
Pagi hari...
Kring... kring... Kring...
Jam weker berbunyi nyaring di telinga Brian, dan membuat Brian terbangun. "Huwaahhh..."
Brian pun mengambil handuk di lemarinya dan pergi menuju kamar mandi. Tidak sampai 15 menit. Brian keluar dari kamar mandi dengan keadaan bersih.
Brian pun mengambil seragam sekolahnya dan pergi ke bawah untuk sarapan pagi. "Pagi boy..." sapa ayah Brian.
"Hmmm ya pagi juga" jawab dingin Brian sambil mengambil roti.
"Kamu mau ayah antarin atau bawa motor?" tanya ayahnya sambil menyantap roti.
"Aku bawa motor saja!" jawab Brian.
"Kalau kamu bawa motor kamu jangan berkeliaran ya... Nanti penyakit kamu kambuh lagi!" ucap saran ayahnya.
"Ya... Ya... Ya... Aku pergi dulu!" jawab Brian lalu mencium punggung tangan ayahnya.
"Hati-hati di jalannya boy..." Ujar ayahnya.
"Oke"
Ibu tirinya hanya melihatnya saja, Brian sama sekali belum pernah menyentuh dan menyium punggung tangan ibu tirinya.
"Hmmm gak niat mau salam nih?" sindir ibu tiri Brian, Brian hanya menghiraukan dan pergi begitu saja.
"Kebiasaan banget mas, anak kamu itu." Ucap kesal ibu tiri Brian.
"Di maklumin aja lah..." Jawab ayah Brian sambil fokus menyantap makanannya.
...***...
...DI SEKOLAH...
Gadis cantik berpenampilan culun duduk di kursi paling belakang dan paling pojok. Dia menuliskan sebuah cerita di buku diary nya. Dan datanglah rombongan pria nakal dari anak IPS.
"Woi culun..." Ucap mereka sambil tertawa ledek.
Gadis itu pun menoleh ke arah mereka dengan tatapan takut. "Gak usah sok polos lo" ucap mereka.
Wanita itu hanya diam tertunduk. Salah satu dari rombongan anak nakal itu pun mengambil buku diary Gadis itu.
"Kembaliin bukuku" ucap wanita itu.
Mereka pun melempar-lempar satu sama lain membuat Gadis itu kualahan mengambilnya.
Brian yang lewat dari depan kelasnya pun melihat aksi mereka, dan kebetulan Brian ketua osis yang terkenal galak.
"Woi..." jerit Brian dari lewat jendelan kelas.
Sontak saja semua pria itu menoleh ke arah Brian. "Eh... Ada ketos galak! kasih aja woi nanti dia marah..." Ucap salah satu mereka.
Mereka pun memberikan buku diary Gadis itu lalu keluar. Mereka keluar pun masih di tatapan tajam sama Brian.
Mereka pun menyengir takut ke arah Brian. Sedang gadis itu mengapus air matanya. Nama Gadis itu adalah Bulan Septiani. Gadis culun dan kutu buku.
Tidak banyak waktu, Brian pun langsung pergi ke kelasnya.
Brian berjalan saja bisa membuat semua orang yang melihatnya ketakutan, padahal Brian hanya lewat saja.
...***...
Pov Brian...
Btw... Aku belum berkenalan kepada kalian. Aku Brian Ranggel Sanjaya, anak semata wayang dari bapak Sanjaya dan ibu Melya. Umurku 17 tahun, kelas 2 SMA. Aku ketua osis di sekolah ini. Banyak orang bilang, wajahku seperti tampang pembunuh. Padahal memang wajahku kalau lagi diem ya kayak gini.
Tapi beda di lihat dari keluarga ayahku. Aku sering di bilang si China kalem. Ya karena tubuhku yang terlalu putih dengan mata sipit dan tidak terlalu banyak bicara.
Kebiasaan mereka saat bertemu denganku adalah mencubit dan mencium pipiku.
Flashback on.
