Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku

Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku
CHAPTER 23


__ADS_3

Brian memukul pipi Fadli. Guru yang mengajar di kelas pun langsung keluar. "Heh... Heh... Ada apa ini?" Tanya guru itu yang memisahkan mereka berdua.


...••••selamat membaca••••...


...🍁🍁🍁...


...*...


...*...


...*...


Bulan pun ikut keluar dan terkejut melihat mereka bertengkar. "Brian... Kamu ketua osis lho kok sifat kamu jadi gini? biasanya kamu gak pernah lho cari keributan." Ucap guru itu yang sedikit kecewa pada Brian.


"Bukan saya buk yang cari keributan... Dia nih yang duluan. Mancing permasalahan." Ujar Brian yang tidak mau disalahkan.


"Hello... Mancing bukan disini bro, di kolam ikan." Jawab Fadli.


Brian yang geram pun rasa ingin mencekik leher Fadli. "Iiihh... Lo ya, lama-lama gue cekik juga lo." Ujar kesal Brian mengigit giginya.


"Udah Brian... Udah Fadli... Jangan gitu dong. Udah maaf-maafan sekarang." Jawab guru itu.


Brian dan Fadli pun hanya diam dan tidak melakukan apa-apa." Lho kok diem? ayo maaf-maafan... Peluk-pelukan gih." Suruh guru itu.


Kebetulan ada Jhordan disana dan tidak mau jika Brian memeluk pria lain. "Saya aja buk yang mewakili Brian... Sini bang gue peluk." Ucap Jhordan sambil memeluk Fadli.


"Apaan sih lo..." Jawab Fadli yang risih.


"Lah katanya di peluk..." Ujar Jhordan.


"Bukan kamu Jhordan..." Jawab guru itu sambil geleng-geleng kepala.


"Saya gak mau buk, Brian di peluk cowok lain." Ujar Jhordan.


"Lho kenapa?" tanya guru itu yang bingung.


"Brian bolehnya pelukan sama saya..." Jawab Jhordan.


"Idihhh... Apaan sih lo, gue masih normal ya." Ujar jijik Brian lalu menarik Bulan dan membawany ke kantin.


Fadli pun mengikuti mereka berdua, begitu juga dengan Bintang. "Eh... Ini masalah sudah selesai?" Tanya guru itu.


"Sepertinya mereka sudah damai..." Jawab Jhordan lalu pergi mengikuti mereka.


Di kantin...


Dimana Brian dan Bulan duduk, di situ juga Bintang dan Fadli duduk. "Hmmm hai..." Sapa Fadli sambil tersenyum ke arah Bulan.


"H-hai..." Jawab Bulan senyum tipis.


"Eh... Lo gak usah nyapa pacar gue ya." Ucap kesal Brian.


"Eh... Bulan mau makan apa? biar aku yang bayarin." Ucap Fadli kepada Bulan.

__ADS_1


Bulan hanya menyengir tipis, sedangkan Brian sudah menahan emosi. "Woi... Itu telinga lo gak pernah di bersihin. Budeg nya minta ampun, sumpah dah..." Ujar Brian yang sakit hati.


Bintang tidak tinggal diam, dia pun memanas-manasi Bulan. "Aaah Brian... Lo mau makan apa? gue mau ngikut lo aja mau makan apa." Tanya Bintang.


Sayangnya semua itu di kacangi oleh Brian. "Aaahh Bulan... Kita pindah tempat duduk yuk. Kita cari yang aman. Okeh?" Tanya Brian menarik tangan Bulan.


"Hmmm iya-iya..." Jawab Bulan yang ikut jalan Brian.


Di sana pun, Jhordan datang dan tersenyum ke arah Brian. "Oi... Masih untung gue yang meluk Fadli. Kalau lo yang meluk dia, gue cemburu." Ucap Jhordan sambil senyum.


"Hah?" Bulan yang terkejut serta kebingungan.


"Gak usah di dengerin dia..." Ucap Brian lalu menarik tangan Bulan.


Tangan Bulan pun tertarik, Brian dan Bulan pun duduk di meja makan kantin di paling ujung.


Di posisi Bintang dan Fadli, mereka pun menatap tajam ke arah Brian dan Bulan. Kesal dan cemburu, sudah teraduk campur.


"Hmmm gimana cara kita bisa memisahkan mereka?" Tanya Bintang kepada Fadli.


"Terus mendekati target kita..." Jawab Fadli sembari menatap dingin ke arah Brian dan Bulan.


"Tapi mereka makin dekat, bagaimana dong?" tanya Bintang yang kesal.


"Kita pasti berhasil kok, tidak mungkin kan kita langsung berhasil aja. Pasti bakal ada kegagalan. Dan kita jangan tinggal diam dengan semua ini. Gue bakalan ngantar dia pulang nanti, dan lo langsung duduk di motor Brian. Oke?" Ucap saran licik Fadli sembari senyum licik.


