
Aroma bunga lembut berpadu lemon segar menuntun penciuman Mahla di tengah kepulan kabut dan asap yang membutakan sebagian besar indera-nya. Ia memejamkan matanya dan membiarkan penciumannya mengambil alih dirinyaa, kemudian melangkah dengan hati-hati bersama Shoshana yang melayang di sampingnya.
“Kamu yakin ibumu dan Daud di sini?” Tanya Shoshana tak bisa menyembunyikan kegelisahan dalam suaranya. Mahla tak bisa menyalahkan jika hantu itu merasa takut karena tubuhnya perlahan-lahan sudah memudar serupa dengan kabut yang bergulung di sekitar mereka. Ia bahkan juga tak berani memeriksa tubuhnya sendiri, ia takut menemukan jika mungkin saja ia sama pudarnya dengan Shoshana!
Dengan mata tertutup, Mahla terus melaju dengan sisa-sisa keberaniannya. Toh ia sudah terlanjur di sana, satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah terus maju di mana aroma itu semakin lama semakin menguat. “Ibuku menyukai bunga ungu jelek itu sejak lama, ia tak pernah berganti parfum selama ini. Aroma ini miliknya, aku yakin sekali.” Balas Mahla seraya terus melangkah.
Satu-satunya yang ia inginkan saat itu hanyalah segera bertemu dengan ibunya dan pergi dari tempat aneh itu sesegera mungkin. Ia takut mereka akan tersesat selamanya di alam antara hidup dan mati. Bayangan Melekh yang menunggu kepulangan mereka sungguh membuatnya takut.
“Ayo!” Serunya pada Shoshana yang justru termenung di tempatnya. “Ada apa?” Desak Mahla saat dilihatnya Shsohana tak juga bergerak. Arwah itu seakan membatu di tempatnya, dan keanehan mulai terjadi di sana. Tubuh Shoshana justru mulai terlihat solid dan normal.
Tidak ada lagi mata besar yang menonjol, tidak lagi pucat, dan sama sekali tak transparan. Shoshana terlihat seperti gadis pada umumnya, dengan kulit wajah merona dan rambut emas panjang yang diikat ekor kuda. “Shoshana?” Bisik Mahla terperangah melihat perubahan yang terjadi di depan matanya.
“Mereka menemukanku.” Bisik Shoshana sangat terharu.
Telunjuknya menunjuk lurus pada sebuah rawa dengan banyak sekali rumput dan semak-semak tebal di permukaannya. Samar-samar, Mahla bisa mengenali punggung tegak dan rambut ibunya yang berkibar, sementara sesosok lelaki tua bersimpuh di sebelahnya.
“Ibu!” Panggil Mahla nyaring. Suaranya bergema di antara kabut yang bergumpal-gumpal,
sementara ibunya langsung menoleh, dan sangat terperanjat melihat kehadiran Mahla di sana.
“Ayo, Shoshana!” Seru Mahla bersemangat seraya menarik langsung tangan Shoshana yang sudah mewujud.
__ADS_1
“Aku lupa, bagaimana rasanya benar-benar hidup.” Bisik Shoshana pelan. Mahla menyentak hantu itu agar segera bergerak, firasatnya mengatakan perwujudan Shoshana ini bukanlah pertanda baik. “Cepat! Daud di sana!” Seru Mahla keras.
Mendengar hal itu, Shoshana langsung berubah tanggap dan mulai bergegas menemui Daud yang jaraknya hanya beberapa meter di depan mereka. Lelaki itu tampak bersimpuh dengan memeluk sesuatu yang tampaknya seperti, tulang belulang?
“Daud…” Panggil Shoshana mengabaikan Marya yang menatapnya dengan sangat heran. Hantu perempuan itu langsung menuju Daud yang bersimpuh, dan memeluk lelaki itu erat.
“Shoshana, oh, Shoshana anakku…” Ratap Daud seraya membalas pelukan Shoshana. Lelaki itu bersimbah air mata saat menatap wujud Shoshana, tepat seperti gadis yang selalu diingatnya.
“Maaf, maaf atas segala yang terjadi padamu, Shoshana…” Ujar Daud pelan seraya terisak-isak di tangan Shoshana yang menangkup kedua tangannya. Tulang belulang yang rupanya milik Shoshana itu tampak berlumut kehijauan dan berlendir, beberapa bagiannya bahkan sudah keropos dan membusuk, akibat terendam sekian lama di dalam rawa-rawa berlumpur.
“Kasihan sekali mereka.” Bisik Mahla sesenggukan di bahu Marya. Gadis itu menggamit lengan ibunya dan menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. Marya mengusap lengannya pelan. Mahla tertegun tak bisa ingat kapan terakhir kali ibunya bersikap demikian lembut padanya.
