BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA

BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA
Tangan Kanan Azazel


__ADS_3

Mahla terbangun pada dini hari dengan kepala yang terasa penuh. Ia melihat begitu banyak kilasan kejadian yang tak dikenalinya. Sepertinya, banyak sekali entitas yang keluar-masuk tubuhnya begitu saja saat ia tertidur.


“Barukh?” Panggil Mahla sangsi, ia tak mengharap roh kuno seperti Barukh bisa langsung muncul setiap kali ia memanggilnya. Tapi toh tak ada salahnya mencoba. Ia sudah memanggil Barukh puluhan kali, karena ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Namun rupanya ibunya benar, Barukh hanya akan menampakkan diri jika jiwanya berada di antara hidup dan mati.


Mahla berupaya untuk kembali tidur saat sesuatu mendadak menarik perhatiannya. Dari arah pintu kamarnya, sosok yang mendekatinya dengan langkah terseret itu berbadan sangat tinggi. Ia memiliki tangan dan kaki yang terentang panjang, seakan-akan ditarik hingga melar.


Ia juga memiliki kepala yang lonjong dan mencuat ke atas. Bagian mulutnya berupa rongga, dengan lidah terjulur berwarna merah memualkan. Sementara, sepasang matanya hanya berupa lubang hitam tak berdasar.


Tubuhnya makhluk itu pucat seperti kebanyakan arwah lainnya, namun tampaknya ada yang berbeda, Mahla melihat keriap api yang menari-nari di tangannya.


“Apa yang kamu inginkan?” Tanya Mahla lembut. Terkadang, arwah penasaran hanyalah ingin bercerita tentang sesuatu. Makhluk itu kemudian menyeret kakinya dan terseok-seok ke arah Mahla. Ia tampak semakin mengecil, kepalanya tak lagi membentur atap kamar ketika semakin dekat dengan Mahla.


Api kecil yang menari-nari di tangan sosok itu semakin membesar dan menyilaukan, Mahla terlambat menyadari bahwa hal itu mungkin bisa saja berbahaya baginya. Ketika sudah sangat dekat dan saling berhadapan, Mahla merasakan jilatan lidah-lidah api mulai menyelimuti tubuhnya, tanpa sempat berteriak, pandangannya berubah kabur kemudian gelap sepenuhnya


*


Ia adalah Sharai. Tubuhnya melata dan terbuat dari riap-riap api. Di kepalanya yang besar dan tidak berambut, bersarang seribu kalajengking dengan ekor mencuat ke segala arah. Di dekat lehernya, tertoreh luka menganga berisi jeritan jiwa-jiwa yang sudah dimangsa. Parasnya berupa wanita bengis dengan mata menyala, bibirnya hanya tersisa separuh, separuh lainnya tampak hancur dan membusuk.


Ialah Sharai, tangan kanan Azazel sang penghancur tatanan bumi. Pemangsa jiwa. Pembawa bencana. Kau bisa melihat betapa ia memiliki aura yang sangat perkasa. Kau akan hancur hanya dengan melihatnya. Kamu tak akan ingat lagi siapa dirimu. Kamu tak akan mampu lagi bertahan agar tak lebur dalam jangkauan matanya.


Mahla terjatuh. Ia melihat keriap-keriap mengerikan itu melata ke arahnya. Ia tak akan pernah bisa melupakan suara desis mengerikan yang merenggut kesadaranya. Gadis itu terlempar. Jurang itu sangat dalam. Begitu kelam. Tak berdasar. Anyir di sana. Busuk di sini. Lubang itu hanya berisi darah dan nanah. Hanya ada sakit yang bisa diingat Mahla. Hanya ada jeri yang memenuhi tubuhnya kini.


Mahla menyadari Sharai akan kembali berkuasa atas dirinya, maka ia mencoba merangkak naik. Namun tempatnya terbuang terlalu dalam. Terlalu terjal dan hanya ada bayang-bayang yang terasa cair dan pekat. Selubung gelap itu mulai memangsanya. Ia merasa sedikir demi sedikit dirinya terkikis dan akan lebur di dalam sana.


Sementara, seribu kalajengking di kepala Sharai mulai menuruni lubang dengan ganas. Setiap yang satu membuka mulutnya, lahir seratus yang lain. Berduyun-duyun mereka mengerumuni Mahla, membuat setiap jengkal kulitnya tertutup hewan terkutuk itu, dan sengatnya membuat beku. Gadis itu tak mampu lagi bergerak, ia tak mampu, bahkan hanya untuk sekadar berteriak.

__ADS_1


Ia akan dimangsa. Di dalam lubang yang entah. Dengan Sharai yang berkuasa atas raganya.


Apakah aku akan mati?


Wajah Sharai menyeringai keji dengan separuh bibir yang hancur, suaranya lantang memenuhi benak Mahla.


Hari di mana kamu bertanya, kamu akan mati. 


