
Setengah buta karena air mata yang terus membanjir di kedua pipinya, Marya berjalan tersaruk-saruk menembus kegelapan malam. Ia tidak ingat bagaimana ia keluar dari bilik doa, dan berada di jalanan yang hanya diterangi sinar bulan. Ia juga mengabaikan makhluk botak jelek yang menghuni kamar bekas gudang itu merendenginya terus saat ia bersimpuh di altar kecil miliknya.
Padahal, biasanya Marya cukup galak mengusir makhluk buruk rupa itu agar tak mengganggunya saat berdoa. Malam itu yang ia pikirkan hanyalah penebusan dosanya, ia merasa begitu kotor dan hina, sementara suara-suara mendiang suaminya bergema terus-menerus di kepalanya.
Marya hanya memikirkan satu tempat di mana ia bisa mengakui ssegala perbuatan salahnya. Ia melangkah di tengah malam buta itu menuju rumah mungil kediaman Bapa Samone tepat di belakang gereja.
*
Mahla terkejut makhluk botak itu menampakkan dirinya begitu saja. Ia ingat masa kanak-kanaknya dihabiskan dengan ketakutan akibat perilaku jahil si makhluk penunggu gudang itu. Bentuknya mungkin tidak terlalu buruk dibandingkan makhluk lain yang pernah ditemuinya, namun makhluk cebol yang satu ini memilki
kejahilan luar biasa, dan tidak akan berhenti mengganggu sebelum ia merasa bosan sendiri.
“Polsie, di mana ibu?” Tanya Mahla pada makhluk botak yang melayang ringan di hadapannya itu. Mahla terpaksa harus mundur sejengkal karena Polsie mendekatkan wajahnya yang buruk ke arah Mahla sampai hidung mereka nyaris bersentuhan jika saja makhluk itu berwujud padat. Polsie meskipun tidak setransparan hantu lain, tetap saja
tidak memiliki wujud solid seperti manusia. Ia lebih seperti gumpalan asap yang sangat menjengkelkan.
Marya gila… Marya gila…
Gumam Polsie seraya menyenandungkannya dengan suara yang sangat sumbang, membuat Mahla kesal sekali mendengarnya, apalagi setelah menangkap apa yang sedang hantu itu gumamkan, Mahla semakin geram dibuatnya.
“Hey! Jaga ucapanmu!” Bentak Mahla pada Polsie yang terkikik-kikik di atasnya. Hantu cebol itu sedang berjungkir balik di udara tepat di atas kepala Mahla. Ia berulang kali memeragakan posisi orang yang sedang buang air di kepala Mahla.
“Hentikan, Polsie!” Seru Mahla marah. Hantu itu memang sangat jahil dan kurang ajar, ia juga selalu menolak pergi dari rumah keluarga Mahla itu meski berkali-kali diusir. “Polsie, hentikan sekarang!” Seru Mahla tak bisa lagi menahan amarahnya. Dari dalam tubuhnya langsung melesat pendar energi yang langsung membuat Polsie terlempar jauh dari tempatnya.
“Aku sudah memperingatkanmu.” Geram Mahla seraya menatap Polsie tajam. Hantu cebol itu pun kemudian meringis memamerkan taring-taringnya yang tampak sangat tajam meski dari kejauhan.
__ADS_1
Pemarah sekali persis seperti ibunya. Tapi dia tidak gila, yang gila hanyalah Marya. Marya gila…Marya gila…
Ejek Polsie cukup keras gumamannya itu terdengar di telinga Mahla. “Belum cukupkah peringatanku, Pols?” Seru Mahla galak. Ia ingin sekali menghancurkan hantu jelek itu hingga lenyap selama-lamanya. Ia bisa melakukannya. Ia akan melakukannya.
Dengan penuh konsentrasi, Mahla membayangkan energi murni mengalir dari dalam tubuhnya menuju ke ujung jarinya, gadis enam belas tahun itu kemudian mengarahkan telunjuknya ke arah Polsie yang kini tampak sangat ketakutan melihat sosok Mahla.
Mahla membiarkan kekuatannya mengambil alih, kepak sayap-sayap hitam memenuhi pandangannya.
Jangan sekali-sekali menghina ibuku.
Mahla membayangkan kekuatan itu memancar dari setiap inci permukaan tubuhnya.
“Selamat tinggal, Pols.”
Belum sempat energi itu meninggalkan tubuhnya, segala sesuatu menjadi lebih dingin dan sejuk. Empat sayap besar terbentang lebar di hadapan Mahla. Sosok itu teramat cantik sampai-sampai tidak manusiawi. Sebilah pedang es tergenggam erat di tangan kiri.
