BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA

BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA
Bilik Doa


__ADS_3

 


 


Hanya ada gelap yang membutakan pandangan Mahla begitu ia mencoba menerobos pikiran ibunya. Kegelapan itu terasa begitu dingin dan membuat jeri. Mahla bisa merasakan betapa tubuhnya ikut merasa nyeri ketika memori itu menghantam benak ibunya satu persatu tanpa henti.


Bu, semua itu sudah berlalu!


Mahla berseru keras pada pikiran ibunya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas kilas balik peristiwa yang sedang menghanyutkan realita ibunyai. Wanita yang disayanginya itu membentuk semacam pertahanan yang tidak bisa ditembusnya. Namun Mahla cukup bisa merasakan bahwa trauma masa lalu ibunya sedang mengoyak kesadarannya di masa kini.


Tidak ada yang bisa menyakitimu sekarang, Bu! Sadarlah!


Desak Mahla lagi. Ia merasakan dirinya perlahan-lahan ikut terkikis bersama akal sehat ibunya yang perlahan-lahan habis karena sungguhlah serangan rasa sakit itu menghantam secara bertubi-tubi. Mahla tidak peduli, sekalipun ia akan lebur karenanya, ia tak akan membiarkan ibunya sendirian, tersesat di antara pusaran masa lalu dan masa kini. Ia tak akan mengijinkan ibunya berkubang di kepedihan yang perlahan-lahan menghancurkan jiwanya yang welas asih.


Pergi dari sana, Mahla!


Melekh berseru nyaring di dalam kepala saudarinya, tepat di saat Mahla merasa dirinya akan membuyar perlahan karena ingatan di dalam pikiran ibunya itu begitu gelap dan menghancurkan. Ia tak bisa menghadapi semua kepedihan itu. Mahla tak akan pernah sanggup bertahan di sana tanpa ikut hancur berkeping-keping seperti


ibunya.


Sepersekian detik kemudian, Mahla kembali bisa merasakan tubuhnya sendiri, kokoh dan utuh, dengan tangan Melekh yang mencengkeram erat bahunya. Dipenuhi rasa sesal karena tak bisa membantu ibunya, Mahla menatap punggung ibunya yang biasanya berdiri angkuh dan kaku itu, kini berubah melengkung karena beban kepedihan masa lalu yang menghimpitnya. Kedua kakak beradik itu mengamati ibunya yang berjalan seperti setengah buta, dan terkesiap bersamaan saat mendengar suara pintu rumah yang terbanting menutup.

__ADS_1


*


Marya berjalan tersaruk-saru ke arah bilik doanya yang terletak di dalam kamar belakang. Kamar itu dulunya hanyalah berupa ruang penyimpanan yang biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang tak terpakai. namun sepeninggal suaminya, Marya mengubah fungsi kamar itu menjadi bilik doa yang biasa digunakannya untuk berdevosi selama berjam-jam.


Kamar utama yang biasanya ditempatinya bersama mendiang suaminya terletak di lantai dua, tepat di hadapan kamar anak-anaknya. Pada hari-hari terbaiknya, Marya bisa tinggal di sana tanpa rasa tertekan. Namun, malam ini, tidak ada yang bisa dipikirkannya selain mengunci dirinya di dalam kamar yang tidak berjendela itu, dan akan tetap berada di sana entah sampai kapan.


“Tuhanku, aku bersalah padamu.” Ujarnya sedih seraya melepas kalung rosario dari lehernya. Ia mulai mendaraskan doa rosario seraya mencengkeram erat kalung pemberian Bapa Samone itu erat-erat. Kalung itu sangat berharga baginya, bukan hanya sekadar rosario biasa yang dihadiahkan pendeta yang membimbingnya. namun lebih berupa simbol kelahiran barunya di dalam iman yang diajarkan pendeta baik hati itu padanya.


Bapa Samone telah dengan sabar membantunya mendapatkan kedamaian di dalam hatinya, serta membantunya menjalani trauma yang didapatkannya dari perlakuan buruk ayah dan suaminya.


“Mana mungkin aku berpaling darimu, ya, Tuhanku yang kekal. Aku bersalah telah memalingkan wajahku, padahal Engkau selalu menjagaku dengan pandanganMu. Aku berdosa, Tuhan, aku sungguh berdosa.” Isak Marya setelah selesai mendaraskan doa rosario bersama tiga Salam Maria. Malam telah begitu larut, hanya ada suara binatang-binatang malam bersahutan di luar kamarnya.