"Aaarrgghhh Si China kalem kapan datangnya nih..." Ucap mereka sambil mencubit pipiku.
"Ya ampun dek wajahmu makin gemoy aja, itu pipi semok banget!" ucap sepupuku.
"Ayo dek masuk dalam karung" ucap adik laki-laki terakhir ayahku.
Flashback off.
Kadang dengan wajahku yang seperti ini, rekan bisnis ayahku selalu membawaku dan jadikan ku model dan iklan susu.
Please deh, aku ini sudah besar jangan buatku seperti ini. Tapi tidak apa, aku gemari banyak orang.
Oke kembali masuk dalam topik. Aku masuk dalam kelas, dan duduk paling belakang dan paling pojok. Aku mengambil permen tangkaiku dan ku mengemutnya.
Datanglah si Bintang yang selalu berusaha membuatku lebih baik. Ya dia sangat baik padaku, hanya saja aku jarang membalas kebaikkannya.
"Hai Brian... Baru datang ya?" tanya Bintang sambil duduk di atas mejaku.
"Iya..." Jawab singkatku.
"Sudah sarapan?" tanya nya yang begitu pedulinya padaku.
"Sudah... Kenapa memangnya?" tanya balikku ke dia.
"Ooo... Hmmm ya gak papa, cuma nanya doang" jawab nya.
"Oh" ujarku.
Kami pun diam dan tidak berbicara lagi. "Jangan duduk di meja gue bisakan?" tanyaku.
"Aaahh ya... Hehehe maaf ya!" jawabnya.
Aku hanya diam dan menatap dingin ke arahnya.
...***...
Sudah 2 jam guru tidak memasukin semua kelas. Dan akhirnya Brian pergi ke kantor untuk menanyakan kenapa tidak belajar.
Kantor guru...
"Permisi bu... Pak... Saya mau nanya, kenapa kok semua guru gak masuk ke kelas kami semua?" tanya Brian.
"Aaahhh ya... Astaga... Maaf ya nak, ibu lupa lho ngasih tahunya. Tolong ibu bisakan nak, tolong kasih tahu ke teman-temanmu kalau kalian bakalan libur selama satu minggu ini... Tolong kasih tahu ke teman-teman kamu ya!" jawab ibu guru.
Brian pun hanya mengangguk, lalu pergi tanpa pamit.
Brian pun berjalan sambil mengatakan "Libur sampai satu minggu..." Sontak semuanya langsung berteriak senang dan mengambil tas mereka.
Saat Brian lewat di depan kelas Bulan. Lagi-lagi Brian melihat Bulan di bully sama rombongan cewek centil.
Brian pun masuk dalam kelas itu dengan kericuhan. Saat Brian menghalang kericuhan itu. Kebetulan juga ketua geng centil ingin menampar wajah Bulan. Tapi yang tertampar adalah si Brian.
Brian pun terdiam sambil megang pipinya yang sakit. "Ya Tuhan matilah aku" ucap wanita itu sambil menutup mulutnya.
Brian pun kembali melihat ke depan sambil memeberi tatapan tajam.
Plak...
Brian pun menampar dengan keras pipi wanita itu. Membuat wanita itu tersungkur saat kena tamparan dari Brian.
"Kita semua pulang... Dan libur sampai satu minggu!" ucap Brian dengan dingin.
Lalu semua orang isi kelas langsung berteriak senang lalu pergi pulang meninggalkan Brian, Bulan, dan wanita itu.
"Bisa kan lo jangan bully anak orang... Jangan sampai gue bully lo ya!" ucap ancam Brian.
"Woi culun... Ambil tas lo, kita semua disuruh pulang!" ucap Brian ke Bulan.
"Pulang ya? aku gak ada yang jemput!" jawab Bulan.
"Gue yang antar lo pulang... Ambil tas lo!" ujar Brian lalu pergi.
