
Lelaki itu membetulkan letak kalung salib yang bertatahkan amethyst di lehernya, setelah menutup pintu gereja dan berjalan melalui halamannya yang luas dan berumput. Sebagai pendeta, Bapa Samone dikenal sebagai lelaki saleh yang ramah. Perawakannya yang tinggi besar, berbanding terbalik dengan senyum simpatik yang terus tersungging di bibirnya saat berbicara. Tutur katanya halus dan penuh kelembutan, membuat tokoh agama itu menjadi cukup disegani di desa mereka.
“Bapa, ada waktu sebentar?” Panggil seseorang di belakangnya. Lelaki yang memanggilnya itu memakai kemeja flanel khas baju pertanian dengan topi hitam yang membungkus kepalanya. Pendeta itu mengangguk menanggapi, sehingga lelaki yang memanggilnya itupun bergegas menghampiri. Setelah jarak mereka dekat, Bapa Samone bisa mencium aroma khas cengkeh yang banyak ditanam di desa mereka, menguar tajam dari tubuh lelaki itu.
“Bapa ingat Mahla?” Tanya lelaki yang sepertinya berusia akhir lima puluhan, Bapa Samone menyadari lelaki itu adalah salah satu umatnya yang paling sering hadir di gereja. Pendeta itupun mengangguk sekilas sebelum menjawab pertanyaannya.
“Tentu aku ingat gadis itu, Jerry. Dia dan ibunya salah satu jemaat yang taat sepertimu, namun aku tak melihatnya selama beberapa minggu ini. Apakah ia sakit?” Tanya Bapa Samone pada pria yang dipanggil Jerry itu. Bukanlah hal yang aneh jika di antara penduduk desa itu saling mengenal satu sama lain, desa yang mereka diami itu tidaklah terlalu besar.
Jerry mengangkat bahu dengan muram. “Saya pikir begitu, Bapa. Mereka tidak lagi memperbolehkan orang-orang
berkunjung ke rumahnya.” Jawab Jerry kemudian.
Pendeta itu mengernyitkan dahi mendengar ucapan Jerry, ia memang pernah mendengar kabar bahwa Mahla adalah gadis istimewa yang banyak didatangi orang dari hari ke hari. Konon gadis itu bisa menyampaikan pesan dari para arwah pada keluarganya. Selama ini, hal itu tak pernah mengusiknya karena, sungguh, memang ada anak-anak yang terlahir dengan bakat istimewa. Selain itu, gadis bernama Mahla itu juga dikenal sangat lembut dan baik hati.
“Mungkin keluarga itu memiliki alasan sendiri, Jerry. Ada hal-hal yang memang harus dibiarkan semestinya, orang-orang seharusnya tidak lagi mengganggu Mahla dan mulai merelakan yang pergi tak akan pernah kembali.” Balas Bapa Samone dengan tenang. Imam itu berjalan dengan santai ke rumah mungil di belakang gereja, tempat di mana ia tinggal. Jerry mengikuti sang imam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
“Ada yang ingin kamu sampaikan, Jerry?” Tanya Bapa Samone menangkap kegelisahan dari wajah Jerry. Lelaki yang wajahnya ditumbuhi jenggot lebat abu-abu yang sewarna dengan rambutnya itu mengangguk ragu.
__ADS_1
“Bapa, aku tinggal dekat sekali dengan rumah mereka, di sana, aku sering sekali melihat Mahla, diam saja di pinggir jendelanya di lantai dua. Pandangannya kosong, dan tubuhnya seperti pahatan batu. Kaku dan pucat.” Ujar Jerry seraya menarik napas panjang. “Aku pergi memetik cengkeh dengan anak lelakiku, sampai kami selesai mengeringkan cengkeh itu, di malam harinya, gadis itu masih di sana.” Sambungnya dengan serius.
Bapa Samon menarik gerendel kunci rumahnya dan mempersilakan Jerry masuk. Ruangan di rumahnya hanya berupa satu ruang sederhana yang isinya hanya dipan, altar doa, meja kecil tempat biasa Bapa Samone menghabiskan sajian dari umatnya, serta dapur yang hanya berisi tungku dan lemari berisi piring dan gelas cangkir. Di sisi lain ada satu pintu kecil yang mengarah ke toilet di belakang rumah.
Jerry menghirup aroma kamper lembut yang menyapanya begitu pintu itu dibuka. Bapa Samone membimbingnya ke dalam dan mengajaknya duduk di kursi sederhana di kedua sisi meja.
“Mau teh, Jerry? Kebetulan aku mendapat sekantung teh lavender dari Merope, kau tahu dia, kan? Ya, wanita tua baik hati di ujung jalan sini. Teh ini lumayan bisa meredakan sakit kepalaku dan membuat tidur nyenyak di malam hari." Ujar Bapa Samone menawari Jerry, seraya menjerang ketel kecil di meja sudut.
