Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku

Bulan Yang selalu Menyinari Waktuku
CHAPTER 11


__ADS_3

Brian dan Bulan memasuki ruang utama. Di sana terdapat ada Dita sedang mengikis kuku nya. "EEehh kalian udah pulang... Brian keliatan banget deh bahagia. Ada apa ni?" Tanya Dita sembari tersenyum.


...••••selamat membaca••••...


...🍁🍁🍁...


...*...


...*...


...*...


"Hmmm ada deh... Mama baru gak boleh kepo." Jawab Brian sambil senyum gemas.


"Hmmm kamu ya, yasudah ajak temannya makan." Ucap Dita.


"Ya mama baru, hmmm ma nanti malam temanku ada pesta. Nah aku ama Bulan pergi boleh?" tanya Brian.


"Boleh kok asal jangan pulang larut malam banget ya, kamu itu bawa anak gadis orang keluar. Nanti teman kamu di apa-apain sama temen kamu." Jawab Dita.


"Aman aja dia bebeb ku..." Ujar kecoplosan Brian.


"Hah?" kaget Dita


Bulan pun melotot kaget dan memberi kode. "Aaahh bukan itu maksudnya, biasalah kan Brian suka bercanda..." Jawab Brian.


Ucapan Brian pun terpotong oleh dokter Hendry. "Eleh... Kamu aja ngejerit di atas gedungnya bapakmu, dan kamu ngeloncat-loncat. Terus hampir mati...." Ucap dokter Hendry yang baru pulang kerja.


"Idih... Siapa yang bilang?" Tanya kaget Brian.


"Bapakmu sendirilah yang ngasih tahu, masih untung dah tu Jaya nyelamatin kamu. Coba waktu itu gak ada dia. Mungkin sudah berada di pelukan tuhan." Jawab dokter Hendry sembari membuka jas dokter nya.


"Hmmm" dehem Brian.


"Aduh anak muda sekarang... Lain kali kalau mau nembak cewek jangan gitu ya nak. Ntar kamu jatuh dari atas gedung. Apalagi kan gedung ayah kamu itu tinggi banget. Bisa-bisa badan kamu kebelah 6." Ucap Dita sambil membantu dokter Hendry membuka jas.


"Hmmm gimana nih di restuin gak?" tanya Brian sambil menahan senyum.


Bulan yang sudah tidak tahan lagi. Bulan pun langsung menghindar dari pertanyaan julid dari dokter Hendry dan Dita.


"Aaahh tante... Om... Bulan ke kamar dulu ya. Nanti Bulan turun lagi kok." Ucap Bulan lalu pergi menuju ke kamar.


Dokter Hendry pun tersenyum. "Oom tahu kamu kenapa mau ke kamar. Pasti ngehindar dari oom sama tante kan? takut di tanya-tanya kan?" tanya dokter Hendry sembari senyum jahil.


"Ngg-nggak kok om... Hehehe... Bulan ke kamar dulu ya... Permisi om, tante." Jawab Bulan lalu ke kamarnya.


Brian hanya melihat jalan Bulan saja. Tiba-tiba dokter Hendry yang sudah kepo, langsung menarik tangan Brian.


"Heh... Gimana tadi nembaknya? pasti romantis banget. Kaya masa muda kita dulu ya kan, ma?" Tanya dokter Hendry sembari mengangkat kedua alisnya.


"Hilih... Kepo banget ni oom-oom... Ini kan urusan anak muda, orang yang sudah tua jangan kepo deh." Jawab Brian lalu pergi ke kamarnya.


"Eleh... Dasar bucin micin..." Jerit dokter Hendry.


"Bodo amat..." Jerit balik Brian yang sudah sampai di ujung anak tangga.


"Udah deh mas... Biarin aja deh mereka, pantau aja mereka dari jauh. Kita bimbing aja dia, ajarin dia gimana cara pacaran yang baik. Gak asal main nyosor aja." Ucap Dita.


"Hmmm jadi cara papa pacaran dulu sama mama salah dong? main nyosor aja... Eaaa... Canda nyosor..." Jawab dokter Hendry lalu pergi ke kamar.


"Iiihhh kamu ya...." Ucap Dita sembari melempar bantal.


...***...


...RUMAH SAKIT...


Bintang perlahan membuka matanya. Kepala yang masih merasa pusing membuatnya kembali menutup mata.


"Kamu sudah sadar, sayang?" Tanya ayah Bintang sembari mengelus kepala Bintang.


"Papih... Ini dimana? kok bukan di UKS?" Tanya balik Bintang sambil memegang kepalanya.


