
Arimbi Masih setia menemani Valentin. Ia tak Mau menganggu gadis itu. Valentin terlihat sangat gugup ketika ber hadapan dengan Bryan, entah mengapa arimbi merasa bahwa gadis itu sedang meyembunyikan sesuatu.
"Apa kau sudah merasa lebih tenang?". Pemuda itu memulai percakapan.
" Ya , lumayan". Valentin mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Apa kau kenal orang itu?". Arimbi menggambarkan seorang Bryan.
" Hem, tidak". Valentin berusaha untuk menutupi segala kegundahan di dalam hatinya.
" Kenapa kau sangat gugup, relax saja". Arimbi menepuk pundak gadis itu.
" Arimbi, jika aku ternyata mengenal pria itu, apa kau Mau mendengarkan penjelasan ku". Arimbi tersenyum, ia memegang jemari Valentin.
" Tentu saja, kau sahabatku".
"Pria tua bangka itu, daddy sugar ku". Arimbi melongo, ia kemudian menampar pipinya sendiri.
"Apa kau sudah gila". Arimbi memukul meja kemudian menarik lengan Valentin
"Apa kau kekurangan uang, sampai kau menjadi.. ".arimbi tak sanggup meneruskan kata-katanya.
"Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali aku bertemu dengan nya di Paris 2 tahun lalu". Valentin tertunduk malu, ia harus mengakui sisi gelap dirinya pada Arimbi.
"Ia pantas menjadi ayah mu ". Arimbi meraih jemari Valentin, mencoba untuk menyadarkan Valentin jika yang ia lakukan itu salah.
"Aku terjebak Arimbi, aku tak sanggup jika harus berpisah darinya". Valentin mengangkat kepalanya kemudian menatap mata pemuda itu.
"Apa yang membuatmu tak sanggup berpisah darinya".
"Ia memperlakukan aku seperti ratu ketika aku bersama nya". Armibi tau kemana arah tujuan percakapan mereka.
"Jangan di terus kan". Arimbi kembali berdiri, ia tak tau harus melakukan apa sekarang. Lavender sedang dalam kesulitan Karna di paksa menikah dengan pria yang tak dia cintai, dan sekarang Valentin. Gadis itu malah terlibat cinta terlarang dengan seorang pengusaha sukses dan terkenal yang seumuran dengan ayah nya.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana?, Bryan tau aku tak bisa berbohong padanya". Valentin ikut berdiri dan berjalan mendekati Arimbi.
"Tinggalkan dia Valentin, jangan buang-buang waktu mu dengan si tua Bangka itu".
"Aku sangat mencintainya Arimbi". Valentin memegang lengan Arimbi, kemudian meletakan wajahnya di bahu pemuda itu.
"Kalau begitu, menjauhlah dari ku dan lavender ". Pemuda itu mundur, ia merasa Valentin sangat menjijik kan.
"Kenapa ". Mata Valentin mulai berkaca-kaca.
"Kau menjijik kan, kau menyerahkan tubuh mu pada si tua Bangka itu, bahkan kau lebih memilih tetap mencintai dia daripada aku dan lavender". Arimbi berbalik kemudia dengan cepat berjalan menuju mobilnya, dan meninggalakan rumah Valentin.
Gadis itu diam, ia bingung harus melakukan apa . Ia telah kehilangan kedua sahabatnya demi mempertahan kan perasaanya pada Bryan.
Ponsel Valentin berdering, nama Bryan tertera di sana. Gadis itu mendengarkan perintah dari Bryan, kemudian dengan perlahan memasuki mobilnya dan pergi untuk menemui kekasihnya itu.
Bryan menatap Valentin, gadis kecil itu tertunduk takut.
"Sayang, sekarang katakan padaku, di mana lavender berada". Ujar pria tua itu sambil menarik dagu Valentin.
"Apa kau yakin sayang, kau tak tau keberadaan lavender". Bryan mengangkat tubuh mungil Valentin kemudian menggendong nya seperti anak kecil.
"Aku tidak tau Daddy ". Valentin memang tidak tau keberadaan lavender, ia mengatakan yang sebenarnya.
