
Mahla merasakan dirinya berpusar di dalam selubung kabut tebal yang membelitnya dari ujung kepala sampai kaki. Di tangannya tergenggan sebuah syal yang ia yakin benar adalah syal ungu yang dilihatnya dipakai Nana di ujung jembatan.
“Bagaimana ini bisa di tanganku?” Tanya Mahla bingung saat menyadari bahwa syal ungu itu benar-benar berada di genggamannya. Ia merasa punggungnya menempel di atas tanah keras dan daun-daun kering berserakan di sekitarnya. Malam telah jatuh, dan bulan sedang cantik-cantiknya.
Mahla mengenali pohon-pohon cengkeh yang menjulang di atasnya. Mereka sudah kembali dari alam jiwa.
Mahla bangkit dengan susah payah dan segera mencari keberadaan ibunya yang tidak terlihat di manapun. Baru saja ia akan berteriak memanggil ibunya, sebuah tangan kurus dan kaku mencengkeram bibirnya kencang.
“Ssst!” Seru ibunya dekat di telinganya.
“Jangan bersuara, kau lihat itu?” Tanya ibunya seraya menunjuk ke arah di mana rumah mereka berada. Mahla terkesiap pelan melihat Melekh di beranda bersama Jerry, tetangga mereka, dan anehnya, Bapa Samone juga berada di sana. Mereka sepertinya sedang membahas sesuatu.
“Sekarang kita tahu kenapa pikiran Melekh tercerabut dari benakmu. Pastilah ada sesuatu yang sangat mengganggunya di sini.” Bisik ibunya sedikit cemas. Mahla mengangguk mengerti, ia merasa bersalah karena meninggalkan Melekh sendirian, namun ia juga tak bisa mengajak serta saudaranya itu bersamanya. Melekh tak pernah mau mengikutinya, ia lebih suka menjaga Mahla dari jauh, dengan pikiran yang
saling terhubung.
“Apa yang terjadi?” Bisik Mahla penasaran seraya menajamkan telinganya. Percuma saja, mereka berada terlalu jauh dari rumah dengan bayangan pohon-pohon cengkeh yang menaungi keberadaan mereka. Mahla tak bisa mendengar satu katapun yang dibicarakan oleh orang-orang di beranda rumahnya.
Ibunya mengangkat bahu, sama tidak tahunya seperti dirinya. “Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya, ayo cari tahu!” Ajak ibunya seraya mengambil keranjang kosong yang seolah-olah muncul begitu saja dari udara.
Dengan cekatan, ibunya mulai mengumpulkan tanaman-tanaman liar yang tumbuh di semak-semak di bibir hutan yang berbatasan dengan kebun cengkeh mereka. Kegelapan sama sekali tidak menghalangi penglihatan ibunya, wanita yang kini tampak sangat berbeda di mata Mahla itu bergerak melesat ke sana kemari tanpa menimbulkan suara berarti.
__ADS_1
Mahla berdecak kagum melihat kegesitan ibunya dan tak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar sekembalinya ibunya di sisinya dengan membawa sekeranjang penuh tumbuhan obat dan bunga-bunga liar yang bisa diseduh sebagai teh herbal. “Bagaimana ibu melakukannya?”
Mahla bisa melihat senyum samar di wajah ibunya. “Dengan tidak menahan diri.” Sahut ibunya ringan. Wanita itu kemudian melirik syal ungu yang membelit tangan Mahla, dan mengernyitkan dahinya dalam. “Dari mana kau dapat ini?” tanya ibunya seraya mengelus syal itu dengan sayang.
Benda itu adalah milik Nana, tidak ada hari di mana Nana tak mengenakannya. Setelah kematian nenek buyut Mahla itu, syalnya juga ikut menghilang. Marya bersumpah tidak memakaikan syal pada tubuh dingin Nana, sebelum upacara kematiannya berlangsung. Namun syal itu hilang, tak pernah ditemuinya lagi.
Mahla menggeleng pelan, “Entahlah. Aku melihatnya di ujung jembatan, ibu juga melihatnya, kan?” Dilihatnya ibunya mengangguk pelan. “Tapi Nana sudah menyeberang, Mahla. Kita pikirkan nanti saja, sekarang, dengarkan aku. Jangan berkata apa-apa pada Bapa Samone dan Jerry. Kau mengerti?” Tegas ibunya. wanita itu tak mengalihkan pandangannya sampai Mahla mengangguk merespon ucapannya.
Mereka berjalan menembus kegelapan malam, angin berdesir menerpa wajah Mahla, membuat rambut merahnya berkibar-kibar di punggungnya.
