
"Huuufff... Gue harus bisa hidup mandiri!" ucap Brian sambil tersenyum.
...••••selamat membaca••••...
...🍁🍁🍁...
...*...
...*...
...*...
Pov Brian...
Aku menyusun semua barangku. Dan niat ingin mengambil semua barang-barangku. Mereka benar-benar tidak mempedulikan aku.
Baiklah... Aku tidak mengharap semua itu. Aku kembali duduk di sofa, menatap langit-langit atap, Yang berwarna putih.
Aku teringat di saat aku masih kecil. Perpisahnya orang tuaku, ayahku berusaha membahagiakanku. Kami melukis di langit atap kamarku dan sambil bercanda. Melukis benda-benda yang ada di luar angkasa. Membuatku makin nyenyak tidur.
Semua kebahagian itu di renggut oleh ibu tiriku. Nikahnya ayahku dan membuat ayahku terlalu sibuk bersama ibu tiriku.
Dari situlah semua kebahagiaanku menjadi jenuh dan tidak ada titik kebahagiaan. Aku suka menyendiri, suka bermain sendiri, hingga tingkat haluku meningkat.
Mengharap ada kebahagiaan yang datang padaku. Sampai sekarang, hanya ada menderita.
Aku tetap berusaha tersenyum walaupun di dalam aku terlihat sedih. Saat aku ingin melihat kamar mandi. Ponsel ku berdering bunyi notifikasi pesan dari media sosialku.
Aku membuka pesan itu, dan aku lihat nama pengguna akun. Namanya adalah nama bundaku. Aku pun tersenyum lalu membaca pesan itu.
...[DM Media Sosial lainnya]...
Bunda: "Nak, Ini akun kamu kan? Benarkan? kamu Brian kan?"
Aku: "Iya bund, ini Brian. Brian kangen banget sama bunda. Jemput Brian dong Bun!"
Bunda: "Maaf nak, bunda gak bisa jemput kamu. Itu juga bunda gak bisa bawa kamu ke rumah bunda. Kamu jaga diri aja ya, bunda pastikan kondisi kamu baik-baik aja kan?"
Aku yang membaca pesan itu hanya tersenyum.
Aku: "Hmmm bunda udah gak peduliin Brian ya. Hehehe, udah lama lho bunda kita gak ketemu. Mungkin ada kita udah gak ketemu 7 tahun. Bunda gak tau gimana kondisi Brian saat ini. Tapi gak apa, gak usah khawatirin Brian."
Bunda: "Ya tuhan... Bukan itu maksudnya bunda nak. Kamu tau kan ayah tiri kamu sensitif banget sama kamu! bunda gak mau liat kamu di cuekin sama ayah tiri kamu."
Aku: "Ya sama dong, dengan istrinya ayah. Hahaha udah lah, intinya pada gak peduli sama Brian."
...[DM terakhir mereka]...
Aku pun memblockir akun media sosial milik bundaku. Aku melempar ponselku ke sofa. Aku menutup wajahku menahan nangis.
Mungkin ini nasibku menjadi broken home. Aku berteriak layaknya seperti orang gila. Benci sama dunia, tapi dunia tidak salah apa-apa.
Aku mengapus air mataku dan bangkit. Aku pergi ke rumah untuk mengambil semua barang-barangku.
...***...
Brian pergi ke rumahnya untuk mengambil semua barang-barangnya. Saat Brian menuruni anak tangga.
Serombong pria yang lagi mengobrol pun menyapa Brian. "Dek... Baru kos ya?" tanya salah satu mereka.
"Iya kak" jawab Brian sambil tersenyum.
"You orang china ya?" tanya cowok yang megang gitar.
"Keturunan doang kok kak!" jawab Brian sambil tersenyum.
"Ooo, saranghe..." Ucapnya sambil memberi jari berbentuk love.
"Itu bahasa korea, bukan china! mikir napa lo?" tanya mereka sambil mendorong cowok yang megang gitar.
"Ya kan gue gak tau" jawabnya dengan tampang polosnya.
Brian hanya tersenyum melihat kekocakan mereka. Terlihat sangat akrap dan tidak mudah tersinggung.