*


Mahla


berdiri termenung di muka pintu kamar yang biasa digunakan ibunya saat berdoa. Ia tak pernah menyukai kamar itu. Letaknya berada di bagian rumah paling belakang, begitu gelap dan dingin. Terasa berjarak dan asing.


Bukankah seharusnya Tuhan berada di tempat yang terang dan hangat?


Mahla pernah bertanya suatu hari pada ibunya, namun wanita paruh baya itu tak pernah memberikan ruang untuk segala ragu yang bersemayam. “Ikuti perintah Tuhan, diam dan laksanakan!” Begitu jawaban yang selalu didapatkannya dari ibunya setiap kali bertanya.

__ADS_1


Konsep berketuhanan terasa ganjil di benak Marya, ia tak pernah paham segala aturan keras yang diterapkan ibunya untuk mendapatkan apa yang dinamakan “restu Tuhan”. Sejak kecil ia terbiasa menerima hukuman berupa kurungan di bilik doa itu selama berjam-jam setelah menggunakan kekatannya secara tidak sengaja.


Hukuman itu memburuk seiring berjalannya waktu, Mahla sudah biasa tidak mendapatkan makan malam, atau membaca alkitab dengan bersimpuh sampai lututunya melepuh, bahkan ibunya pernah membiarkannya terendam di bak mandi selama tiga jam di musim di mana angin sedang bertiup dingin-dinginnya.


Hukuman itu didapatkannya dari akibat orang-orang yang bergantian datang ke rumah mereka untuk meminta bantuannya. Ada yang menanyakan posisi benda-benda peninggalan almarhum, ada yang penasaran dengan keadaan anggota keluarga mereka setelah mati, banyak yang merindukan orang yang mereka sayangi, dan tidak jarang ada pula ada yang menginginkan sekilas penglihatan di masa depan yang bisa membantu mereka mengambil keputusan.


Sejauh yang Mahla pahami pada masa kanak-kanaknya, ia hanya tahu, Tuhan menyukai orang-orang yang suka membantu orang lain, makai a dengan senang hati membantu orang-orang yang menghampirinya. Ia juga sering secara tidak sengaja memberitahukan hal-hal aneh pada orang yang ditemuinya. Misalnya, “Tuan, aku melihat seseorang mengambil sesuatu dari lemarimu,” Atau, “Nyonya, aku tidak tahu jika ada wanita lain yang boleh tinggal di rangjangmu dengan suamimu di rumah.”


Hal-hal yang tidak bisa diketahui oleh orang-orang biasa dan  akan mengantarkannya pada hukuman-hukuman ringan yang cukup membuatnya jera. Seiring waktu, Mahla belajar untuk menolak segala jenis bentuk permintaan tolong yang dialamatkan padanya. Masih ada satu dua orang yang bisa menemuinya atas seijin ibunya, namun gadis itu tak pernah bebas dari rasa takut karena memikirkan hukuman yang menantinya.


Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih?


Mahla berbisik dalam hati, terlalu takut untuk mengetuk kamar ibunya, meskipunhati kecilnya ingin memastikan wanita itu tidak akan menyakiti dirinya sendiri. Betapapun buruk perlakuan yang diterimanya dari sang ibu, tidak ada yang bisa menandingi kengerian yang dirasakannya ketika mengetahui bahwa ibunya memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri.


Mahla pernah memergoki ibunya itu menggunakan gerendel besi untuk menyabeti tubuhnya sendiri. ia juga sering menemukan bilur-bilur ungu hasil dari lecutan kayu di sepanjang lengan atau kaki. Ketika ia menanyakannya, ibunya hanya akan berkilah, “Sakit itu baik. Sakit itu penebusan dosa.”


Mahla hanya tahu, masa lalu ibunya begitu dalam mempengaruhi pikirannya. Ia hanya sekilas mengetahui dari penglihatan-penglihatan yang diterimanya sesaat sebelum ibunya hilang ke alam jiwa bersama Daud. Mahla bersiap mengetuk pintu sembari menabahkan diri untuk mengabaikan konsekuensi apapun yang mungkin akan diterimanya nanti.


Gadis itu baru saja akan mengangkat tangannya ke arah pintu ketika sesosok makhluk berkepala plontos, dengan mulut yang dipenuhi gigi geligi hitam dan tampak selalu berliur itu. menyembulkan kepalanya. Makhluk jelek itu menembus pintu tepat di hadapan Mahla dari dalam kamar ibunya.


Percuma saja ibumu tidak di sini.

__ADS_1


__ADS_2