Bulan pun senang dan pergi ikut bersama Brian. Sedangkan wanita itu masih tersungkur menahan sakit
__ADS_1
Saat Brian keluar dari kelas Bulan. Bintang pun menghampirinya dengan senang. "Brian, gue nebeng dengan lo ya!" ucap Bintang sambil tersenyum.
"Maaf Bin... Gue mau ngantar si Bulan ke rumahnya!" jawab Brian lalu pergi begitu saja.
Seketika raut wajah Bintang tadinya tersenyum pun jadi berubah kecewa. Bulan pun keluar dari kelasnya sambil menenteng tasnya.
Tidak di sadari oleh Bintang, air matanya pun mengalir. 'Tega lo Brian... Lo malah mementingkan orang lain dari pada gue... Padahal gue yang selalu menemani lo! tega banget lo Brian!' gumam Bintang.
Bintang pun melihat jalan Brian dan Bulan yang menjauh darinya. Bintang pun mengapus kasar air matanya. "Awas saja lo Bulan..."
...***...
...DI PARKIRAN SEKOLAH...
"Cepat naik..." Ucap Brian.
Bulan pun menaiki motor, dan sedikit menjauh dari Brian. "Pengang gue..." Suruh Brian.
"Aaaahh aku pegang di sini saja!" jawab Bulan sambil megang belakang motor.
Brian pun sengaja mengegas motor, dan membuat Bulan memeluknya. "Pegang pinggang gue... Jangan peluk gue!" ucap jutek Brian.
"Aaahh iya-iya" jawab Bulan lalu megang pinggang Brian.
Brian pun melajukan motornya. Saat ia lajukan, semua orang pun terkejut melihat Brian membonceng Bulan.
...***...
Pov Brian...
Niatku hanya membantu, wanita lemah ini tidak akan ku biarkan begitu saja. Dia juga teman kecilku, hanya saja semenjak ada Bintang. Kami jarang berbicara satu sama lain. Kadang menyapa pun tidak pernah lagi.
Dia baik, sangat baik... Aku berteman tidak memandang fisik maupun harta. Bagiku itu tidak penting, dia selalu ku panggil dengan sebutan "Culun bisu" ya karena dia sangat pendiam. Kadang dia ngomong pun juga tidak terdengar.
Kami pun sudah sampai di rumahnya. Dia pun turun dan berterima kasih padaku. Tapi aku malah langsung pergi.
Aku pergi menuju tempat mainku. Yaitu di cafe, di sana aku suka mengisap rokok dan memain gitar.
Sesampai di sana, aku bertemu dengan teman-teman lamaku.
...***...
"Eehh kok tumbenan datang cepat... Lo bolos?" tanya temannya sambil mengisap rokok.
"Gak... Cuma kami libur hari ini!" jawab Brian.
"Ooo..."
Brian pun mengambil kotak rokok milik temannya dan mengambil satu batang rokok. Brian pun membakarnya dan mengisapnya. Padahal Brian punya riwayat penyakit paru-paru.
Brian mengenbuskan asapnya dari mulutnya. Ya itu jadi candu oleh Brian. Mungkin jika ia di kasih barang haram seperti narkoba. Mungkin mau saja dia memakainya.
Pergaulan bebas Brian membuatnya menjadi penyakitan. Memiliki penyakit mematikan, selalu ia abaikan. Padahal sudah berulang kali ia keluar-masuk rumah sakit.
"Brian... Nanti malam coba pergi ke bar yuk!" ajak temannya.
"Kalau malam gue gak bisa... Gue sering dikurung!" jawab Brian.
"Yaelah... Kan bisa lewat jendela..." Ujar temannya.
Brian pun mengingat saat dia melonjat dari atas balkon. Seketika ia pun menelan salivanya karena sudah tidak berani melakukan itu lagi.
"Aaahh gak ah... Bisa-bisa gue patah kaki lagi kalau loncat.... Gak mau ah!" ucap Brian.
"Terus gimana dong? masa iya lo gak boleh keluar! kan lo sudah besar... Masa iya manjain terus!" jawab temannya.