"Ini di rumah sakit sayang... Brian lho yang bawa kamu kemari." Jawab ayah Bintang.


Mendengar nama Brian membuat Bintang terngiang-ngiang di WC tadi.


Flashback on.


"Ngg-ngga kok, lho kok lo nyalahin gue? lo suka kan sama Bulan makanya lo belain dia?" tanya Bintang sembari memberi tatapan menantang.


"Iya... Gue suka sama dia... Apa lo? mau nantangin gue?" Tanya balik Brian sambil senyum licik.


Flashback off.


Bintang pun menelan salivanya dan kembali mengeluarkan air matanya. Ayah Bintang yang menyadari itu, langsung mengapus air mata Bintang.


"Hey... Manis nya papih kenapa nangis, hah?" tanya ayah Bintang.


Bintang pun mengapus air matanya. "Hahaha... Mustahil Brian yang bawain aku ke sini." Ucap Bintang sembari tersenyum.


"Kamu gak percaya? dia bakal jagain kamu, lihat aja dia pasti jagain kamu terus. Jadi kamu jangan nangis lagi..." Jawab ayah Bintang.


Bintang pun menatap lekat wajah ayahnya. 'Mana mungkin dia bakalan jagain gue... Terus Bulan gimana? bukannya Brian suka sama si Bulan? kalau itu benar.... Gue gak bakal lepasin dia begitu aja.' Gumam Bintang dalam hati.


"Papih yakin?" tanya Bintang.


"Iya... Lihat aja deh..." Jawab ayah Bintang.

__ADS_1


...***...


Malam hari...


...DI HOTEL BINTANG LIMA...


Semua anak muda dan teman-teman Jhordan datang mengunjungi hotel mewah itu. Brian dan Bulan pun datang di tepat waktu.


Dari kejauhan, Bintang meliha Brian dan Bulan bergandengan tangan. Membuatnya panas melihat adegan itu.


Bintang yang lagi minum pun memuncratkan minumannya dari mulutnya. 'Mana mungkin dia mau jagain gue, dia nya aja akrap banget sama si culun...' Gumam Bintang.


Brian yang melihat Bintang pun langsung menghampiri Bintang. "Lan, ke dekat Bintang yuk..." Ajak Brian.


"Hmmm ya-yaudah..." Jawab Bulan sambil senyum tipis.


"Kamu gak keberatan kan?" tanya Brian.


"Ngg-nggak kok... Ayo kita kesana..." Jawab Bulan.


Mereka pun berjalan menuju ke arah Bintang yang sedang duduk. Saat mereka sudah mendekat. Bintang yang sedang minum sambil menunduk, dan melihat dua pasangan kaki. Satu pasangan kaki wanita, satunya lagi pasangan kaki pria.


Siapa lagi kalau bukan Brian dan Bulan. Bintang pun mendongak kan kepalanya. Ternyata Brian dan Bulan sudah berapa di depan matanya.


"Hay..." Sapa Brian sembari senyum tipis.


"Aahhh ha-hay..." Jawab Bintang yang terbata-bata.


"Lagi ngapain?" tanya Brian.


"Aaahhh gue lagi... Ya gue lagi minum memangnya lo gak lihat gue minum?" tanya balik Bintang.


Bulan hanya bisa diam dan menyimak mereka bercakap. Walaupun di hati merasa sakit melihatnya.


"Lihat kok... Kan bisa jadi aja kan lo lagi nungguin orang gitu..." Jawab Brian.


"Gak ada yang gue tungguin... Orang yang gue tungguin sudah pergi sama cewek lain." Ujar Bintang sembari menyindir.


Bulan hanya memutar malas matanya. "Hmmm ooo pasti orangnya di depan lo..." Jawab Brian yang merasa tersindir.


Bulan pun menoleh ke arah Brian dengan tatapan kecewa. Brian yang menyadari jika Bulan lagi marah, Brian pun mengalih pembicaraan lain.


"Aaahh kami boleh ikut duduk bareng gak?" tanya Brian.


"Aaahh boleh kok..." Jawab Bintang lalu bergeser.


Brian dan Bulan pun duduk. Mereka bertiga pun duduk berderetan.


Jhordan yang melihat kehadiran Brian pun langsung menghampiri Brian. "Oi beb... Ikut gue yuk..." Ajak Jhordan.


"Ohhh oke-oke... Hmmm kalian duduk berdua disini ya?" tanya Brian.


"Akrap banget ya... Pergi kesini aja barengan..." Ucap Bintang senyum licik.


