
Marya yakin ia sedang bermimpi. Di sana, di kamar yang sama di mana ia melihat tubuh anak gadisnya dilalap api, ia melihat neneknya yang berambut perak berdiri di tepian ranjang, memandang tepat ke dalam matanya. Sosok itu berjalan ke tepian jendela, kemudian melambaikan tangan padanya.
“Nana?” Panggil Marya dengan kerinduan yang dalam. Nana adalah panggilan sayang untuknya pada sang nenek. Sosok perempuan sepuh yang sangat disayanginya itu tampak sangat damai dan bercahaya.
Sosok Nana tidak transparan seperti arwah pada umumnya, namun tak cukup solid untuk menjadi wujud yang sebenarnya. Nana hanya terlihat seperti bayangan pada cermin, nyata, namun Marya yakin betul, neneknya yang sudah puluhan tahun meninggal dunia itu, tidak benar-benar ada di sana.
Marya mengabaikan Melekh yang kehilangan kesadaran, serta tubuh Mahla yang masih dikelilingi keriap-keriap api. Ia melangkahkan kaki ke arah neneknya yang masih menunggunya di tepian jendela.
“Nana, kaukah itu?” Tanya Marya di antara mimpi dan realita. Nana hanya tersenyum dan mengisyaratkan Marya untuk terus mendekat padanya. Wajah nenek yang dikasihinya itu tampak teduh dikelilingi rambut perak yang memancarkan aura magis.
Anak-anak bulan. Ujar Nana langsung pada benak Marya.
Seketika Marya teringat tentang kisah Nana tentang anak-anak yang dilahirkan saat bulan purnama, semuanya memiliki jiwa murni. Mereka diibaratkan seperti batu bulan bening yang menyerap energi bulan yang kuat dan sakral.
Hal itu membuat anak-anak bulan menjadi lebih peka. Sebagian dari mereka bisa melihat masa lalu jauh dari umurnya, yang lain bisa menatap masa depan, dan sisanya, bisa berbicara dengan orang mati. Bahkan, Nana pernah bercerita, satu di antara sembilan kelahiran anak-anak bulan memiliki kemampuan itu semua.
“Mahla dan Melekh memang anak-anak bulan, Nana.” Bisik Marya lirih. Ia melahirkan kedua kembarnya itu bukan hanya saat purnama, namun juga saat purnama darah, di mana nubuat bulan darah bermula.
Nubuat Bulan Darah sudah ada dari jaman turun temurun, orang-orang percaya bahwa purnama darah adalah sebuah pertanda bahwa dunia akan segera mengalami kehancuran total.
“Akan ada kerusakan besar setelah peristiwa purnama darah, Nana, hal itu tertulis di Kitab Wahyu. Apakah anak-anakku yang membawa petaka itu?” Bisik Marya menatap hampa kedua anaknya yang tergeletak di lantai.
Api telah meninggalkan tubuh Mahla, namun gadis itu belum tampak bergerak.
Marya mengamati tubuh Mahla yang tidak menyisakan jejak terbakar, padahal jelas-jelas ia tadi bermandikan lidah-lidah api yang sudah pasti bisa menghanguskan hingga ke tulang.
Marya, Anak-anak bulan, murni seperti batu bulan.
Nana perlahan-lahan mengabut, kepergiannya menyisakan tanda tanya besar di hati Marya. Kehancuran, atau justru penyelamatkah kedua anak-anaknya itu?
__ADS_1
*
Mahla seperti terbangun dari mimpi yang paling buruk. Mimpi paling gelap yang tak akan pernah sudi ia alami lagi.
Ia tadi berada di lubang paling busuk. Paling buruk dan paling hina. Ia teringat betapa lubang itu mengeropeng seperti daging busuk setiap kali ia berusaha memanjatnya. Mahla teringat aroma anyir yang tertinggal di tangannya setiap ia berhasil merenggut sejengkal daging busuk sebagai usahanya untuk naik. Ia seperti telah terperangkap di sana sepanjang usia.
Ingatannya mulai mengabur. Pikirannya ingin melebur.
Aku ini binatang hina. Biarkan aku mati di sini. Aku memilih untuk mati di sini.
Mahla tidak lagi menginginkan kembali. Ia hanya merasa sangat jeri. Sepertinya sedikit demi sedikit dirinya tergerus di lubang yang terus berkobar-kobar api jingga. Sesekali ia berhasil merangkak naik, namun kemudian ia jadi tergelincir, membuatnya terperosok lebih dalam di sana.
