Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku

Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku
CHAPTER 13


__ADS_3

"Hmmm iya deh iya..." Ujar Bulan kembali memeluk Brian.


...••••selamat membaca••••...


...🍁🍁🍁...


...*...


...*...


...*...


Mereka pun sudah sampai di depan rumah Bulan. "Hmmm Bulan, ayah kamu masih marah-marah ya sama kamu?" tanya Brian dengan tatapan serius.


"Yaa.... Gitu, aku gak bisa bebas dari mereka." Jawab Bulan dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu nya sih ngapain coba pulang lagi, kamu udah nyaman di rumah aku. Itu juga oom sama tante ku udah nganggap kamu itu anak mereka." Ujar Brian.


"Tetap aja kok mereka bakalan temui aku." Jawab lesu Bulan.


"Semoga aja kamu gak di marahin lagi sama ayah kamu, aku pulang dulu ya." Ujar Brian.


"Iya hati-hati di jalan ya..." Jawab Bulan.


'Andaikan kamu jadi aku, mungkin kamu tahu bagaimana perasaan aku.' Gumam Bulan.


...***...


Sore hari...


...DI CAFE...


"Lo bisa bantuin gue gak?" tanya Brian dengan tatapan serius.


"Bantu apa?" tanya balik Jhordan.


"Lo tahu kan waktu kemarin si Bintang pingsan di WC?" Brian yang mempejam matanya.


"Yaaa gue tahu, ada apa?" Tanya Jhordan


"Dia pingsan karena gak bisa mengontrol amarahnya, gue yang bikin dia sakit hati. Jujur aja sih gue sama dia itu cuma teman biasa. Gue gak tahu dia deketin karena dia suka sama gue. Pas gue anterin dia di rumah sakit. Bokap nya beri amanat ke gue untuk ngurus gue. Gue gak bisa karena gue suka sama Bulan, gue yakin juga si Bulan juga suka sama gue. Jadi gue langsung nembak dia waktu itu biar gak salah paham. Gue gak bisa jagain Bintang, jadi gue mintak tolong sama lo tolong jagain dia. Dan itu juga tolong singkirin Fadli dari Bulan kapan perlu lo jodohin deh si Bintang sama si Fadli." Jawab Brian


"Oh siap-siap, oke. Gue bakalan lakuin itu semua." Ujar Jhordan.


"Gue tahu mereka mau ngerencanai untuk memisahi gue dari Bulan... Tugas lo bagian yang ini, tolong mata-matai mereka. Apa aja yang mereka rencanakan." Jawab Brian.


"Gue bakal lakukan perintah lo, tapi ada syaratnya." Ujar Jhordan.


"Apa persyaratannya?" tanya Brian dengan tatapa serius.


"Lo harus jadi bantal guling gue nanti malam, bagaimana setuju gak?" tanya Jhordan menaiki satu alis matanya.


"Hah? yang bener-bener aja lah... Masak iya gue jadi bantal guling lo." Jawab Brian dengan tampang jijik.


"Mau apa nggak nih?" tanya Jhordan sembari senyum nakal.


"Y-ya... Gu-gue mau.... Oke cuma satu malam doang ya?" ucap Brian sambil menelan salivanya.


"Iya cuma satu malam doang kok, kapan perlu main juga. Gak seru aja cuma jadi guling." Jawab Jhordan sambil senyum.


"Gila lo... Udah jadi bantal guling aja." Ujar kesal Brian.


"Hmmm oke deh..."


...***...


Malam hari...


...DI RUMAH JHORDAN...


"Sini beb, pelukan..." Ucap Jhordan sembari merangkak ke tempat tidur.


*Glek...


'Gila... Gue bener-bener di jadiin bantal gulingnya.' Gumam Brian*.


Jhordan pun memeluk Brian, Brian hanya bisa terpejam mata disaat Jhordan memeluknya.


"Jangan takut beb... Santay aja deh." Ucap Jhordan mengelus rambut Brian.


"Lo bisa kan jangan meluk gue kaya gitu, gue sesak nafas..." Jawab Brian.


"Ya maaf..." Ujar Jhordan lalu melepaskan pelukan.


'Ya Tuhan... Kenapa cowok homo ini harus ada di sini.' Gumam Brian ngerutu dalam hati.


...***...


Pagi hari...


...DI SEKOLAH...


