BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA

BURUNG-BURUNG HITAM DI MATA MAHLA
Prasangka


__ADS_3

Bapa Samone tak dapat mengenyahkan bayangan kepak sayap-sayap hitam dari balik mata Mahla sepulang kunjungannya dari rumah mereka. Ia menghindari tatapan Jerry yang menyeringai penuh kemenangan padanya. Pendeta itu menolak tawaran Jerry yang akan mengantarkannya kembaali ke pastoran. Ia ingin menjernihkan pikirannya dengan berjalan seorang diri.


Sebenarnya apa yang kulihat tadi?


Bapa Samone kembali memegangi bandul salib di kalung peraknya. Ujung jarinya meraba permukaan amethyst kasar yang ditanamkan mengelilingi sisian salib. Ia mendapatkan kalung itu pada saat tahbisannya, seorang teman sekaligus mentornya di keuskupan memberikannya kalung itu sebagai kenang-kenangan.


Ada perasaan yang halus dan samar setiap kali ia menyentuhkan tangannya di tubuh salib. Seolah-olah kawan lamanya itu hadir di sana untuk menemaninya dalam jalan Tuhan yang tak pernah mudah, bahkan terkadang sangat sepi.


Ia melihat dengan matanya sendiri bahwa perkataan Jerry adalah benar adanya.


Bapa sudah mendengar cerita-cerita tentang burung-burung hitam di mata Mahla?


Tanya Jerry saat pertama kali lelaki itu mendatanginya. Saat itu Bapa Samone tak menganggap ucapan Jerry sebagai sesuatu yang serius. Bisa saja Jerry saat itu sedang melihat imajinasinya sendiri.


Gadis itu bisa berkomunikasi dengang orang mati, Bapa.


Ujar Jerry lantang di ingatannya. Lagi-lagi, pendeta itu mengabaikan ucapan Jerry, ia percaya Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan, sepanjang pengamatannya, gadis itu tak pernah berbuat sesuatu yang mengkhawatirkan, seperti menyesatkan umat, atau membuka praktik sihir, misalnya.


Orang-orang yang pernah mendatanginya konon selalu melihat kilatan kepak sayap hitam di dalam mata Mahla saat ia mulai menggunakan kekuatannya berhubungan dengan arwah orang mati. Beberapa bahkan merasa gadis itu mampu melihat keseluruhan diri mereka, kejadian masa lalu, bahkan kilatan masa depan!


Bukankah hal itu yang mereka cari dengan mendatangi Mahla?

__ADS_1


ia ingat dirinya menyanggah semua ucapan Jerry yang sama sekali terdengar konyol. Waktu itu ia merasa lelah dan Jerry masih sangat keras kepala. Sejujurnya, Bapa Samone tidak melihat ada masalah serius seperti yang dikeluhkan Jerry. Apalagi, lelaki itu sudah menjadi tetangga mereka cukup lama, seharusnya tak ada lagi yang harus ia khawatirkan mengenai keluarga Marya.


Bapa Samone tidak menanggapi semua ucapan Jerry, sampai pada akhirnya, ia melihat sendiri, di sepasang mata gadis itu bersemayam sayap burung-burung hitam yang mengepak riuh saat mata mereka saling bersitatap


Ada sesuatu yang merasuki anak itu, Bapa. Kita tidak mau para iblis berjalan di muka bumi, kan?


Ucapan Jerry sebelum berpisah dengannya kembali terngiang di benaknya. Dengan resah, Bapa Samone melangkahkan kakinya memasuki pastoran sederhana yang sudah ditinggalinya selama lebih dari dua puluh tahun. Ia mengurai ingatan mengenai keluarga Yosiah yang memang tidak seperti keluarga pada umumnya, namun juga tak bisa dipandang sebagai keluarga yang mesti diwaspadai karena berbahaya.


Ia masih ingat Magdalene Yosiah yang senyumnya begitu cemerlang. Wanita murah hati itu memiliki rambut merah terang sewarna milik Mahla, dan aura kebaikan terpancar dengan sangat jelas dari dirinya. Meskipun memegang teguh pendiriannya dengan kepercayaan pagan yang dianutnya, wanita itu mengijinkan Marya, cucu satu-satunya itu memeluk ajaran Katolik tidak lama setelah gereja didirikan di sana.


Namun kini ia tak bisa mengabaikan kejadian di beranda rumah Marya begitu saja. Keduanya muncul dengan begitu mendadak dan tampak sangat mencurigakan. Belum lagi tingkah laku anak keduanya yang sangat ganjil. Pemuda itu tampak terlalu cerdas untuk seorang yang konon menderita sakit mental. Bapa Samone mengamati betapa pandangan Melekh jauh dari kata "terbelakang".


Kemudian kucingnya juga kelihatan sangat ganjil, bagaimana mungkin seekor binatang hanya terpaku pada satu sosok saja -Jerry, begitu lama?


