BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA

BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA
Kisah Ravenna


__ADS_3

Ravenna melihat sebuah rumah pertanian bercat hitam di bibir hutan, dan langsung memutuskan untuk mengetuk pintunya. Ia adalah wanita tengah baya dengan tubuh jangkung dan rambut hitam yang selalu digelungnya. Setelah suaminya yang pemabuk mengusirnya dari rumah, Ravenna menggelandang selama beberapa hari hanya dengan berbekal beberapa sen di kantongnya. Ia sudah mendatangi banyak rumah untuk meminta pekerjaan, namun tidak ada satupun yang mau mempekerjakan perempuan kumal, dengan banyak jejak bilur di tubuhnya, dan tanpa asal-usul yang jelas di rumah mereka.


Ravenna telah berjalan lebih dari empat hari setelah akhirnya melihat rumah pertanian di bibir hutan itu. Rumah itu besar dan memiliki lahan terbuka, berjajar pohon-pohon cengkeh dengan batang hitam menjulang memagari sekeliling rumah, alih-alih pagar besi. Dari kejauhan, Ravenna bisa mendengar lenguhan sapi di


antara kotek ribut ayam betina, dan beberapa kali ia bahkan mendengar ringkikan kuda-kuda.


Sepertinya rumah salah satu bangsawan kaya.


Ravenna membatin seraya menunggu pintu di hadapannya terbuka. Di sana-sini Ravenna melihat kesibukan penghuni rumah di lahan terbuka yang letaknya di samping rumah. Beberapa orang terlihat mulai menjerang air, memotong-motong daging, dan sebagian membuat bubur/nasi. Seperti dapur darurat di barak-barak pengungsian. Wanita itu juga melihat banyak orang mengantri dengan membawa rantang makanan.


Tempat apa ini?


Ia ingat pernah membatin dengan bingung. Belum pernah ia melihat rumah besar dengan begitu banyak orang miskin di halamannya. Bahkan sepertinya pemilik rumah menyediakan makanan yang tidak ada habisnya.


Seorang perempuan dengan perut yang mulai membulat membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu berat. Ravenna melihat sepasang mata perempuan itu terkatup rapat, namun hal itu sepertinya tidak menghalangi gerak tubuhnya sama sekali. “Siapa?” Sapa perempuan itu ramah. Ravenna tak akan melupakan deretan gigi bersih dan rapi yang terlihat saat perempuan itu menyunggingkan senyum memukaunya.


“Selamat, siang, Nyonya. Saya Ravenna, apakah Nyonya pemilik rumah?” Tanya Ravenna sopan seraya memperkenalkan diri. Dilihatnya wanita yang sama sekali tidak pernah membuka matanya itu mengangguk pelan. “Masuklah, Ravenna.” Ajaknya ramah, membuat Ravenna merasa sangat terharu karenanya. Belum pernah ada yang menyambutya seramah ini sebelumnya.


“Tinggalkan saja bawaanmu di luar, nanti akan ada yang membawakannya ke kamarmu.” Ujar wanita ramah itu lagi saat Ravenna hendak mengangkat bawaannya yang hanya berisi beberapa lembar pakaian dalam sebuah tas lawas yang jahitannya sudah banyak terlepas di sana-sini.

__ADS_1


“Maksud, maksud nyonya saya bisa bekerja di sini?” Tanya Ravenna takjub. Wanita itu mengangguk pelan, ”Kau lihat, di sini ada banyak pekerjaan yang bisa kamu kerjakan, apakah kamu bisa memasak?” tanya nyonya rumahnya lagi. “Ayo, masuk dulu, kau harus makan dan segera membersihkan diri.”


Seperti anak anjing yang baru bertemu majikan barunya, Ravenna mengikuti wanita baik hati itu ke dalam rumah besar yang akan menjadi tempat tinggalnya sampai akhir hayat.


*


Setelah tinggal beberapa lama di rumah besar itu, Ravenna mulai menyadari bahwa majikan perempuannya itu seringkali bicara sendiri pada dinding kosong di kamarnya. Ia selalu berkisik-kisik tak jelas di antara gumaman yang tidak dimengerti oleh siapapun.


Kemudian, majikan laki-lakinya yang berwajah muram, seringkali mengunci diri di kamar belakang tanpa ada yang boleh memasukinya. Ravenna berpikiran, ada sesuatu yang disembunyikan pasangan kaya itu, dan mereka tidak ingin ada siapapun yang mengetahuinya.