Gadis itu tidak lagi berusaha keluar. Ia membiarkan saja dirinya terperangkap. Api jingga masih menari-nari di sekeilingnya, dan aroma daging busuk menumpulkan indranya. Mahla mengumpulkan memori yang paling diingatnya. Senyum ibunya, wangi verbena di tubuh ibunya, kue madu, dan Melek, saudaranya yang berharga.
Tepat saat Mahla berpikir, inilah akhirnya, kepak sayap mendadak berkelebat di sepasang matanya. Ia juga mendengar kelebat sayap dengan keras memukul api di sekitarnya. Angin dingin mengusir aroma busuk, membuat udara kembali terasa murni.
*
Setelah tertidur dua hari penuh setelahnya, Mahla merasakan energinya sudah kembali, membuatnya merasa utuh dan penuh. Berbeda dengan sebelumnya, di mana ia sering lelah dan suram, ia kini hanya merasa tenang dan damai.
Perjumpaannya dengan Barukh semacam memberikannya suntikan energi yang menghalau mimpi buruk. Ia seakan siap menghadapi apa saja. Apa saja, kecuali wajah masam ibunya yang sudah menunggu di dasar tangga.
“Aku bersumpah jika terjadi hal-hal mengerikan lagi, aku akan membawamu pada Father Samone untuk melakukan pengusiran iblis!" Ancam ibunya keras, namun Mahla melihat ada sinar kelegaan yang terpancar dari wajah ibunya.
"Aku tak keberata bertemu Father Samone." Sahut Mahla ringan seraya mempercepat langkahnya.
“Bagaimana keadaanmu, Mahla?” Tanya ibunya saat gadis itu berlari ke arahnya dan memeluknya kencang. Ibunya itu kemudian membalas pelukannya, Mahla lega sekali bisa kembali menghirup aroma verbenna kesukaannya di lekukan leher ibunya.
“Jangan lakukan hal itu lagi, bersumpahlah!” Seru ibunya hampir-hampir histeris.
__ADS_1
“Di mana Melekh, Bu?” Tanya Mahla seraya melepaskan pelukannya. ia mengabaikan ucapan ibunya dan mencari-cari sosok Melekh. Ibunya menolehkan kepalanya ke arah halaman, di sana Mahla melihat saudaranya itu sedang
berbaring di rerumputan bersama Arlou di sisinya.
“Ia baik-baik saja?” Tanya Mahla mengamati saudaranya dengan cemas.
“Dia anak lelaki yang kuat.” Balas ibunya pelan. Mahla sekilas bisa melihat dari kedalaman mata ibunya, bahwa Melekh berusaha keras menyelamatkannya di hari di mana Sharai berupaya memangsanya.
“Mahla, bisakah kita hentikan kegilaan ini?” Pinta ibunya dengan wajah lelah. Ia mengajak Mahla duduk di beranda mereka sembari mengamati Melekh dari kejauhan.
Mahla menatap wajah ibunya yang tampak menua beberapa tahun begitu saja. Kerut-kerut dalam mulai bermunculan di wajah Marya, membuatnya tampak tua dan letih.
“Ibu tahu hal seperti ini tidak bisa kukendalikan sendiri.” Balas Mahla sedih. Ia juga ingin hidup normal seperti anak kebanyakan. Ia juga merasa lelah berhadapan dengan roh yang tidak ada habisnya, apalagi dengan kehadiran Sharai yang nyaris saja merenggut jiwanya.
“Bisa. Aku membuang semua omong kosong itu dan hanya hidup dengan Tuhan di hatiku.” Ujar ibunya
lugas. “Aku menolak semua roh yang datang, dan mereka tak cukup kuat untuk mengambil jiwamu jika kau punya iman di dalamnya.”
Mahla memikirkan ucapan ibunya lama sekali setelahnya. Ia berjalan ke arah Melekh dan
bersumpah melihat Arlou mengerling padanya.
“Melekh, kau dengar ucapan ibu, kan?” Tanya Mahla pada adiknya yang sedang asyik bermain rumput. Anak lelaki itu mengunyah beberapa helai daun dan berteriak-teriak kesenangan. Mahla menatap saudaranya itu dengan ekspresi datar. Ia tak akan bisa berkomunikasi dengan saudaranya itu sementara waktu, makai Mahla memilih
merebahkan diri di samping Arlou dan mengelus tubuh kucing berbulu kuning terang itu perlahan.
“Apakah kita bisa berhenti dari semua ini, Arlou?” Bisik Mahla lirih. Ia mengira akan menemukan kedamaian di pagi yang tenang itu. Namun ia salah besar. Sesosok arwah dengan kepala yang hampir terbelah, mengikik keras, hantu itu melayang pelan, kemudian menyunggingkan senyum mengejek tepat di depan wajah Mahla.
“Coba saja kalau kau bisa berhenti.”
__ADS_1