
Permintaan Shoshana mungkin bukanlah sesuatu yang berlebihan, mengingat gadis itu telah merenggut hidupnya sendiri sebagai jalan keluar atas derita yang telah dilaluinya.
“Shoshana, aku tidak akan melacak Madam Rosie untukmu.” Tegur Mahla langsung pada roh itu, setelah mendengar ucapan Daud. Ia tidak bisa, tidak mau lebih tepatnya, menggunakan bakatnya untuk perbuatan membalas dendam semacam atau semacamnya. Saat hantu itu mengetahui keberadaan Madam Rosie, bisa dipastikan ia akan langsung mencelakakakn mantan gurunya itu pada kesempatan pertama.
“Tapi dia pantas menerima hukuman atas perbuatannya!” Seru Daud marah. Mahla bisa memahami kemarahan dalam diri Daud, lelaki malang itu pastilah menghabiskan waktunya dalam tujuh tahun terakhir menyesali apa-apa saja yang belum ia lakukan untuk majikan yang disayanginya.
Bagi Daud, menemukan Madam Rosie mungkin bisa sedikit meringankan rasa penyesalan dalam hatinya.
“Jadi, kamu tidak mau membantu kami?” Tanya Daud dengan sedih. Mahla tak kuasa memandang wajah kuyu lelaki tua itu, serta hantu Shoshana yang menatapnya dengan pandangan sangat kecewa. Mahla memilih memalingkan wajahnya agar tidak melihat secara langsung wajah-wajah itu, agar tidak semakin membebani hatinya.
Aroma kue madu yang baru selesai dipanggang mendadak menyeruak memenuhi ruangan, membuat suasana
hati gadis itu sedikit lebih ringan. Mahla baru sadar, ternyata sangat melelahkan melakukan perjalanan dengan arwah orang mati. Energinya serasa telah dikuras habis, belum lagi jejak kesedihan yang ditinggalkan Shoshana di benaknya itu terasa sangat pekat.
“Aku akan membantu mencari tahu di mana letak tubuh Shoshana dimakamkan, Daud, tapi untuk urusan Madam Rosie, aku tak akan memberi tahu.” Ujar Mahla dengan nada meminta maaf, ia memandang Shoshana dan Daud secara bergantian.
Ibu Mahla mendadak memasuki ruang tamu dengan senampan penuh kue madu yang tampak masih mengepulkan uap hangat. Hati Mahla langsung dipenuhi sukacita karenanya. Ia teringat hari-hari terbaik mereka saat nenek buyutnya masih ada. Hanya Nana yang bisa membuat suasana rumah itu lebih ceria dengan kue-kue manis yang dibuatnya. Keahlian itu rupanya menurun pada ibu Mahla, namun wanita yang selalu berwajah masam itu jarang sekali membuatnya selepas kepergian Nana.
“Masih di sini?” Tanya ibu Mahla tajam pada Daud. Ia tidak menyukai ekspresi ganjil di wajah Daud saat menatapnya. Lelaki tua itu sangat gigih dan pekerja keras. Marya bisa melihatnya saat pertama kali mereka bertemu.
__ADS_1
“Mahla tidak bisa membantu kami.” Ujar Daud menjawab Marya. Ia masih terlihat sangat sedih dan kecewa. Ibu Mahla itu kemudian menaikkan sebelah alisnya, merasa sedikit terkejut karena biasanya Mahla akan melakukan apa saja yang diinginkan para hantu dengannya.
“Benarkah?” Tanya wanita itu seraya kembali mengubah ekspresinya menjadi masam seperti biasa. Ia melirik Mahla sekilas, mengamati gadisnya itu meraup kue-kue kering buatannya dengan antusias. “Sisakan untuk adikmu!” Tegur Marya pelan, namun ada kehangatan yang biasa ditolaknya, merambat di hatinya. Sudah lama ia tak melihat Mahla begitu gembira karena hal sederhana.
“Pelan-pelan, Mahla.” Tegurnya lagi dengan suara yang lebih lembut. Mahla menatapnya dengan sedikit malu, namun gadis itu tetap memasukkan kue-kue kering itu ke dalam mulutnya dalam jumlah besar sekaligus.
“Ibu seharusnya memasak kue lebih sering.” Ujar Mahla setengah merajuk. Marya merasa sedikit tertampar karena selama ini telah berlaku sedemikian keras dengan anak-anaknya, terutama pada Mahla.
Kau hanya tak ingin dia sepertimu kelak.
Marya membatin mengingatkan dirinya sendiri. Benar, jalan hidupnya terlalu pahit karena terlahir di keluarga yang sangat berhubungan erat dengan dunia supranatural. Neneknya, Magdalene Yosiah adalah dukun pagan paling terkenal di masanya. Meskipun ibunya tidak memiliki bakat seperti neneknya, namun bakat itu langsung turun padanya, dan sialnya, menurun pula pada kedua anaknya.