***


Marya bangun dengan tersaruk-saruk, ia kemudian menyalakan lampu kamarnya. Ia mendengar suara berkelontangan di kamar Mahla yang mengusik tidurnya. Kamar Mahla tepat berseberangan dengan kamarnya, sementara kamar Melekh berada di sebelah kamar milik Mahla. Semua kamar itu berada di lantai dua rumah mereka.


“Apa lagi sekarang?” Gumam Marya kesal. Ia membiarkan saja rambutnya tergerai, kemudian berjalan dengan enggan ke kamar anaknya itu. Setelah membuka pintu kamat Mahla, pemandangan di dalamnya sungguh hampir membuat jantungnya tercerabut dari akarnya!


“Tuhan ampuni kami!” Ujarnya berteriak. Suara Marya merobek keheningan dini hari. sedetik kemudian, tubuh Marya terdorong masuk, lalu pintu langsung membanting tertutup di belakangnya. Ia tersungkur dekat dengan tubuh Mahla namun tak berani menyentuhnya. Apapun yang sedang terjadi pada anak gadisnya berada di luar kemampuannya.


Mahla, masihkah kamu di dalam sana?


Perempuan itu melihat anak gadisnya menggeliat di lantai dengan lidah api yang terus berkeriap tanpa henti. Kepalanya menghadap ke arahnya sementara tubuhnya terus berkelojotan tanpa henti. Dengan ngeri, Marya melihat sepasang mata Mahla memerah darah.


Tidak terlihat kepak sayap yang biasanya berkelebat di sana, yang menandakan bukanlah Mahla yang mendiami tubuh itu sekarang.


“Jangan ambil dia!” Teriak Marya lebih kencang. Tak disangka, tubuh Mahla yang tadinya menggelepar-gelepardi lantai itu mendadak berhenti. Saat lidah-lidah api mulai meninggalkan tubuh Mahla, Marya kembali memekik ngeri. Sepasang mata anak gadisnya itu masih memerah laksana kolam darah!


Pintu kemudian mendadak menjeblak terbuka.

__ADS_1


Melekh berdiri dengan tegap, sesuatu yang sama sekali tak bisa dilakukannya. Mungkin matanya mengelabuinya, namun Marya melihat pendar emas samar bersinar di sekeliling tubuh anak lelakinya itu.


“Jangan sentuh dia!” Perintah Melekh tegas. Tak ada jejak gagap di sana. Tidak pula terpatah-patah. Suaranya terdengar  luar biasa jelas dan mantap. Anak lelakinya itu kemudian mendekati Mahla, dan mencoba menahan tubuh saudarinya yang kembali kejang-kejang di lantai.


Lidah-lidah api mungkin telah hilang dari sana, namun jelas bukan Mahla yang mendiami tubuhnya.


“Sharai! Kehadiranmu tak diterima di sini! Tinggalkan tubuh Mahla!”  Melekh berseru sambil meletakkan kedua


tangannya di bahu Mahla. Adik kembar Mahla itu menahan bahu Mahla agar tubuh gadis itu tak bergerak-gerak tanpa kendali.


Mungkin beberapa hari yang lalu, Melekh berhasil mengusir Sharai karena iblis itu belum berhasil mencerabut jiwa Mahla dan mengurungnya di lubang neraka. Namun kini, saat tubuh Mahla hanyalah selongsong luar tanpa isi, Melekh tak dapat berbuat banyak selain berharap bahwa kakak perempuannya itu cukup kuat untuk bisa kembali ke dalam tubuhnya.


Suara tawa serak dan parau keluar dari dalam mulut Mahla. Tawa itu liar tak terkendali.


Dia milikku. Dia sudah di dalam lubang. Ia tak akan kembali. Aku akan beranak pinak di dalam tubuh ini. Akan kubawa legion iblis bersamaku. 


Melekh terperanjat dengan ngeri, ia kemudian terpental tak jauh dari tubuh Mahla. Pendar di tubuhnya perlahan menghilangm, namun sekuat tenaga, Melekh menahan diri agar tetap sadar. Ia tak akan membiarkan ibu dan kakaknya sendirian.


Bersamaan dengan itu, Marya mendengar kepak halus dan angin sejuk menerpa tubuhnya. Sesuatu mewujud di antara dirinya dan Mahla. Barukh di sana, tepat di hadapannya, menatapnya lekat dengan mata ungu yang berkerlip berganti-ganti dengan birudan abu-abu.


“Dia harus punya ijinmu untuk membantu Mahla.” Seru Melekh ketika dilihatnya ibunya ragu-ragu. “Ia melayanimu, dan butuh persetujuanmu!” Serunya lagi ketika dilihatnya ibunya bergeming.


Marya mengangguk pelan, sementara Melekh pelan-pelan kehilangan kesadarannya.


Barukh mengembangkan sayap-sayap besarnya, makhluk kuno itu kemudian meleleh menjadi butir-butir kristal padat yang kemudian melesap cepat di dalam tubuh Mahla.

__ADS_1


__ADS_2