
Jerry adalah tetangga yang paling dekat dengan rumah kediaman Mahla. Lelaki yang sudah mulai berusia senja itu telah mengenal keluarga Mahla secara turun temurun. Ia mengetahui Magdalene Yosiah, nenek buyut Mahla, berteman baik dengan Merla, nenek Mahla, bahkan menjadi wali pernikahan Marya.
Lelaki yang membiarkan saja jenggotnya melebat itu baru saja berduka karena istrinya tidak lagi mampu berjalan. Serangan stroke menghampiri istrinya itu saat utnuk makan malam, beberapa bulan yang lalu. Jerry memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Caanan, anak itu begitu pemalu dan sulit bersosialisasi hingga di usianya yang dua kali usia Mahla, tidak memiliki seorang teman pun di lingkungan mereka.
Hari itu dilalui Jerry dengan biasa-biasa saja, siang itu, ia dan Canaan telah selesai memetik bunga-bunga cengkeh yang akan dikeringkan. Ia melewati jendela yang berhadapan dengan rumah Mahla seraya melihat rumah tetangganya itu sekilas. Rumah besar bercat abu-abu suram itu tak pernah kelihatan semarak lagi sejak Magdalene Yosiah meninggal dunia.
Merla, anak satu-satunya Magdalene meninggal beberapa minggu sebelum Magdalene berpulang. Sebelumnya lagi, ayah Marya juga meninggal karena kecelakaan tragisdi kebun cengkeh. Orang-orang mengatakan kepala lelaki malang itu remuk dan tak bisa lagi dikenali.
Jerry menyadari betapa kematian sangat akrab menyambangi keluarga Yosiah, kini hanya tersisa Marya dengan dua anak kembarnya. Mahla, dan Melekh. Memikirkan anak-anak tetangganya itu membuatnya sedikit lebih baik, karena meskipun Canaan sangat pemalu, anak itu tak memiliki gejala-gejala aneh seperti anak-anak keluarga Yosiah.
Mahla, anak tertua tetangganya itu memang memiliki wajah cantik rupawan dengan rambut merah mengesankan, namun Jerry merasakan ada sesuatu yang sangat salah padanya. Ia sendiri tak akan tahan menghadapi Mahla berlama-lama, sepasang mata onyx itu seakan bisa menembus lapisan-lapisan dirinya dan bisa melihat langsung ke dalam jiwanya.
Sementara, saudara kembarnya yang cacat, tampak seperti perbandingan yang kontras dengan Mahla. Anak lelaki itu memiliki rambut lepek menyedihkan seperti warna punggung tikus, suram dan abu-abu. Sebelah tangannya menekuk ke dalam membentuk cakar mengerikan, sementara kakinya tak berkembang sempurna seperti halnya mentalnya. Jerry mau tak mau merasa prihatin dengan kehidupan Marya yang tampaknya selalu mengalami
kesialan.
Ada desas-desus bahwa ayah Marya bukanlah meninggal karena kecelakaan, namun karena Magdalene Yosiah yang terkenal itu telah melemparnya dengan kekuatan kasat mata karena telah berbuat sesuatu yang mengerikan dengan anak perempuannya sendiri. Kasak-kusuk beredar secara sembunyi-sembunyi karena mereka semua segan dengan Magdalene yang begitu berkuasa, dan mau tak mau mereka semua mengakui bahwa wanita tua itu adalah penyihir yang baik hati.
Kemudian suami Marya, Jerry tak ingat siapa nama lelaki malang itu, karena ia adalah pendatang, juga meninggal tak lama setelah Marya melahirkan kedua anak kembarnya. Suaminya juga mati tak kalah tragis, lelaki yang dikenal sebagai penginjil itu ditemukan mati bunuh diri dengan menggantung lehernya di salah satu dahan pohon di hutan belakang rumah mereka. Bagaimana mungkin seorang misionaris bisa mengakhiri hidupnya sendiri?
Jerry pernah mendengar dari istrinya bahwa suami Marya adalah lelaki taat yang sangat lurus hidupnya. Konon bahkan lelaki itu tak akan segan memukuli Marya jika wanita itu melawan ucapannya. Sebagai umat yang sama-sama taat beragama, Jerry tidak mengerti dari mana datangnya kekejian pada diri suami Marya sehingga tega menyiksa hidupnya, sementara sepanjang usianya sendiri, ia sama sekali tak pernah menyentuh sehelai rambut pun istrinya dengan paksaan, apalagi kekerasan.
“Keluarga yang malang.” Gumam Jerry seraya beranjak dari jendelanya. Dari jendela itu ia bisa melihat Mahla yang biasanya mematung menghadap hutan kecil di belakang mereka. Gadis rupawan itu bisa menghabiskan waktunya seharian di sana. Jerry bisa memakluminya, barangkali gadis itu berlaku demikian karena ibunya berlaku sangat keras padanya.
Marya sepertinya tak ingin Mahla mengikuti jejak nenek buyutnya, mungkin wanita itu bertekad akan hidup senormal mungkin agar hal buruk tak lagi menimpa keluarga mereka. Jerry mengamati keluarga itu sepanjang hidupnya.
Ada masa di mana orang-orang datang dan pergi seperti saat masih ada Magdalene, saat-saat itu Mahla terlihat
__ADS_1
sangat hidup dan ceria. Namun, seringkali Marya mengusir orang-orang yang datang sehingga anak perempuan malang itu menjadi lebih pucat dan kuyu.
