
"Ooo kirain kamu sakit, oke semangat!" ujar mereka lalu melanjutkan olahraga.
...••••selamat membaca••••...
...🍁🍁🍁...
...*...
...*...
...*...
Brian hanya mengangguk lalu pergi dengan mengendarai sepeda motornya.
Pov Brian...
Aku menaiki motorku dan aku pergi menuju jalan ke rumah sakit. Jantungku berdetak kencang. Aku takut mendengar dokter itu mulai berkata.
Aku takut jika penyakitku makin memburuk. Aku mati? memang itulah yang kemauanku. Tapi aku ingin mencapaikan cita-citaku yang ingin menjadi seorang astronot.
Aku ingin melihat kedua orang tua ku bangga, tanpa mereka urus diriku. Pasti mereka bakal bangga memiliki anak mandiri sepertiku. Bangga? ya ampun Brian... Kau terlalu mengharap tinggi.
Orang tuamu tidak bakal bangga dengan mu, mereka sudah melupakan dirimu. Lalu, kenapa kau begitu mengharap mendapatkan kasih sayang dari mereka. Jangankan sayang, mereka saja tidak pernah bangga padamu.
Hahaha... Ya hanya pasrah, aku hanya bisa pasrah. Aku suka galau, bukan karena wanita melainkan karena kedua orang tuaku.
Aku suka? tentu saja, aku suka ceria? ya tergantung siapa pelawaknya. Andaikan, kalian menjadi diriku. Mungkin kalian tidak akan sanggup menjadi diriku.
Aku buang pikiran burukku, dan aku ingin menjadi anak yang mandiri. Aku harus belajar sendiri. Biarkan mereka bahagian bersama keluarganya.
...***...
...DI RUMAH SAKIT...
Brian sudah sampai di rumah sakit. Dia merasa deg-degan. Bagi Brian sangat berat menginjak lantai rumah sakit. "Huuufff... Tenang... Lo gak setiap hari punya penyakit ini!" gumam bersuara Brian sambil tertunduk.
Brian pun mempercepat jalannya menuju ruangan dokter yang melainkan adik kandung ayahnya.
Tok... Tok... Tok...
"Silahkan masuk..." Suara ber-bas dari dalam, yang bisa di tebak dokter itu adalah seorang laki-laki.
Brian pun masuk sambil tersenyum. "Om... Brian mau periksa penyakit Brian..." Ucap Brian sambil tersenyum mendekati meja kerja dokter itu.
"Oalah... Brian rupanya... Tumben gak sama ayah! biasanya kamu perginya sama ayah kamu... Tapikan ayah kamu nelfon oom, dia nanya kamu sudah di periksa apa belum. Kamu sama ayah kamu lagi ada masalah?" Ujar dokter itu yang tangannya masih menulis. Dengan tulisan yang susah untuk di baca.
"Hehehe... Iya om, udah biasa juga." Jawab Brian yang duduk di kursi pasien.
"Kok dianya nanya gitu, kamu pisah rumah sama dia?" tanya dokter itu bangkit dari duduknya untuk mengambil obat-obatan.
"Hmmm iya om... Brian sekarang ngekos, oom jangan kasih tau ya sama ayah. Biarin aja dia tenang sama bininya itu!" jawab Brian yang raut wajah berusaha menutupi kesedihannya.
"Kenapa gak tinggal di rumah om aja?" tanya dokter itu kembali duduk di kursinya.
"Hahaha gak om, cuma gak mau ngerepotin aja." Jawab Brian dengan nada gemetar.
"Brian... Brian... Sok gak mau ngerepotin orang. Heh... Bagi om, kamu itu gak pernah ngerepotin om. Malahan om senang kamu tinggal sama om. Ya kamu tau kan istri om gak bisa ngasilin anak gara-gara rahimnya di angkat. Asal kamu tau aja, istrinya sayang banget sama kamu. Oom sama istri om pengen banget punya anak! kalau ayah kamu lantarin kamu. Brian om aja jadi ayah kamu. Mulai sekarang kamu tinggal di rumah om aja." Ujar dokter itu sambil tersenyum.
