
Kucing berbulu emas milik Melekh itu menancapkan kukunya begitu dalam pada tubuh Jerry dan menolak melepaskannya meski lelaki malang itu sudah mengibas-ngibaskan badannya sekeras mungkin untuk menyingkirkannya. Melekh bisa melihat darah mulai merembes di bagian-bagian tubuh Jerry di mana Arlou menancapkan kukunya.
Kucing itu masih mendesis marah ketika akhirnya Bapa Samone berhasil melepaskannya dari tubuh Jerry. Lelaki itu tampak sangat murka, sementara Melekh justru mematung di antara kehebohan yang melanda di ruang tamunya itu. “Bapa lihat, kan? Semua yang ada di rumah ini aneh!” Sembur Jerry begitu Arlou berhasil dilepaskan dari
tubuhnya.
Bapa Samone meletakkan tangannya yang besar di bahu Jerry, ia menepuk-nepuk bahu itu pelan untuk menenangkannya. “Jerry, tenangkan dirimu.” Tegur Bapa Samone pelan. Jerry tampak semakin murka dan bersiap menumpahkan kemarahannya, namun dilihatnya Arlou yang kini bergelung di kaki Melekh itu menatapnya dengan pandangan mengancam.
“Singkirkan kucing bodohmu itu, nak!” Seru Jerry dengan suara menggelegar, membuat Melekh terlonjak di tempatnya. “Ddii-aa akk-ann ssssellall-uu dddi-sssi-ni!” Seru Melekh susah payah. Bapa Samone menggeleng-gelengkan kepala melihat terjadi di depannya.
“Jerry, kalau kamu tidak bisa menahan diri, kita sebaiknya pergi.” Ujar Bapa Samone tegas. ia merasa sangat tidak nyaman berada di ruang tamu keluarga Yosiah dengan Jerry yang tampak meledak-ledak amarahnya. Lelaki itu langsung menurut ketika Bapa Samone melemparkan pandangan tajam padanya.
“Nah, begitu lebih baik.” Ujar Bapa Samone saat melihat Jerry yang masih menggerutu beringsut ke beranda dan mengenyakkan tubuh besarnya di kursi kayu yang tersedia di sana. “Melekh, kamu keberatan duduk dengan kami di luar?” Tanya Bapa Samone lembut. Senyumnya merekah ketika dilihatnya Melekh mengangguk dengan enggan.
“Perlu kubantu, nak?” Tanya Bapa Samone lagi ketika dilihatnya Melekh berjalan dengan susah payah ke arah beranda, namun anak lelaki itu menolak dengan cepat. Arlou yang mengikuti Melekh tepat di belakangnya, menatap Bapa Samone dengan pandangan mengancam, namun ia tidak mendesis marah seperti yang dilakukannya pada Jerry.
“Apa maksudmu ketika mengatakan Jerry dirasuki?” Tanya pendeta itu lagi seraya memelankan suaranya dan menyejajarkan langkahnya dengan Melekh. Saudara kembar Mahla itu hanya mengangkat bahu, akan lebih mudah baginya berkomunikasi secara telepati, seperti yang kerapkali dilakukannya dengan Mahla.
Bapa Samone rupanya menangkap keengganan Melekh karena Jerry masih berada di sana bersama mereka. “Baiklah, nak, aku tak akan memaksamu.” Ujar Bapa Samone seraya membantu Melekh menuruni undakan di pintu depan menuju ke beranda. Malam itu sangat gerah, angin sepertinya tidak berembus sama sekali, dan bulan sedang besar-besarnya dengan sinar terang di atas mereka.
“Malam yang sangat indah.” Puji Bapa Samone untuk mengawali pembicaraan. Melekh duduk di bangku panjang favoritnya yang langsung menghadap ke arah jalan, sementara Bapa Samone duduk bersisian dengan Jerry yang masih tampak kesal di seberangnya. “Di mana ibu dan kakakmu?” Sembur Jerry tak sabaran ketika Melekh baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi itu.
“Jerry.” Tegur Bapa Samone dengan tatapannya yang memperingatkan. Arlou mendesis-desis keras di sisi Melekh, kemudian anak lelaki itu mengelus pelan kepalanya dengan tangannya yang sehat untuk menenangkannya. Bapa Samone memperhatikan betapa penurut kucing itu dengan tuannya.
“Keluargamu sedang tidak di rumah, Melekh?” Tanya Bapa Samone pelan.
__ADS_1
Jerry mendengus tak puas di sampingnya, namun pendeta itu mengabaikannya. Melekh menggelengkan kepalanya sekilas kemudian pandangannya kembali beralih pada kucing dipangkuannya. “Ke mana mereka pergi meninggalkanmu sendirian sampai malam?” Tanya Bapa Samone lagi, kali ini ia tak menyembunyikan rasa penasaran yang besar di suaranya.
Melekh tidak menjawab pertanyaan itu. Di dalam benaknya ia merangkai ratusan alasan yang bisa dikemukakannya pada sang pendeta, namun ia terlalu sibuk mengawasi Arlou yang masih mengincar Jerry di sana, maka pemuda itu diam seribu Bahasa.
“Apakah keluargamu kerap membiarkanmu sendirian?” Tanya Bapa Samone lagi, kini suaranya beralih menjadi sangat prihatin, Melekh tak bisa membedakan apakah perhatian itu tulus ataukah hanya upaya untuk memancingnya bicara.