"Biasalah dek, ni orang kadang rada stress!" ujar mereka memaklumi tingkah temannya.
"Hahaha iya kak gak papa, hmmm permisi dulu ya kak. Mau ngambil barang dulu!" jawab Brian sambil tersenyum.
"Mau ngambil barangnya kemana?" tanya mereka.
"Di rumah kak" jawab Brian.
"Lho kok di rumah? kamu punya rumah disini tapi kok ngekos?" tanya salah satu dari mereka.
"Ada deh kak... Permisi kak" jawab Brian.
Brian pergi dan mengambil semua barangnya.
...***...
__ADS_1
Tidak lama, Brian sampai di rumahnya. Di ruang tamu sudah tidak ada mereka. Brian pun masuk dan pergi ke kamarnya untuk mengambil semua barangnya.
Ayah Brian yang mengetahui anaknya benar-benar tidak ingin tinggal disini lagi pun menyampiri Brian.
"Kamu yakin pergi dari rumah?" tanya ayah Brian yang berdiri di ambang pintu.
Brian pun menoleh ke arah sumber suara. "Iya" jawab singkat Brian kembali memasuki barang-barangnya.
"Memang anak keras kepala... Kamu terlalu nekat, saking tingginya nekat kamu sampai kamu penyakitan begini!" ujar ayah Brian yang memang tidak tahu lagi harus bagaimana untuk mencegah anaknya.
Brian hanya diam dan tidak menghiraukan ucapan ayahnya itu, sibuk memasuki semua barangnya.
"Huuufff... Ayah gak tau lagi nak, mau apain kamu lagi. Sudah nyerah ayah ngurus kamu yang bandel kaya gini. Kapan kamu ngertinya nak sama ucapan ayah? ayah dah angkat tangan! terserah kamu deh mau ngapain. Ayah kasih lampu hijau untuk kamu bebas!" ucap ayahnya berdiri sambil melipat tangannya di dada.
Mendengar hal itu membuat Brian makin sakit hati dan kecewa dengan kedua orang tuanya yang sudah tidak mempedulikannya.
Ayahnya terus menatap Brian yang sibuk membereskan barangnya. Saat Brian pergi untuk mencari barang lainnya. Ayah Brian pun memasuki amplop coklat dan obat-obat ke dalam koper Brian.
Saat Brian kembali, ayahnya pun langsung pergi meninggalkan kamarnya. Brian yang tahu apa yang di lakukan ayahnya, mengeluarkan air matanya.
'Dia memang udah gak peduli sama gue...' Gumam Brian yang menangis.
Brian pun tetap berusaha tegar, Brian pun mengapus air matanya dengan kasar. "Gue penyesalan kalian!" gumam bersuaranya.
Saat Brian keluar dan membawa kopernya. Ibu tirinya pun berdiri di ambang pintu sambil tersenyum licik.
"Kasihan ya, udah gak di peduliin lagi sama orang tuanya." Ucap sindir ibu tiri Brian.
Brian hanya senyum licik. "Mita... Mita... Lo kira gue pergi dari rumah bakalan biarin lo beraksi kayak gini? lo mau ngambil harta ayah gue? lo gak bakal bisa, karena semua harta ayah gue udah jadi hak milik gue sejak kedua orang tua gue pisah. Lo mau apa? mau berbuat licik sama gue? lu lihat dulu gih siapa lawan lo!" jawab Brian sambil senyum licik.
Ibu tiri Brian pun terdiam membatu. Sedangkan Brian pergi dari rumah, tidak lupa menyenggol bahunya dengan bahu ibu tirinya.
'Memang anak kurang ajar... Lihat saja, kau kira aku tidak bisa mempengaruhi ayah tua kau itu?' gumam ibu tirinya sambil mengigit gigi nya.
Di bawah, Brian memasuki semua kopernya ke dalam mobilnya. Dari atas balkon, ayah Brian melihat Brian dari atas. Tidak mengira anak semata wayangnya akan bernekat begini.