Bulan hanya diam dan pura-pura tidak mendengar. "Lo lihat aja nanti... Brian pasti pilih gue dari pada lo." Lanjut Bintang memanas-manasi Bulan.


Bulan masih saja pura-pura tidak mendengar, walaupun di hati merasa panas. "Gue sayang banget sama dia... Dia pasti pilih gue dari pada lo." Ucap Bintang.


Bulan bisa mengontrol emosinya. Tetap pura-pura tidak mendengar. "Lihat aja nanti, dia pasti bakal menjauh dari lo..."


Bulan yang sudah geram langsung berdiri dan mendorong Bintang. "Bintang, mau kamu apa hah? kamu benar-benar gak suka kalau aku dekat sama Brian. Brian itu sudah jadi pacar aku. Jadi gak usah merusak hubungan aku sama dia." Jawab Bulan dengan nada membesar.


Semua orang pun menoleh ke sumber suara. Mata mereka pun meralih ke arah Bulan dan Bintang.


"Pacar? apa lo gak punya urat malu sampai ngaku-ngaku pacar dia?" tanya Bintang ikut berdiri dengan suara membesar yang tidak kalahnya dengan nada suara Bulan.


"Kamu kali yang gak tahu malu... Tadi siang kami sudah pacaran. Pas kamu pura-pura pingsan..." Jawab Bulan yang emosi.


Plak...


Bintang menampar pipi Bulan. Bulan pun menyentuh pipinya yang sakit. Bulan yang sudah tidak bisa menahan emosi. Ia pun langsung mendorong badan Bintang sampai Bintang kecebur kolam renang.


Brian yang melihat dari kejauhan langsung terkejut, saat Bulan mendorong Bintang. Brian pun langsung berlari.


"Bulan... Kamu apa-apaan sih, jangan dorong dia dong. Dia gak bisa berenang..." Bentak Brian.


Bulan hanya menunduk takut. Brian pun langsung meloncat ke kolam berenang. Brian mengendong Bintang yang sudah tidak sadarkan diri.


"Bintang... Bangun..." Ucap Brian sembari menepuk pelan pipi Bintang.


Bintang yang belum sadar juga membuat Brian panik. Brian pun terpaksa memberi nafas buatan. Di saat Brian mendekatkan bibirnya ke bibir Bintang.


Di situ juga Bulan cemburu lalu pergi dari hotel itu sambil menangis. Brian yang menyadari jika Bulan sudah pergi langsung berdiri dan mencari Bulan.


Di depan hotel, Bulan menghentikan taxi dan pergi. Brian yang baru sampai di luar, dan hanya bisa melihat kepergian Bulan.


"Bulan..." Jerit Brian.


"Aaarrgghhh kenapa malah jadi gini sih, hah..." Pekiknya sembari menendang kerikil.


'Huuufff... Gini banget ya kalau udah nyobain pacaran. Gak semudah yang gue bayangkan.' Gumam Brian sembari mengacak-acak rambutnya.


"Aduh... Kemana dia ya?" tanya nya sendiri.


Di dalam hotel...


Bintang pun sudah sadar, di saat Brian memberinya nafas buatan. "Hmmm..." Dehem Bintang sambil mengelus kepalanya.

__ADS_1


"Bintang lo gak apa-apa kan?" tanya teman Bintang.


"I-iya... Gu-gue... Gak papa kok." Jawab Bintang yang mencoba bangkit.


"Eh lo rebahan aja dulu..." Ucap temannya menahan Bintang.


Bintang pun kembali rebahan. "Bintang... Kami keluar dulu ya? acaranya udah mau mulai nih."


Bintang pun mengangguk lemas. Saat teman-temannya keluar dari kamar hotel. Remaja pria pun masuk dalam kamar itu.


"Lo udah sadar?" tanya pria itu.


"Lo... Hmmm iya gue udah sadar. Ngapain lo masuk kesini, pergi sana keluar." Jawab Bintang.


"Gue kesini mau niat membantu lo, tapi lo juga harus bantu gue deketin Bulan..." Ujar pria itu.


"Aaahhh i-iya... Gue pasti bantuin lo, lo juga bantuin gue deketin Brian ya?" tanya Bintang dengan raut wajah membinar.


"Aman aja... Pasti gue bantu." Jawab pria itu sambil senyum licik.


Bintang mengangguk senang. Pria itu adalah Fadli, pria yang menyukai Bulan dalam diam. Pria itu adalah kakak kelas Brian, Bulan, dan Bintang. Sifat nya yang angkuh membuat orang tidak berani macam-macam padanya hanya Brian lah yang bisa menurunkan harga dirinya.


