
"lepaskan aku". Lavender berteriak ketika kedua ajudan sang ayah memaksanya untuk kembali ke dalam rumah. lavender kembali berteriak ketika penjaga itu melemparkan tasnya kembali ke kamar lavender.
"berani nya kau". lavender memukul pria itu menggunakan sepatu. lavender sangat marah, sebenarnya apa yang di pikirkan oleh sang ayah.
"Maaf Nona, anda di larang keluar rumah mulai hari ini". Ujar salah satu pria itu. Pria bertubuh tinggi dan besar itu memegang lengan lavender dengan kasar
"Beraninya kau, lepaskan aku". Lavender terus meronta.
"Kami hanya menjalan kan tugas kami".
sebenarnya kedua pengawal itu benar. mereka memang hanya mengikuti tugas yang ayah lavender berikan.
"Aku harus berangkat ke kampus, apa itu juga di larang". Lavender memandang kedua pria itu. Ajudan sang ayah kali ini lavender sama sekali tak mengenal nya. Entah kemana vino dan Tian, biasanya mereka berdua lah yang menjaga lavender.
"Itu juga tak boleh". kata salah satu pengawal mereka
"Sial ". Lavender berteriak sambil membanting pintu kamarnya. Ia melemparkan tas nya ke atas kasur, bagaiaman caranya agar ia bisa keluar dari rumah itu. Entah apa kesalahan nya sampai sang ayah mengurung nya di kamar.
Sampai tadi malam mereka berdua masih baik-baik saja. Lalu pagi ini mengapa ayahnya malah melarang ia melangkahkan kaki nya keluar dari rumah bahkan untuk ke kampus saja tak boleh.
Lavender menghubungi sang ayah, namun telepon darinya tak juga di angkat. Tak habis akal lavender berjalan menuju balkon. Kamarnya berada di lantai 2, seharusnya tak sulit baginya untuk melompat ke bawah.
Lavender mengambil tasnya, kemudian berjalan ke arah balkon, ia berpegangan dengan pagar besi yang kokoh itu, kakinya mencoba menggapai pagar yang membatasi rumah dengan dunia luar. Akhirnya ia berhasil. Kemudian dengan sekali lompatan lavender sudah berada di luar. Kemudian ia berlari sekencang nya.
Matanya celingak celinguk mencari taksi, namun penjaga yang berada di gerbang mengetahui kalau sang nona muda berlari keluar langsung mengejarnya. Lavender lantas kembali berlari , dengan sekuat tenaga ia terus menyusuri jalan. Kalau hanya ingin berlari saja, bukan hal yang sulit. Ia salah satu anggota club' basket di kampusnya. Jadi jika soal lari adalah hal mudah baginya .
__ADS_1
Lavender melihat beberapa ojek pengkolan sedang menunggu pelanggan. Ia langsung menghampiri mereka.
"Anatrkan saya ke kampun A , bisa pak". Abang ojek pengiklan itu langsung mengangguk.
"Nona lavender". Penjaga itu meneriaki nama lavender, mereka semakin dekat
"Pegangan neng". Kata tukang ojek tersebut, lavender langsung memegang pinggang sang tukang ojek. Dengan cepat motor melaju meninggalkan para penjaga itu.
Tak butuh waktu lama, lavender sampai di kampusnya. Ia membayar Abang ojek itu dengan nominal yang sangat besar .
"Ambil kembalinya pak". Ujar lavender. Kemudian ia melangkahkan kakinya ke dalam kampus.
"Kamu kenapa la?". Arimbi bertanya pada sahabatnya ketika melihat rambut lavender yang acak-acakan itu
"Aku habis di kejar-kejar penjaga ayah ku". Lavender menarik nafasnya, kemudian menyambar jus jeruk yang di pegang Arimbi.
"Nih, makasih ya.. aku haus banget". Lavender langsung duduk di kursi taman kampus itu.
"Ada apa sih sebenarnya?".