“Nyonya, saya bawakan bubur hangat.” Ujar Ravenna suatu pagi setelah mengetuk pintu kamar majikannya. Wanita itu mengangguk pelan seraya meraba-raba pinggiran dinding dan kembali duduk di kursinya. “Rav, suatu hari aku akan pergi.” Ujar majikannya itu dengan wajah kuyu, seakan habis bepergian jauh.


Saat itu, Ravenna beranggapan, majikan perempuannya itu ingin pergi dari kehidupannya yang tampak sepi dan sengsara. Meskipun banyak orang ada di rumah itu dari pagi hingga malam, namun, majikan perempuannya itu selalu saja sendirian. Ada aura yang aneh yang dirasakan Ravenna setiap kali ia mendekati majikan perempuan itu.


Mirip sekali dengan kaki mayat.


Ravenna sekilas bergidik merasakan kaki itu begitu dingin dan pucat, dengan hati-hati ia kemudian menyampirkan selimut ke tubuh majikannya yang mulai tertidur di kursinya.


*

__ADS_1


Ravenna mengulang setiap kejadian yang pernah menimpanya di rumah itu semenjak kedatangannya. Kebanyakan di antaranya aneh dan janggal, namun ia seringkali mengabaikan hal itu selama ia bisa bekerja dan punya tempat untuk tinggal di sana. Di tangannya terdapat sebuah nampan perak beserta mangkok porselen kecil yang berisi sop daging untuk Magdalena. “Sejak lama memang rumah ini aneh.” Gumamnya pelan. Ia seringkali menemukan sepasang mata dengan nyala api mengintip di antara bayang-bayang. Ravenna kerap kali mengabaikannya, namun semakin lama kehadiran mata itu semakin sering dijumpainya. namun, meski mata itu menyala-nyala, namun keadaan di rumah itu tetap saja gelap dan dingin.


Seberapa pun sering mereka mengganti lampu dengan lebih terang, tetap saja rumah itu suram.


Nyala api di perapian tak pernah kuat mengusir hawa dingin yang menggigit kulit. Ravenna berjalan dengan pelan menuju kamar belakang yang selama ini terlarang bagi mereka. Ia pernah mendengar kisah-kisah dari tukang kebun yang sama sekali tidak memperbaiki apa yang dirasakannya. Konon rumah itu dihuni iblis tua pemakan jiwa, apa yang terjadi pada nyonya rumah itu diakibatkan oleh sang iblis yang memangsa jiwanya.


Sementara, majikan lelakinya mengetahui hal itu dan menjadi gila karena tak bisa mencegahnya. Konon pula, majikan wanitanya itu tak bisa membuka mata karena di manapun ia melihat, iblis tua itu akan menampakkan diri untuk memangsanya, dan, ya, iblis itu berhasil membakar jiwa Nyonya yang disayanginya hingga hanya selongsong tubuh kisut yang tak ada isinya.


Ravenna bergidik membuang kisah-kisah seram itu dari benaknya saat dilihatnya sepasang mata dengan nyala api yang kerap menampakkan diri itu kembali mengintip dari sela-sela korden kelabu pada ruangan yang berbentuk lorong yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang belakang.


“Demi Surga!” Pekik Ravenna kaget. Sepasang mata itu menatapnya nyalang tanpa wujud. Ravenna merasakan degup jantungnya bergemuruh di telinganya, itukah iblis yang memangsa majikan wanitanya?


Di detik-detik berikutnya, Ravenna merasakan tubuhnya kaku dan tak mampu bergerak. “Kumohon,” bisik Ravenna, “Pergi sana, jangan ganggu kami!” Ujarnya memberanikan diri. Namun sesosok makhluk itu mulai terwujud perlahan di hadapannya. Ravenna merasakan suaranya menghilang, makhluk itu besar, sangat besar. Tubuh hitam dengan robekan pada tubuhnya, yang di dalamnya menjerit suara-suara yang tak akan pernah dilupakannya.


Api menari-nari di sekujur tubuhnya, dan kepalanya, oh! Kepalanya ada seribu kalajengking dengan capit mendesis-desis marah. Sepasang matanya kosong, lubang hitam tanpa dasar. Ravenna merasa terisap sedikit demi sedikit ke dalamnya. “Jangan, jangan ganggu kami!” Desis Ravenna terakhir kali. Ia jatuh terduduk dengan


nampan yang berhamburan ke mana-mana. Kuah sop yang baru saja mendidih mengguyur tubuhnya, ia bahkan tak bisa merasakan panasnya, karena rasa takut membungkusnya seperti kepompong yang mengurung tubuhnya.


Ia hanya ingin memejam mata, dan tak mau bangun lagi di bawah tatapan makhluk seram dengan keriap api di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2