"Oke kita sepakat ya..." Ucap Fadli sambil menjulurkan tangannya.


Bintang pun juga menjukurkan tangannya, dan mereka pun berjabat tangan. Fadli pun langsung keluar dari kamar hotel itu.


Sedangkan Bintang senyum licik. 'Lihat aja, Brian pasti jadi milik gue seutuhnya...' Gumam Bintang.


...***...


...DI RUMAH DOKTER HENDRY...


Brian pun berlari memasuki ruang utama. "Mama... Bulan udah pulang belum?" tanya Brian.


"Hmmm udah... Tapi dia sudah pulang ke rumahnya... Tadi barusan pamit." Jawab Dita.


"Nanti dulu... Kamu kenapa jadi basah kuyup gini? hujan aja nggak..." Lanjut Dita.


"Nanti deh Brian kasih tahu..." Jawab Brian mencoba pergi ke rumah Bulan.


...***...


...DI RUMAH BULAN...


Bulan baru sampai di rumahnya, tidak disangka jika ayahnya sudah pulang. Di ruang tamu, ayah dan kakak Bulan duduk sembari melipat tangannya ke dada.


Bulan pun terkejut melihat kehadiran ayah dan kakaknya. Kebetulan ibu tiri Bulan berada di sana.


"Ck... Dari mana saja kamu, pulang-pulang bawa koper?" tanya ayah Bulan sembari memberi tatapan tajam.


"Aaahh... Aku..." Jawab Bulan yang belum selesai.


"Sini kamu..." Perintah ayahnya.


Bulan pun mendekati ayahnya. "Jongkok kamu..." Perintah ayahnya.


Bulan pun jongkok di depan ayahnya. Ayah Bulan pun menendang kepala Bulan. Hal itu membuat ibu tiri dan kakak Bulan terkejut.


"Mas... Jangan gitu dong, sama anak gadis kamu." Ucap ibu tiri Bulan sembari memeluk Bulan.


"Hiks... Hiks... Maaf ayah..." Ucap Bulan yang menangis.


"Kamu jangan halangi aku, pergi sana kamu masuk dalam kamar. Tunggu aku disana." Jawab ayah Bulan.


Ibu tiri Bulan pun terpaksa masuk dalam kamar. Sedangkan Bulan mati ketakutan. Kakak Bulan juga ikut masuk dalam kamarnya.


Malas mendengar isakan tangis Bulan. Ayah Bulan pun menjambak rambut Bulan. "Aaarrgghh ayah... Sakit... Hiks..." Pekik Bulan menahan sakit.


"Makanya jadi anak jangan bandel, siapa suruh kamu nginep di rumah temen kamu?" tanya ayah Bulan sembari menarik paksa rambut Bulan sampai badan Bulan ikut ke seret.


"Hiks... Ayah... Sakit." Pekik Bulan.


"Gak usah nangis kamu." Ucap ayah Bulan menendang badan Bulan.


Terpaksa Bulan menahan tangis. Ayah Bulan pun menarik paksa tangan Bulan. Dan membawanya ke kamar mandi.


Di kamar mandi, Bulan di dorong dan masuk dalam bathup. Ayah Bulan pun mengidupi air sower. Dan mengunci Bulan dari luar.


Dari luar rumah, Brian bernekat diri memanggil nama Bulan. Ayah Bulan pun langsung keluar.


"Ngapain kamu kesini?" tanya ayah Bulan memberi tatapan tajam.


"Bulan mana om?" tanya balik Brian.


"Ngapain kamu cari dia?" tanya ayah Bulan.


"Panggil aja Bulan kesini om, ada yang mau saya sampaikan ke dia." Jawab Brian dengan nada menantang.


"Hahaha... Berani banget kamu perintah saya. Bulan gak saya kasih izin untuk bertemu denganmu." Ucap ayah Bintang sambil jalan maju.


Brian pun jalan mundur. "Kenapa om?" tanya Brian menaiki dagunya.


Dug...


Ayah Bulan pun meninju pipi Brian sampai meninggalkan bekas memar. "Pulang kamu..." Suruh ayah Bulan sambil menunjuk keluar.


Brian pun pasrah dan keluar, Brian masih menatap tajam ke arah ayah Bulan. 'Awas lo anj*ng...' Gumam kesal Brian. Brian pun pulang.

__ADS_1


...*~*~*...


Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!


__ADS_2