
Semenjak kematian ibunya, Magdalena berubah menjadi gadis murung yang tidak mudah didekati. Ayahnya telah mengajaknya ke ruang belakang yang rahasia itu, dan menunjukkan padanya hal-hal aneh yang tidak masuk akal di sana. Di ruang gelap yang hanya berpenerangan lampu pijar berwarna merah redup itu, ayahnya banyak sekali membentangkan kertas-kertas mungil berisi tangkapan gambar yang diambilnya dari sebuah kamera analog lama.
Magdalena kecil sama sekali tidak memahami gambar-gambar yang digantungkan ayahnya itu di utas tali rami dengan penjepit kayu di atasnya. Magda hanya ingat ada gambar yang memuat keriap-keriap api di salah satu kertas yang digantung ayahnya. “Ada yang salah dengan keluarga kita, Magda.” Bisik ayahnya saat itu. “Kamu harus berhati-hati.”
Tidak lama setelah kepergian ibunya, ayahnya diketahui telah meninggalkan rumah, meninggalkan Magdalena dengan rumah dan isinya. Meninggalkan kamar gelap yang sudah lama menjadi hidupnya. Hanya tersisa para pembantu yang kasihan pada Magdalena, dan satu pengasuhnya yang setia.
*
Hari-hari Magdalena berlalu dengan suram dan tidak banyak berarti. Gadis periang itu menjadi semakin pendiam dan pemurung. Ia menolak didekati, bahkan pengasuhnya hanya bisa mendekatinya untuk memintanya makan, membersihkan diri, dan pergi tidur. Selain waktu-waktu itu, Magdalena hanya mengurung diri di kamar gelap ayahnya dan mengunci pintunya. Gadis yang mulai beranjak lima tahun itu semakin pucat dan kurus. Sepasang matanya yang kelabu terihat semakin dingin dan berjarak.
“Kasihan sekali, Nona muda kita.” Seorang kepala pelayan yang memilih bertahan di rumah itu, setelah tahun kedua majikan mereka menghilang, membuat sebagian besar pelayan dan tukang kebun meninggalkan kediaman Yosiah. Pengasuh Magdalena mengangguk mendengar ucapan kepala pelayan itu. “Dan udara di rumah ini semakin lama semakin dingin dan suram.” Keluh pengasuh itu seraya menuang air panas di teko.
Mereka sedang berada di dapur menyiapkan makan malam bagi Magdalena dan diri mereka sendiri. Setelah sebagian besar pelayan meninggalkan rumah iu, dapur umum mereka ditutup, menyisakan rumah besar yang selalu sepi dan suram. Perkebunan cengkeh yang membentang luas di lahan keluarga Yosiah dan peternakan yang ditinggalkan ayah Magdalena menjadi sumber penghasilan mereka kini. Selain kepala pelayan dan pengasuh Magdalena, hanya ada seorang tukang kebun bernama Jed yang menjaga pohon-pohon yang beraroma harum itu, beserta ternak-ternak yang ada.
“Menurutmu kenapa Tuan Besar pergi?” tanya kepala pelayan itu menyelidik. Pengasuh Magdalena yang kini tubuhnya mengisut, dengan beberapa gelambir kulit di sana-sini akibat berat badannya yang turun drastis itu menatap rekannya dengan satu alis yang terangkat tinggi “Masa kamu baru tanya sekarang, Ravenna.” Sahutnya heran sekali.
Kepala pelayan yang merupakan wanita bertubuh jangkung, dengan rambut hitam yang selalu digelung itu mengangkat bahunya sekilas. “Entahlah, Sage, banyak hal yang menggangguku, namun aku tak bisa mengungkapkannya.” Balas Ravenna, kepala pelayan itu dengan muram.
__ADS_1
Wanita itu kemudian mengiris wortel dengan potongan-potongan besar dan mulai mencemplungkannya ke dalam panci mendidih yang berisi tulang sapi. Ia sedang memasak sop sapi dengan kuah kaldu kental kesukaan Magdalena. “Rasanya sungguh tidak tertahankan berada di sini, namun aku tak tega jika harus meninggalkan Nona
juga.” Sambung Ravenna dengan suara muram yang sama.
Sage, pengasuh setia Magdalena itu mengangguk lagi. Gelambir kulit yang menggantung di lengannya bergoyang-goyang seiring gerkan tangannya yang mengaduk gula di dalam cangkir susu Magdalena. “Kamu benar, lihat saja aku sampai kisut begini.” Keluh Sage sedih. “Padahal aku dulu sangat mendambakan tubuh kurus, tapi setelah
semua dagingku menghilang dan hanya menyisakan kulit kisut begini, kupikir lebih baik aku gemuk saja.” Sambung Sage lagi. Ia menghirup dalam-dalam aroma harum sop sapi yang menggelegak di panci Ravenna.