"Hmmm ya gimana lagi... " Ucap Brian.
"Yasudah lah kami-kami aja yang pergi... Lo gak usah ikut... Lo anak ayah! hahaha anak ayah" jawab temannya.
Brian yang kesal pun meninju temannya itu. Dan kericuhan pun terjadi. Semua barang-barang yang ada di cafe pun hancur.
Semua orang pun memisahi mereka berdua. Brian yang sudah kesal pun langsung pergi dari cafe.
Saat Brian menaiki motornya, nafasnya pun kembali sesak. "Hah hah hah"
Sampai di rumah, Brian langsung berlari dan menuju ke kamarnya. Sampai di kamarnya, Brian langsung mengambil obat di dalam meja nakasnya.
Saat Brian sudah memakannya Brian langsung merebahkan badannya ke atas ranjang sambil menahan rasa sakit di dadanya.
"Aaarrrgghhh sakit..." Jerit Brian sambil menahan dadanya dengan bantal guling.
"Aaarrgghhh sakit...."
Brian pun menangis menahan dadanya yang sakit. "Sakit.... Aaarrgghh Bunda.... Dadaku sakit!" jerit Brian.
Ibu tirinya pun membuka pintu kamarnya. "Lah... Ngapain kamu pulang? gak sekolah kamu?" tanya ibu tirinya yang berkacak pinggang.
"Diam lo... Keluar dari kamar gue!" jawab Brian sambil menahan sakit.
"Kasih tahu ahhh kalau situ bolos!" ujar ibu tirinya lalu keluar sambil mengutak-ngatik ponselnya.
Brian pun terdiam karena dadanya mulai tidak sakit lagi, karena efek obat Brian pun tertidur.
Di luar ibu tiri Brian menghubungi ayah Brian.
...[Dalam telpon]...
"Hallo mas... Anakmu bolos mas!" ~Ibu tiri Brian.
"Lho bagaimana?" ~Ayah Brian.
"Ini lho anakmu ada di rumah... Bukannya sekolah dia malah pulang!" ~Ibu tiri Brian.
"Astaga anak ini!" ~Ayah Brian.
"Yasudah mas bakalan pulang..." ~Ayah Brian.
"Iya mas..." ~Ibu tiri Brian.
...[Telponan berakhir]...
Ibu tirinya yang menama mita, pun pergi dari depan pintu kamar Brian sambil senyum licik. Brian yang ada di dalam kamar sudah tertidur pulas. Dengan angin yang terembus dari lewat jendela membuat Brian makin nyenyak tidur.
Brian yang dulunya anak baik pun berubah menjadi nakal. Karena menjadi seorang broken home. Beginilah kehidupannya, bukannya lebih membaik tinggal bersama ayahnya. Hidup Brian pun makin menjadi keterpurukan.
...***...
Flasback on.
Di waktu Brian masih berumur 10 tahun. Tiba-tiba saja mendengar kedua orang tuanya ribut. Keluarga dulunya humoris pun menjadi berantakan.
Brian yang tertidur mendengar suara keributan di luar membuatnya terkejut dan terbangun. Brian pun langsung keluar dan menuju kamar kedua orang tuanya.
Di dalam kamar...
Kedua orang tua Brian bertengkar dengan masalah menuduh selingkuh. Ibu Brian yang tidak menerima penuduhan itu pun melawan.
"Selingkuh apanya mas? mana ada aku selingkuh! kamu jangan asal nuduh ya mas..." Ucap ibu Brian.
"Laki-laki yang sering antar jemput kamu itu siapa kalau bukan selingkuhan kamu!" jawab ayah Brian dengan emosi yang memuncak.
"Itu cuma teman kantorku doang kok mas... Kok sensitifan banget sih? dah lah mas aku malas berdebat sama kamu yang terlalu baperan!" ujar ibu Brian sambil melepaskan sepatunya.
