
Pria tua setengah botak itu bernama Daud, ia datang dari desa lain yang membutuhkan selama waktu empat jam perjalanan dalam truk tua pertanian yang tidak bisa melaju pada kecepatan lebih dari 50 kilometer per jam.
Mahla tersenyum ramah pada pria tua yang tampak sedih itu. Di sampingnya, Shoshana mengawasi pria yang sepertinya kakeknya itu dengan air mata besar-besar yang terus mengaliri kedua pipinya yang tembus pandang.
“Shoshana di sini?” Tanya Daud saat Mahla menghampirinya. Gadis itu tidak terkejut akan pertanyaan Daud, karena biasanya orang yang mendatanginya memang mendapat petunjuk lebih dulu dari arwah keluarganya untuk mendatangi Mahla.
Mahla duduk sambil menyilangkan kaki di depan Daud, sementara Shoshana melayang ringan ke sisi Daud dan terlihat ingin memeluk lelaki tua itu, namun wajahnya berubah sedih karena sama sekali tak bisa menyentuhnya.
Mahla mengawasi air mata Shoshana yang hampir sebesar bola tenis keluar terus menerus dari matanya yang sangat besar. “Kenapa kamu menangis terus?” Tanya Mahla pelan. Daud yang mendengar pertanyaan itu ikut menoleh ke sisi kanan di mana mata Mahla terpancang.
“Dia di sini?” Tanya Daud penuh haru. Mahla bisa merasakan kerinduan laki-laki tua itu pada Shoshana, yang mungkin adalah cucunya yang paling ia kasihi. Mahla mengangguk mengiyakan pertanyaan Daud seraya meminta Shoshana mendekat ke arahnya.
Gadis itu heran kenapa Shoshana tak langsung saja merasuki benaknya sehingga ia bisa segera mengetahui apa yang diinginkan Shoshana maupun kakeknya.
Aku tak bisa masuk begitu saja.
Shoshana berkata langsung seraya melempar pandangan sangat mencela pada Mahla yang sama sekali idak mengerti ucapan arwah itu.
“Apa sih maksudmu?” Tegur Mahla pada Shoshana yang kini melotot kesal ke arahnya, sungguh pemandangan yang tidak enak dilihat. Mahla kemudian mendengar kepak lirih sayap dan angin sejuk berhembus ke wajahnya. Waktu seakan memelan dan memulur, sampai-sampai Mahla bisa melihat partikel-partikel udara melambat bergerak.
“Ada apa ini?” Gumam Mahla khawatir. Ia belum pernah sama sekali mengalami hal semacam ini sepanjang usianya.
Mereka tak akan bisa masuk ke dalam benakmu begitu saja.
Angin dingin itu berbisik di benak Mahla. Gadis itu mengawasi Shoshana yang membeku, seakan waktu berhenti begitu saja. Mahla juga mengamati Daud yang bergeming di sofa dengan cerutu yang menggantung kaku di bibirnya.
“Barukh, kaukah itu?” Tanya Mahla pelan. Ia bisa mengenali udara dingin itu sebagai pertanda kehadiran Barukh di sana.
Hanya yang kau ijinkan yang bisa terhubung denganmu sekarang.
__ADS_1
Mahla merasa sangat berterima kasih pada roh kuno penjaganya itu. Ia yakin semua itu ada kaitannya dengan peristiwa saat Barukh menyelamatkannya dari cengkeraman Sharai. Mungkin Barukh membuat semacam perlindungan pada diri Mahla agar makhluk lain tak bisa merenggut jiwanya begitu saja.
“Baiklah, aku mengerti Barukh.” Tukas Mahla setelah memahami benar keadaannya sekarang. Sedetik kemudian, udara kembali bergerak lagi, Mahla bisa merasakan desir angin yang tadi berhenti di wajahnya.
“Shoshana, aku mengijinkanmu membagi apapun yang ingin kau sampaikan pada Daud.” Ujar Mahla lugas seraya mengulurkan tangannya ke arah hantu Shoshana. Menyenangkan sekali rasanya bisa memegang kendali atas kemampuan sendiri, selama ini ia merasa sangat rentan karena tubuhnya bisa diambil alih kapan saja.
Tak butuh waktu lama setelah ia mengucapkannya, Mahla melihat kelebat burung-burung hitam memenuhi pandangannya. Saat ia membuka mata, dirinya adalah Shoshana.
*
Shoshana adalah gadis pendiam dengan rambut panjang indah keemasan yang selalu diikat membentuk ekor kuda. Ia tinggal di sebuah rumah mewah dengan tingkap-tingkap berukir serta pintu-pintu yang tingginya dua kali orang dewasa.
Di dalam rumah besar itu, Shoshana hidup bagaikan puteri raja. Namun, dibalik kemewahan yang dimilikinya, Shoshana selalu murung dan merasa hampa. Orang tuanya yang saudagar kaya, memperlakukannya seperti properti mahal yang tak punya kebebasan. Pada ulang tahunnya yang ketujuh belas nanti, ia bahkan sudah akan dijodohkan dengan Yakob, saudagar lain yang selisih umurnya lebih dari tiga puluh tahun darinya.
“Papa, aku tidak ingin menikah dengan Yakob, atau siapapun saat ini!" Isak Shosana sembari berlutut di hadapan
lelaki berperut buncit yang dipanggilnya papa. Sementara, di samping lelaki itu, ada wanita yang tak kalah tambun dengan wajah yang terus memberengut.
Salah satu gurunya, adalah wanita yang umurnya sebaya dengan ibunya, Shoshana memanggilnya madam Rosie, ia mengajari Shoshana sebagai wanita dewasa bangsawan yang kelak akan melayani suaminya. Tak bisa digambarkan bagaimana ngerinya Shoshana saat guru itu mulai meraba-raba tubuh Shoshana dengan dalih mengajarinya bagaimana caranya menjadi wanita seutuhnya.
