BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA

BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA
Kelam Marya


__ADS_3


Wanita itu mengikat rambutnya yang pirang pucat dengan ketat di puncak kepala, menyisakan riap-riap anak rambut yang keluar dari ikatannya. Ikatan itu sekuat besi, membuat punggungnya selalu tegak, tak memberi ruang pada gelap yang suka bersembunyi di antara bayang-bayang.


Ia baru saja menyelesaikan lipatan pakaian terakhir dengan seterika arang, kemudian meletakkan benda berat itu di atas tatakan besi yang sudah menghitam. Uap panas dari arang masih mengepul ke arah wajahnya, membuat kedua pipinya kemerahan dan terasa hangat.


Lindungi mereka, Marya.


Sebuah suara yang dikenalnya sepanjang usai, mulai mengisikinya kembali. Sudah lama suara itu tak pernah menghinggapi pendengarannya. Suara itu masih sama jernih dan merdu seperti gemerincing genta angin.


“Hanya Tuhan yang akan melindungi mereka!” Hardik Marya tegas. Wanita itu kemudian mengambil rosario yang selalu tergantung di lehernya. Rosarionya terbuat dari susunan batu amethyst yang berwarna ungu jernih, hadiah dari Father Simone, orang suci yang sangat dihormati di lingkungan tempat tinggal mereka.


“Hanya Yesus yang akan menyelamatkanku dan anak-anakku.” Sambungnya keras saat suara itu kembali bergemerincing di dalam benaknya.


Anak-anakmu membutuhkanmu.


Marya mulai membuat tanda salib dan mendaraskan doa kepada malaikat Agung Mikhael untuk mengusir roh-roh halus yang mulai mendekatinya. Ia membenci semua penampakan yang muncul begitu saja seperti laron yang mengerumuni bola lampu seusai hujan.


“Sancte Michael Archangele, defende nos in proelio; contra nequitiam et insidias diaboli esto


praesidium…”


Marya mendaraskan doa Malaikat Agung Mikhael sampai ia merasa semuanya sudah kembali normal. Tak ada lagi kerumunan roh yang mendatanginya dengan bermacam-macam bentuk dan rupa yang tak sedap dipandang mata. Mereka akan mendatanginya jika ia membiarkan suara jernih itu mengisiki kepalanya.


Marya menjadi semacam suar di kegelapan bagi para arwah jika ia menerima kontak dari roh yang sudah mendampinginya selama berpuluh tahun itu.


Ia kemudian bergegas mengemasi pakaian yang baru saja dirapikannya, ketika kepak sayap halus itu terdengar di telinganya.


“Barukh?" Panggilnya lirih saat udara dingin membungkusnya, seakan-akan ada selimut tak kasat mata yang sejuk menyelubunginya.


Ada semacam kerinduan yang aneh menggelayuti hatinya. Arwah kuno bernama Barukh itu sudah mengikuti keluarganya secara turun temurun. Ia mendapatkannya dari neneknya, tepat setelah ibunya sendiri meninggal saat ia baru berusia tujuh.


“Dia hanya akan muncul saat jiwamu benar-benar dalam bahaya.” Ujar neneknya kala itu. Benar saja, Barukh baru muncul saat ia berada pada kondisi antara hidup dan mati.


Saat itu suaminya mencekik dirinya dengan menginjakkan kakinya tepat di atas leher Marya, sementara, sebelumnya wajahnya itu telah menghantam lantai dengan keras.

__ADS_1


Barukh langsung mewujud berupa badai angin yang langsung memorak-porandakan rumah mereka, yang mengakibatkan mantan suaminya itu terpental. Pria bengis itu jatuh tertimpa perabotan berat di rumah mereka yang membuatnya lumpuh seketika.


Tak lama setelah kejadian itu, suaminya meninggal karena tak bisa melupakan kejadian itu. Lelaki itu melihat Barukh sebagai versi yang paling buruk dari semua makhluk. Roh kuno itu menghukumnya dengan cara yang paling manusiawi, lelaki itu melihat keburukannya sendiri selama bertahun-tahun. Lelaki itu tak tahan, ia memilih menggantung dirinya di hutan sampai akhirnya menghembuskan napas kejinya yang terakhir.


“Barukh, kaukah itu?” Tanya Marya lirih.


Sesungguhnya, ia tak dapat melupakan betapa indah dan murni Barukh kelihatannya, namun kepercayaan barunya mengajarkan bahwa segala sesuatu yang melibatkan setan adalah sebuah pengkhianatan terhadap iman.


Aku akan pergi kepada Mahla.


Suara itu kembali mengusik benak Marya. Secara refleks, ia kembali membuat tanda salib dan berniat kembali mendaraskan doa kepada Mikhael sang Malaikat Agung, namun suara Barukh terdengar kembali dengan begitu lantang dan jernih di kepalanya.


Doa itu tak akan menyakitiku, Marya. Mikhael yang Agung hanya mengusir mereka yang merusak dan keji. Aku bukan di antara keduanya.


Suara itu berdenting begitu lembut di benak Marya, membuatnya tak mampu lagi berkata-kata. Makhluk itu benar adanya, kehadirannya sama sekali tidak mengganggu atau berbahaya.


Ia hanya akan muncul di saat-saat Marya membutuhkannya.


