
Magdalena Yosiah adalah wanita baik hati dengan mata biru es dan rambut sewarna perak yang murah senyum. Ia terlahir di keluarga bangwsawan yang memiliki rumah engan halaman seluas lebih dari satu hektar, yang pada hari-hari terakhir kejatuhan keluarganya, akhirnya dipecah-pecah menjadi beberapa bagian kecil yang kemudian dijual.
Rumah keluarga Yosiah tidak pernah besar, hanya berupa rumah peternakan dua lantai yang terbuat dari dinding batu dan kayu, yang selalu semarak di hari-hari kehidupan Magdalena. Keluarganya adalah keluarga bangsawan yang murah hati, yang tak akan segan berbagi pada siapa saja yang membutuhkan bantuan mereka. Tidak heran,
keluarga Magdalena menjadi salah satu keluarga yang disegani di daerah itu, bersama dengan keluarga bangsawan lainnya dan keluarga perangkat desa yang tak kalah kaya raya.
Magdalena kecil pernah bertanya pada ibunya, yang waktu itu adalah perempuan buta dengan satu baris gigi depannya tanggal seluruhnya karena terbentur saat tidak ada yang membantunya berjalan. Saat itu Magdalena baru berusia dua tahun, dan merupakan gadis kecil biasa yang tidak memiliki kemampuan supranatural apapun. Ia adalah gadis biasa yang ceria, sering mengompol, dan memiliki rasa ingin tahu kelewat besar. Benar-benar gadis biasa dengan mata biru pucat yang sangat menggemaskan.
“Ibu,” katanya hari itu, “Kenapa kita bisa sangat kaya?” Tanyanya polos. Ia mengenal konsep kaya-miskin dari salah satu pengasuhnya yang mengajarinya tentang betapa terpandang keluarganya, dan betapa baik hati ayah dan ibunya yang bersedia menggunakan halaman depan mereka sebagai dapur darurat yang biasa mengisi perut orang-orang terlantar dan miskin.
Ibunya yang ompong dan buta saat itu tersenyum mendengar ucapannya, Magdalena adalah anak satu-satunya bagi keluarga Yosiah karena ibunya mendapatkan dirinya dalam usia yang sudah beranjak senja, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk bisa mendapatkan keturunan lagi.
“Magda, pertanyaan itu tidak biasanya diajukan oleh anak seusiamu.” Jawab ibunya sambil terus tersenyum. Wanita itu menampakkan sebaris giginya yang kosong, dan Magdalena berpikir berapa tersiksanya hidup tanpa gigi yang lengkap. Bagaimana cara ibunya mengunyah makanan yang selalu tersedia dengan enak, dan mewah di meja makan mereka?
Magdalena sendiri sudah memiliki gigi lengkap semenjak berusia 10 bulan, dan setelah itu, ia sudah bisa makan sendiri dan memilih makanan yang menjadi favoritnya. Ia tak akan bisa hidup tanpa steak lembu muda yang menjadi hidangan unggulan di meja makan keluarganya. Ia ingat bagaimana ayahnya berbinar bangga saat ia bisa mengiris daging tebal berlelehan mentega itu di piringnya sendiri dan kemudian makan dengan lahap.
__ADS_1
Bagaimana ibunya bisa menikmati itu semua?
“Kenapa ibu buta?” Tanya Magdalena sejurus kemudian, tanpa berpikir. Saat itu pengasuhnya yang bertubuh tambun mendengar pertanyaannya dan langsung menjadi sangat gugup kemudian mengambil Magdalena dari pangkuan ibunya sendiri untuk kemudian memarahinya.
“Tidak sopan, Nona, menanyakan hal seperti itu pada Nyonya Besar. Kamu bisa menyakiti hatinya.” Hardik pengasuh itu dengan wajah cemas setelah menutup pintu kamar ibunya sangat pelan. Magdalena heran sekali kenapa ibunya membiarkannya saja pergi bersama pengasuhnya yang berbau kamperfuli. Bukankah ia anaknya? Apakah ibunya tak ingin menghabiskan waktu lama bersama Magdalena seperti halnya dirinya ingin menghabiskan banyak waktu dengannya?
Magdalena mulai menangis keras karena merasa ada sesuatu yang sangat menyengat ulu hatinya, sangat menyakitkan rasanya. Ia terlalu kecil untuk memahami mengapa ibunya selalu mengabaikan kehadirannya. “Sssh, Non, jangan menangis, bagaimana kalau aku mengisahkan sesuatu yang belum pernah kau dengar sebelumnya?” Bisik pengasuhnya seraya mengayun-ayunkan tubuh mungil Magdalena dalam dekapannya. Satu-satunya hal yang menarik perhatiannya selain keberadaan ibunya hanyalah kisah-kisah seram yang dituturkan dengan sangat baik oleh pengasuhnya itu.