Sontak saja Brian langsung mengeluarkan air matanya. "Oom..." Sapa Brian dengan nada gemetar.
"Udah gih gak usah nangis... Pergi sana rebah di atas ranjang!" jawab dokter itu sambil memakai stetoskop ke telinganya.
Brian pun merebah badan di atas ranjang pasien. Brian pun berdoa-doa agar penyakitnya hilang.
Dokter itu mulai meriksa detak jatung Brian. Dokter itu pun mengambil alat spirometri dan meyuruh Brian bernafas lewat alat itu.
Setelah itu dokter itu melihat hasil cek nafas Brian. Seketika raut wajah dokter itu pun menjadi kecewa. Dokter itu menghela nafas sambil mendongak keatas.
"Huuufff..."
"Ada apa om?" tanya Brian dengan raut wajah cemas.
"Paru-paru kamu makin memburuk... Kamu masih merokok?" tanya balik dokter itu sambil memijit pelipisnya.
"I-iya... Kemarin... Cuma sekali doang kok om!" bantah Brian tersenyum dengan kecewa.
"Brian... Brian... Udah tau punya penyakit paru-paru masih aja kamu merokok! keras kepala kamu ya... Sifat kamu sama aja kayak ayah kamu, sama-sama keras kepala." Ujar dokter itu yang memberi nasehat kepada Brian.
"Ya-iyalah sifatnya sama, kan Brian anaknya!" jawab Brian yang masih sempat-sempatnya bercanda.
Dokter itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia pun berjalan ke meja kerjanya dan mengambil obat untuk Brian.
"Oh iya, mana obat yang kamu minum? ada sisa atau sudah habis?" tanya dokter itu sambil membuat surat keterangan sakit.
"Ada nih sisa 3..." Jawab Brian sambil menyodorkan obat.
"Hmmm rutin minumnya, gimana? ada reaksinya gak kalau udah makan?" tanya dokter itu mengambil obat yang di berikan Brian.
"Ada kok, cuma kalau udah minum obatnya langsung ngantuk." Jawab Brian sedikit mengembungkan pipinya.
"Hmmm itu efeknya! kamu ya kapan perlu olahraga sama minum teh hijau! dan juga kamu tinggal di rumah om aja... Bawa barang-barang kamu ke rumah om. Tentang ayah kamu, oom yang ngurus." Ujar dokter itu.
"Sayang om, uang kos nya udah kebayar. Mahal bayarnya!" jawab Brian.
"Udah ikhlasin aja... Beres-beres sekarang ya? mau gak?" tanya dokter itu menuruni kacamatanya sebatas ujung hidung.
__ADS_1
"Hmmm terus siapa yang bawa barang-barangnya?" tanya balik Brian menaiki satu alis matanya.
"Bisa ntar om suruh aja pelayan om angkut barang kamu! yang penting kamu mau tinggal di rumah om." Jawab dokter itu sambil mengedip matanya.
"Hehehe... Iya mau om..." Ujar Brian memberi ibu jarinya sembari tersenyum.
Dokter itu pun mengelus ubun kepala Brian dengan lembut. "Kamu kirim aja alamat kosnya biar om kirim balik ke pelayan oom. Kamu gak payah ikut-ikutan!" ucap dokter itu.
"Hihihi... Oom baik!" puji Brian kegirangan.
Dokter itu hanya tersenyum. Saat dokter itu membereskan barang-barangnya. Tiba-tiba Brian mengelus sakit perut.
"Aaauuuww sakit..." keluh Brian meringis kesakitan.
"Eh kamu kenapa?" tanya dokter itu.
"Perut Brian sakit banget om!" jawab Brian sambil menekan perutnya.
"Kamu sudah makan?" tanya dokter itu.
"Belum om..." Jawab Brian.
"Maag kamu kambuh tuh, makanya makan." Ujar dokter itu.
