BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA

BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA
Rawa-rawa


__ADS_3

Mahla tersadar lama setelah Daud pergi. Lelaki malang itu tidak mengetahui apa yang terjadi di ruang tamu keluarga Yosiah, tepat setelah kabut keperakan menyelimuti mereka semua. Gadis itu membuka matanya yang terasa berat dan tebal. Seolah-olah ia telah tertidur dan menangis berulangkali.


Mahla menemukan Melekh duduk di tempat Daud tadinya berada, dan hantu Shoshana -anehnya, masih juga ada di antara mereka. Sementara ruangan itu kosong dan lengang, ratusan hantu lain yang tadi mengitari mereka sudah tidak terlihat jejaknya. Begitu pula dengan ibunya, wanita berambut pirang pucat itu juga tidak berada di sana.


“Kenapa kamu masih di sini?” Tanya Mahla pada Shoshanna. Ia merasa bingung dan terdisorientasi. Melekh mengambil beberapa sisa roti kering di meja dan menyuapkannya sekaligus ke mulutnya. Mahla mengamati saudara kembarnya itu dengan perasaan penuh sayang.


“Melekh, kapan kamu datang?” Tanya Mahla halus seraya mengelus punggung Melekh. Shoshana melayang di antara mereka dengan butir-butir air mata besar yang masih mengaliri kedua pipinya.


“Dia mmmau d-d-d-di sinnni….” Ujar Melekh terbata-bata.


Mahla mengernyitkan dahi, mendengar ucapan Melekh, jarang-jarang ada hantu yang mau tinggal setelah permintaannya tidak dikabulkan. Dalam kasus seperti Shoshanna, biasanya roh itu akan marah dan tak akan mau lagi berurusan dengan Mahla. Biasanya juga mereka akan membuat onar seperti menjatuhkan barang-barang, mengganggu ternak, sampai mengirim mimpi buruk yang tak berujung.


“Tapi aku tetap tak akan membantumu mencari Madam Rosie.” Tegas Mahla sekali lagi.


Shoshana tampak menatapnya dengan pandangan mencela, hantu itu kemudian melayang ke sisi Melekh, berharap adiknya itu yang akan membantunya.


"Melekh juga tak akan membantumu!" Hardik Mahla mulai kesal. Ia mengabaikan pandangan Shoshana yang mengancam, dan kembali menanyai adiknya.


“Di mana Daud?” Mahla menyadari ketidakhadiran lelaki setengah botak itu di sana. Ia juga mencari-cari ibunya yang tidak terlihat di manapun ada kira-kira sejuta pertanyaan di benaknya. “Di mana ibu, Melekh?” Tanyanya lagi pada adik lelakinya yang kini menjilati nampan roti yang sudah kosong.


“En-nnaak.” Ujar Melekh tidak menjawab pertanyaannya.


“Di mana mereka?” Tanya Mahla lagi, lebih tajam dan berbahaya. Hantu Shoshana tampak menjauhi mereka karena Mahla tampak sangat berkuasa, auranya membuat roh itu menghindar cepat-cepat kalau tidak mau *****.


Pergi bersama kabut.


Shoshana menjawab di benak Mahla. Gadis berambut merah terang itu merasa sekujur tubuhnya mendingin seperti tersiram es. Apakah ibunya pergi bersma Daud untuk mencari Madam Rosie? Namun, hal itu sama sekali tidak terlihat seperti ibunya!

__ADS_1


“Melekh! Ayo cari ibu!” Seru Mahla tegang seraya menyambar lengan Melekh. Setelah tangan mereka bersentuhan, energi listrik statis seperti memancar dari tubuh keduanya. Mengabaikan tubuhnya yang terasa terkuras energinya, Mahla memasuki dimensi kabut yang telah membawa ibunya entah ke mana.


Marya yakin dirinya sedang bermimpi. Ia sedang berjalan di antara kabut pekat yang membutakan matanya, sementara tangan kanannya memegang erat tangan lain yang terasa kering dan keriput.


Marya menyeberangi sesuatu yang seperti rawa-rawa dengan seseorang yang terus menerus gemetar di belakangnya, tangan yang dipegangnya itu juga terus bergetar dengan keras. Wanita itu mencoba mengurai ingatannya.


Di manakah aku?


Ia menarik tangan itu kuat-kuat, dan sangat terkejut mendapati Daud-lah yang ada di hadapannya. Terselubung


kabut tipis di seluruh tubuhnya seperti kepompong ulat sutera, lelaki itu gemetar dari kepala hingga ujung kaki.


“Apakah kita sudah mati?” Tanya Daud lirih.


Tidak Daud, kita tidak mati. Kita berada di dunia roh seperti yang biasa kuselami bersama Nana saat aku kecil dulu. Saat ayah belum terlalu keji. Saat belum ada gereja berdiri. Saat hanya ada Nana, aku, dan para hantu yang mengelilingi.


Kisah-kisah yang ada terlalu ganjil dan menakutkan, bagi orang-orang yang tidak mengerti. Aku bisa melihat melampaui isi kepala. Aku bisa mengetahui yang ada di kedalaman rahasia. Aku bisa mengambil muram di hatimu, dan menukarnya dengan mimpi-mimpi berwarna.


