
Melekh tidak terkejut meskipun hanya ada kepulan kabut yang menggantikan tempat kakaknya tadinya berada. Ia bisa merasakan dalam pikirannya bahwa Mahla memang sedang berada di tempat seharusnya.
Ya, seharusnya aku ikut ke sana.
Anak laki-laki berusia enam belas tahun itu menyahuti Arlou yang mengeong lemah padanya. Ia baru menyadari bahwa suara cempreng yang sering memenuhi benaknya itu adalah suara Arlou, kucing keemasan yang ditemukan Mahla beberapa bulan yang lalu di kebun mereka.
Setelah berpikir beberapa saat, Melekh berdiri dengan susah payah, kemudian menyeret salah satu kaki cacatnya ke arah tangga. Ia ingin merebahkan punggungnya yang kaku karena sudah duduk lumayan lama.
Kaki sialan!
Umpatnya pada kakinya yang terasa sakit saat digerakkan. Di saat-saat seperti ini pikirannya bisa berpacu dengan luwes, saat ia terhubung dengan Mahla, Melekh merasa dirinya normal seperti anak kebanyakan. Namun jika saudarinya itu terpisah darinya, ia terkurung di pikirannya sendiri, sehingga hanya ada Melekh yang berusia lima tahun yang mengambil alih tubuhnya.
Arlou mengibaskan ekornya dengan tidak sabar menunggu majikannya di lantai dua. Kucing itu menatapnya dengan kedua mata yang sangat bulat yang sewarna dengan bulunya. Setelah dipikir-pikir, penampilan kucing itu memang sangatlah ganjil. Keempat kakinya pendek dan kumisnya botak.
Arlou memiliki bulu tebal keemasan namun botak sepenuhnya di berbagai tempat, bekas-bekas luka banyak tertinggal di badannya seolah-olah kucing itu tak pernah berhenti bertarung.
Belakangan, Melekh baru tahu jika spirit kucing itu adalah roh kuno seperti halnya Barukh yang melindungi Mahla, bedanya spirit yang melindunginya itu menggunakan tubuh kucing tua yang dijumpainya saat menyeberang. Roh itu juga sangat pemarah dan protektif, hampir semua arwah yang berusaha mendekati Melekh akan langsung diserangnya secara membabi buta. Itulah mengapa ada banyak sekali bekas-bekas luka di tubuhnya sebagai kenang-kenangan perang yang tidak pernah usai.
Kau kan tahu kakiku cacat!
Tegur Melekh sebal pada Arlou saat kucing itu menatapnya mencela. Adik kembar Mahla itu baru saja mau menginjakkan kakinya di anak tangga yang kedua saat pintu rumahnya diketuk dengan keras dari luar.
Melekh langsung merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan terendus di udara. Sosok yang bertamu di depan rumahnya adalah tetangga rumah yang suka ikut campur. Namun tampaknya lelaki itu tidak sendirian. Ada seseorang bersamanya di sana.
Dengan susah payah, Melekh kembali menuruni tangga dan menyeret kakinya ke arah pintu. Arlou langsung melompat mendahului pemuda itu sampai ke depan pintu.
Tukang pamer!
__ADS_1
Umpat Melekh dalam hatinya. Kucing emas itu membalasnya dengan mengeong keras.
Saat membuka pintu, Melekh melihat sebuah kalung salib perak dengan pinggiran batu-batu ungu tergantung di leher seorang pria yang senyumnya tampak simpatik. Lelaki di sebelahnya dengan jenggot awut-awutan dan kemeja flannel lusuh menyeringai ke arahnya.
Sharai!
Desis Melekh penuh kebencian. Dilihatnya api merah terang menyala-nyala di mata lelaki itu.
“Halo Melekh,” Sapa lelaki itu dengan seringai menakutkan di wajahnya. “Kamu sendirian?” tanyanya lagi. Melekh mematung menatap mata lelaki itu yang kini berubah biru seperti biasa. Kobaran api yang tadi sekilas bermain di dalamnya mendadak lenyap tak bersisa.
*
Jerry tidak membiarkan Bapa Samone berada dalam kedamaian. Lelaki itu telah menunggu Bapa Samone di luar gereja, dan langsung mengikuti Pendeta ramah itu selepas misa sore berakhir. “Bapa, ikutlah denganku sekali saja.” Pinta Jerry sambil merendengi langkah pendeta saleh itu di sepanjang jalan di luar gereja.
Kebetulan, hari itu Bapa Samone harus mengunjungi salah satu umatnya yang terkena sakit parah. Ia harus memberikan sakramen urapan orang sakit di rumahnya karena keluarga sudah pasrah akan keadaan orang itu.