Mahla melihat Shoshana menggenggam erat tangan Daud, dan keduanya mulai terselubungkabut perak tebal. Tepat sebelum kabut itu membungkus kedua tubuh itu, Mahla bisa melihat Daud dan Shoshana tersenyum penuh terima kasih ke arah mereka berdua.
*
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Shoshana, Bu?” Tanya Mahla seraya berjalan di antara kabut yang semakin terasa tebal setiap kali ia melangkah. Ibunya memimpin di depan dan menggenggam tangannya sangat erat.
“Dia sudah menyeberang, dan mengajak Daud serta.” Jawab ibunya pelan. Mahla bisa melihat kalung rosario dari batu-batu ungu berayun-ayun di leher ibunya seiring langkahnya yang tergesa.
Dalam beberapa waktu terakhir, ibunya yang menolak total segala bentuk urusan arwah dan supranatural itu kini memandu Mahla keluar dari alam lain yang berisi jiwa-jiwa yang sudah mati.
__ADS_1
Aneh sekali.
Gumam Mahla dalam pikirannya. Ia bahkan tak tahu ibunya bisa mendengar ucapannya meskipun hanya berupa gumaman dalam hati, dengan sangat jelas di sana. Marya sudah cukup mengenal tempat itu, wanita itu bahkan bisa mengambil kekuatan sebanyak yang ia mau dari sana, berkat Nana telah mewariskan jiwa penghubungnya pada Marya.
Makhluk-makhluk tak berupa di sana berlomba-lomba ingin bisa terhubung dengan Marya sehingga mereka bisa menumpang agar bisa keluar dari selubung magis yang merupakan tabir antara orang hidup dan yang sudah mati itu. Namun dengan kehadiran Mahla di sana, makhluk-makhluk yang kebanyakan masih punya urusan di dunia itu menjadi berkali lipat lebih ganas. Mahla memiliki energi yang jauh lebih kuat dan murni dari milik Marya, wanita itu baru saja menyadarinya.
“Jangan sampai peganganmu terlepas!” Perintah ibunya tegang. Mahla mengeratkan pegangan di tangan ibunya tanpa berani bicara lagi. Mereka berjalan cukup lama di lautan kabut yang pekat itu. Mahla bahkan tak bisa menghitung berapa lama kakinya melangkah di dalam sana.
“Sesuatu terjadi.” Bisik Mahla tiba-tiba. Kepalanya mendadak sunyi, ia tak bisa merasakan kehadiran Melekh di sana. Selama ini ia bisa merasakan Melekh, mengawasi mereka berdua. Namun kini semuanya benar-benar sunyi, tidak ada lagi Melekh yang terhubung di pikirannya.
Pegangan ibunya terasa mengencang di tangannya. “Ada apa?” Hardik ibunya seraya terus menarik tangan Mahla agar berjalan lebih cepat. “Kita tak mau Barukh mewujud di sini karena merasakanmu tengah terancam, kita juga bisa ikut binasa!” Desak ibunya seraya terus menarik tangannya dengan tergesa.
“Melekh, bu! Aku tak bisa merasakan kehadirannya!” Seru Mahla panik. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada saudaranya itu saat adik lelakinya itu ditinggal sendirian?
Marya berhenti sejenak lalu menggoncangkan badan Mahla agar anak gadisnya itu bisa menenangkan diri. “Apapun yang terjadi pada Melekh, itu jauh lebih baik dari apa yang akan menimpa kita jika masih terus berada di sini!” Seru Marya ikut panik. Wanita setengah baya itu juga berkali-kali mencuri pandang ke arah jembatan yang sama di mana Mahla melihat Nana. Seraya mengusir berbagai bayangan di dalam kepalanya, ibu gadis itu kembali berkata dengan suara mantap.
“Kita sudah pergi terlalu lama, kita bisa melebur seperti Daud bersama Shoshana! Apalagi jika Barukh merasakan dirimu sedang terancam bahaya, ia akan membuyarkan separuh yang ada di sini, kita bisa termasuk di dalamnya!”
“Pusatkan pikiranmu, kita harus keluar, sekarang!” Seru Marya tegas. “Bawa kita keluar, nak! Ibu tahu kamu bisa! Jangan lihat ke jembatan!” Jerit Marya saat Mahla ikut mencuri pandang ke arah jembatan. Syal ungu itu berkibar-kibar di ujungnya, sosok Nana yang kabur melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.
“Dia bukan Nana! Fokus, Mahla!” Seru ibunya seraya menekankan ujung telunjuknya di kening Mahla. Hal terakhir yang bisa diingatnya hanyalah lambaian selendang ungu milik Nana yang berkibar di ujung jembatan.
__ADS_1