"Seenak itu kamu bilang teman kantor, mas selalu menjemput dan mengantar kamu pergi. Tapi kamu selalu menolak semua itu. Kamu pergi bersama laki-laki itu. Apakah itu yang kamu bilang teman?" tanya ayah Brian.
"Kalau itu pacarku kenapa? gak suka kamu mas?" tanya balik ibu Brian.
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipi mulus ibu Brian. "Aku mau kita cerai mas! aku dah cepek berdebat sama suami baperan kaya kamu!" ucap ibu Brian.
Brian pun langsung berlari dan memeluk badan ayahnya. "Ayah... Bunda jangan bertengkar... Brian takut!" ucap Brian yang menangis.
"Aaahh bukannya kamu tidur ya? pergi sana masuk kamar lagi!" jawab ayah Brian sambil mengelus kepala Brian.
Ibunya pun mengambil tangan Brian. "Brian sayang... Kamu ikut sama bunda ya! bunda mau ngajak kamu jalan-jalan..." Ucap ibu Brian sambil mengelus kepala Brian.
__ADS_1
Ayahnya yang tidak mau Brian berada di tangan ibunya. Ayahnya pun mengendong Brian. "Kamu kalau mau pergi, gak usah bawa Brian..." Ucap ayah Brian.
"Kamu apaan sih mas... Dia itu anakku! aku yang melahirkan dia... Suka-suka aku dong mau bawa dia kemana... Kembalikan Brian bersamaku!" jawab ibu Brian berusaha menarik badan Brian.
"Aaarrgghh bunda ayah jangan berantem Brian takut!" jerit Brian yang menangis.
"Iya-iya... Ayah sama bunda gak berantem kok!" jawab Ayahnya lalu membawa Brian keluar.
Ibunya pun cepat berlari mengejar ayah Brian agar tidak di bawa pergi sama ayahnya.
"Mas... Brian sama aku saja..." Ucap ibu Brian menahan pintu mobil.
Ayah Brian pun mendorong ibu Brian. Lalu ayah Brian masuk dalam mobil lalu membawa pergi Brian.
"Bunda..."
Flashback off.
Ayah Brian pun datang dan membuka pintu kamar Brian. Melihat Brian tertidur sambil memeluk bantal gulingnya. Dan melihat ada botol obat di atas meja nakas Brian.
Ayahnya pun duduk di tepi ranjang dan menge-cek dahi Brian. Ternyata dahi Brian panas. "Boy... Bagung boy..." Panggil ayah Brian sambil menggoyang pelan tubuh Brian.
Brian pun terbangun, dan pertama yang ia tatap adalah ayahnya yang berada di sampingnya. Karena penyakitnya, Brian pun sesak di dada.
"Aaarrgghh sakit!" rengek Brian sambil menekan dadanya.
"Dada kamu sesak lagi?" tanya ayah Brian.
Brian pun mengangguk sambil menahan sakit. "Jangan bilang kamu merokok lagi?" tanya ayah Brian dengan sedikit membesar.
"Sekali-sekali doang kok!" jawab Brian.
"Heee... Ni anak... Mau mati kamu?" tanya ayah Brian sambil mencubit perut Brian.
"Mati ya bagus... Sudah bosan juga hidup di bumi..." Jawab santai Brian sambil menahan rasa sakit di dada.
"Amit-Amit nak... Amit-amit! kamu itu anak semata wayang ayah... Kalau kamu meninggal terus ayah sama siapa?" tanya ayah Brian yang tidak mengerti lagi maksud anaknya.
"Kalau ayah punya anak lagi, mungkin ayah bakalan relain Brian kan? dan itu jugakan istri ayah ada yang nemanin ayah..." Jawab Brian membuang muka.
"Kamu gak mikir... Hampir semua anggota tubuh kamu rusak! kaki kamu lah yang rusak, jantung lah, paru-paru, ginjal. Sudah banyak penyakit kamu itu... Aturannya kamu harus berusaha cepat-cepat sembuh. Biar kamu bisa bebas dari penderitaan kamu yang punya penyakit banyak. Kamu juga pengen jadi astronot kan? aturannya dari mulai cita-cita kamu itu, kamu jadi bangkit semangat! bukan malah pasrah..." Ujar ayahnya agar Brian dapat masuk dalam kata-katanya.