"Ya tadi niatnya habis pulang berobat mau beli sarapan. Tapi om kebanyakan ngobrol, jadi lupa kalau Brian belum makan!" jawab Brian yang menyalahkan dokter itu.
"Lho kamu nyalahin oom?" tanya dokter itu dengan mata sedikit membulat.
"Ya maap"
"Hmmm hufff"
Dokter itu pun menghela nafasnya. Dokter itu adalah adik kandung dari ayah Brian. Yang sampai kini belum meliki buah hati. Ini lah salut dengan sifat mulia dari dokter ini adalah dia tetap sabar dan tidak ingin berpoligami. Walaupun istrinya sudah tidak dapat menghasilkan anak di saat diri istrinya masih gadis karena harus angkat rahim.
Nama dokter ini adalah Hendry yang berumur memasuki 37 tahun.
...***...
...DI RUMAH BINTANG...
Saat ini Bintang lagi tidak mood untuk sarapan. Bintang selalu mengaduk-aduk makanannya tiap detik.
'Kesel banget gue tadi malam... Aaaiisss!' gumam Bintang dalam hati.
Bintang pun pergi ke kamarnya dengan keadaan kesal. Sedikit menghentak kakinya ke lantai.
"Aaarrggh..." Teriak kesal Bintang sembari mengacak rambutnya.
"Aaarrgghhh gue kesal..."
Sampai di kamar, Bintang membanting pintu kamarnya. Lalu melempar bantalnya saking kesalnya.
"Aaarrgghhh... Hiks awas lo Brian!"
...***...
...DI RUMAH BULAN...
Lain lagi dengan yang di lakukan Bulan. Bulan yang pagi-pagi masih tertidur lelap di perlakukan kasar oleh kakak dan ayahnya. Bulan di siram dan di jambak karena telat bangun.
Bulan yang setengah sadar pun langsung bangkit dari tidurnya dengan mata yang masih sembab. "Udah tidurnya... Udah nyenyakkan? nah ini waktunya kamu bersih-bersih rumah... Jangan seenaknya kamu ya!" ucap tegas ayah Bintang sambil melipatkan tangannya di dada.
Bulan hanya mengangguk tunduk. Apalah daya gadis ini yang selalu di perlakukan kasar oleh kakak dan ayahnya. Apa yang terjadi jika ayahnya akan menikah lagi? apakah Bulan mendapatkan kasih sayang atau sebaliknya?
Tidak lama lagi ayah Bulan akan menikahi wanita pujaannya. Bagaimana nanti perilaku calon ibu tirinya nanti?
Begitu menderitanya Bulan selama ia hidup bersama ayah dan kakaknya. Bulan yang baru bangun tidur langsung bangkit dan pergi menuju kamar mandi. Badan yang sudah basah kuyup.
"Cepat mandinya, kamu beresin rumah." Perintah ayahnya berkacak pinggang.
Bulan hanya mengangguk lalu pergi menuju kamar mandi. 'Kapan aku bisa tenang? aku sudah lelah dengan semua ini, mereka menganggapku seperti pembantu. Mana hati nurani kalian? di saat kondisiku sedang sakit, apa kalian pernah berhutang budi kepadaku?' gumam Bulan yang sudah berada dalam bathup yang seukuran dengan badannya.
Bulan pun memutar kran air sower itu. Badannya pun basah terguyur air lewat sower.
Tidak lama kemudian Bulan selesai mandi. Dan membersihkan kamarnya setelah itu. Saat Bulan ingin sarapan. Kakaknya merebut makanan dari tangan Bulan.
"Kerjain dulu tugas kamu, baru makan... Jangan asal sarapan kamu." Kata kakaknya sambil menyimpan makanan.
"Apa salahnya kak aku sarapan sebentar, mau nambahin energi aja untuk kerja." Jawab Bulan mulai berkerja.
...***...
...DI RUMAH DOKTER HENDRY...