Ibu tiri Brian pun memeluk ayah Brian dari belakang. "Udah deh mas... Ngapain lihat dia, dia nya aja udah kurang ajar sama kamu. Masih peduli juga kamu sama dia?" tanya ibu tiri Brian.
"Gak usah mempengaruhi pikiran aku, Mita. Bagaimana pun dia anakku! dia anak semata wayangku. Kamu? bisa apa? punya keturunan saja belum punya sekarang!" jawab ayah Brian lalu kembali masuk.
Mendengar hal itu membuat ibu tiri Brian kesal.
...***...
Pov Brian...
Awalnya... Aku tidak pernah mengira, mereka melepaskan aku begitu saja. Aku hanya bisa menerima nasibku sebagai anak broken home. Hahaha broken home, aku merasa enggan lagi untuk menginjak rumah ini.
Bahkan saat ini aku malah menuduh dunia yang penyebab semua ini. Aku bahagia, aku bisa bebas. Aku senang, aku bisa bebas. Dan anehnya, kenapa aku malah keingat wajah polos si culun bisu itu.
Bulan... Bulan... Bulan... Kau itu cantik, tapi sayang sekali kau culun. Tapi kenapa bisa ya aku memiliki teman seperti dia dulu.
Malahan aku lebih akrap sama dia dulu. Dan kenapa aku malah mengingatnya ya? jangan-jangan....? Aku... Menyukainya? aaaahh jangan sampai, itu sangat memalukan.
...DI RUMAH BULAN...
Bulan saat ini tidak dapat beristirahat. Ayah dan kakaknya benar-benar menganggapnya seperti pembantu.
"Huuuff... Capek banget... Kapan aku bisa istirahatnya kalau di suruh-suruh terus!" ucapnya sambil menyetrika baju ayahnya dan kakaknya.
Kakak nya yang begitu benci kepada Bulan pun melempar baju agar Bulan tidak dapat istirahat. "Yang rapi nyetrikanya..." Perintah kakaknya lalu pergi.
Bulan hanya bisa pasrah apa yang di lakukan kakaknya. Bulan pun mengangguk senyum. Semurah itu kah hatinya, sampai-sampai ia selalu tabah dan sabar menghadapi semua itu.
Wajah yang sudah terlihat sangat pucat, pagi sampai sore belum kelar juga untuk berkerja. Kakak dan Ayahnya benar-benar menganggapny seperti pembantu. Sampai tidak memperdulikan kondisi Bulan saat ini.
Rasa ingin melawan dan kabur dari rumah. Tapi ia bingung harus pergi kemana. Mau pergi kemana dia?, dan mau mengadu dengan siapa dia?
Dan ujung-ujungnya bulan selalu menahan diri. "Huuufff... Kapan aku bisa beristirahat? banyak sekali baju yang harus ku setrika..." Ucapnya sambil mengapus keringat yang mengalir di dahi nya.
...***...
...DI KAMAR KOS BRIAN...
Brian merebah badan di sofa kamar kos nya. Brian pun mengapus dan memblockir semua kontak ayah dan ibunya.
'Gue harap, lo pada gak nyariin gue. Gue pengen tenang, percuma lo pada menghubungi gue. Kalau niat gak mau ngasuh gue!' gumam Brian sambil memutar ponselnya.
"Huuuufff... Gini amat nasib anak broken home! jadi nyesal gue hidup...." Ucapnya sendiri sambil mempenjam mata.
Kucing pun masuk dalam kamar kos nya. Saat mendengar suara kucing, Brian pun tersenyum. "Kira-kira enak gak ya jadi kucing? jadi pengen nyobain!" ucanya sambil tersenyum.
Kucing itu mengelus tangan Brian yang terlentang di lantai. Brian pun mengelus kucing itu. "Jadi pengen jadi kucing!" lanjutnya mengelus bulu kucing.
Saat kucing itu keluar dari kosnya. Bunyi suara jerit kucing terdengar di dalam kamar kos Brian. Dan Brian juga mendengar suara tertawa. Bukan satu orang yang terdengar suara, tapi banyak suara laki-laki tertawa di sertai suara jerit kucing.
