
Mahla menyelami kabut perak yang pekat membutakan itu. Tubuhya seperti terbungkus selubung es yang rasanya dingin namun tak cukup membekukan. Ia menghembuskan napas lega karena Melekh rupanya tidak ikut bersamanya memasuki alam kabut yang sepertinya merupakan alam lain di mana jiwa-jiwa bermukim. Tempat itu bisa saja berbahaya, dan Mahla tak ingin Melekh terluka di sana.
“Mereka menemukannya.” Ujar Shoshana, untuk pertama kalinya hantu itu berbicara langsung kepada Mahla.
Mahla sangat terkejut karena ternyata Shoshana mengikutinya. Hantu perempuan itu melayang-layang dekat sekali dengan Mahla, sehingga gadis itu bisa melihat matanya yang besar dari dekat. Ada urat-urat yang menonjol di mata itu sehingga membuatnya seperti menggelembung sangat padat, dan sewaktu-waktu bisa pecah.
“Mau apa sih kamu mengikutiku?” Tanya Mahla heran. Shoshana mulai berjalan menembus kepulan asap dan kabut, tempat itu benar-benar tempat yang aneh. Segalanya terlihat mengawang dan tertutup kabut, Mahla tak bisa melihat apapun di depannya selain kepulan asap yang semakin tebal membungkus tubuh mereka.
Shoshana melayang ringan di samping Mahla, hantu itu mmembimbing Mahla berjalan agar tak terseok-seok tak tentu arah. “Akulah alasanmu di sini, Mahla. Ibumu dan Daud menemukan di mana aku dibuang.” Ujar Shoshana lirih. Mahla bisa merasakan kegetiran yang tersembunyi di balik suaranya yang ringan dan dingin.
“Tempat apa ini, Shoshana?” Tanya Mahla heran. Ia belum pernah mendatangi tempat seaneh itu. suasananya mirip sekali dengan dunia tempat Mahla tinggali, ia merasa masih tetap berada di ruang tamunya, namun segala sesuatunya tampak ganjil dan asing.
Perabotan di ruangan itu masih ada pada tempatnya, namun semuanya terselubung kabut perak tebal dan tampak mengambang di udara. Tidak terlihat Melekh di kursi, padahal jelas-jelas saudaranya itu tadi ada di sana bersamanya. Mahla juga merasakan tubuhnya sangat ringan, meskipun ia masih terlihat padat. alih-alih, transparan seperti Shoshana, namun ia merasa bisa melayang di antara kabut-kabut yang ada.
“Ini adalah alam kami.” Ujar Shoshana seraya menunjuk aneka sosok yang kemudian mewujud di hadapan mereka. Sosok-sosok itu serupa para hantu yang kerapkali mendatangi Mahla, namun terlihat lebih jelas, membuatnya berlipat kali lebih menakutkan dibanding biasanya. Mereka mengelilingi Mahla dan Shoshana dengan penuh ingin tahu. Beberapa bahkan terang-terangan ingin menangkap Mahla dengan tangan-tangan yang kurus panjang seperti cakar.
__ADS_1
Shoshana mengibaskan tangannya yang transparan untuk menghalau tangan-tangan lain yang ingin mencengkeran Mahla, kemudian dengan suara yang sangat halus ia berbisik pada Mahla. “Mereka tak bisa menyakitimu, karena kamu berpendar sangat terang di sini. Mereka sebisa mungkin ingin keluar dari sini bersamamu.”
Mahla mengangguk mengerti, memang masih ada banyak roh yang terjebak di selubung antara hidup dan mati, beberapa bisa menembus selubung dan mendatangi dunia orang hidup seperti yang Shoshana lakukan. Namun banyak juga yang terjebak di dalam selubung sampai masa yang tak terhingga.
“Jadi di sinilah tempat kalian semua bersemayam?” Tanya Mahla menegaskan. Shoshana mengangguk pelan, ia kemudian mengajak Mahla untuk menuju salah satu pusaran kabut paling tebal yang ada di hadapan mereka.
“Ya, di sinilah jiwa-jiwa kami bersemayam. Bahkan pelindungmu juga di sini.” Seru Shoshana seraya menunjuk salah satu bagian kabut yang bersinar paling cemerlaang. “Tapi dia jarang menampakkan diri, jika ia sampai hadir, kekacauan besar terjadi di sini. Energinya sangat besar sampai-sampai ia bisa membuyarkan roh lain yang terlalu dekat dengannya.”
Mahla mengangguk-angguk mengerti mendengar ucapan Shoshana. Pusaran kabut menggulung-gulung semakin tebal di hadapan Mahla, gulungan itu tampak bisa menelannya begitu saja jika ia melangkahkan kakinya ke dalam sana.