Saat ini Brian sudah berada di rumah pamannya. Siapa lagi kalau bukan dokter Hendry.
Dengan kedatangan Brian di rumah sana. Sambut hangat oleh istri dokter Hendry. "Selamat datang ganteng... Jadi anak tante ya? disini aja tinggalnya, tinggal bareng sama om dan tante." Ucap istri dokter Hendry sambil tersenyum.
"Hehehe, iya tante makasih..." Jawab Brian sambil balas senyum.
"Aaahh mas... Itu ayahnya Brian udah dikasih tau?" tanya istri dokter Hendry yang bertanya kepada dokter Hendry.
"Belum sih, nanti mas kasih tau. Itu juga ini jam kerjanya kan. Tinggal samperin aja dia ke kantor." Jawab dokter Hendry sambil senyum tipis dan mengangkat kedua alis matanya.
Nama istri dokter Hendry adalah Dita. Istri kesayangan dokter Hendry. Paras yang cantik dan itu juga ramah terhadap siapapun.
__ADS_1
"Ohhh gitu ya... Mending kasih tau aja sekarang. Takutnya dia malah marah gitu anaknya di bawa-bawa gitu aja." Saran Dita yang tidak ingin ada bermasalahan.
"Lah, dia sendiri yang ngusir anaknya sendiri. Gak ada masalahnya dong." Jawab dokter Hendry sedikit songong.
Dita pun menoleh ke arah Brian yang menatap aquarium besar yang ada di rumah dokter Hendry. "Benar kamu diusir sama ayah kamu?" tanya Dita menaiki satu alis matanya.
"Hah? nggak..." Jawab Brian yang belum sadar masih menatap aquarium besar itu.
Dita pun menoleh ke arah suaminya. "Udah deh mas kasih tau dulu sama ayahnya. Aku malas dengar ribut-ribut kakak kamu itu." Ucap Dita sambil geleng-geleng kepala membayangi suaminya akan ribut dengan kakak iparnya.
"Lah, dia sendiri yang bilang lagi ribut sama bapaknya." Jawab dokter Hendry mengerutkan dahinya.
"Heh ayah kamu sendirikan yang ngusir kamu?" tanya dokter Hendry sambil menyuil pinggang Brian.
"Itu aquariumnya gede banget, tambahin aja rumah spongebob, patrick, ama squidward. Pas deh kayak kota bikini bottom." Kata Brian yang membinar melihat aquarium besar itu.
Dita dan dokter Hendry pun bingung apa yang di kata Brian. Lain di tanya lain di jawab, keduanya pun mengerutkan dahinya.
"Lah lain di tanya lain di jawab." Ujar dokter Hendry dengan raut wajah yang bingung.
Brian pun menoleh ke arah dokter Hendry. "Apanya?" tanya Brian menaiki kedua alis matanya.
"Jadi kamu dengar apa yang di omongin oom sama tante?" tanya balik dokter Hendry berkacak pinggang.
"Nggak..." Jawab singkat Brian lalu pergi berjalan ke ruang tengah.
Dokter Hendry dan Dita pun hanya menatap jalan Brian. "Mas, entah kenapa sampe sekarang aku gak ngerti apa yang di bilang Brian tadi." Ucap Dita menggosok dahinya.
"Sama sih mas juga..." Jawab dokter Hendry sambil menatap bawah.
"Sudahlah, gak usah di pikirin. Mas mau ke kantornya si Jaya dulu. Dah pergi dulu ya?" tanya dokter Hendry sambil menyodorkan tangannya.
"Yaudah hati-hati dijalan mas..." Jawab Dita meraih tangan suaminya lalu mencium punggung tangan suaminya.
...***...
...DI RUMAH BULAN...
Sudah siang, Bulan belum juga selesai bekerja. Wajah yang berkeringat, terlihat jelas bajunya basa karena keringat.
Wajah yang terlihat sangat pucat. Bukannya di suruh istirahat, ayah dan kakaknya malah menyuruh membersihkan seluruhnya.