“Mahla tidak butuh bantuanmu, kubebaskan kamu dari kewajibanmu menjaga keluargaku!” Hardik Marya mencoba berpegang pada keyakinannya, yang kini rasanya seperti berpegangan pada besi basah yang licin.


Tuhan ampuni aku.


Bisiknya berulang-ulang.


Kemudian ketakutan terburuknya datang menghampirinya, Mahla menuruni tangga dengan rasa penasaran yang meluap-luap dari sepasang matanya.


“Bu, bicara dengan siapa?” Tanya anak gadisnya itu.


Marya tak dapat mengelak lagi. Barukh akan berpindah ke sisi Mahla. Ia selalu tahu, mereka tak akan bisa hidup tenang, selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kelebihan. Lidah-lidah api yang dulu mencengkeramnya saat kelahiran anak-anaknya telah dilihatnya lagi kemarin.


Saat wanita bernama Jehna itu tersungkur di lantai rumahnya, ia melihat kelebat api yang sama menari-nari di mata Mahla. Ada sesuatu yang gelap dan purba sedang mengintai mereka, sampai-sampai Barukh menampakkan wujudnya di hadapan mereka saat ini.


Tuhan kasihanilah kami.


*

__ADS_1


Marya mengunci diri di bilik doanya. Bilik itu berada di ruangan kamarnya di rumah bagian belakang. Dia kerapkali menghabiskan waktunya di sana untuk berbicara kepada Tuhan yang tampaknya tak pernah mendengarnya.


“Tuhanku,” Bisiknya pelan sekali. “Kenapa Kau biarkan kutukan itu menurun pada kedua anakku?” Sambungnya sambil memegang erat rosarionya.


“Kenapa tak Kau biarkan saja aku yang menanggungnya?”


Marya menangis hingga tertidur di atas altar doanya. Hujan turun dengan sangat deras seakan ikut menangisi kepedihan yang ditanggung ibu Mahla itu.


Mimpinya selalu sama dan tidak berwarna. Hari itu, setahun sebelum kematian ibunya, Marya melihat dengan jelas kilatan kejadian yang rupanya sebagai pertanda kematian ibunya. Ia melihat ibunya terjatuh dengan tangan mencengkeram dada. Ia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia selalu melihatnya jauh sebelum hal-hal buruk itu benar-benar tejadi.


“Anakmu itu penyihir!” Sembur ayahnya kepada ibu yang memergoki Marya berbicara dengan udara kosong. Saat itu, Marya menyapa sekumpulan banshee yang rupanya baru pindah ke bawah jendela terluar rumah mereka.


Ia mengira para banshee itu akan meratapi kematian neneknya yang sudah sangat tua, namun Marya tak mengira bahwa bukan neneknya yang akan meninggal kala itu.


“Dia kan masih anak-anak, wajar baginya berimajinasi!” Sembur ibu Marya tak mau kalah.  Ayahnya adalah penganut gereja yang sangat taat, semenetara ibunya adalah anak dari seorang pagan yang percaya pada kekuatan alam.


“Dia penyihir seperti ibumu!” Balas ayahnya tak mau kalah. Marya mengintip pertengkaran mereka dari balik pintu yang bisa menyembunyikan tubuhnya yang mungil.


“Dia bisa bicara pada hantu! Dia meramal nasib orang-orang! Tak lama lagi orang-orang akan mendatanginya seperti mereka berguru pada ibumu!” Cela ayah Marya tak kenal ampun.


Waktu itu, nenek Marya adalah seorang penyembuh yang cukup dikenal. Ia biasa menawarkan alternatif penyembuhan dengan ramuan herbal dan puji-pujian kepada alam. Namun ayah Marya percaya bahwa mertuanya itu adalah penyihir yang sesungguhnya, dan celakanya, hal itu menurun kepada Marya.


Suara tamparan keras ayahnya pada pipi ibunya selalu mengembalikan Marya ke kehidupannya yang sekarang.


Dengan sangat jelas ia teringat ucapan neneknya kala ibunya meninggal.


“Semua keturunan di keluarga kita diberkati.”


Marya bertanya-tanya, benarkah semua ini adalah berkah bagi mereka?


Ia mengamati bekas luka-luka yang tercetak permanen di sepanjang lengan, juga gurat-gurat dalam di balik roknya. Hasil didikan keras ayahnya selama bertahun-tahun setelah ibunya meninggal.


Marya juga kemudian meraba bekas gigi gerahamnya yang tanggal setelah suaminya memukulnya dengan keras. Ia waktu itu baru saja selesai melahirkan Malekh yang cacat. Ia lalu mengusap pelipisnya yang pernah robek akibat suaminya melihat kelebatan sayap-sayap di sepasang mata hitam Mahla.


“Kamu perempuan iblis!” Selalu suaminya itu memakinya dengan keras, kemudian menyetubuhinya seperti binatang yang tak berharga. Setelahnya ia hanya akan dicampakkan begitu saja.

__ADS_1


Marya menelusurkan bekas-bekas luka yang melintang-lintang di tubuhnya. Semua itu bukan apa-apa, sungguh bukanlah apa-apa dibandingkan ingatan tentang malam di mana ayahnya memangsa tubuhnya.


__ADS_2