
Pagi itu udara terasa dingin, membuat Mahla menggigil sampai ke tulang-tulang. Ia beranjak untuk kembali menutup jendela kamarnya di lantai dua. Tidak ada kejadian berarti selama beberapa hari setelah peristiwa Sharai.
Mahla melihat ibunya di pekarangan sedang memunguti bunga-bunga cengkeh kering. Punggung itu terlihat begitu kurus, sementara ikatan di rambutnya sangat kencang di puncak kepalanya. Membuatnya terlihat tegang dari waktu ke waktu.
Mahla merasa ada begitu banyak rahasia yang bersemayam di sana, namun gadis itu tak pernah bisa menembus pertahanan ibunya yang kokoh. Biasanya, ia bisa dengan mudah menyelami isi pikiran setiap orang yang dilihatnya, namun segala kelebihannya itu tak ada gunanya bila berhadapan dengan ibunya.
Mahla menutup jendela di mana angin dingin terasa terus berhembus ke arahnya, kemudian beranjak keluar kamar. Ia ingin menemui Melekh yang tampak terus menghindarinya setelah pristiwa dengan Sharai yang hampir saja menghancurkan jiwanya.
“Melekh?” Panggil Mahla seraya mengetuk pintu kamar Melekh yang tak biasa-biasanya terkunci. “Kamu bisa buka kuncinya, kan? Buka pintunya!” Seru Mahla keras. Tangannya berada di atas pegangan pintu dan berusaha untuk memutarnya.
“Melekh!” Panggil Mahla lagi. “Apa yang kamu lakukan di dalam?” Tanyanya lebih keras. Ia sudah mulai akan menggedor pintu itu kencang ketika tangannya mendadak bisa membuka pintu dengan sendirinya.
“Apa ini? Kamu sekarang telekinesis atau apa?” Gurau Mahla seraya memasuki kamar Melekh yang hanya berisi dipan yang identik dengan milik Mahla, namun berbeda dengan kamar Mahla yang lantainya telanjang, kamar Melekh lantainya beralaskan karpet tebal.
Begitu gadis itu memasuki kamar Melekh, ia sangat terkejut karena melihat saudara kembarnya itu seakan sedang mengambang di udara yang berupa lautan roh serupa kabut transparan. Tubuhnya melayang ringan di udara, dengan sulur-sulur kabut yang memadat-mengurai menopang bobotnya. Melekh seakan-akan sedang membelah lautan kabut di bawah tubuhnya dengan mata tertutup. Anehnya, wajahnya jelas-jelas terlihat sangat damai.
Kucing peliharaan mereka, atau lebih tepatnya familia Melekh, Arlou, terlihat mendengkur pulas di atas dipan. Barangkali hal itu menunjukkan bahwa Melekh sedang tidak dalam bahaya, namun, Mahla tentu saja masih khawatir dengan keadan yang menimpa saudaranya itu.
“Hei, letakkan dia sekarang!” Perintah Mahla pada sepasang hantu di kasur Melekh. Mereka terkikik melihat Melekh berputar-putar di udara.
Jadi kamu sudah mau bicara lagi pada kami.
Desis hantu lain pada Mahla seraya melayang ringan ke arah gadis itu. Hantu itu berwujud perempuan dengan satu matanya yang menjulur keluar memualkan. Mahla mengenalinya sebagai gadis muda yang menjadi korban penganiayaan di kota tetangga. Kabar itu begitu santer terdengar, bahkan beritanya sangat heboh sampai ke desa
mereka beberapa waktu yang lalu.
“Kamu jauh sekali sampai ke sini?” Tanya Mahla tanpa berpikir. Hantu itu tertawa pelan, ia tampak tidak memiliki urusan mendesak dengan Mahla, dan menyingkir begitu saja.
Mahla mengawasi Melekh yang sudah melayang turun perlahan-lahan ke kasurnya. Saudara lelakinya itu tampak
__ADS_1
masih tidur pulas dan sama sekali tak terganggu dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Arlou langsung terbangun mengetahui majikannya itu kembali ke atas kasur, dan langsung bergelung di kakinya.
"Nah, jaga dia baik-baik, Arlou! Kan itu tugasmu!" Hardik Mahla yang dibalas dengan dengkur keras Arlou.
“Jangan ganggu saudaraku.” Perintah Mahla kemuidan pada puluhan hantu yang baru saja mewujud dalam bentuk-bentuk mereka yang beraneka rupa, dan kesemuanya sangat ganjil.
Kami tidak mengganggu, kok, saudaramu mempersilakan kami bermain dengannya.
“Bermain apanya?” Gerutu Mahla sebal. Mungkin Melekh memang berkomunikasi dengan mereka melalui mimpi, tapi tetap saja, pemandangan tadi sangat mengusiknya.
“Pantas saja udara sangat dingin. Puluhan hantu berkumpul di tempat ini!” Gumamnya Mahla seraya berbalik untuk keluar dari kamar Melekh.
Kamu akan mengabaikan kami lagi sekarang?
Salah satu hantu yang berukuran terkecil jelas-jelas merajuk padanya. Mahla mengenali beberapa wajah yang familiar di antara mereka. Sosok-sosok itu adalah arwah lama yang sudah menempati rumah mereka bahkan sebelum keluarga ibunya pindah ke sana. Ia tumbuh besar dengan semua penampakan itu, dan ia sudah terbiasa karenanya.
