
Mahla bukanlah gadis biasa. Ia tidak pernah menjadi gadis normal seperti pada umumnya. Ia belum bisa bicara sampai berumur tiga tahun, kemudian kata-kata pertama yang meluncur di mulutnya adalah, “Ibu, tidak lama lagi dia akan mati.”
Ia mengatakannya dengan polos, sementara satu tangannya menunjuk ke arah ayahnya yang kontan melotot marah ke arahnya. Mahla tak akan ingat bagaimana sabuk kulit ayahnya melecut punggung ibunya, atau bagaimana bibir ibunya akan sobek karena dihantam dengan tangannya yang keras. Ia hanya tahu, Nana akan bergegas membawanya bersama adik kembarnya ke dalam sarang mereka yang aman.
Sarang itu berupa pondok kecil terpisah yang terletak di hutan. Mereka memiliki rumah yang bagian belakangnya berbatasan dengan sungai kecil dan tepat di seberangnya terdapat bibir hutan yang pohon-pohonnya sudah berusia ratusan tahun. Nana membangun sebuah sarang yang aman di sana untuknya dan Melekh bersembunyi, ketika keadaan di rumah sudah menjadi begitu tidak tertahankan.
Pondok itu mungil, seperti halnya rumah pohon, namun tidak terletak di atas pohon. Nana mendirikan pondoknya tepat di bawah phon baobab raksasa yang diameter batangnya lebih besar dari rentangan tangan nenek dan kedua cucunya itu saat disatukan.
“Di sini tidak akan ada yang bisa menyentuh kalian.” Ujar nenek buyutnya itu menenangkan Mahla yang meringkuk ketakutan. Ia ingin membantu ibunya, namun ayahnya terlalu besar dan kasar. Biasanya Nana akan bergumam
pelan seraya mengecup kening kedua cucunya itu bergantian. Wanita sepuh dengan rambut perak itu kemudian akan mengayun-ayunkan Melekh di dalam buaiannya, sementara Mahla dibiarkannya
menyentuh barang-barangnya yang unik sendirian.
Melekh belum bisa berjalan, sementara Mahla tidak bicara.
Kondisi itu sangat sulit bagi Marya, cucu perempuannya, sementara suaminya adalah seorang penginjil yang ringan tangan. Mungkin konsep Tuhan yang Maha Kasih tidak berlaku untuknya, lelaki pendiam itu selalu percaya bahwa dosa-dosa hanya bisa dibersihkan lewat kesakitan semata.
*Sakit itu baik. Sakit itu penebusan. *
Nana menduga hal itulah yang kelak akan mengakhiri hidup cucu mantunya itu.
__ADS_1
“Kamu tunggu di sini dengan adikmu, mengerti Mahla?” Tanya Nana lembut seraya meletakkan Melekh di lantai kayunya yang tertutup mandala bercorak lingkaran dengan lukisan bintang-bintang berkerlip dan bulan merah raksasa. “Nana harus melihat keadaan ibumu, dan, yah, ayahmu.” Sambung wanita tua itu setelah melihat Mahla mengangguk. Ia biasa meninggalkan kedua cucunya di tengah hutan, lengkap berbagai spirit yang melindungi keluarga mereka.
Mahla biasanya akan langsung tertidur begitu ia meletakkan kepalanya di salah satu bantal bundar besar milik Nana, sementara Melekh akan memain-mainkan rambutnya sambil bermain dengan beraneka rupa roh yang mengunjungi mereka dengan sengaja.
Namun, hari itu, meskipun lama sekali berbaring, Mahla sama sekali tidak bisa memejamkan mata. sebaliknya, justru Melekh langsung mendengkur pulas begitu kepalanya menyentuh bantal yang sudah dimantrai oleh nenek buyutnya itu.
Hari itu adalah hari pertama Mahla membuat kata-kata. Namun, ucapannya tentang kematian ayahnya benar adanya. Tidak sampai sebulan berlalu, di salah satu ranting pohon baobab yang dijadikan sandaran pondok Nana, ayah Mahla mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya di salah santu rantingnya.
Masa kecil Mahla memang tak pernah serupa dengan anak-anak sebayanya.
Mahla tidak akan melupakan bagaimana kawanan burung-burung hitam mulai bersarang di dalam matanya. Siang itu, saat ia ditinggalkan di dalam pondok di hutan bersama adiknya, ada sekawanan roh yang bersayap hitam pekat yang mengerubunginya.
Tubuh mereka hanya berupa gumpalan udara padat yang hitam seperti asap dari ban bekas yang terbakar. Mahla tidak bisa melihat wajahnya secara jelas karena wajah itu berkerlap-kerlip berganti-ganti seperti riak bayangan di atas air.
