BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA

BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA
Penglihatan Melekh


__ADS_3

Sharai ada di mana-mana. Melekh melihat pendar apinya setiap kali berpaling. Pertama kali ia berkontak lagi dengan iblis betina itu adalah saat ia menangkap kilatan lidah api di mata Jerry. Ia menduga Sharai telah memecah-mecahkan dirinya menjadi bagian-bagian kecil yang mudah menyusupi. Seperti percikan bara, Sharai akan menghanguskan tempat-tempat yang telah ia singgahi.


Dan kini, Melekh merasa sangat resah melihat api itu mulai berkerlip di mata Mahla. Hari di maana ibunya sudah kembali seperti semula. Tegak dan kaku. Ikatan rambut sekencang besi kembali berada di puncak kepalanya.


Tidak akan ada yang mengira bahwa ibunya itu beberapa minggu yang lalu telah kembali mengarungi alam jiwa demi memberi bantuan pada pria tua bernama Daud, yang menderita karena kehilangan Shoshana.


Bahkan saudarinya sendiri, Mahla, rupanya juga bertekad melupakan fakta betapa ibunya itu juga sama seperti mereka, mengabaikan bahwa ibunya itu sama indigonya dengan kedua anaknya. Namun, baik Mahla dan ibunya sama-sama terlihat menghindari topik itu, demi meredam pertengkaran di rumah besar yang selalu terasa suram itu.


“Berhentilah menggerecoki ibu dengan pertanyaanmu, dan mulailah sesali dosamu di bilik doa!” Seru ibunya saat Mahla menghujaninya dengan berbagai pertanyaan di pagi saat ibunya kembali. Melekh tahu kemana ibunya pergi. Gereja adalah tempat lain selain bilik doa di mana ibunya biasa berlindung.


Masih banyak orang datang silih berganti menemui Mahla, namun ibunya membiarkan saja hal itu, meskipun ia selalu berdecak kesal tiap kali Mahla menemui tamunya di beranda. Suasana rumah mereka hampir-hampir terasa normal jika saja siang itu ia tidak menyadari ketidakhadiran Polsie, hantu jahil yang biasanya mengganggu Arlou dan dirinya itu.


Dengan terseret-seret, Melekh mendekati Mahla yang sedang termenung di beranda setelah menemui salah satu tamunya yang memintanya menemukan liontin pemberian suaminya (suamiku mendatangiku tiap malam karena tahu aku menghilangkannya!), saudarinya itu tampak menikmati matahari musim panas yang menyinari dirinya. Rambut panjangnya terlihat mengkilap dari kejauhan, memberi efek yang sungguh mengagumkan.


“Melekh.” Sapa Mahla saat akhirnya ia berhasil menyeret kaki timpangnya ke beranda. “Mau berjemur?” Sambung kakaknya itu sambil mengamatinya mendekat. Arlou mengikuti langkahnya seperti bayangan yang sangat galak. Ia beberapa kali mendesis pada tamu Mahla, dan Melekh bersumpah sekali waktu Arlou sudah bersiap akan menyerang tamu yang lain.


“Pppollsssiiiieee…” Ujar Melekh susah payah saat keduanya berhadapan. Pemuda itu sejengkal lebih tinggi dari saudaranya, namun karena tangannya yang cacat, punggungnya jadi melengkung dan tertekuk secara permanen, membuat tinggi mereka berdua sama sekarang.


Mahla tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. “Kenapa mencari hantu jahil itu?” Tanya Mahla penasaran. “Arrlloouuu” Ujar Melekh seraya menunjuk kucingnya yang mendesis keras ke arah Mahla. Sebersit pertanyaan muncul begitu saja di benak Melekh.


Sejak kapan Arlou begitu galak pada Mahla?


Mahla benar-benar lupa bahwa hantu botak itu memiliki ikatan yang ganjil dengan kucing Melekh. Ia seringkali menangkap kebersamaan mereka yang aneh di sudut-sudut rumah. Dengan perasaan sangat tidak nyaman, ia mengirimkan ingatan tentang Polsie yang terbuyarkan karena kehadiran Barukh.

__ADS_1


Bukan Barukh yang menghancurkan Polsie!


Seru Melekh marah di dalam kepala Mahla. Gadis itu bahkan bisa mendengar suara sember milik Arlou di dalam benaknya. “Tunggu, apa maksudmu Melekh?” Tanya Mahla tak percaya melihat tuduhan di mata Melekh. Bahkan Arlou tak henti-hentinya memamerkan taring kepadanya.