Jhordan berada di kelas Bintang. Ia duduk di atas meja Bintang. "Lo kalau butuh apa-apa, bilang aja ke gue." Ucap Jhordan sembari menunjuk Bintang dengan menggunakan pulpen.


"Hmmm tumbenan banget lo perhatian ama gue, biasanya gak pernah tuh lo perhatian ama gue." Jawab jutek Bintang.


"Sekarang ini adalah hari kebahagiaan gue, jadi gue mau berdamai dengan siapa pun." Ujar Jhordan.


"Ooo..."


"Iya, btw... Lo sama Fadli ada urusan apa? sampai lo serius banget ngomong ama dia tadi." Tanya Jhordan memajukan wajahnya.


"Kalau itu bukan urusan lo..." Jawab jutek Bintang.


"Pasti nya dong ada urusan nya juga dengan gue, gue ini sepupu lo. Jadi gue berhak mantauin lo, nanti kalau lo kenapa-kenapa gimana? pasti jadi repotkan urusannya. Jadi kalau lo mau curhat ama gue aja" Ujar Jhordan menaiki satu alis matanya.


"Iya-iya... Gue sama Fadli mau rencanai sesuatu." Jawab ketus Bintang.


"Apa yang mau kalian rencanai?" tanya Jhordan dengan tatapan serius.


"Gu-gue sama Fadli mau misahin Bulan sama Brian." Jawab Bintang.


'Oooo benar dugaan Brian... Ternyata ini niat mereka.' Gumam Jhordan.


"Ooo gitu ya..." Ujar Jhordan pura-pura bodoh.


"Lo jangan kasih tahu sama Brian..." Jawab Bintang.


"Aman aja... Gue gak bocoran orangnya, aman aja deh. Serahkan ke gue kalau mau ngerencanai sesuatu." Ujar Jhordan.


"Iya..."


'Bintang... Bintang lo tahu niat gue nanya kaya gitu sama lo, gue bakalan beri tahu ini semua...' Gumam Jhordan keluar dari kelas Bintang.


Jhordan langsung memasuki kelasnya. Jhordan langsung berlari ke arah meja Brian. "Brian... Gue punya kabar ter-hot..." Ucap Jhordan.


"Kabar apaan?" tanya Brian yang serius.


"Ternyata... Itu orang beneran ngerencanai untuk mengerusak hubungan lo." Jawab Jhordan sambil tersenyum penuh misteri.


"Lo serius?" Tanya Brian yang terkejut.


"Iya... Si Bintang bakalan kasih tahu ke gue apa aja yang bakal mereka rencanai." Jawab Jhordan yang kesenangan.

__ADS_1


"Terus lo mantau mereka..." Ujar licik Brian.


Jam istirahat...


Brian dan Bulan berjalan menuju kantin. Bintang dan Fadli pun langsung menghampiri mereka berdua.


"Aaahh Bulan mau makan ya? nanti duduknya dekat aku ya." Ucap Fadli yang mencoba mendekati Bulan.


Bulan hanya diam dan cuek kepada Fadli. Bulan pun menoleh ke arah Brian. "Brian... Aku pengen makan Bakso deh, kamu juga ya?" tanya Bulan sambil senyum.


"Oke aman aja deh..." Jawab Brian sekaligus memanas-manasi Bintang dan Fadli.


"Eh Brian... Nanti sore kita ke cafe yuk?" Ajak Bintang.


"Yaaahhh gue gak bisa, nanti sore gue mau ke cafe bareng ama Bulan." Jawab Brian tanpa menoleh ke arah Bintang.


Fadli dan Bintang pun berhenti mengikuti Bulan dan Brian. "Lho mereka kenapa mendadak kaya gitu?" tanya bingung Fadli.


"Ak-aku juga gak tahu..." Jawab Bintang yang kebingungan.


Dari belakang Jhordan pun menghampiri mereka berdua. "Cieee... Ada yang lagi pdkt nih..." Ucap Jhordan sambil terkekeh.


"Apanya sih yang pdkt..." Jawab kesal Bintang.


"Soalnya kalian deket banget." Ujar Jhordan.


Fadli sudah merasa risih jika Jhordan datang. "Woi Jhordan... Si Brian kenapa? kok cuek?" tanya Bintang yang kesal.