Brian pun keluar dan melihat. Ternyata kucing itu di tendang dan di injak oleh mereka. Brian pun tertegun melihatnya, terlihat jelas jakunnya naik-turun melihat hal sekeji itu.
Brian orang yang tidak tegaan pun pergi mengambil kucing itu lalu memeluknya. "Jangan nyiksa kucing dong kak, dia gak ada salahnya sama kalian!" ucap Brian yang menangis sambil memeluk kucing itu.
__ADS_1
"Yaelah dek... Pakai nangis pula, lo cewek apa cowok. Cengeng bener dah... Hahahha...." Jawab salah satu dari mereka. Mereka pun kompak tertawa sambil menyindir.
"Lo sadar gak sih kalau ini binatang! makhluk juga... Kalau lo merasa makhluk hidup, aturannya lo pada punya hati sama binatang karena sama-sama makhluk hidup. Hati lo pada busuk semua!" ujar Brian sambil mengapus kasar air matanya.
"Eleh... Lo bocil gak usah sok keras ya sama gue. Lo itu baru tinggal di kosan sini, jadi jangan sok keras! sok punya hati nurani..." Jawab salah satu mereka sambil membunkuk, menganggap Brian benar-benar seorang anak kecil.
"Biasalah bocil, liat kucing di siksa aja nangis!" ujar mereka disentai tertawa.
Brian menatap tajam wajah laki-laki yang ada di hadapannya. "Gak usah lo nganggap gue kayak anak kecil. Kalau ko punya hati pasti lo sadar apa yang lo lakuin!" jawab Brian menatap tajam ke arah laki-laki itu.
Saking geramnya laki-laki itu, dia pun menarik rambut Brian. "Lo ya... Udah bocil sok keras lagi! gak usah sok baik lo anj*ng... Ngajak ribut jangan disini. Di lapangan sono luas, ribut kita disana. Songong banget gaya lo! tampang murahan gak usah sok keras lo!" ujar laki-laki itu menarik kuat rambut Brian, hingga rambut rontok Brian pun ikut terangkat.
Brian pun senyum nantang, lalu Brian meninju kuat wajah laki-laki itu sampai ikut terdorong dengan tinjuan Brian. Brian pun meminggirkan anak kucing itu. Lalu bangkit, "Lo juga gak usah nantangin gue. Gue cuma bilang gak usah nyiksa binatang. Apa lo punya pikiran apa kagak? apa lo ikut jadi binatang juga?" tanya Brian dengan nada yang meninggi, mendengar hak itu membuat teman-teman laki-laki itu terkejut tidak percaya jika Brian begitu berani.
Laki-laki itu pun bangkit lalu meninju pipi Brian. Dengan cepat Brian menangkap tangan laki-laki itu.
Suara mereka sampai di bawah, membuat rombongan laki-laki yang bernyanyi jadi naik keatas melihat apa yang terjadi.
"Astaga... Ngapain nih... Jangan ribut disini woi!" ucap mereka sambi memisahkan Brian dan laki-laki itu.
Salah satu mereka pun bertanya kepada Brian dan laki-laki itu. "Kalian ngapain ribut hah? ada apa sih?" tanya salah satu dari mereka.
"Mereka kak... Masa iya kucing gak ada salah di tendang sampai di injak! kan kasihan kucing itu..." Jawab Brian dengan keadaan marah.
"Ya... Lo ngapain hah nyiksa kucing? kagak ada kerjaan lo? nganggur hidup lo? sini gue kasih kerjaan, lo jemur noh baju gue! ntar gue gajiin" ucap salah satu mereka sambil bercanda.
"Woi ini lagi panas-panasnya lo malah sempat-sempatnya bercanda..." Jawab teman mereka.
"Ya sorry..." Ujar salah mereka.
"Udah lah, lo udah besar tapi perangai lo kayak anak kecil. Benar juga dia bilang, kucing gak ada salahnya. Lo malah nyiksa tu kucing, kadang lo gak punya nurani!" ucap pria yang menghalang mereka.
"Alah bacot lo pada..." Jawab laki-laki itu lalu pergi ke kamar kosnya.
Rombongan nya pun juga ikut pergi meninggalkan mereka. "Dek gak usah takut kalau dia ngancam, ada kami disini! semoga betah ya..." Ucap pria itu.