“Bukan urusanku.” Gumam Jerry cepat-cepat saat benaknya melantur ingin sesekali bisa membuat gadis itu agar terlihat kembali ceria. Satu-satunya yang bisa ia lakukan sebagai tetangga yang baik hanyalah menghadiahi gadis itu dengan tomat ceri hasil kebunnya yang melimpah.
Siang itu, setelah mencuci tomat ceri, ia menuju kamar Canaan dan bermaksud mengajaknya ke rumah Marya untuk mengantarkan tomat itu. Dilihatnya istrinya setengah tertidur di ranjang setelah memakan seporsi sup jagung buatannya yang sesungguhnya sangat tidak enak rasanya.
Ia berhenti di depan pintu kamar Caanan, yang sangat tidak seperti biasanya,
terkunci dari dalam.
“Canaan?” Gedor Jerry dengan khawatir. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan Canaan? Berkali-kaliia harus mengingatkan diri bahwa anaknya sudah lebih dari tiga puluh tahun, namun perilaku yang tidak biasa itu mau tak mau mengganggu pikirannya.
“Buka pintumu!” Seru Jerry seraya mengetuk pintu itu dengan keras. “Apa yang kau lakukan di dalam?” Desak Jerry lagi. Sayup-sayup ia mendengar Canaan yang merintih-rintih seperti sedang merasa ngeri.
“Buka pintunya atau kudobrak!” Seru Jerry tak mampu lagi menahan kekhawatirannya. Ia berancang-ancang untuk
Apa yang ada ditemuinya dalam kamar Canaan membuyarkan akal sehatnya, dan seketik ia tak mampu bicara.
Api itu, menyambar-nyambar mengancam di hadapan wajah Canaan, dekat sekali dengannya. Sosok itu seperti terbuat dari riap-riap api dengan seribu sungut kalajengking di kepalanya. Tidak ada mata di sana, yang tersisa hanyalah sepasang rongga yang berisikan api cair yang seakan bisa melumatkan siapa saja yang memandangnya.
Jerry mundur dengan ngeri belihat lubang-lubang di tubuh makhluk itu yang berdenyar terus menerus, ia bisa mendengarka jeritan-jeritan menyakitkan dari dalamnya. Makhluk itu sama sekali mengabaikan kehadiran Jerry dan terus menatap nyalang ke arah Canaan yang meringkuk ketakutan setengah mati.
Melihat anak satu-satunya sedang terancam, keberanian Jerry bangkit. Ia bangun dan menyerbu makhluk itu dan meneriakkan doa malaikat Agung Santo Mikhael untuk mengusir kehadiran makhluk yang merupakan perwujudan dari iblis bernama Sharai itu.
Jangan coba-coba denganku…
Di luar dugaan, Jerry mendengar suara makhluk itu bergema dengan indah, bagaikan simfoni yang indah yang belum pernah didengarnya. Ia merasakan tubuhnya tunduk di bawah keriap-keriap api terang yang hendak memangsa anak lelakinya.
__ADS_1
Bagus, kalian para hama, tidak berharga selain dimangsa.
Suara Sharai kembali bergema di kepalanya. Jerry tahu, ia dan anak lelakinya akan dimangsa, namun ia rela. Ia sungguh rela demi bisa mendengar suara yang memabukkan itu, sekali lagi, sekali saja.
Canaan rupanya tidak terpengaruh kekuatan Sharai yang memabukkan Jerry, ia melempar tubuhnya ke arah Jerry, sehingga menumbuk pria besar itu dan membuatnya kembali tersadar.
“Canaan!” Seru Jerry sangat kaget. “Usir dia!” Seru Canaan lemah seraya menunjuk ke arah iblis Sharai yang berdenyar makin terang. Senyuman yang terbentuk di wajah api itu tak bisa terlukiskan kengeriannya saat Jerry menatapnya. Bahkan, mungkin kematian tidak akan semenakutkan ini. Pikir Jerry pasrah. Ia tak akan mampu melawan badai api yang akan melumatkannya itu.
Bukan kalian yang kuinginkan.
Bujuk iblis itu dengan suara yang semanis madu. Tepat saat Jerry mengira kematian telah datang menjemputnya. ia melihat Canaan mendadak tergolek di lantai, sementara tidak ada tanda-tanda kehidupan padanya. Jerry meraung marah menyadari anak yang disayanginya hanya memandang kosong padanya.
“Kau apakan dia? Kau apakan anakku?” Seru Jerry marah seraya berusaha menyerang Sharai dengan membabi buta, namun baru saja ia akan mendekati tubuh penuh api itu, lelaki malang itu langsung terhempas jauh menubruk dinding.
Aku hanya meminjam jiwanya, sebentar saja. Kamu bisa menebusnya.
Ujar Sharai kembali berbisik, suaranya mengundang, Jerry sekuat tenaga menolak godaan untuk menurutinya. Anak lelakinya yang berharga itu hanya berupa selongsong kosong tak bernyawa, menatap tepat ke arahnya.
Pertukaran, Mahla dengan Caanan. Biarkan aku berada padamu.
Jerry tak mampu menjawab, namun kita semua tahu, jawabannya selalu di sana. Lelaki itu akan melakukan apa saja demi anak yang disayanginya. ia akan mengizinkan iblis itu bersemayam padanya.
Dalam sekali kedipan, api itu menyambar Jerry, ia menunggu untuk merasakan datangnya rasa sakit, namun ia tak lagi merasakan apa-apa. Hanya ada kegelapan kosong yang membungkus dirinya kini. ia bisa melihat seperti biasa, namun ada kabut merah aneh yang menyelimuti pandangannya.
Diam dan ikutilah.
Suara Sharai adalah satu-satunya jalan yang akan diikutinya kini.
__ADS_1