"Cuek? hmmm nggak tahu deh gue... Dia tadi aja gak cuek tu ama gue." Jawab Jhordan yang pura-pura tidak tahu.


"Ooo..."


Kenapa Bulan dan Brian cuek di saat Bintang dan Fadli menghampiri mereka?


Flashback on.


"Bulan... Mereka berdua mau merusak hubungan kita." Ucap Brian.


"Mereka siapa?" tanya Bulan yang bingung.


"Bintang sama Fadli... Mereka mau niat memisahkan kita. Jadi mulai sekarang kita jaga perasaan aja. Aku gak bakal jagain si Bintang. Karena ada Jhordan yang mau gantiin aku." Jawab Brian.


Bulan pun tersenyum senang. "Beneran kamu gak bakal jagain Bintang lagi?" Tanya Bulan dengan raut wajah membinar.


"Iya..." Jawab angguk Brian sambil tersenyum.


Flashback off.


'Kini gak ada lagi yang ganggu hubungan gue sama Bulan...' Gumam Brian sambil tersenyum.


Sampai di kantin mereka pun memesan makanan yang ingin mereka makan. "Kamu lihatkan tadi mereka mau deket-deketin kita?" Tanya Brian sambil cengengesan.


Bulan pun mengangguk senyum. "Iya benar kata kamu... Mereka mau deketin kita..." Jawab Bulan sambil tertawa kecil.


"Aku harap hubungan kita gak bakal hancur sampai akhir hayat kita..." Ucap Brian sambil tersenyum.


Begitu juga dengan Bulan yang tersenyum. Apa maksud Brian berkata seperti itu? apakah ucapannya tadi akan terulang lagi?


Brian pun mengenggam tangan Bulan. "Aku sayang banget sama kamu." Ucap Brian sambil tersenyum.


"Aku juga... Aku malahan lebih sayang sama kamu..." Jawab Bulan senyum gemas.


"Kamu itu imut tahu gak sih..." Ujar gemas Brian.


"Oh ya? seimut apa?" tanya Bulan.


"Seimut bulan di langit..." Jawab Brian sambil senyum.


"Iiihh kamu bisa aja..." Ujar Bulan.


"Makanya baca buku itu malam... Kapan perlu di catet mana yang mau hapal." Jawab Bulan.


Mendengar dengan sebutan "malam" Brian pun teringat tadi malam, di saat Jhordan memeluknya. Brian pun tertegun mendengar itu.


"Aaahh ya... Maaf..." Ucap Brian sambil menunduk.


"Biasa aja kali jangan minta maaf..." Jawab Bulan sambil senyum.


"Hehehe..."


Di lain tempat duduk, Jhordan menghalangi Bintang dan Fadli untuk mendekati Bulan dan Brian. Jhordan berusaha mencari topik agar bisa membuat mereka berdua melupakan rencana mereka.


"Gue ya dulu waktu kecil imut banget tahu gak sih. Pipi gue tembem, sampai ya saudara bokap dan nyokap gue bilang. "Iiihhh imut banget" gitu lho kata mereka..." Ucap Jhordan.


"Imut... Coba deh lo ngaca ulang di rumah... Cakep lu?" tanya Fadli dengan tampang jijik.


"Lah emang lo gak bisa lihat? wajah gue lebih ganteng dari wajah lo..." Jawab Jhordan.


"Eleh... Gak malu lo ngomong kaya gitu... Gue yang ganteng." Ujar kesal Fadli.


"Gue yang ganteng, lo jelek..." Jawab Jhordan


"Udah iiihh... Kok malah ribut, kaya gak ada yang di bahas aja deh." Ucap kesal Bintang.


"Dia noh yang duluan..." Jawab kesal Fadli.


"Lah... Kok gue? kan gue cuma menceritakan kalau gue waktu kecil imut. Lah lo nya aja yang iri karena gue lebih ganteng." Ujar Jhordan.


"Udah-udah... Lanjutin aja deh makannya." Jawab ketus Bintang.


"Iya-iya..." Ujar Fadli.


'Kayanya ini orang udah mulai deket nih.' Gumam Jhordan sambil senyum.


...***...


Teng... Teng... Teng...


...DI KELAS BRIAN...


Brian sudah berada di kelas, ia membaca buku sambari menghafal. Jhordan yang baru datang dari kantin langsung menghampiri Brian yang sedang menghafal.