“Bapa, keluarga Marya benar-benar menutup diri selama beberapa lama, tapi tiba-tiba tadi pagi ada orang lagi yang menyambangi rumah mereka, Bapa harus memeriksanya karena sedari pagi aku melihat ada hal-hal aneh di sana!” Seru Jerry tak kenal menyerah.
“Jadi kamu mengawasi rumah tetanggamu terus menerus, Jerry?” Tegur Bapa Samone ringan. Ia bisa melihat rona wajah Jerry yang memerah mendengar ucapannya.
“Bapa, dari jauh pun kita bisa melihat ada yang tidak beres di dalam sana! Aku melihat lelaki yang datang di sana itu menghilang begitu saja diikuti dengan Marya! Lalu Mahla juga lenyap!” Seru Jerry berapi-api.
Bapa Samone menoleh dengan raut wajah sangat tertarik. “Hilang?” Tanyanya seraya memelankan langkahnya. Mereka berhenti sebelum mencapai tujuan Bapa Samone, rumah wanita tua bernama Amber yang akan diurapi minyak suci itu hanya berjarak dua rumah dari sana.
“Iya, Bapa yang baik! Aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku. Rumah kami hanya dibatasi sekat dari tanaman merambat, dari jendelaku di lantai dua aku bisa melihat dengan jelas ke dalam ruang tamu mereka!” Seru Jerry lagi.
Bapa Samone tampak berpikir sebentar, Jerry tampak sangat keras kepala dan tak akan bisa ditolaknya saat ini. Saat itu, Bapa Samone hanya beranggapan Jerry salah lihat atau berhalusinasi.
__ADS_1
Bagaimana bisa orang lenyap begitu saja?
Sambil menyingkirkan berbagai pemikiran geli di dalam benaknya, Bapa Samone menatap Jerry yang tampak sangat berharap padanya itu. “Baiklah Jerry, namun aku harus melakukan urapan pada Amber terlebih dahulu, tunggulah di luar, dan jangan menggerecokiku seperti anak kecil selagi aku melakukan tugasku.” Ujar Bapa Samone tegas. Jerry langsung tersenyum senang mendengar ucapan pendeta itu.
*
“Kamu pasti Melekh.” Sapa Bapa Samone ramah. “Terakhir kali kita bertemu adalah saat kamu berusia tujuh tahun saat kamu menerima baptis dan sakramen yang pertama.” Ujar Bapa Samone dengan nada yang sama ramahnya.
Anak kedua Marya itu tampak berjengit saat Bapa Samone menepuk pundaknya dengan lembut. “Ibumu ada di rumah?” tanya Pendeta itu kemudian. Melekh mundur selangkah dengan sangat gugup sampai-sampai hampir terjengkang karena tersandung ppkarpet tebal di belakangnya.
“Dia tak bisa bicara, Bapa.” Sahut Jerry tak sabar. Lelaki itu masuk ke rumah Melekh dengan serampangan. Matanya jelalatan ke sana kemari, dan tampak sangat puas saat tak menemukan apa yang dicarinya.
“Benar kan, kataku, ibu dan saudarinya menghilang begitu saja!” Seru Jerry dengan nada penuh kemenangan. Melekh mengawasi Jerry dengan marah, ada yang tak beres dengn tetangganya itu. Jerry yang dikenalnya adalah laki-laki baik hati yang selalu memberi mereka semangkok penuh tomat cheri.
“Tttii-dd—dddak…”
Ujar Melekh terbata-bata. Dalam benaknya ia mengutuk pelan, kenapa sih dia harus terlahir dengan fisik cacat begitu sementara benaknya bisa melaju dengan sangat cepat?
Bapa Samone mengamatinya dengan penuh perhatian sebelum akhirnya melempar pandangan menegur pada Jerry, sementara langit di luar sudah berubah gelap. Malam sudah membayang, dan Melekh mendadak merasa khawatir mengapa saudari dan ibunya belum juga kembali.
Jerry tampak sekilas menyeringai pada Melekh, dan bayangan itu kembali di mata Jerry, menari-nari seperti api melalap dahan kering. “Ddii-aa ddiii—rrasssukkii!” Seru Melekh susah payah dengan tangannya yang melengkung menunjuk ke arah Jerry.
“Nah, Bapa…” Sahut Jerry dengan suara sangat tenang. “Sudah kubilang, keluarga ini aneh sekali!”
Bapa Samone menatap Jerry dan Melekh bergantian. Wajahnya yang ramah berubah gelisah. “Nak, apa yang baru saja kau katakan?” Belum sempat Melekh menjawab, Arlo, entah dari mana datangnya, melompat kencang ke arah Jerry. Keempat kakinya menancap tajam di dada lelaki itu.
“Singkirkan hewan terkutuk ini dari badanku!” Raungan Jerry memecah keheningan malam, dengan Bapa Samone yang untuk pertama kalinya, tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1