Ia ingat, kawanan roh itu berpusar-pusar seperti angin topan mini di dalam pondok Nana. Mahla melihat saudara lelakinya tertidur pulas, sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi di dalam pondok saat ini.
Sesungguhnya, meskipun Melekh saat itu terjaga, tidak ada yang bisa dilakukannya juga. Melekh tak lebih hebat dari Mahla, adik lelakinya itu bahkan belum bisa berjalan. Namun, sejak kecil Mahla sudah percaya bahwa Melekh, dengan segala keterbatasannya, sesungguhnya adalah salah satu pelindungnya.
Mahla merasa, entah bagaimana, kehidupannya selalu terancam. Ia selalu merasa ada yang mengawasinya, inilah yang membuatnya selalu bertindak hati-hati, bertahun-tahun ke depan. Gadis itu selalu menahan dirinya, ia tak pernah mencurahkan pikiran atau kekuatannya terlalu dalam, karena ia takut akan tertangkap oleh makhluk yang ia sendiri tidak tahu siapa, dan bagaimana rupanya.
“Kalian siapa?” Tanya Mahla lagi. Ia tidak takut. Ia sudah terbiasa melihat hal-hal yang tidak semestinya. Kebanyakan makhluk-makhluk lain itu begitu mengerikan, dengan wujud yang berkeropeng di mana-mana. Separo badan busuk. Beberapa berlendir seperti terendam di kubangan air. Kepala yang tidak berada di tempatnya. Kaki yang terpuntir hingga menembus paha. Bola mata yang terlepas. Mulut tanpa bibir dengan lidah terjulur, lengkap dengan darah menetes di ujungnya.
__ADS_1
Mahla sudah pernah melihat itu semua. Mahla tidak mudah takut, sebaliknya, ia selalu merasa penasaran atas segala sesuatunya. Sosok-sosok yang mendatanginya itu sungguh berbeda. Mereka hanya seperti gumpalan asap kalau bukan kabut yang pekat. Kehadirannya terasa berbahaya namun tidak cukup mengancam. Seperti alarm
yang menjadi peringatan. Seperti manifestasi energi yang biasa digunakan Nana untuk melindungi.
Namun mereka semua tampak hidup. Dengan wajah yang berganti-ganti dan gumpalan asap sebagai tubuh serta sayap-sayap hitam yang tak berhenti mengepak. Seperti kawanan gagak yang berkaok satu menimpali yang lainnya.
“Makhluk apa kalian ini?” Tanya Mahla lagi dengan rasa penasaran yang kian membesar. Makhluk itu melayang begitu saja di depannya. Ia berusaha menggapai makhluk itu dengan tangannya yang mungil, namun hanya udara kosong yang terasa di sana. Tangannya bergerak menembus begitu saja gumpalan asap itu.
Gadis kecil, bolehkah kami ikut denganmu?
Mahla mendengar suara-suara itu ada banyak. Bukan satu. Melainkan berlapis-lapis dan tumpeng tindih. Seperti paduan suara, namun sama sekali tidak merdu, tapi tidak cukup membuat ngilu. Mahla hanya merasa suara itu adalah suara paling ganjil yang pernah didengarnya.
“Kenapa?” Tanya Mahla heran. Dalam benaknya yang polos ia membayangkan akan diikuti sekerumunan roh yang sangat ribut dan berpusing di belakangnya. Apakah ia akan bergerak dengan dinaungi bayangan yang seperti sekawanan tawon pemarah?
Kami hanya ingin bersamamu.
Mahla benar-benar tidak mengerti. Ia terlalu muda untuk memahami. Namun, dalam pemahaman purba yang ia miliki, sepanjang makhluk itu tidak mengancam atau mencelakai, Mahla akhirnya menyetujui.
“Tapi kalian tidak akan menggangguku, kan?”
Para roh itu perlahan memudar. Untuk pertama kalinya, Mahla pertama kalinya pada waktu itu melihat kelebatan sayap-sayap di dalam matanya. Setelah itu, dunianya terasa lebih tajam, lebih terang, ia bisa mendengar segala sesuatu. Ia bisa merasakan kisikan di udara. Ia bisa melihat hari yang akan datang dengan lebih jelas dan berwarna. Ia juga bisa melihat lebih banyak roh dan hantu dan arwah tanpa merasa sakit kepala, seperti yang dialaminya sebelum ini.
__ADS_1
“Siapa kalian ini?” Tanya Mahla takjub.
Ia baru mendapatkan jawabannya di hari terakhir Nana ada di dunia.