Gadis cantik itu juga hanya bisa menahan rasa risihnya karena madam Rosie juga memintanya membalas sentuhan tubuh guru itu di tempat-tempat yang tersembunyi di balik gaun.
“Tolonglah, Madame, jangan pinta aku melakukan hal-hal menjijikkan ini!” Pinta Shoshana suatu ketika saat rasa jeri tak bisa lagi ditahannya.
Namun Madam Rosi sama sekali tak menggubris perkataannya, ia malah mendorong Shoshana untuk melakukan
hal lain yang lebih tidak pantas. Shoshana tak bisa melupakan bagaimana aroma bagian bawah tubuh wanita itu setelah dipaksa memasukkan mulutnya ke dalam sana.
Ia merasa terkutuk. Buruk dan tidak berbentuk. Jiwanya perlahan-lahan mengerdil. Shoshana kehilangan semangatnya untuk terus ada di dunia.
__ADS_1
Gadis itu membiarkan rambut keemasannya kusut, ia menghabiskan hari-harinya dengan merana. Ia menangis dan terus menangis sampai kedua matanya bengkak, sementara tubuhnya kisut karena ia juga menolak segala makanan yang diberikan padanya.
Kedua orang tuanya tak banyak peduli padanya, mereka membiarkan saja Shoshana meratapi nasibnya di dalam kamar mewahnya, sementara penyiksaan Madam Rosie kembali terjadi padanya berulang-ulang. Ia tak bisa lagi menahan keinginan untuk mengakhiri hidupnya.
Tepat tujuh tahun yang lalu, Shoshana menghembuskan napas terakhirnya setelah menusukkan pisau mentega tepat di lehernya.
Mahla tersentak dari keadaan trance dan menyadari bahwa kedua matanya panas dan berair. Ia pasti menangis sepanjang waktu saat terhubun dengan Shoshana. Hatinya perih mengetahui gadis yang seumuran dengannya itu memiliki kehidupan yang begitu kelam.
Mahla menutul-nutul kedua matanya dengan baju panjang yang dikenakannya, saat sebuah pikiran mendadak terlintas di benaknya.
"Tunggu dulu, kenapa aku tak melihatmu di hari-hari terakhir Shoshana?” Tanya Mahla heran. Daud sepertinya memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Shoshana, namun ia sama sekali tak terlihat di ingatan Shoshana sebelum meninggal.
Mahla melirik ke arah Shoshana yang menatap Daud dengan sedih. Lelaki itu mengisap cerutunya dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan.
“Itu karena aku tak di sana saat hari-hari terakhirnya.” Bisik Daud. “Ia sangat dekat denganku dan istriku, ia butuh sosok yang bisa menyayanginya, karena bagi ayah dan ibunya, Shoshana tak lebih sebagai aset berharga yang bisa dijual kapan saja.” Daud berkata dengan wajah tertunduk. Kesedihan tampak sangat gelap menaungi sosoknya.
“Aku hanyalah tukang kebun di rumah mewah itu, dan istriku adalah juru masak di sana. Berhari-hari dia mendengar Shoshana meratap sedih, dan terlihat sangat sakit setiap kali istriku mengantarkan makanan untuknya. Istriku menceritakan setiap ia pulang bekerja, ia ingin sekali bisa memeluk Shoshana, namun penjaga-penjaganya tak membiarkannya mendekat lebih dari lima langkah ke arah Shoshana.”
Shoshana mengeluarkan kembali butiran-butiran air mata yang sangat besar, jika saja ia tidak transparan, Mahla yakin, karpet ruang tamu ibunya itu sudah tergenang air mata Shoshana.
“Tidak ada yang mengetahui kepergian Shoshana bahkan sampai hari ini, orangtuanya menutupinya dengan mengatakan bahwa ia sudah dipinang saudagar kaya.” Bisik Daud sedih. Ia kembali menghirup cerutunya sebelum melanjutkan ucapannya. “Istriku sendiri yakin, Shoshana sudah meninggal, ia melihat malam itu, beberapa pelayan yang sangat dipercaya menggotong bungkusan besar dari kamar Shoshana. Setelah itu, tanpa alasan yang jelas, kami dipecat, sementara sisa keluarganya yang lain pindah entah kemana."
Mahla mengangguk-angguk memahami cerita Daud. “Lalu?” Tanyanya penasaran. Daud berdeham untuk membersihkan lehernya. “Istriku meninggal tak lama setelahnya, ia merasa sangat bersalah karena seharusnya bisa saja menyelundupkan Shoshana keluar dari rumah terkutuk itu. Sebelum ia meninggal, kami berdua mencari-cari kebenaran cerita keluarga Shoshana, namun tak pernah mendapat titik terang."
Ada air mata yang membayang di mata Daud saat membicarakan istrinya. Kesedihan yang dirasakannya terasa semakin menggelap saja di mata Mahla. “Shoshana datang padaku tepat setelah istriku meninggal. Butuh tujuh tahun bagiku untuk mempercayai bahwa semua yang dia tunjukkan di dalam mimpi adalah benar adanya.” Sambung Daud getir.
“Apa yang ia tunjukkan padamu, Daud?” tanya Mahla pelan. Daud menatap lurus ke arah mata Mahla. “Dirimu. Ia ingin aku mencarimu agar aku bisa menemukan di mana dia dibuang.”
Mahla menghela napas dalam-dalam, sebelum bisa menjawab sepatah katapun, Daud melanjutkan ucapannya. “Dan dia ingin kamu membantunya menemukan Madam Rosie.”
__ADS_1
Mahla merasa hari itu akan menjadi sangat panjang.