“Oh sudahlah jangan takut, Daud!” Tegur Marya tidak sabar. Mahla seakan menyaksikan topeng diri ibunya perlahan-lahan terangkat dan mulai menunjukkan bagaimana sosoknya sesungguhnya. Gadis itu bahkan tak terusik dengan banyaknya arwah yang mulai membentuk kabut yang menyelimuti mereka kini. Ia merasa aman dan kuat dengan kehadiran ibunya di sana.
“Dulu, waktu aku seusia dirimu, orang-orang bertanya padaku, bagaimana keadaaan panen tahun depan? Atau, apakah sapiku akan bisa melahirkan banyak anak? Ada pula orang-orang yang mengetuk pintu rumah ini malam-malam hanya karena anak mereka mendadak jatuh demam.”
Mahla mendengar suara ibunya itu begitu jernih dan halus. Seperti denting genta angin yang bergemerincing. Tidak ada jejak muram seperti yang biasa ia perdengarkan.
“Nana selalu menerima mereka dengan terbuka. Ibuku tidak pernah melarang Nana, meskipun karena itu, ia akan mendapat cambukan dari ayah. Kau tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana kejinya kakekmu semasa hidup, Mahla.” Sambung ibunya kemudian.
__ADS_1
Kabut mulai terasa lebih padat dan membekukan, terdengar suara Daud tersengal-sengal seakan kehabisan udara. “Jangan ganggu lelaki malang itu.” Hardik ibu Mahla tegas. Seakan-akan ialah penguasa dari semua arwah yang mendadak datang dan mengerubungi mereka, kabut di sekitar Daud menjadi lebih tipis dan lelaki itu bisa bernapas kembali dengan mudah. Kedua matanya terpejam seperti sedang tertidur sangat lelap.
Mahla melihat sulur-sulur asap perak mulai membelit tubuhnya dan ibunya, namun ibunya tidak terlihat terganggu karenanya. Matanya setengah terbuka dan menyambut udara dingin yang mampat itu seperti bertemu kawan lama. Mahla menangkap binar kerinduan di sepasang mata hitamnya yang sangat mirip dengan mata Mahla.
“Kamu takut, Mahla?” Tanya ibunya yang kini tubuhnya tertutup kabut perak itu seluruhnya. Mahla menggeleng pelan, ia yakin semua kabut ini tidak akan membahayakan mereka, meski ia mulai tak bisa melihat apa-apa selain asap perak yang semaikin tebal dan pekat.
“Kita berdua seperti suar di kegelapan bagi mereka semua. Mereka ini ingin didengar, ingin menyelesaikan urusannya, ingin menuntaskan dendam. Tapi hantu-hantu ini tak punya kekuatan, bahkan hanya untuk sekadar menampakkan diri pada manusia biasa.” Ibunya berkata seperti gumaman dalam tidur, suaranya mengawang, gemanya terdengar seperti berasal dari sangat jauh, padahal tubuh Mahla berhadapan dekat sekali dengannya.
“Ada suatu masa di mana aku membantu mereka semua, Nana mengajariku semuanya. Tentang yang ada dan tak terlihat. Tentang bisik-bisik di dalam kabut, tentang kilatan masa lalu, penglihatan di masa depan… Semua yang kau ketahui sekarang berasal dariku.”
Mahla merasakan ada yang meresap ke dalam tubuhnya selain kata-kata ibunya di dalam kabut. Ia seakan melihat ibunya membuka selubung-selubung pertahanan diri dan membiarkannya mengetahui segala rahasia yang biasanya dipendamnya rapat-rapat.
Mahla bisa melihat luka-luka yang belum sembuh melintang di sekujur ingatan ibunya. Ia bisa merasakan lecutan cemeti mencungkil sebagian punggung ibunya. Ia bisa merasakan betapa mual rasanya ketika tangan kasar berbonggol-bonggol itu menjelajahi tubuh muda ibunya tanpa ampun.
Kamu berdosa. Ini jalan untuk menyucikanmu.
Suara kakeknya terngiang jelas dan parau. Ia melihat Nana murka. Ia membelalak menyaksikan Nana melempar kakeknya dengan kekuatan kasat mata hingga lelaki jahat itu tak bangun-bangun lagi. Kepalanya hampir terbelah dua. Ibunya terkapar di lantai. Nana roboh dan berkubang di tengah tangisannya.
“Aku tidak ingin semua yang dituduhkan padaku terjadi padamu.” Suara ibunya tak lebih berupa kisikan yang tertinggal di awang-awang.
__ADS_1
Di sana, dengan tubuh yang terbungkus kabut rapat, dan tebal, Mahla mulai mengenal ibunya, di antara lapisan-lapisan mas alalu yang mulai terbuka selubungnya, satu per satu.