"Cita-cita kamu itu sangat tinggi nak... Sangatlah tinggi, ayah selalu dukung kamu jadi astronot. Kalau kamu malah jadi putus asa ini Cita-cita gak bakal tercapai!" lanjut ayahnya.
Brian hanya diam dan masuk dalam kata-kata ayahnya. Saat ini ia memikirkan bagaimana dia akan ke luar angkasa. Dan logikanya pun menjadi bagaikan tata surya.
Saat Brian sedang mengkhayal. Khayalannya pun terbuyar di saat ayahnya bertanya kenapa pulang. "Kamu ngapain pulang? kamu bolos ya?" tanya ayahnya.
Brian pun terkejut lalu menatap diam ke arah ayahnya. "Heh di tanyain malah bengong!" ucap ayahnya sambil mendorong dahi Brian dengan satu jari.
"Aaaah...? Apa? ngomong apa ayah tadi?" tanya Brian.
"Kamu kenapa ada rumah? kamu gak sekolah?" tanya ayahnya sambil menatap lekat wajah Brian.
"Nggak..." Jawab Brian sambil mengupil.
"Lho kenapa?" tanya ayahnya sambil sengerut dahi.
"Karena kami libur!" jawab santai Brian lalu mengeluarkan isi hidungnya.
"Hiiihhh jorok... Jangan buang sembarang kamu itu upil..." Ucap ayahnya dengan nada jijik.
"Enak lho ini upil rasanya asin... Hihihi!" jawab Brian sambil membuang upilnya.
"IIiiihh ni anak jorok banget...." Ujar jijik ayahnya.
"Hehehe... Hmmm yah... Aku selama satu minggu ini nginap rumah bunda ya!" ucap Brian sambil memberi tampang iba.
"Hmmm rumah bunda kamu itu di Singapur... Jauh, mending disini aja!" jawab ayahnya yang tidak suka membahas bunda Brian.
"Ya ampun yaahh... Sekali doang kok, udah itu gak lagi deh ke sana!" ujar Brian sambil meraih tangan ayahnya.
"Memangnya kamu sanggup lihat bunda kamu sama anak-anaknya dan suaminya? kamu aja lihat ayah sama ibu tiri kamu langsung stress..." Jawab ayahnya memanasi Brian.
Brian pun kembali masuk dalam kata-kata ayahnya, ia pun membayangi apa yang terjadi dengannya jika lihat anak-anak dari ibunya apalagi melihat suami ibunya.
Brian pun mengigit geram giginya saat membayangi semua itu. Raut wajahnya pun berubah menjadi kesal.
Ayahnya yang menyadari hal itu pun tersenyum lalu kembali memanasi Brian. "Katanya ya... Ayah dengar nih, kalau bunda kamu itu sedang hamil lho.... Kamu bayangin bunda kamu hamil perutnya buncit. Tapi itu bukan hasil dari ayah.... Sakit gak hati kamu?" tanya ayah Brian sambil senyum nakal.
Brian pun makin masuk dalam kata-kata ayahnya. Dan wajahnya pun memerah menahan marah. "Tau ah... Brian mau mandi dulu!" ucap Brian dengan kondisi emosi.
Ayah Brian hanya tersenyum, lalu keluar dari kamar. Saat dia keluar, ibu tiri Brian dari tadi menguping percakapan mereka. "Ngapain kamu kaya gitu?" tanya ayah Brian sambil membuka jas nya.
"Aaahh kamu mas..." Jawab ibu tiri Brian sambil menyengir takut.
"Kamu nguping ya?" tanya ayah Brian dengan santai.
"Aaahhh gak kok, tadi aku kebetulan dengar. Dan suara kalian terdengar dari luar." jawab ibu tiri Brian sambil senyum cemas.