*
Mahla menyadari batu-batuan ungu yang terpatri di sisian salib Bapa Samone adalah batu yang miripdengan batu rosario yang dikenakan ibunya. Mahla tahu bahwa Bapa Samone menghadiahkan kalung itu pada baptisan ibunya saat wanita itu memutuskan menganut ajaran Katolik, berbeda dengan Nana yang tetap
Sekarang, saat ia menangkap kilau perak dan pendar samar batu-batuan itu, ia bisa melihat betapa ibunya adalah umat Bapa Samone yang istimewa, ketidakhadirannya di gereja yang cukup lama, tentulah menarik perhatian pendeta itu.
“Kamu baik-baik saja?” Bisik Mahla seraya mengalihkan pandangannya pada saudaranya yang duduk di kursi seraya memainkan jemarinya ke arah bulan cantik yang bersinar dengan terangnya di langit malam.
Ia merasakan tatapan Jerry menusuk di balik punggungnya, dan entah mengapa rasanya tidak asing. Ia seperti mengenal Jerry lebih jauh dari sekadar tetangga biasa. Baru saja ia ingin mengurai pikirannya, suara Melekh menyergap benaknya dengan lantang.
Sharai.
__ADS_1
Rasanya sungguh seperti didatangi mimpi buruk. Bayangan lubang yang terbuat dari daging yang akan membusuk di tanganmu jika kamu berusaha menggapai tepiannya, aromanya yang memuakkan, serta lidah-lidah api yang seolah akan memangsa hidup-hidup langsung memenuhi benak Mahla.
Ayo cepat pergi! Serunya pada Melekh dengan sangat panik. Gadis itu nyaris tak bisa bernapas. Ia merasakan lagi tatapan Jerry yang berubah ganas saat mata mereka beradu. Ia bisa melihat kilatan api menyambar-nyambar dari dalam matanya.
Mahla mencengkeram tangan Melekh dengan sangat kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah pergi sejauh mungkin dari sana. Sementara dilihatnya ibunya masih bercengkrama dengan Bapa Samone dengan obrolan basa-basi yang seperti berlangsung selamanya.
Jangan takut!
Tegur Melekh tegas. Ketenangan dalam suara Melekh memberinya kekuatan. Mahla masih memegang syal Nana kemudian memakaikannya pada leher Melekh. Jaga baik-baik. Desis Mahla pada Melekh, seraya berpaling ke arah Jerry yang pandangannya semakin ganas kepadanya. Ia menunggu lelaki berjenggot awut-awutan itu menyambar lehernya karena tatapannya terlihat begitu lapar. Ia bersiap akan menangkis serangan yang tampaknya akan datang kapan saja. bahkan Arlou bersiaga penuh di kakinya, ikut menatap Jerry dengan galak.
“Kenapa kamu tak pernah mengajak Melekh lagi ke gereja, anakku?” tanya Bapa Samone dengan penuh perhatian. Ibunya mengulum senyum sebelum melontarkan jawaban, namun suara Bapa Samone itu mendadak begitu mengusik Mahla, dan kemarahan tersulut keluar begitu saja dari dalam dirinya.
“Karena, Bapa yang baik, orang-orang tidak tahan jika ada Melekh di antara mereka.” Mahla berujar keras dan lugas. Ia tidak akan melupakan pandangan melecehkan orang-orang yang melihat saudaranya berjalan dengan terseret-seret. Ia tidak akan mengabaikan mereka yang berdecak dengan penuh rasa iba saat Melekh mencoba bicara dengan susah payah.
Mahla,sekalipun tak pernah melupakan kesedihan di hati Melekh saat orang-orang menatapnya dengan pandangan kasihan, prihatin, bahkan beberapa di antara mereka melempar pandangan jijik secara terang-terangan.
Ia sendiri yang melarang Melekh ke gereja agar tidak pernah mendapat perlakuan tidak pantas yang juga menyakiti hatinya. Semenjak baptisannya dengan Melekh, sembilan tahun yang lalu, ia tidak pernah membiarkan Melekh keluar dan bertemu dengan orang-rang lagi. Ia tidak tahan merasakan kepedihan di hati adik lelakinya yang berharga.
Bapa Samone terkejut mendengar perkataannya itu, pendeta itu langsung memalingkan wajahnya dan menatap Mahla secara langsung, ekspresinya langsung berubah sangat berbeda dari sebelumnya.
Ketakutankah itu, di matamu Bapa?
__ADS_1
Gadis itu tidak pernah menyadari, malam itu adalah malam di mana Bapa Samone mulai mempercayai semua perkataan Jerry padanya. Namun, sayangnya satu-satunya hal yang belum pendeta itu ketahui, bukanlah Jerry yang memberinya kisikan tanpa henti.
Melekh melihat badai itu akan datang, menggoncang dan bahkan akan mencerabut mereka semua sampai akar, saat itu, hari ketika Bapa Samone menghadapi Mahla, di mana sayap burung-burung hitam mengepak dengan riuh dari dalam mata saudarinya.