Mahla, cepat temukan ibu!
Melekh berseru kencang di benaknya. Ia tak bisa lagi merasakan hubungan dengan saudarinya, itu artinya hanya beberapa saat sebelum pikirannya kembali terkungkung dalam pikiran bocah lima tahun.
“Tak ada gunanya bertanya padanya, Bapa. Dia tak ubahnya anak lima tahun dalam tubuh pemuda lima belas tahun.” Cela Jerry tidak sabaran. “Ucapanku terbukti benar, kan? Mahla menghilang bersama ibunya. Puff! Begitu saja mereka hilang!” Seru Jerry mulai kembali berteriak.
Melekh merasa pikirannya mengerdil, sementara dunia yang dilihatnya menjadi aneh dan sulit dimengerti. Bertahanlah! Bisiknya pada diri sendiri. Jangan lewatkan apapun, Sharai di sini! Ia berseru panik pada dirinya sendiri.
Jika kesadarannya yang murni sudah beralih menjadi anak kecil lagi, ia tak bisa lagi mengetahui apa yang akan Sharai lakukan di tubuh Jerry.
Sebelum kesadarannya benar-benar beralih ke anak usia lima tahun, Melekh sempat kembali menatap mata Jerry yang berubah biru pucat. Api itu sudah padam di sana.
Syukurlah, Sharai tidak lagi bersemayam di sana.
*
“Selamat malam, Bapa." Sapa Marya ramah, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada tetangganya itu. "Hai Jerry, ada perlu apa?”
Di tangan Marya tergenggam sebuah keranjang rotan berisi tumbuhan dan bunga-bunga liar, sementara Mahla masih terlihat berjalan dari kejauhan dengan rambut merah sepinggang yang berkibar di punggungnya. Suasana menjadi jauh lebih nyaman, seolah udara kembali bergerak dan angin bertiup lembut menerpa wajah Bapa Samone.
__ADS_1
Jerry tampak tercengang melihat kedatangan mereka, ia tak banyak bersuara, melainkan tetap duduk dengan salah tingkah sementara Arlou masih mengawasinya dengan galak.
“Halo, Marya. Lama tidak bertemu.” Sambut Bapa Samone menyambut uluran tangan Marya. Mahla yang baru saja datang langsung menyalami pendeta itu dengan santun lalu beringsut ke arah kursi yang diduduki adik lelakinya.
“Melekh, kubantu naik, yuk!” Ajak Mahla seraya melempar pandangan sekilas pada Jerry yang mendadak terlihat sangat ingin menerkam Mahla. Pandangan lelaki itu berubah lapar dan ganas.
Sharai.
Mahla terkejut mendengar suara Melekh di kepalanya. “Ayo, sudah malam sekarang.” Desak Mahla saat dilihatnya Melekh bergeming di kursinya. Jika benar Sharai mendiami tubuh Jerry, tak ada hal lain yang diinginkannya selain segera menyingkir dari sana.
Jangan takut!
Seru Melekh lagi di benaknya. Saat itu pastilah Melekh sedang berjuang mempertahankan kesadarannya, dan jika dipaksakan, saudaranya itu akan mulai berpendar keemasan, karena sungguh kekuatan energi Melekh sangatlah luar biasa. Mahla tak ingin hal itu terjadi sekarang. Tidak di depan Bapa Samone yang belum tentu akan mengerti jika hal itu terjadi.
Sleep now.
Balas Mahla pada Melekh di kepalanya. Saudaranya itu mengerti yang diucapkannya, terbukti ia kemudian sudah kembali menjadi bocah yang sedang senang-senangnya melihat bulan.
”Cccaa-nttii-k bbula-nnya…” Ujar Melekh seraya memain-mainkan kedua tangannya ke arah bulan. Mahla melingkarkan syal yang dikenakannya ke leher Melekh kemudian beralih menyimak pembicaraan ibunya dengan Bapa Samone dengan pandangan Jerry yang masih terpancang padanya.
“Jadi ada apa Bapa malam-malam ke sini?” Tanya Marya lembut. Ia meletakkan keranjangnya di lantai, sementara Bapa Samone menangkupkan kedua tangannya di atas tangan Marya.
“Aku lama tidak melihatmu di gereja, anakku. Apakah semua baik-baik saja?” Tanya Pendeta itu tak kalah lembut. Mahla bisa melihat betapa pendeta itu mengasihi ibunya, dan pertanyaannya memang berasal dari kekhawatiran yang tulus. “Ya, Bapa, aku sungguh berdosa. Aku harus meraway anak-anakku yang terkena demam. Mahla baru saja sembuh dari sakitnya, aku harus membuatkannya resep penurun panas dari tanaman-tanaman hutan ini.” Jawab Marya luwes sembari menunjukkan keranjang yang tadi dibawanya.
“Aku mengerti, nak, tapi jangan terlalu lama mengabaikan panggilan Tuhan… dan, kenapa kamu tak pernah membawa Melekh lagi ke gereja, anakku?” Tanya Bapa Samone lagi.
__ADS_1
“Karena orang-orang tak tahan jika ada Melekh di antara mereka, Bapa.” Suara itu begitu kuat dan jernih, tak mengenal rasa takut. Suara itu berasal dari Mahla yang berdiri tegas di depan saudara lelakinya. Bapa Samone bersumpah di sepasang mata anak gadis itu, burung-burung hitam mengepak-ngepakkan sayap mereka di dalamnya.