"Oi beb... Kaya nya mereka mulai deket deh." Ucap Jhordan membisik di telinga Brian.


Brian pun menghentikan kegiatannya. Lalu menoleh ke arah Jhordan. "Siapa?" tanya bisik Brian.


"Itu si Fadli sama si Bintang... Mulai deket lho." Jawab Jhordan sambil senyum nakal.


"Ya pastilah, kan mereka mau merencanakan untuk memisahin gue sama si Bulan..." Ujar Brian melanjutkan kegiatannya.


"Tapi tadi itu sosweet banget tahu gak sih..."


Flashback on.


Tadikan gue ama tu orang lagi jalan bareng. Nah si Bintang di tengah-tengah gue sama Fadli. Mereka itu akrap banget ngomong nya sampai gue jadi nyamuk. Karena gue udah gak tahan, ya gue langsung dorong Bintang dengan pinggul gue. Dia nya jatuh, si Fadli refleks banget tahu gak sih nahan badan Bintang.


Flashback off.


"Nah gitu ceritanya..." Ucap Jhordan.


"Hmmn pinter juga lo ya, kaya gitu aja terus. Sampai mereka berdua saling suka terus gak ganggu gue lagi." Jawab Brian sambil senyum nakal.


"Siap boss..."

__ADS_1


Guru yang mengajar pun datang pada jadwalnya. Saat Jhordan melihat guru yang masuk dalam kelasnya. Ia pun baru ingat jika ada ulangan harian hari ini.


'Gile... Gue baru tahu kalau sekarang ada ulangan, mati deh gue.' Gumam Jhordan.


Jhordan pun menoleh ke arah Brian. 'Mau gak mau tu orang harus kasih tahu gue apa jawabannya.' Gumam Jhordan yang panik.


"Siap gerak.... Beri salam kepada kepada ibu guru kita...." Ucap Brian yang berdiri.


"Selamat siang bu..." ~All.


"Selamat siang, kita hari ini ada ulangan kan? nah cepat simpan buku kalian..." Ucap guru itu.


Semua murid menyimpan buku mereka. Sedangkan Jhordan terburu-buru membaca buku. "Jhordan, tidak ada lagi waktu untuk membaca buku. Cepat simpan buku kamu." Tegur guru.


"Aaaahh i-iya bu.." Jawab Jhordan yang menoleh ke Brian dan memberi kode kepada Brian.


Brian pun mengangguk saat mengerti kode Jhordan.


Soal ulangan pun sudah di berikan, Brian pun menendang kertas ke arah Jhordan. Dan begitulah seterusnya.


Saat guru itu menilai kertas jawaban para murid, ia pun bingung dengan kertas jawaban Brian dan Jhordan.


"Brian... Jhordan... Kok jawaban kalian sama?" Tanya guru itu.


"Aduh bu... Kan ibu kasih soalnya sama, pastinya sama dong bu jawabannya. Iiihh ibu aneh pertanyaannya." Jawab Jhordan yang tidak mau di salahkan.


Brian hanya senyum sambil menyender di dinding. "Hmmm pinter kamu ngejawab kata ibu." Ujar ibu guru.


"Lah kan ibu bertanya, apakah saya salah bu?" tanya Brian.


Guru itu hanya ngerutu dalam hati. Sedangkan Jhordan mengedip mata ke arah Brian.


Teng... Teng... Teng...


Ini adalah waktunya semua siswa di SMA XX untuk pulang. Dan ini juga waktunya Jhordan beraksi. Sedangkan Brian dan Bulan sudah berada di parkiran.


...***...


...DI PARKIRAN...


Brian pun memakaikan helm ke Bulan. "Ayo kita pulang... Eemmm nanti kita jalan-jalan yuk, kalau gak ke cafe. Ayo dong mau..." Ajak Brian.


"Hmmm aku harus minta izin dulu ke ayah aku, itu aja boleh apa gak." Jawab lesu Bulan.


"Masa iya sih gak boleh, kejem banget ayah kamu. Masa iya anak sendiri gak boleh di bebasin." Ujar ketus Brian.


"Aku usahain deh minta izin ke ayah aku. Nanti aku chat kamu kalau di bolehin." Jawab Bulan sambil senyum.


"Oke..." Ujar Brian sambil mengedip mata.


Mereka pun naik motor dan pergi dari sekolah.


Di posisi Jhordan...