*


Mahla termenung melihat kepergian Bapa Samone yang tiba-tiba. “Apakah aku salah bicara?” Tanya Mahla pada Melekh yang masih memainkan jemarinya seakan ingin meraih bulan. Ibu mereka masih bersama dengan mereka di beranda, namun sepertinya sesuatu sangat mengganggu pikirannya sampai-sampai ia sama sekali tidak menanggapi ucapan Mahla.


Melekh masih tidak bereaksi saat Mahla memegang bahunya pelan. “Kamu ingat, Melekh? Syal ini mirip sekali dengan yang biasanya dipakai Nana, aku tidak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba saja aku memegangnya saat perjalananku kembali dengan ibu.” Terang Mahla panjang lebar. Dengan ujung matanya ia bisa melihat sekilas wajah ibunya yang tampak mengejang, seperti sedang menyadari sesuatu yang mengerikan.


“Seharusnya aku tak membiarkan kabut itu tersingkap.” Bisik ibunya lirih. Seakan-akan bicara pada dirinya sendiri. “Apa maksudnya, Bu?” Tanya Mahla bingung. Ibunya tampak linglung dan terdisorientasi.

__ADS_1


“Apa yang kulakukan?” Tanya ibunya kemudian dengan panik. Wanita itu mulai mondar-mandir gelisah seraya mencengkeram rosario di lehernya. “Aku sudah bersumpah! Tak akan pernah berhubungan dengan segala sesuatu yang mistis seperti yang Nana lakukan!” Seru wanitua itu sangat ketakutan. Seolah-olah ada tali kasat mata yang menggerakkan tubuhnya, wanita itu bergerak ke sana kemari tak terkendali.


“Tenang dulu, Bu, jelaskan ada apa sebenarnya?” Tanya Mahla seraya mengguncang tubuh ibunya pelan.


“Hukuman akan datang, hukuman akan datang karena aku berani menggunakan kekuatan terkutuk itu lagi!” Seru ibunya seraya menggaruk-garuk tangannya secara terus menerus. Sesuatu yang dilakukannya ketika sedang panik atau takut.


Mahla belum pernah menyaksikan ibunya hilang kendali, malam itu sepertinya dunia ibunya sedang berjungkir balik tak tentu arah. “Aku akan dihukum, aku akan dihukum.” Bisik ibunya berulang-ulang. Mahla beradu pandang dengan Melekh yang akhirnya perhatiannya teralih sepenuhnya pada ibunya.


“Aku harus meminta pengakuan dosa. Aku berdosa, aku sangat berdosa.” Gumam ibunya sembari mulai merintih-rintih. Mahla mencoba melihat ke dalam pikiran ibunya, namun baru saja ia akan berkonsentrasi, tangan Melekh menyentaknya keras. Saudara kembarnya itu menggelengkan kepala tidak setuju, namun Mahla memutuskan tidak akan berdiam diri di sana.


Ia mulai menatap matai bunya dengan tajam, dengan mengerahkan segala kemampuannya, ia berusaha menggapai pikiran ibunya yang mendadak carut marut.


*


Marya melihat Bapa Samone menangkap kelepak bayangan burung-burung hitam di mata Mahla, dan wanita itu merasa ngeri ketika pandangannya bersirobok dengan pendeta itu. Bapa Samone menatapnya dengan pandangan seolah-olah menuduh, seperti yang biasa dilakukan oleh suaminya yang sudah mati itu.


Marya tak tahan. Ia sungguh merasa hina dan kotor. Ia seharusnya bisa membimbing kedua anaknya menjauhi ilmu sihir yang diwariskan neneknya. Ia seharusnya menjadi teladan bagi anak-anaknya agar tidak lagi berhubungan dengan dunia orang mati.


Hanya ada Tuhan yang bisa menjagamu, Marya! Camkan itu baik-baik! Kamu sangat berdosa jika mempersekutukan kekuasaanNya!


Suara suaminya terus menerus terngiang di telinganya. “Aku berdosa dan hina. Aku bersalah…” ujar Marya berulang-ulang. Tidak dihiraukannya Mahla yang mengguncangkan tubuhnya berkali-kali. Di matanya hanya terbayang hukuman yang akan diterimanya. Lecutan sabuk kulit. Pukulan tiang besi. Lemparan piring keramik yang meninggalkan luka menganga di pelipisnya. kemudian lebih jauh, tangan kasar berbobggol-bonggolmilik ayahnya berusaha menyingkapkan gaun panjang yang dikenakannya.

__ADS_1


Perempuan itu makhluk hina dan penuh dosa, kusucikan dulu dirimu sini, anak manis. 


Luka-luka di tubuh Marya seakan semuanya bersamaan terbuka, dari dalamnya, Marya merasa mengalir deras kepedihan yang telah ditanggungnya sepanjang usia.


__ADS_2