“Aku tidak membicarakan perubahan tubuhmu, Sage.” Sergah Ravenna tajam. Ia mengamati Sage yang kini tampak seperti tulang belulang yang hanya berbalut kulit yang sangat longgar di hadapannya seraya menggeleng-geleng kesal. Tampang Sage memang cukup menyedihkan, namun bukan itu yang dirisaukannya kini. Ruangan-ruangan di rumah Yosiah berubah menjadi mencekam dan dingin. Bahkan perapian harus terus menyala sepanjang hari, atau mereka akan diremukkan oleh angin dingin beku yang terus menerus bertiup.
Meskipun udara di luar sangat cerah dan menyengat, namun ruangan-ruangan di sana tetap terlihat kusam dan berbayang-bayang. Tak ada lagi keceriaan seperti semasa kedua majikannya masih ada. Ravenna masih bergidik teringat tubuh majikan wanita yang mereka kuburkan di halaman belakang itu terasa begitu ringan dan kosong. Seolah-olah tubuh itu hanya selongsong kulit luar yang kehilangan semua isinya.
Ia tak bisa memutuskan apakah Marlene memang terlahir tanpa bola mata, maka dari itu ia buta, ataukah karena kobaran api aneh itu yang menghanguskannya tanpa sisa?
“Makanlah yang banyak, Sage.” Ujar Ravenna seraya menghidangkan semangkuk penuh sup kental di hadapan Sage yang masih sibuk berkutat dengan cangkir susu Magdalena. “Lagipula kamu ini lama sekali membikin susu hangat saja!” Seru Ravenna marah. Sage yang tersipu pelan mendapati tatapan marah Ravenna itu kemudian meletakkan susu di meja. “Aku membuatnya terlalu manis tadi, Nona tidak akan suka.”
Ravenna menghela napas pelan, “Sudahlah makan saja dulu, Non Magda tidak akan meminumnya sekarang, kan? Ia harus makan dulu.”Ujar Ravenna seraya menuang sop lagi ke mangkuk yang lebih kecil untuk Magdalena. Ia kemudian menyiapkan sepiring nasi, dan segelas teh hangat untuk majikan mudanya.
__ADS_1
“Kamu makan saja dulu, biar aku yang antar makanan ini untuk Nona.” Ujar Ravenna seraya mengangkat baki perak yang merupakan sisa-sisa kejayaan keluarga Yosiah. Ia tak biasanya melakukan hal itu, namun ia ingin menemui gadis kecil malang yang selalu mengurung diri di kamar gelap ayahnya itu.
Ravenna ingin memastikan majikan mudanya itu tidak apa-apa, ada sesuatu yang sangat mengganggunya hari itu, dan ia ingin memastikan Magdalena baik-baik saja.
*
Magdalena membuka pintu kamar gelap dengan murung, ia sangat lapar dan merasa kedinginan.
Kamar gelap ayanhya tidak berbeda dari biasanya, masih berisi gambar-gambar ganjil yang diabadikan oleh ayahnya. Ia sudah melihat potret sudut-sudut rumah mereka dengan posisi yang sangat aneh. Ayahnya mungkin memotretnya dengan berbagai pose yang tidak masuk akal, namun Magdalena menganggap mungkin itu hanyalah sesuatu yang disukai ayahnya dari dulu.
Ia juga sering menemui potret keriap api baik besar maupun kecil yang dijumpainya di banyak gambar. Magdalena menyadari, ayahnya telah mengurutkan gambar-gambar yang dipajangnya itu. dimulai dari sebuah rumah gubuk kecil di tepi hutan, yang dikenalinya sebagai rumah yang ditinggalinya kini. Semakin disusurinya gambar-gambar yang dipajang ayahnya, semakin jelaslah bahwa keluarga mereka dulunya sama sekali tidak kaya, dan disadarinya ibunya dulu tidaklah buta.
Magdalena mendapati ibunya memiliki sepasang mata besar yang indah yang ia sendiri tidak yakin berwarna apa, karena segala sesuatu di ruangan itu hanya sewarna darah, akibat lampu merah redup yang dipasangkan di sana. “Mungkin sebaaiknya aku minta Jed mengganti lampunya dengan yang berwarna kuning biasa.” Ujar Magdalena seraya membuka pintu kamar itu. Suara decit tidak nyaman mengiringi langkahnya saat membuka daun pintu.
Ia merasa begitu lapar begitu tubuhnya keluar dari kamar, ia menggigil karena angin dingin langsung bertiup ke arahnya. “Sage?” Panggilnya. Hari sudah malam, dan ia heran kenapa pengasuhnya itu belum memanggilnya untuk makan malam. Magdalena mulai berjalan untuk mencari pengasuhnya, saat, pemandangan di hadapannya langsung menghentikan langkahnya.
Beberapa meter dari tubuh mungilnya yang gemetar menahan dingin, Magdalena melihat kepala pelayannya terbaring dengan mata terbeliak ke atas. Ravenna sudah tidak bernyawa dengan isi mangkuk yang dibawanya berhamburan di atas tubuh dinginnya.
__ADS_1
Magdalena ingat ia hanya bisa berteriak sampai serak, dan kembali mengunci dirinya di ruang gelap milik ayahnya.