“Apakah aku sedang dalam bahaya?” Tanya Mahla sangat terkejut menyadari kehadiran familia itu. Barukh menelengkan kepalanya ke arah Mahla, sementara hantu Polsie hanya berupa jejak gosong di lantai rumah Mahla karena ledakan energi Barukh yang muncul tiba-tiba.
Akhir sudah dekat.
Suara
Barukh berdenting dengan sangat merdu di telinga Mahla. Apa pula yang dimaksudannya? Belum sempat ia bertanya, roh pelindung itu sudah menguap menjadi udara dingin yang meniup-niup wajah Mahla.
*
__ADS_1
Marya mengetuk pintu rumah Bapa Samone dengan sangat terburu-buru. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua rasa yang sedang menderanya malam itu. “Bapa yang baik, tolonglah aku.” Seru Mahla di tengah malam di mana hanya ada bulan yang memancar terang di atas mereka.
Suasana malam itu terlalu hening, bahkan tidak terdengar suara binatang malam yang biasanya bersahutan.
Butuh beberapa lama bagi Bapa Samone untuk mencapai pintunya, karena pria saleh itu tadi sudah bersiap tidur setelah doa malam. Imam itu sudah mengenakan pakaian lengkap saat membuka pintu, dan berusaha tampak tidak terlalu terkejut melihat Marya, yang tampak awut-awutan berdiri di depan pintunya.
Bapa Samone menuntun Marya ke arah gereja, dan mengajaknya memasuki bangunan yang tidak terlalu besar itu bersama-sama. Setelah menyalakan lampu-lampu, ia dengan jelas bisa mengamati kondisi Marya yang terlihat sangat tidak baik-baik saja. “Apa yang terjadi?” Tanya Bapa Samone lembut. Ia menepuk punggung Marya perlahatn dan membiarkan wanita itu menumpahkan segala kesedihan yang berasal dari sepasang matanya.
“Bapa, aku sungguh berdosa. Aku wanita terkutuk, Bapa! Dari rahimku lahir anak-anak terkutuk!” Seru Marya tak terkendali. Pendeta itu sama sekali tidak mengira ucapan semacam itu yang akan diterimanya di tengah malam buta. “Jangan bicara begitu, Marya, katakan padaku apa yang mengganggu pikiranmu.” Bujuk Bapa Samone sabar sementara ibu Mahla itu masih terisak-isak dengan keras.
“Bapa, aku seharusnya mendengarkan ucapan suamiku, juga ucapan ayahku. Aku seharusnya tidak mengikuti Nana, aku tidak mau anak-anakku ikut terjerumus seperti Nana.” Bisik Marya kalut. Pikirannya sedang tidak berada di tempatnya saat ini, ia hanya mengingat rasa sakit yang dihasilkan dari kekuatan yang diwariskan Nana. “Bapa, bantulah aku mengangkat segala kepedihan ini.” Pinta Marya seraya tiba-tiba berlutut.
Pendeta saleh itu terperanjat saat melihat Marya yang tiba-tiba berlutut. “Anakku, pikiranmu sedang dipenuhi oleh kesedihan, ikutlah berdoa denganku.” Ajak Bapa Samone seraya mengajak Marya berdiri. Ia menuntun lengan Marya ke arah altar di mana biasanya ada rangkaian bunga rumit yang diberikan umat untuk memperindah meja
itu. Namun malam itu, hanya ada salib besar dari kuningan dengan lilin tak kalah tinggi yang tersisa di sana.
Bapa Samone mengajak Marya berlutut dan memulai doa Bapa Kami dan Salam Maria. Pendeta itu akan meneruskan doa rosario dan berharap umat yang dikasihinya itu akan kembali menemukan kedamaian di hatinya.
Tepat setelah doa Salam Maria yang ketiga, wanita itu menoleh ke arah Bapa Samone, dengan jejak air mata yang masih tercetak di pipinya, ucapannya menggetarkan Bapa Samone hingga ke dalam tulang-tulangnya.
“Bapa, aku tahu Bapa menyadari sesuatu tentang anak-anakku, terutama Mahla."
Suaranya begitu dalam dan tenang seolah-olah tak pernah ada episode manic yang
baru saja diperlihatkannya. Tidak ada lagi tangisan histeris atau racauan gila yang terus menerus dilontarkan Marya
__ADS_1
seperti beberapa saat sebelumnya. Seolah-olah wanita yang baru saja bicara itu merupakan sosok lain yang sangat berbeda.
“Untuk itu, aku ingin meminta bantuanmu untuk membimbingnya.”