"Kamar Brian ini kedap suara lho, jadi gak terdengar dari luar... Kelihatan banget kamu bohong!" ujar ayah Brian lalu pergi.
Ibu tiri Brian pun terdiam sambil senyum cemas.
...***...
...DI RUMAH BINTANG...
Di dalam kamar, Bintang termenung sambil memikirkan kejadian tadi. Kesal dan marah, itu yang di rasakan Bintang.
'Sumpah... Sakit banget gue sama Brian... Padahal gue yang selalu nemani dia. Eh dia malah ngantar si culun itu. Aturannya gue yang di antar sama dia! awas aja lo ya culun, lo terus yang selalu ngehalangi gue sama Brian! Brian pasti bakal tetap sama gue...' Gumamnya dengan raut wajah yang kesal.
"Aaarrgghh... Gue benci sama lo culun... Gue benci lo!" jerit Bintang lalu melempar buku novelnya.
"Aaarrrgghh jijik gue sama lo!"
Bintang pun keluar dari kamarnya dengan raut wajah yang kesal. Dari bawah ayah Bintang dapat melihat raut wajah anaknya yang terlihat kesal.
Saat Bintang sudah sampai di bawah. Ayahnya pun menanyakan kepada Bintang. "Eehhh anak gadis papih kenapa cemberut nih?" tanya ayahnya.
"Kesal banget aku pih..." Jawab Bintang dengan nada yang manja.
"Kesal kenapa? coba ceritakan sama papih..." ucap ayahnya sambil mengelus ubun-ubun kepala Bintang.
"Si Brian pih... Tadi dia bukannya ngantar Bintang pulang, dia malah ngantar si culun itu pulang! kan Bintang jadi kesal lihatnya!" jawab Bintang sambil memajukan bibirnya.
"Kebangetan banget dia... Kamu jangan mau lepasin Brian begitu saja, pepet dia terus!" ujar ayahnya Bintang yang ikut kesal mendengarnya.
"Iya pih... Bintang gak bakal mau menyerah! walaupun Brian cuek sama Bintang!" jawabnya sambil senyum licik.
"Anak papih memang jagonya!" ujar ayah Bintang ikut senyum licik.
...***...
...DI RUMAH BULAN...
Di kolam renang, Bulan duduk di tepi ranjang sambil membaca buku. Bulan yang punya kakak yang jahat selalu membully dirinya.
"Woi culun... Cuci piring sana, piring semua pada numpuk!" ucap kakak Bulan sambil menendang punggu Bulan.
"Iya kak" jawab pasrah Bulan, lalu bangkit dari duduknya.
"Buruan" perintah kakaknya sambil melipat tangannya di bawah dada.
Bulan hanya bisa mengangguk, lalu pergi ke dapur untuk mencuci. Kakak Bulan memang sudah benci sama Bulan semenjak Bulan lahir. Karena ibunya meninggal di saat dia lahir. Begitu juga dengan ayah Bulan yang sangat membenci bulan sejak dulu.
Bulan sering di sebut anak pembawa sial, tapi Bulan selalu terbawa senyum dan tersenyum.
Bulan mencuci semua piring itu, ya begitulah Bulan yang selalu di anggap sama ayah dan kakaknya menjadi seorang pembantu, kadang ayahnya mengatakan pada temannya jika Bulan adalah pembantu.
Bulan pernah depresi di saat ayah dan kakaknya hampir menjualnya dengan pria beehidung belang.
Masih untung Bulan bisa berhasil dari santapan malam pria berhidung belang itu. 'Kapan aku bisa bebas dari penjara mematikan ini? kalau aku bisa kabur, mungkin aku tidak akan kembali lagi di rumah ini!' gumam Bulan sambil mencuci piring.
...*~*~*...
Jangan lupa beri like, komen, dan dukungannya. Kapan perlu tekan favorit agar tidak ketinggal cerita selanjutnya!
__ADS_1