"Aaahh ya... Lo benar kak, kali ini pasti berhasil kok." Jawab Bintang sambil senyum licik juga.


Di posisi Bulan dan Brian...


Brian dan Bulan pun saling bertatapan. "Hmmm iya..." Jawab Brian sambil sengangguk.


"Uwiihhh... Gile, ternyata lo bisa pacaran juga ya, Gel... Gak nyangka aja sih. Lo yang dingin banget, ternyata bisa luluh juga ya." UjarJhordan sambil senyum.


"Iya... Aaahh nanti jam 3 sore, kita ke cafe. Ada yang mau gue omongin ke lo." Jawab Brian dengan tatapan yang ingin mengungkapkan sesuatu.


"Oh oke-oke..."


"Hmmm Bulan, kamu mau makan apa?" tanya Brian.


"Aku mau makan sama dengan kamu aja deh." Jawab Bulan sambil senyum.


"Hmmm oke-oke... Aku pesanin ya."


Brian pun memesan makanan, begitu juga dengan Jhordan. Setelah pesanan itu tiba, Mereka pun memakannya. Dari kejauhan Fadli dan Bintang terus memandang ke arah Brian dan Bulan.


Karena terhalang badan Jhordan membuat mereka susah melihat orang yang mereka tujui. "Itu badan sepupu lo ngalangin pandangan." Ucap kesal Fadli menghentikan makannya.


"Hmmm iya nih..." Jawab kesal Bintang.


Fadli pun hanya menatap punggung Jhordan dengan tatapan dingin. "Oh iya... Lo punya nomor handphone nya Bulan gak?" tanya Fadli.


"Ngapain coba gue nyimpen nomor dia..." Jawab ketus Bintang sembari memutar malas matanya.

__ADS_1


"Hmmm coba nanti lo minta ke Brian..." Ucap Fadli.


"Hmmm ya... Kalau dia mau ngasih, itu orang gak pernah banget mau nolongin orang. Apalagi minta nomor kontak orang pasti gak bakal di bales." Jawab kesal Bintang.


"Lo paksa, kalau gak lo pinjem ponsel dia." Ujar saran Fadli.


"Hmmm coba deh gue coba kalau berhasil." Jawab Bintang.


"Lo pasti berhasil kok..."


...***...


Ini adalah jam belajar telah habis. Brian dan Bulan pun berjalan menuju ke parkiran. Sedangkan Fadli dan Bintang belum keluar dari kelas mereka. Karena guru yang masuk dalam kelas mereka belum keluar.


...DI KELAS FADLI...


'AAaiisss... Ini guru kapan keluarnya sih, bisa-bisa rencana gue sama Bintang bakalan berantakan.' Gumam kesal Fadli.


...DI KELAS BINTANG...


'Oh tuhan... Ini guru lama banget jelasinnya, bisa-bisa ini rencana bakalan berantakan. Gara-gara si Brian ama si culun udah pulang. Please dong buk, coba deh jangan banyak bicara...' Gumam kesal Bintang.


...DI PARKIRAN...


Bulan sudah menaiki motor Brian, dan mereka pun sudah pergi meninggalkan kawasan sekolah. Di waktu itu juga Bintang dan Fadli baru keluar dari kelas mereka.


Melihat Bulan dan Brian sudah menjauh. Fadli pun menendang kerikil. "Aaarrggghhh biadab... Brengsek... Kita gagal lagi..." Jerit kesal Fadli sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Iya nih kak... Guru nya tadi panjang banget jelasinnya." Jawab Bintang yang ikut kesal.


"Aaarrgghh please deh kenapa harus gagal terus. Aaargghhh..." Pekik Fadli yang kesal.


"Coba deh kak besok kita cobain lagi." Jawab Bintang.


...***...


...DI JALAN RAYA...


Bulan memeluk pinggang Brian, merasa sudah nyaman berada di dekat Brian. "Bulan..." Ucap Brian sambil mengendarai motor.


"Iya...?" Jawab Bulan lalu melihat ke depan.


"Tolong deh itu kepala kamu jangan nyender di pundak aku." Ucap Brian dengan posisi kepala sudah mereng.


"Lho kenapa? kamu gak suka?" tanya ketus Bulan.


"Bukan... Ini kepalaku lama-lama bisa mereng permanen. Helm kita itu bersatu kalau di gituin jadi kepalaku jadi mereng kalau kamu nyender di pundakku." Jawab Brian menahan kepalanya yang mereng.


"Upss... Maaf ya hehehe..." Ujar Bulan lalu memperbaiki duduknya.


"Kamu gak papa kok nyender di pundakku. Setiap hari pun juga gak papa. Tapi jangan di waktu kita lagi naik motor. Soalnya kita pakai helm..." Jawab Brian.


"Hmmm iya deh iya..."

__ADS_1


...*~*~*...


Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!


__ADS_2