Wanita paruh baya dengan tubuh gembur dan selalu beraroma kamperfuli itu sudah mengisahkan tentang hantu anak tangga, di mana ada sosok kasat mata yang hanya berupa sepasang kaki yang bisa menyesatkanmu saat menaiki tangga, karena itu Magdalena tidak berani berkeliaran sendirian di sekitar tangga rumah mereka. Kemudian, wanita berwajah bunda ritu juga pernah mengisahkan tentnag hantu perapian, yang berupa hantu laki-laki dengan badan yang sangat tinggi menjulang hingga kepalanya terantuk atap rumah mereka yang bertingkat, padahal perapian mereka berada di lantai dasar.
“Bagus sekali, anak manis, sekarang ayo kita ke kamar, kemudian aku akan menceritakannya padamu.” Bisik si pengasuh. Magdalena mengangguk pelan, ia turun dari gendongan pengasuhnya itu, kemudian berjalan dengan riang ke arah kamarnya yang letaknya berseberangan dengan kamar ibunya.
Orang tuanya tidur terpisah, ayahnya lebih suka menghabiskan waktunya di kamar belakang, entah apa yang dikerjakan lelaki itu di sana, sejauh yang Magdalena ketahui, ia dilarang sama sekali mendekati kamar yang pintunya selalu terkunci itu baik ayahnya di dalam maupun tidak.
Gadis itu melewati pintu kamar ibunya yang setengah terbuka, dan memutuskan untuk mengintip sebentar setelah dilihatnya pengasuhnya masih sibuk memerintahkan pembantu lain untuk mengantarkan susu ke kamarnya. Magdalena melihat ibunya yang buta bersimpuh dengan kedua lutut yang menempel pada lantai kayu kamarnya.
Gadis kecil itu melihat cahaya yang sangat terang melingkupi ibunya. Terang itu begitu panas dan menyilaukan sepasang matanya, ia berusaha menutupi matanya dengan kedua tangannya, namun hal itu malah membuatnya terjungkal masuk ke dalam kamar ibunya. Daun pintunya langsung berayun menutup dan terkunci begitu tubuhnya terlempar ke dalam.
__ADS_1
Di dalam kamar yang luas dan hanya berisi satu ranjang besar ibunya, dan sebuah kursi goyang, Magdalena Yosiah, untuk pertama kalinya bertemu dengan iblis betina yang kelak akan mengancam keselamatan jiwa keturunannya dalam waktu yang sangat lama.
Di sana, di antara pendar menyilaukan dan keriap-keriap api yang menghanguskan sebagian wajah ibunya, Magdalena bertemu mata dengan iblis itu. Sepasang matanya kosong, hanya menyisakan hampa yang menganga. Ia seperti terisap kedalam ketiadaan dalam sepasang mata itu, di mana di bagian-bagian tubuhnya terdapat torehan luka menganga yang membuka-menutup seperti katup. Tiap kali robekan itu terbuka, Magdalena bisa mendengar jeritan yang memekakkan telinga. Jeritan-jeritan yang membuatnya ingin menyerah dan mati saja. Magdalena ingin bersimpuh di sana, dan meringkuk bersama ibunya.
“Makan saja aku, makan saja aku, jangan ibu… Jangan ibu.” Rintih Magdalena lirih menyaksikan dengan ngeri bagaimana api itu melalap ibunya tanpa ampun. Tubuh ibunya sudah dikerumuni api sekarang, namun anehnya tidak ada bau hangus terbakar, ibunya juga tidak berteriak. Magda melihat wanita yang disayanginya itu berubah menjadi semacam selongsong kosong mengerikan tidak bermata dan tidak memiliki gigi.
Di dalam dua tahun awal kehidupannya, Magdalena menyaksikan kematian ibunya
sendiri dalam keadaan yang sangat mengerikan. Ia tidak ingat berapa lama telah berteriak sampai akhirnya seseorang masuk dengan mendobrak pintu, dan langsung merengkuhnya ke dalam dekapan yang hangat dan beraroma kamper menyengat.
“Minggir kau!” Hardik ayahnya yang tiba-tiba berada di sana. Suaranya terdengar kasar. Lelaki itu langsung merebut Magdalena dari dekapan pengasuhnya dan menggoncang tubuhnya pelan. “Magda, kamu dengar ayah?” Tanyanya
parau. Ia mengabaikan kerumunan para pembantu, juru masak, sampai tukang kebun yang berjubel di muka pintu kamar istrinya.
“Tuan, Nyonya…” Seru pengasuh Magdalena dengan suara panik yang melengking tinggi. Suasana menjadi hening mengerikan dalam waktu yang cukup lama Tidak ada lagi keriap-keriap api menyala di hadapan tubuh ibunya yang masih bersimpuh itu. Magdalena melihat dengan ngeri saat perlahan tubuh ibunya merosot ke arah pengasuhnya yang terbelalak ketakutan.
“Kuburkan dia dengan layak.” Perintah ayahnya pelan, bersamaan dengan itu, lelaki itu menggendong Magdalena dengan satu tangannya yang kokoh, dan membawanya ke arah kamar belakang yang terlarang bagi Magdalena sepanjang hidupnya.
__ADS_1