“Ibumu sering kemari saat kecil. Nenek buyutmu bisa dibilang adalah penghubung dua dunia, jarang ada manusia seperti dia.” Sambung Shoshana lagi. Mahla membiarkan dirinya dituntun oleh arwah gadis berekor kuda itu, sambil tak henti-hentinya merasa heran akan pemandangan yang berganti-ganti di hadapannya. Seolah-olah ia telah melalui banyak sekali tempat sekaligus dalam sekali melangkah.
“Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi padamu, Shoshana.” Bisik Mahla menatap Shoshana prihatin. “Tapi, bukannya lebih baik jika kamu merelakan semua dan berpulang dalam damai?” Sambung Mahla hati-hati.
“Aku tidak bisa tenang sebelum bertemu Daud dan istrinya. Aku bertemu istri Daud, Zenaba, di sini saat ia akan menyeberang.” Ujar Shoshana seraya menunjuk sebuah rekahan yang mirip genangan sempit berisi sesuatu yang Nampak seperti air berkilau keemasan di kejauhan. Di atasnya terdapat sebuah jembatan lengkung yang tampak kuno dan rapuh. "Darinya aku baru tahu betapa Daud dan dirinya menderita karena kematianku. Mungkin karena itu aku bisa mendatangi Daud meskipun hanya dalam mimpi." Sambung Shoshana sedih.
__ADS_1
“Setiap
jiwa yang akan berpulang melewati jembatan itu, aku ingat Zenaba mengajakku menyeberang. Tapi aku tak bisa membiarkan tubuhku terendam selamanya di rawa dingin itu. Aku juga tak bisa membiarkan Daud hidup dalam kesedihan begitu lama. Aku ingin dia menemukanku.” SUjar Shoshana panjang lebar, sementara itu, Mahla tanpa sadar melangkahkan kakinya menuju jembatan. Ia yakin benar telah melihat sekelebatan bayangan Nana di ujung sana.
“Stop! Jangan ke sana!” Hardik Shoshana pada Mahla yang seperti berjalan dalam mimpi. Gadis itu yakin benar melihat syal ungu berkibar di ujung jemabtan. Syal yang biasa Nana pakai di lehernya.
“Aku melihat Nana di sana!” Seru Mahla kesal karena Shoshana menghentikannya, dan membuatnya kehilangan sosok Nana. Shoshana menarik tangan Mahla keras dengan seluruh kekuatannya, hal itu membuatnya memudar sebagian. Hanya tersisa bagian pinggang ke atas yang bisa terlihat, sementara kedua kakinya sudah tidak lagi bisa terlihat. “Shoshana?” Tanya Mahla terkejut sekali melihat sosok hantu itu tak lagi utuh.
“Apa yang terjadi?” Desak Mahla seolah baru tersadar dari mimpi. “Sungai itu memikatmu jika kamu tidak hati-hati, sekalinya manusia fana melangkahkan kakinya ke sana, ia tak akan bisa bangun lagi. Saudaramu juga dalam bahaya jika kamu sampai mendekati jembatan itu, energi kalian sedang terhubung!” Jawab Shoshana kesal.
“Lalu apa yang terjadi padamu?” Tanya Mahla lagi sembari memandang kedua kaki Shoshana dengan perasaan takut.
“Aku hanya residual energi, Mahla, tadi aku menggunakan sisa-sisa energi itu untuk bisa menggapaimu.” Bisik Shoshana sedih. “Waktuku tidak banyak, Mahla. Maukah kamu mengantarkanku ke tempat Daud?” Tanya arwah itu kemudian dengan sangat sedih.
Mahla mengangguk meskipun tidak terlalu mengerti. Bagaimana bisa ia mengantar Shoshana, sementara ia sendiri tidak tahu harus ke mana di tempat yang asing yang dipenuhi kabut itu?
__ADS_1
Jawabannya muncul beberapa detik setelah Mahla memikirkannya. Ia mendadak bisa mencium aroma bunga verbena, parfum dengan wangi lembut itu biasa dikenakan ibunya di belakang telinga.
“Aku tahu di mana kita bisa menemukan mereka!” Seru Mahla girang. Ia langsung berjalan dengan mantap ke arah salah satu pusaran kabut tipis di dekat mereka. Rasa sedingin es langsung menjalari tubuh Mahla begitu kakinya melangkah ke dalam kabut, ia bisa melihat bayangan ibunya bersama seorang lelaki tua yang sudah setengah botak kepalanya.