Jery yang melihat hanya ada sebuah tungku mungil di sana, menganggukkan kepalanya dengan sopan.
“Bapa, bukannya aku curiga dengan keluarga Marya, aku bertetangga dengannya selama puluhan tahun. Tapi, Bapa, sejak dulu keluarga itu sangat aneh dan tertutup. Aku mengenal nenek Marya, wanita itu bahkan yang paling aneh di antara keluarga mereka. Dia bahkan membagi-bagikan gris-gris* katanya untuk menolak bala atau sejenisnya. Keluargaku sendiri tidak mau menerimanya, Bapa!” Seru Jerry cepat-cepat saat dilihatnya Bapa Samone mengangkat sebelah alisnya padanya.
“Ya, aku cukup tahu siapa itu Magdalene Yosiah, Jerry.” Sahut Bapa Samone. Magdalene Yosiah adalah nenek buyut Mahla yang sudah meninggal dunia lebih dari dua puluh tahun yang lalu, namun namanya masih dibicarakan hingga kini. Wanita itu terkenal karena kebaikan hatinya, ia banyak sekali memberi sumbangan, sampai desa mereka bisa mendirikan gereja dan pastoran meski sederhana.
Magdalene juga aktif secara sosial membantu masyarakat di desa itu yang hampir sebagian besarnya adalah keluarga miskin. Ia membagi-bagikan makanan sekurang-kurangnya seminggu sekali di halaman rumahnya yang luas. Orang-orang bebas mengambil ayam, telur, atau susu ke rumahnya yang tak pernah tertutup pintunya.
Keadaan itu berlangsung terus sepanjang tahun, sampai hari di mana Marya menikah dengan soerang misionaris, rumah Magdalene yang biasanya ramai orang menjadi sepi dan suram.
__ADS_1
Bapa Samone ingat benar saat pertama kali ia mendapatkan parokinya di desa itu, dua puluh lima tahun yang lalu, Magdalene Yosiah yang menyambutnya di barisan paling depan. Wanita tua berambut perak itu sungguh memancarkan aura cemerlang. Uniknya, secara terang-terangan ia mengaku sebagai seorang pagan, namun Magdalene sangat mendukung jika orang-orang Katolik di desanya memiliki gereja sendiri yang pantas.
“Bapa tahu kan, dia orang pagan.” Jerry mengatakan pagan seolah kata-kata itu begitu beracun sampai-sampai ia bergidik selagi mengucapkannya. “Ayahku sendiri yakin kalau dia itu penyihir.” Sambung Jerry lagi sambil menatap mata Bapa Samone, mencari dukungan di sana.
Suara ketel air yang mendidih menyentakkan mereka berdua, Bapa Samone bangkit dan langsung menyeduh teh lavender yang sudah dituangkannya ke dalam dua gelas kecil di meja. “Minumlah, Jerry. Maaf, tak ada makanan yang bisa kutawarkan padamu.”
Jerry mengangguk berterima kasih, ssebelum melanjutkan ucapannya. “Bapa, aku tahu Marya orang beriman. Semua orang tahu betapa ia dan suaminya adalah orang saleh yang selalu menjadi keluarga gereja. Ia berbeda sekali dengan neneknya, Bapa!"
Bapa Samone menyeruput tehnya dengan hati-hati, menunggu kelanjutan ucapan Jerry yang tampaknya sudah di ujung lidah, namun tak juga berani dikeluarkannya. “Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu, Jerry? Kau tak mungkin duduk di sini kalau tak ada yang meresahkanmu.” Tanya Bapa Samone dengan nada sedikit mendesak. Ia tak suka dengan ekspresi wajah Jerry yang seolah-olah berubah gelap saat membicarakan Magdalene Yosiah dan keluarganya.
“Bapa, apakah Bapa tidak khawatir kalau Mahla juga penyihir seperti nenek buyutnya?”
Bapa Samone meletakkan cangkir tehnya dengan keras. “Jangan sekali-kali kamu menyebarkan kabar bohong, Jerry.” Tegur Bapa Samone tegas. Ia tahu Mahla adalah gadis istimewa, namun penyihir jelas-jelas tuduhan serius yang bisa merenggut nyawa anak itu jika orang-orang fanatik yang mendengarnya.
“Kurasa Bapa harus memeriksanya sekali-sekali.” Usul Jerry pantang menyerah. “Yah, jika kata penyihir sedikit berlebihan, bagaimana kalau kukatakan, ia berada di bawah pengaruh makhluk lain di tubuhnya. Pernahkah Bapa mendengar kabar tentang burung-burung hitam di mata Mahla?” Desak Jerry lagi. Bapa Samone menggeleng pelan, sementara Jerry menyeringai ke arah pendeta itu penuh kemenangan.
Tak lebih dari sedetik mata mereka bertemu, Bapa Samone seperti melihat ada kilatan lidah api yang menari-nari di dalam mata Jerry.
__ADS_1