"Baik jika begitu, aku tau kau tak pernah membohongi aku". Bryan langsung ******* bibir manis Valentin. Malam itu Valentin menghabiskan waktu bersama Bryan di atas ranjang. Bryan kesal Karna Valentin berusaha membohongi nya, hingga ia tak segan - segan memperlakukan Valentin dengan kasar. Namun alih-alih tersiksa, Valentin malah menikmati permainan Bryan.
"Kau bohongkan". Ujar lavender, ia menatap Arimbi
"Tentu tidak lavender, ia yang mengatakan nya pada ku, aku saja sampai bingung cara menanggapi pernyataan Valentin". Lavender menahan nafasnya, gadis itu Valentin. Lavender mengingat sosok sahabatnya itu, Valentin sangat polos dan lugu, ia bahkan rela menjomblo selama bertahun-tahun Karna tak ingin merasakan patah hati karna cinta itu ternyata menjadi simpanan pria tua kaya raya.
"Oh, Valentin yang malang". Ujar lavender
"Tidak, ia dengan sangat sadar melakukan itu, itu namanya cinta bukan paksaan". Ujar Arimbi, ia langsung memukul bahu lavender.
__ADS_1
"Ah kau benar..". Lalu mereka berdua tertawa, ada guratan kesedihan di wajah mereka berdua. Mereka tak dapat menerima kenyataan tentang Valentin.
"Apa kau tak mencoba menghubungi Alex".
"Aku tak ingin ia terlibat dalam pelarian ku". Lavender menatap bintang yang berterbaran malam itu. Sebenarnya ia sangat merindukan Alex.
"Dia sangat mengkhawatir kan mu lavender".
"Aku tau Arimbi, namun jika Bryan tau Alex terlibat dalam pelarian ku, maka semua perusahaan yang telah ia bangun dengan penuh pengorbanan itu akan hancur sia-sia, Bryan dan yoga akan melakukan apapun untuk menghancurkan Alexander dan on Rafael".
"Mereka bukan nya keluarga, tak mungkin Bryan melakukan hal itu pada Alex". Arimbi masih tak mengerti apa saja yang bisa di lakukan Bryan untuk menghancurkan orang-orang yang menghalangi jalan nya termasuk Alex dan Rafael.
"Contohnya aku, sudah sangat jelas seluruh orang di kota ini tau aku adalah calon istri Alex, namun dengan cara yang sangat licik, Bryan meminta ayah ku membatalkan pernikahan ku dengan Alex dan bertunangan dengan yoga". Lavender terseyum kemudia menatap Arimbi.
Akhirnya Arimbi paham apa yang terjadi kini. Benar kata Valentin, Bryan bukan orang yang mudah di hadapi. Namun Valentin juga lupa siapa Arimbi, keluarga Arimbi juga bukan keluarga sembarangan.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang". Arimbi sedikit frutasi sekarang.
"Kau kembalilah ke rumah mu, aku akan tetap di sini, ketika aku membutuhkan sesuatu, aku akan menghubungimu". Levender memeluk Arimbi kemudian menepuk punggung pemuda itu.
"Jaga dirimu, ingat jangan buka pintu untuk orang lain, dan kau pasti ingat ruang rahasia kita kan, jika merasa ada yang tidak beres kau harus masuk ke sana". Arimbi memegang bahu lavender.
"Siap ".
Lavender melamuk sepeninggal Arimbi, ia sangat merindukan alex. Pria itu itu sudah sangat melekat di hati lavender.
"Rupanya kau berada di sini". Lavender menoleh, ia langsung berdiri.
Lavender tak bisa berkata apapun ketika melihat Alex tengah berdiri di hadapannya. Pria tampan itu terseyum dengan manis kemudian berjalan mendekati calon istrinya itu.
Lavender yang sudah sangat merindukan Alex , langsung berlari dan memeluk pria itu, lavender sangat bahagia bia bertemu dengan Alex.
"Aku sangat merindukan mu". Ujar lavender. Mereka langsung berciuman. Lavender seperti tak mau melepaskan Alex.
__ADS_1
"Aku juga sangat merindukan mu". Jawab Alex sambil melepaskan ciuamn mereka.
"Bernafaslah dulu, apa kah ingin mati hah". Lanjut Alex sambil mencubit pipi lavender.