"Heh, ayah besok mau nikah. Lo harus bersihin semuanya." Perintah kakaknya berkacak pinggang.
"Hah? yang benar sajalah, masa iya aku bersihin semuanya. Iiihhh pada gak mikir, aku ini capek kak. Jangan jadikan aku robot yang bisa lakuin ini dengan cepat. Aku aja makan belum, malah nyuruh aku bersihin semuanya." Jawab Bulan yang membantah dengan suara yang tidak kalah besarnya dengan suara kakaknya.
"Lah lo membantah? gue kasih tau ayah lo ya..." Ancam kakaknya sambil senyum licik.
Bulan yang merasa terancam pun harus pasrah. 'Aku pengen kabur' gumamnya.
Bulan pun melanjutkan kerjanya. Dengan kepala mulai berkunang-kunang. Bayangan mata Bulan mulai menggelap. Tanpa di sadari, Bulan pun pingsan. Membuat kakaknya panik.
...***...
...DI KANTOR AYAH BRIAN...
Dokter Hendry menginjak lantai kantor milik ayah Brian. Siapa lagi kalau bukan tuan besar Sanjaya.
Sesampainya di ruangan tuan Sanjaya. Bukannya langsung mengetuk pintu. Dokter Hendry langsung menyelonong masuk.
Betapa terkejutnya dokter Hendry melihat kakaknya sedang bermesraan bersama istri kakaknya di dalam ruangan.
"Iihhhh iuuuwww..." Itu lah yang keluar dari mulut dokter Hendry yang jijik melihat semua itu.
"Bisa gak ngetuk pintu? dokter kok gak punya tata krama." Ucap kesal tuan Sanjaya menatap tajam ke arah adiknya.
"Ya maap" jawab dokter Hendry lalu duduk di kursi.
"Hmmm itu si Brian udah periksakan?" tanya tuan Sanjaya.
"Udah, aku kesini juga mau bicarakan tentang dia." Jawab dokter Hendry.
"Hmmm ada apa?" tanya tuan Sanjaya sedikit cemas.
"Itu mau bahas, tadikan si Brian periksa penyakitnya. Tapi hasilnya malah menjadi penyakitnya. Jantung sama paru-parunya makin memburuk. Nah itu juga dia tadi curhat, kalau dia punya masalah sama kakak. Aku bawa dia tinggal kerumahku. Niatnya sih, aku mau jadiin dia jadi anak angkatku. Ya kalau kakak boleh!" jawab dokter Hendry menjelaskan semuanya.
Bukannya mikir dua kali, tuan Sanjaya dengan cepat menjawab. "Iya, terserah kamu aja." Ujar tuan Sanjaya dengan sepelenya.
Sontak saja istri tuan Sanjaya, siapa lagi kalau bukan Mita. Dia pun tersenyum senang mendengar jawaban dari tuan Sanjaya.
'Yes... Ini yang ku tunggu dari mas Jaya.' Gumam Mita sambil senyum licik.
Begitu juga dengan dokter Hendry tersenyum mendengar itu. "Aaahh yang benar?" tanya dokter Hendry memastikan jika itu tidak salah.
"Iya, asal kamu bisa ngurusnya." Jawab tuan Sanjaya.
"Oke, dah itu aja." Ujar dokter Hendry dengan senangnya lalu pergi tanpa berterima kasih.
'Jujur saja, aku belum bisa mengikhlaskan Brian. Dia anakku dia buah hatiku, tapi aku pasti bisa membuat anak lagi.' Gumam tuan Sanjaya dengan raut wajah yang sedih.
"Mas... Yang kamu ucapkan tadi seriuskan? kamu gak bohong kan?" tanya Mita dengan raut wajah yang membinar.
"Iya, tapi aku gak bakal ngeluarin dia dari KK. Hmmm kamu kok keliatan senang banget kalau Brian bakal di jadikan anak angkat dengan adikku?"
...*~*~*...
__ADS_1
Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!