"Hahahaha gak takut kok kak... Makasih ya kak! hmmm maaf kak jadi bikin keributan" jawab Brian sambil tersenyum.
"Iya dek sama-sama! santai aja, itu orang memang gitu suka cari ribut. Udah puas ni kos ribut ama tu orang. Itu juga kamu hati-hati, karena itu orang mantan napi. Udah kasus narkoba, tawuran, sampai pernah cabuli anak orang!" ujar pria itu sambil menepuk pelan pundak Brian.
"Aaahh iya kak... Hmmm Brian masuk dulu ya!" jawab Brian sambil tersenyum.
"Nama kamu Brian ya? salam kenal ya!" ujar mereka respon dengan baik.
"Iya salam kenal juga... Kalau gitu Brian masuk dalam dulu ya!" jawab Brian.
"Iya dek!"
Brian pun masuk dalam kamar kos nya. Saat ia masuk dalam kamar kos. Brian langsung menepis keinginannya menjadi seekor kucing.
"Apalagi gue jadi manusia, kalau binatang udah di buat kayak gitu! bisa mati di tempat gue..." Ucap Brian sambil mengurut dada.
Brian pun terduduk di lantai sambil mengelus dadanya. "Gila emang... Baru juga gue nginjek ini kos-kosan, gue udah cari masalah! mintak di bunuh di hidup-hidup gue!" lanjutnya sambil mengatur nafas.
...***...
...DI RUMAH BESAR BRIAN...
Ayah Brian dapat panggilan dari ibu Brian.
...[Dalam telpon]...
"Mas... Kamu ya yang suruh Brian Block akun aku? tega kamu ya mas, sudah lama mas aku gak ketem sama dia! kamu tega banget jauhin aku sama Brian, sampai kamu suruh Brian ngeblackir akun sosmed aku!" ~Ibu Brian.
"Apaan sih kamu, baru aja telponan sudah marah-marah gak jelas. Gak usah asal nuduh kamu, kalau benar kamu kangen sama dia. Kamu hampiri dia!" ~Ayah Brian.
"Kamu kan tau mas aku gak bisa pulang, itu juga suamiku gak mau Brian bawa kerumah!" ~Ibu Brian.
"Pinter banget kamu ngomong kayak gitu, pantas dia ngeblock akun kamu. Kalau kamunya ngomong kayak gitu sama dia!" ~Ayah Brian.
"Masa iya cuma karena itu doang dia marah. Pasti dapat pengaruh dar kamu! dia gak mudah tersingung." ~Ibu Brian.
"Kapan kamu terakhir kali ketemu sama dia? sampai kamu tau dia gak mudah tersinggung?" ~Ayah Brian.
"7 tahun yang lalu" ~Ibu Brian.
"Hey kamu saja udah tinggalin dia bertahun-tahun lamanya, lihat dia sudah besar dia sudah remaja. Kapan perlu kamu liat wajah sama sifat nya sekarang seperti apa!" ~Ayah Brian.
"Aku tau, pasti kamu yang pengaruhi dia sampai dia kayak gini sama aku!" ~Ibu Brian.
"Terserah kamu aja mau ngomong apa, yang jelas ini anak sudah gak di tangan aku!" ~Ayah Brian.
...[Telponan berakhir]...
Ayah Brian pun memutuskan telfonan bersama mantan istrinya itu. Kesal karena di tuduh pengaruhi Brian. Tapi aslinya, ayah Brian juga pernah mempengaruhi Brian sampai membenci ibunya.
Ibu tiri Brian pun menghampiri ayah Brian. "Mas kamu telfonan dengan siapa? serius banget!" ucap ibu tiri Brian sertai menggoda.
"Gak ada... Gak penting juga kalau kamu tau!" jawab ayah Brian bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Di sebrang sana, Ibu Brian terdiam dan tidak mengerti apa yang di katakan oleh ayah Brian. Yang ada di benak ibu Brian saat ini adalah "Brian sudah tidak ada di tangan ayah Brian" yang ibu Brian mengira jika Brian menghilang