
Valentin termenung, ia merindukan kedua sahabat nya itu. Entah mengapa ia tak bisa membuat pilihan, di satu sisi arimbi Dan lavender adalah sahabatnya, orang-orang yang akan melakukan segala cara untuk menolonnya menghà dapi semua masalah namun di sisi lain, ia sangat mencintai bryan pria tua yang sudah hampir 2 tahun ini menjadi sugar daddy nya .
"Kau tidak berangkat ke kampus hari ini sayang". Bryan menatap gadis yang tengah berbaring di sampingnya itu
"Tidak". Ujar Valentin, kemudian ia memainkan rambut panjang nya itu. Bryan menatap gemas gadis itu kemudian meraih wajah Valentin Dan mencium bibir Valentin dengan sangat rakus, tangan nya bertahan tapi pasti masuk ke dalam selimut Valentin. Gadis itu belum berpakaian sejak semalam, Valentin melakukan itu Karna ia Tau Bryan suka melihat Valentin tanpa pakaian, maka ia akan melakukan nya Selamat Bryan bahagia.
Valentin memejamkan matanya ketika Bryan menyentuh ujung dada gadis itu. Valentin menyukai Setiap sentuhan jemari Bryan, kini bukan hanya jemarinya yang masuk ke dalam selimut gadis itu, bahkan tubuh Bryan sudah berada di dalam selimut itu.
Valentin menahan nafasnya ketika Bryan bermain di bawah sana, sentuhan pria yang seumuran dengan ayahnya itu seperti candu Dan sanggup menyihir Valentin, hingga gadis itu tergila-gila dengan nya.
Gadis cantik itu meremas seprai, mencoba menahan rasa yang ia dapatkan Dari Bryan. Ia bahkan sengaja menahan teriakan nya.
"Apa kau akan memilih melindungi lavender Dari pada diriku sayang". Bryan sudah berada di atas Valentin sekarang, tubuh mereka bahkan sudah menyatu.
"Aku lebih memilih mu daddy". Ujar Valentin di iringi ******* yang entah sudah berapa Kali ia keluarkan. Ia bahkan tak memperdulikan panggilan Dari arimbi, baginya pria tua itu lebih penting Dari arimbi.
Namun valentin tak menyadari jika Bryan mengangkat telepon Dari arimbi. Di tempat lain, arimbi menggunakan speaker saat menelepon Valentin. Arimbi terlalu malas untuk memegang ponselnya , jadi lebih baik ia meletakkan nya di atas meja. Namun pilihannya untuk menghubungi Valentin kali ini ternyata salah
Alex, lavender juga arimbi, terpaku mendengar suara-suara ambigu yang keluar Dari ponsel arimbi, lavender bahkan sampai menutupi mulut nya dengan tangan. Keadaan mulai tak kondusif ketika mereka mendengar Valentin meracau meminta kenikmatan dari Bryan, maka Alex langsung meraih ponsel Arimbi dan mengaakhiri sambungan telepon itu.
Mereka bertiga saling diam, tak ada yang mampu berkata-kata. Apalagi arimbi, ia terlihat sangat terluka. Namun tiba-tiba saja Arimbi berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Kau mau kemana?". Ujar lavender.
"Aku, akan pulang.. lagipula hari sudah semakin larut". Jawab Arimbi.
__ADS_1
"Jangan pergi dulu". Lavender kemudian berjalan mendekati pemuda itu. Arimbi terlihat sangat sedih , bahkan matanya berkaca-kaca.
"Aku lelah lavender".
"Kemarilah". Lavender menarik tubuh arimbj dan memeluk pemuda itu.
Alex menatap mereka, hatinya mencelos melihat Arimbi mulai meneteskan air mata. Apakah itu yang yoga rasakan dulu, ujar Alex dalam hati. Jika iya, berarti ia sangat jahat sekali.
"Jangan berfikiran macam-macam .. istirahatlah, tenangkan pikiran mu ". Lavender menepuk pundak sahabatnya itu.
"Akan ku lakukan". Setelah mengatakan itu Arimbi pamit dan pergi meninggalkan villa.
"Dia pasti sangat kecewa". Lavender berjalan kembali ke arah Alex dan duduk di sisi nya.