"Oh iya... Kalian kenapa gak jalan-jalan aja gitu berdua." Ucap Jhordan.


"Jalan-jalan kemana coba?" tanya Fadli.


"Ya a terserah kalian, masa iya lo cowok gak cool banget deh." Jawab Jhordan.


Fadli pun menoleh ke arah Bintang yang diem. "Kamu mau jalan-jalan?" tanya Fadli.


"Hmmm ya terserah, kalau di ajak sih mau aja." Jawab Bintang.


"Nah si Bintang aja mau lho, ajak dong jalan-jalan..." Ujar Jhordan berusaha mendekati mereka.


"Hmmm Bintang... Nanti kita jalan-jalan, aku bakalan jemput kamu di rumah." Jawab Fadli.


"Nah gitu dong..." Ujar Jhordan lalu pergi.


Bintang dan Fadli benar-benar lupa dengan rencana mereka. Dan semudah itu Jhordan mendekati mereka.


Apakah rencana Jhordan bakalan berhasil selanjutnya?


...***...


...DI RUMAH BULAN...


Brian dan Bulan sudah sampai. "Nanti cobain tanya ya ke ayah kamu, boleh apa nggak..." Ucap Brian mengingati Bulan.


"Oke aku coba nanti..." Jawab Bulan sambil tersenyum.


"Yasudah aku pergi dulu ya... Bye..." Ucap Brian lalu pergi.


"Bye..."


Bulan pun masuk dalam rumahnya. Saat Bulan masuk, di rumah kelihatan sangat sepi. "Yang lain pada kemana ya?" tanyanya sendiri sambil berjalan menuju kamarnya.


Saat Bulan melewati kamar ayah dan ibu tiri nya. Bulan tidak sengaja mendengar percakapan ayah dan ibu tirinya.


Di dalam kamar...


"Coba deh mas kamu jangan kasar sama anak gadis kamu, mantan istri kamu meninggal juga bukan karena dia." Ucap ibu tiri Bulan berusaha mencuci pikiran ayah Bulan.


"Istriku meninggal karena habis melahirkan dia. Itu semua salah dia, anak pertamaku aja gak sampai koma tu istri ku." Jawab ayah Bulan.


"Iya aku tahu... Bisa jadi ajakan mantan istri kamu meninggal gara-gara gejala lain. Bukan karena anak kamu. Mas... Kamu bakalan menyesal mas kalau berbuat seperti itu kepada anak kamu." Ujar ibu tiri Bulan.


Di luar Bulan terluluh dengan ucapan ibu tirinya. Air matanya pun keluar, ternyata ibu tiri nya baik. Tidak seperti yang dia bayangkan.


Bulan pun mengapus air matanya dan pergi menuju kamarnya. 'Ternyata ibu tiriku sangat baik... Semoga aja kebaikan dia itu tidak ada mau nya.' Gumam Bulan dan hati.


Sesampainya, Bulan di kamarnya. Bulan pun merentangkan badannya di atas ranjang. "Huuuffff... Harus siapkan mental kalau mau minta izin ke ayah." Ucapnya.


Bulan pun bangkit dan mengganti pakaiannya. Bulan pun turun dari anak tangga dan pergi menuju dapur.


Saat ini Bulan tidak melihat piring kotor. Bulan pun tersenyum, lalu mengambil makanan untuk ia makan.


Betapa senangnya Bulan tidak dapat kerjaan hari ini. Saat Bulan makan, ayahnya pun datang.


Membuat Bulan menghentikan makannya. "Kenapa berhenti makannya?" tanya ayahnya.


"Aaahh nggak..." Jawab Bulan ketakutan.


"Biasa aja gak usah canggung..." Ujar ayahnya lalu mengambil air minum.


Bulan pun mengangguk senyum. "Ayah..." Sapa Bulan memberanikan diri untuk berbicara.


"Hmmm..." Dehem ayahnya sambil minum.


"Bu-bulan... Bo-boleh pergi keluar sama teman Bulan gak?" tanya Bulan dengan raut wajah ketakutan.


"Sama siapa?" tanya balik ayahnya.


"Hmmm sama Brian..." Jawab Bulan.


"Oooo cowok yang sering ngantar kamu pulang?" tanya ayahnya dengan raut malas.


"I-iya..."


"Yaudah..."


...*~*~*...

__ADS_1


Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!


__ADS_2