"Kkkaauuu mengghancurkkaaan P-p-polssiie!" Seru Melekh keras. Terbelalak lebar, mata Mahla menatap Melekh dengan marah. Ia melihat Arlou di kaki saudaranya itu mulai menggeram mengancam padanya.


“Jaga kelakuanmu, Arlou!” Tegur Mahla mulai kesal. Semenjak peristiwa dengan Polsie, ia menjadi lebih mudah marah pada siapa saja. “Dan kenapa kalian menuduhku?” Tanya Mahla keras. Ibunya yang sedang mengumpulkan bunga-bunga cengkeh kering, yang berada tidak jauh dari mereka bahkan sampai menengokkan kepala padanya.


Satu-satunya hal yang tidak pernah terjadi di keluarga itu adalah pertengkaran Mahla dengan Melekh. Keduanya selalu akur dari hari pertama mereka dilahirkan. Mahla sangat menyayangi Melekh dan akan melakukan apa saja untuk melindunginya. Begitupun sebaliknya. Melihat mereka saling berteriak seperti ini mau tak mau sangat memancing perhatian Marya.


“Ada apa, kenapa kamu berteriak pada adikmu?” Seru ibunya seraya bergegas menghampiri mereka.


*Kau tahu, iblis dengan mudah merasukimu saat secuil saja *hatimu berisi dengki.


*


Mahla melihat Polsie terbakar di tempatnya. Malam itu ibunya menghilang, dan Barukh mengatakan sesuatu seperti akhir dari segala awal mula. Apa yang ingin disampaikan roh itu padanya? Malam itu Mahla merasa sangat kesal karena Barukh selalu saja berteka-teki.


Konon Barukh adalah perwujudan spirit tertinggi yang menjadi pelindung keluarganya selama turun temurun, kekuatan energinya tak terbatas sampai bisa membuyarkan roh lain yang terlalu dekat dengannya. Namun, kenapa ia tak bisa memberitahukan saja padanya apa sebenarnya maksud dari ucapannya itu?


Gadis itu terlelap dengan perasaan kesal sekali. Ia marah pada Bapa Samone yang menanyai ibunya perihal Melekh. Ia tak percaya pendeta itu tidak mengetahui apa yang terjadi pada saudaranya jika ia membaur dengan para umat yang terhormat.


Ia juga sangat marah pada Jerry yang sepertinya sedang dibawah kendali Sharai. Lelaki itu dikenalnya sangat rajin ke gereja, masa semua hal itu tidak bisa membantunya dari pengaruh iblis betina itu?

__ADS_1


Belum lagi sikap ibunya yang terus berubah-ubah. Sekali waktu ia tampak seperti cenayang hebat penguasa alam jiwa, namun di waktu lain ia berubah menjadi wanita menyedihkan yang tersiksa karena masa lalunya. Mahla merasa darahnya bergejolak karena amarah. Ia ingin sekali melampiaskannya pada sesuatu, dan tanpa sadar, ia menyeringai mengingat Polsie yang kini hanya berupa sisa debu di rumah mereka.


Ia terlelap dengan perasaan dengki.


Namun, malam itu, mimpinya tak lagi suram dan abu-abu. Ia bermimpi matahari telah datang padanya. Begitu besar dan bulat benar. Dengan warna jingga yang menyepuh dunianya yang kelam dan abu-abu, menjadi hidup dan penuh warna.


Dengan senang hati ia menyambutnya.


Mahla menari mengitari matahari miliknya. Merasa begitu hangat dan gembira. Ia menyentuh segala sesuatu di mimpinya, melukis corak-corak yang ceria. Jingga-kuning-merah, adalah warna-warna matahari yang memenuhi mimpinya.


Saat segala sesuatunya terasa terlalu terang dan menyilaukan, Mahla terkesiap dan mendadnak terbangun di ranjangnya.


Keriap-keriap api mulai memasuki sepasang matanya yang terbuka.


Aku akan hidup seperti yang seharusnya.


Di sepertiga malam itu, dengan peluh yang membanjir di dahinya, dan bayangan matahari hangat di dalam dekapannya, Mahla berjanji, ia akan melakukan apa saja yang diinginkannya.


*


Dari balik bayang-bayang malam, pemilik kepala runcing dengan seribu kalajengking di atasnya itu menggoreskan belati hitam miliknya ke salah satu dagingnya yang terbuka.


Untuk Mahla.

__ADS_1


Ia meninggalkan jejak keriap-keriap api di tempatnya berpijak. Satu persatu bagian dirinya mulai merayapi sepasang mata gadis yang sudah diincarnya sekian lama.


__ADS_2