Di sana, di antara pusaran kabut, Marya belajar banyak hal dari neneknya. Ia belajar membaca pertanda, melihat bentuk-bentuk di langit malam lalu menerjemahkannya. Marya juga mengerti banyak hal seperti batuan dan aneka tumbuhan yang bisa menjadi tolak bala, atau justru mendatangkan petaka.


Marya kecil merekam semuanya di dalam ingatannya. Namun, masa kejatuhan itu datang, bentuknya berupa laki-laki keji yang dulu dipanggilnya: ayah.


Ayah Marya adalah pengangguran yang keras hati. Ia tak pernah mau bekerja di kebun, tidak mau memberi makan sapi-sapi, tidak mau memanjati pohon cengkeh, dengan dalih tidak berani. Ia selalu saja hanya makan dan tidur dan berjudi.


Marya tidak pernah melihat ayahnya dekat dengan Nana atau dirinya. Lelaki itu selalu memandangnya dengan tatapan ngeri seolah-olah Marya memiliki tanduk atau semacamnya. Sementara, ibunya adalah wanita paling penurut di dunia. Ia membiarkan saja suaminya berlaku seenaknya, meskipun itu artinya ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga.


Ayahnya selalu berjengit setiap kali Nana menerima tamu-tamunya di beranda. Tamu Nana adalah orang-orang dari negeri yang jauh, beberapa dari mereka mendengar kabar bahwa Nana adalah penyembuh. Sebagian lain berharap mimpi-mimpi buruk mereka berganti dengan keberuntungan yang tiada habis. Sementara, ada juga yang datang berkeluh kesah karena rumahnya banyak dihuni hantu-hantu.

__ADS_1


Marya dengan senang hati membantu Nana, berada di sisinya, mendengarkan cerita-cerita sepanjang hari. Ia bisa ikut merasa sedih, ngeri, bahkan tertawa bersama-sama dengan tamu-tamu Nana. Semua hari-hari itu begitu membuatnya bahagia.


Namun kemudian ayah dan ibunya selalu bertengkar. Ayahnya yang selalu ketakutan padanya mulai berkata kasar pada ibunya. Ia adalah anak satu-satunya, ayahnya menginginkan anak laki-laki, namun bayi-bayi di perut ibunya selalu mati sebelum bisa lahir ke dunia.


Karena hal ini, ayahnya semakin menyalahkan Marya dan Nana.


“Keluarga kita terkutuk karena mereka berdua itu penyihir!” Seru ayahnya suatu hari. Ibunya tak membela Marya, namun juga tidak melawan ucapan lelaki jahat itu. Saat itu, ayahnya sudah menjadi salah satu jemaat gereja yang baru saja berdiri dari hasil sumbangan Nana. Ia menjadi anggota yang paling rajin di antara keluarga mereka. Marya yakin, ibunya tahu ayahnya rajin karena ingin selalu dipuji orang lain saat menghadiri Misa.


“Tahu tidak, perbuatan mereka itu melawan firman Tuhan!” Semburnya keras. Ibunya seingatnya waktu itu hanya mengangkat bahu. Sementara, ayahnya kemudian memandanginya dengan sangat sengit.


Hari-hari Marya berubah sejak saat itu. Ayahnya mulai berani memukulnya di depan ibu dan Nana hanya karena ia berani menyergah saat ayahnya mengatainya penyihir jahat.


“Ayahmu tidak tahu apa yang ia katakan.” Hanya itu yang didapatkannya dari ibunya. Sementara Nana, Marya tidak akan pernah lupa betapa tajam pandangan mata itu menusuk pada ayahnya yang memilih berlalu.


Dia akan mati suatu hari.


Putus Nana langsung di benak Marya. Namun, kematian lelaki itu terlalu lama datang. Ia sudah sempat merenggut kehormatan anak gadisnya terlebih dulu, meninggalkan luka-luka permanen di jiwa Marya hingga ia kehilangan semua kemampuannya.


Kenapa aku tidak ikut mati, Nana?


Daud merengek kecil saat melihat rawa-rawa di depan mereka tampak jelas setelah kabut memudar. “Kita di mana?” Tanyanya lirih. Marya berusaha menghapus semua gambaran masa lalunya yang mendadak kembali mengisi ingatannya.


“Katamu kamu mencari tubuh Shoshana?” Sahut Marya tanpa ekspresi. Mengapa ia sampai kesini setelah terperangkap lama di dalam kabut yang membangkitkan semua memorinya itu, Marya sama sekali tidak tahu.


“Mereka membuangnya ke sana.” Sambung Marya seraya menunjuk rawa-rawa gelap yang banyak ditumbuhi rumput-rumput setinggi dada orang dewasa, dan semak-semak tebal yang sulit dilewati.


Daud mulai berlutut dan menangis sejadi-jadinya. “Kalau kamu mau mencari, Madam Rosie tinggal tidak jauh dari sini. Ia sudah kehilangan akalnya sejak Shoshana bunuh diri. Anak perempuan itu mendatanginya tanpa henti. Sama seperti ia datang padamu, namun aku yakin Shoshana tidak bermurah hati padanya.”

__ADS_1


Daud menolehkan kepala ke arah Marya, dengan sangat lirih ia berkata. “Tinggalkan aku di sini.”


Marya mengangguk mengerti. Tidak ada lagi yang diinginkan Daud selain mati.


__ADS_2