*Setidaknya, hari ini tolong aku. Kali ini saja. *
Pinta gadis transparan dengan rambut ekor kuda. Mahla sama sekali belum pernah melihat hantu yang satu ini, namun melihat tampangnya yang lumayan menyedihkan, sepertinya ia baru saja meninggal. Ada air mata besar-besar yang menjatuhi kedua pipinya seakan-akan hal itu adalah hal terakhir yang dilakukannya sebelum mati.
“Menyingkirlah.” Hardik Mahla lebih keras. Ia bertekad tak akan berurusan dengan dunia arwah lagi sementara ada Sharai yang mengintainya sepanjang waktu!
Mahla kemudian mendengar suara ibunya berbicara dengan seseorang di luar. Suaranya samar-samar terdengar sampai ke lantai dua karena jendela Melekh terbuka lebar-lebar. Mahla mengabaikan semua tatapan hantu-hantu yang menunggunya, dan langsung menuju jendela untuk melihat ibunya di bawah.
“Tidak, tidak! Anakku tak menerima tamu lagi sekarang. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi sekarang!” Seru ibunya pada lelaki tua yang memeluk bungkusan besar di tangannya.
“Tolonglah, Nyonya, aku datang jauh-jauh dari desa lain untuk menemui Mahla.” Pinta lelaki yang kepalanya sudah mulai botak itu. Tatapannya sungguh membuat iba, sementara Mahla merasakan ada dingin yang menetes-netes di kepalanya. Ia menengadah, dan mendapati gadis dengan rambut ekor kuda itu melayang di atasnya dengan sepasang mata yang terus mengalirkan air mata.
“Kau kenal lelaki itu?” Tanya Mahla seraya menunjuk orang yang sedang bicara pada ibunya itu. Hantu itu mengangguk, ia tersenyum menatap Mahla dan lelaki itu bergantian.
__ADS_1
Kakekku yang malang.
“Tolonglah Nyonya, sebentar saja. Aku membawa tepung gandum dan madu, untuk membuat kue madu. kudengar Mahla menyukainya. Tolong, sebentar saja, Nyonya.” Pinta lelaki itu seraya mulai berlutut di hadapan ibu Mahla yang bersedekap dengan wajah masam.
“Dari mana kau dengar hal itu?” Gerutu ibu Mahla sambil mengerling ke arah jendela di lantai dua. Wanita itu kemudian memaksa lelaki itu bangkit, dan menerima bungkusan itu. Ia tak menyadari bahwa anak gadisnya itu mengawasinya dari jendela Melekh yang letaknya tepat di samping jendela Mahla.
Apapun yang dikatakan pria itu kemudian, hal itu sepertinya melunakkan hati ibunya. Meskipun Mahla bisa menangkap keengganan dalam gestur tubuh ibunya, namun akhirnya wanita itu mempersilakan lelaki itu untuk memasuki rumah mereka.
“Sudah kuduga kamu pasti tahu tentang kedatangannya, kan?” Sembur ibunya kesal melihat Mahla bergegas menuruni tangga, sementara hantu gadis berambut ekor kuda itu melayang mengikuti Mahla. “Kamu mau bertemu dia, tidak?” Tanya ibunya kemudian dengan lebih lembut. Mahla mengamati bungkusan yang berada di pelukan ibunya itu, dan membayangkan aroma kue madu lezat yang baru dipanggang.
Ibunya tampaknya mengerti keinginannya itu. “Aku akan membuatkannya untukmu jika kamu bisa membuatnya cepat pergi.” Ujar ibunya lugas seraya mengedikkan kepalanya ke arah hantu perempuan yang membayangi langkah Mahla.
Mahla merasa sangat heran, ibunya sedikit berubah. Sosoknya menjadi lebih terbuka dan hangat.
“Terima kasih, Bu.” Hanya itu yang keluar dari bibir Mahla sebagai reaksi atas ucapan ibunya. Wanita itu telah menjaga jarak sedemikian rupa terhadapnya, sampai-sampai gadis itu lupa bagaimana rasanya berbicara lebih akrab dengan ibunya sendiri.
“Jangan sampai iblis itu menangkapmu lagi.” Ujar ibunya memperingatkan seraya meninggalkan Mahla di ruang tamu, di mana pria tua itu menunggunya. “Tidak akan.” Jawab Mahla mantap. Ucapan ibunya itu entah bagaimana telah memberinya keberanian. Ia akan menghadapi saja Sharai jika memang setan itu berencana menangkapnya kali ini.
“Ibuku berubah.” Bisik Mahla pelan. Ia tak bisa menutupi kegembiraan yang membuat hari itu terasa lebih nyaman dan hangat.
Mungkin ada sesuatu yang menggerakkan hatinya.
Hantu itu berbisik langsung dalam benak Mahla, membuat gadis itu mau tak mau terkekeh. “Kau benar, karena suasana hati kita semua sedang baik, ayo kita cari tahu, apa yang bisa kulakukan untuk kalian berdua.” Ujar Mahla riang. Ia melihat lagi kepak sayap-sayap hitam memenuhi pandangannya.
Kali ini, ia tak melihat jilatan api di manapun.
Saat ini kamu aman.
Mahla mengangguk setuju pada hantu gadis yang belakangan diketahuinya bernama Shoshana.
__ADS_1