"Ya, dia terlihat sangat sedih.. suara-suara tadi, ambigu". Alex tak dapat meneruskan kalimatnya.
"Ya.. ". Kemudian mereka berdua kembali terdiam, Alex dengan ingatan masa lalunya sedang kan lavender masih terpaku , ia sebenarnya shock mendengar ******* Valentin, namun ia kembali menyadarkan dirinya bahwa itu adalah jalan yang Valentin pilih.
Tak lama kemudian Alex bisa mendengar dengkuran sang kekasih, ia melirik lavender. Rupanya gadis itu sudah terlelap sejak tadi. Alex mengangkat tubuh lavender dan membawa gadis itu ke kamar. Dengan perlahan Alex melatak kan tubuh lavender di ranjang kemudian ia pun iku naik ke ranjang dan langsung memeluk lavender.
Fikiran Alex menerawang, tak menyangka bahwa Bryan dengan sangat tidak tau malunya menggunakan anak gadis orang lain untuk menyalurkan hasrat nya. Dan sekarang ia baru saja ingat, Valentin adalah gadis yang selalu ia lihat berada di sekitaran bryan.
Sekarang kecemasan Alex semakin bertambah, bagaiaman jika ternyata yang begitu menginginkan lavender adalah Bryan. Pasti Rangga akan menyerahkan putrinnya demi uang.
Di tempat lain, Valentin sedang terengah-engah dengan Bryan masih berada di atasnya. Pria tua itu tertidur begitu saja setelah habis-habisan mempermainkan tubuh indah Valentin. Dengan susah payah valentin menggeser tubuh berotot dan kekar bryan. Kemudian ia turun, dan mengecek ponselnya. Namun betapa kagetnya dia ketika ia melihat bahwa tadi dirinya sempat mengangkat panggilan telepon dari Arimbi.
__ADS_1
Namun, ia tak merasa telah melakukan itu. Valentin langsung berpaling dan menatap bryan. Valentin yakin Bryan lah yang telah melakukan itu.
Ponsel Arimbi berbunyi, namun Arimbi seolah tak perduli. Ia tengah menghabiskan minuman beralkohol miliknya yang sengaja ia simpan di kamarnya.
Dering ponsel itu sangat menganggu sekali, lalu ia meraih ponsel itu dan menerima panggilan Valentin.
"Apa". Ujar Arimbi.
"Apa kau mabuk". Valentin bersiap memaki Arimbi, namun ia mengurungkan nya ketika mendengar Arimbi berbicara.
"Bagaiamana rasanya bercinta dengan pria itu, apakah begitu nikmat sampai kau meracau mendesah bahkan berteriak meminta lebih.. apa kau tak tau malu.. hah". Arimbi terkekeh geli.
"Apa yang kau dengar itu salah". Valentin mencoba membuat Arimbi percaya pada dirinya.
"Oh, Valentin tubuh mu sangat nikmat.. ". Arimbi meniru kata-kata Bryan tadi. Wajah Valentin memerah, ia sangat malu.
"Hentikan Arimbi". Valentin mulai terisak dan memohon.
"Apa? Kenapa aku harus berhenti? Apa kau malu?". Arimbi tertawa lebih keras kini, namun meskipun mulut tertawa namun matanya menangis.
"Aku mohon Arimbi". Valentin terisak, memohon agar pria itu berhenti melakukan nya.
"apa kau tak malu Valentin? aku dan lavender saja malu mendengar suara ******* kalian berdua". Arimbi menjatuhkan dirinya ke lantai yang dingin itu kemudian mulai memukul-mukul lantai dengan tangannya.
"hentikan arimbi, hentikan..". Valentin tak menyangka ternyata lavender juga mendengarnya. rasa malu Valentin berlipat ganda kini,. Bagaimana tidak, ia mengencani calon mertua sahabatnya itu.
__ADS_1
"jangan hubungi aku lagi Valentin, apa kau mengerti". Arimbi menutup sambungan telepon nya . Arimbi meringkuk sambil merutuki kisah cintanya. begitupun Valentin, ia memeluk kakinya tubuhnya gemetaran, ia menyesali keputusan nya untuk menjadi kekasih Bryan namun semua sudah terlambat, ia sudah terlalu mencintai pria tua itu.
"maafkan aku ".