarkan lamunan Brian.


"Aaahh... Hmmm bu, aaahh itu uang kos nya bisa di kurangin gitu?" tanya balik Brian sambil menyengir takut.


"Kalau kamu anak tidak mampu, gak usah ngekos disini!" jawab ketus ibu kos.


"Hmmm saya kaya kok bu... Cumakan lagi kabur dari rumah!" ujar Brian tertunduk.


"Emang bapakmu kerjanya apa?" tanya ibu kos yang songong.


"Tukang kuli bangunan... Ya gak lah buk, bapak saya seorang Chief Executive Officer bu... Heh heh heh!" jawab Brian sambil tertunduk.


"Kerja apaan tuh?" tanya ibu kos dengan tatapan kebingungan.


"CEO bu... jabatan yang menempati level paling tinggi dari sebuah perusahaan atau organisasi." jawab Brian sambil tersenyum tipis.


"Dih songong banget kamu! memang ada pekerjaan pakai level?" tanya ibu kos yang dengki.


"Kalau gak percaya... Cari di mbah google bu! konon kalau ibunya punya HP android!" jawab Brian melebarkan seyumannya.


"Kamu kira saya gak punya HP?" tanya ibu kos yang mulai kesal. Lalu ia mengeluarkan HP Iphone nya.


Brian yang menyadari jika ibu kos itu memamerkan HP nya. Brian yang tidak mau kalah dari ibu kos pun mengeluarkan laptop Iphone nya.


Ibu kos yang menyadari itu pun nyinyir melihat laptop Brian.


"Ooo pekerjaan ini... Dimana rumah kamu? besar gak?" tanya ibu kos yang sangat dengki dengan Brian.


"Rumah saya di jalan XXXX nomor rumah XX... Yang paling besar itu rumah saya bu!" jawab Brian yang sekaligus menyombong.


"Cih songong banget ni anak..." Ucap ibu kos lalu berdiri.


"Yasudah... Ayo ikut saya pergi ke kos-kosan!" jawab ibu kos sambil mengipas kesal.


"Siap bu..."


Brian pun mengikuti jalan ibu kos dari belakang. Brian mengakui, jika kos-kosan itu sangat besar. Ada yang kos putri ada yang kos putra.


Brian masuk dalam kos-kosan itu. Melihat isi kos itu banyak cogan di dalam sana. Ada yang kulitnya putih bening ada yang hitam manis berkumis.


Brian menaiki anak tangga sambil mengikuti jalan ibu kos. Sampai di lantai 3 Brian di ajak ke kamar kos nomor 27.


"Di sini kamar kamu! dan ini kuncinya..." Ucap ibu kos sambil menyodorkan kunci.


"Makasi bu..." Jawab Brian sambil mengambil kunci dari tangan ibu kos.


Saat Brian buka, kamar kos itu sangat luas, Seperti apartemen. Brian masuk dan melihat sekeliling kamar kos itu.


"Saya tempati ya bu... Ini bu uang di kasih 2 bulan dulu. Soalnya saya belum cairkan uang!" ucap Brian sambil memberi uang 4 juta.


"Oke... Ibu terima ya..." Jawab ibu itu.


"Iya bu!" ucap Brian sambil mengangguk.


"Yasudah ibu pergi dulu... Oh ya jangan panggil ibu! panggil saya mama... Anak kos pada manggil saya mama! semoga betah..." Ucap ibu kos lalu pergi.


"Oke mah"


Brian pun menutup pintu, dan duduk di sofa. Brian membuka handphone nya. Tapi tidak ada ayahnya yang menelfonnya sekali pun.


"Itu orang memang gak peduli sama gue" ucap Brian menyenderkan kepalanya di sofa.


"Huffff... Ini waktunya gue untuk hidup mandiri!" lanjutnya sambil mempenjam mata.


Brian pun bangkit dan memasuki semua pakaiannya ke dalam lemari. Masih menjadi beban pikiran, ayahnya juga tidak kunjung menghubunginya.


Membuat Brian menjadi mengharapkan semua itu. "Apa yang lo tunggu Brian? mereka pada gak mikirin lo lagi. Mereka sudah melupai lo!" ucapnya dengan geram.


"Huuufff... Gue harus bisa hidup mandiri!"

__ADS_1


...*~*~*...


Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!


__ADS_2