"Ayah ku aneh, tiba-tiba aku tidak boleh keluar dari rumah, tanpa aku tau apa salah ku". Lavender menjelaskan situasinya
"Loh, kau bikin salah kali sama ayah mu, ga mungkin dia melakukan hal seperti itu tanpa ada alasan nya". Lavender bingung, memang ia merasa tak berbuat salah sama sekali pada sang ayah.
"Selama ini aku selalu jadi anak yang baik Loh, nilai akademi ku ga pernah di bawah rata-rata, aku juga ga pernah keluyuran ga jelas, ga pernah macem-macem". Lavender mencoba menjelaskan nya kembali ke pada Arimbi .
__ADS_1
"Lalu kenapa ayah mu tiba-tiba begitu, dan bagaiaman cara kamu bisa keluar dari rumah, coba ceritakan kepada ku ?". Arimbi menatap gadis yang duduk di sampingnya.
"Aku loncat dari balkon kamar ku, kemudian aku berlari sepanjang jalan, dan menaiki ojek pengkolan yang biasa mangkal di dekat rumah ku".jawab lavender enteng dan itu sukses membuat Arimbi melongo.
"Gila.. kamu loncat dari balkon?, kamu keren banget". Arimbi mengangkat kedua jempolnya , memberikan apresiasi para lavender.
"Siapa yang keren". seorang gadis cantik berdiri di hadapan mereka berdua, dia Valentin putri tunggal seorang pengusaha ternama di kota itu
"Dia". Arimbi mengarahkan gelas kosong bekas juice itu ke wajah lavender.
"Memangnya dia habis ngapain". Valentin kembali bertanya
"Dia loncat dari balkon ". Kemudian Valentin tertawa terbahak. Valentine adalah sahabat lavender sejak kecil, bahkan rumah mereka bersebelahan. Lavender berkenalan dengan valentin ketika umur mereka masih 6 tahun, lavender yang tombol dan valentine yang anggun Sungguh perpaduan yang sempurna.
"Ya ampun, begitu aja? itu Sudah biasa". ujar Valentin, dan memang jika hanya melakukan hal seperti itu adalah hal biasa bagi lavender, waktu duduk di bangku kelas 4 SD saja, lavender pernah terjatuh dari pohon dengan ketinggian 2 meter. bukan nya merasa sakit lavender hanya mematung kemudian berdiri kembali lalu lari meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua sangat cantik dengan kepribadian yang berbeda namun saling melengkapi satu sama lain. namun itu membuat mereka terlihat sulit di untuk di d ekati. Hanya Arimbi, pemuda pindahan dari luar kota itu memberanikan diri mendekati kedua gadis itu. Karna latar belakang dari keluarga yang tidak biasa maka Arimbi sangat percaya diri ketika ia meminta kedua gadis itu untuk berteman dengan nya
Persahabatan mereka sudah terjalin selama 4 tahun, dan tahun ini adalah tahun terakhir mereka di kampus A.
"kau sepertinya harus bertanya pada ayah mu, mengapa ia membatasi pergerakan mu, apalagi jika ia melarang mu kuliah, apa kau lupa, ayahmu sangat ingin kau menjadi pengacara sukses, lalu sekarang dengan tiba-tiba ia melarang mu untuk kuliah, bukan kah itu aneh". Valentin berkata sambil menggeser Arimbi agar ia bisa duduk di antara kedua. sahabatnya itu
"aku tidak mengerti sama sekali, ayahku tak mengatakan apapun, biasanya jika aku melakukan kesalahan, ayah ku pasti langsung menegurku,jika kesalahan ku fatal ayah akan langsung menghukum ku saat itu juga".
"apa kau yakin, apa kau melewatkan sesuatu" Valentin menatap lavender.
__ADS_1
"tidak.. aku tak melewatkan apapun". mereka semua terdiam, lamunan mereka segera berakhir ketika seorang pria tampan dan muda berdiri di hadapan mereka lalu menarik lengan lavender dengan kasar. tubuh lavender terangkat dengan kasar.
"Pembangkang ".