
Lavender duduk di atas ranjang berdebu, ia bahkan belum menganggu pakaian nya selama seminggu.
"Keterlaluan". Lavender menggerutu. Ia kemudian berdiri dan melempar piring berisi makanan itu ke wajah salah satu pelayan di rumah itu.
Pelayan itu tertunduk takut.
"Kalian ingin menyiksaku sampai mati, hah". Gadis itu berteriak.
"Maaf nona ". Pelayan wanita itu gemetaran di tatap oleh lavender.
"Apa aku ini kalian anggap sebagai binatang, hah.. aku bahkan belum mengganti pakaian ku Selama seminggu, kalian juga membiarkan ku tidur di atas ranjang yang kotor dan berbeda ini". Lavender langsung mendorong pelayan itu hingga terjatuh, kemudian dengan cepat berlari ke arah luar. Pelayan muda itu langsung berteriak dan memanggil semua penjaga untuk mengejar lavender.
Lavender berlari sekuat tenaga menuju kamarnya. Ia segera menguncinya dan berlari menuju pintu yang menghubungkan kamar itu dengan balkon ,ia membuka pintu itu selebar mungkin kemudian lavender berlari dan bersembunyi di bawah ranjang.
Para penjaga itu berhasil menerobos masuk kamar lavender. Dan berlari ke arah balkon.
"Kita kehilangan dia, lagipula gadis seperti apa dia, suka sekali melompati balkon, jika begini terus kita bisa mati ". Salah satu pengawal berdecak kesal, ya lavender sering kali melompati balkon untuk mengindari pengawal ayahnya.
Lavender menahan nafas nya ketika sang ayah memasuki kamar itu dan memukul satu persatu pengawalnya.
"Menjaga seorang gadis saja kalian tidak becus, dan apa yang kalian lakukan di sini, cepat cari dia dan bawa dia kembali ke rumah ini". Mata lavender berembun, ia tak menyangka ayahnya akan melakukan hal itu pada putri tunggal nya itu.
Lavender keluar dari kolong ranjangnya ketika pintu kamar itu telah tertutup sempurna. Perlahan lavender berjalan menuju kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya di dalam bathtub yang masih terisi air. Lavender mencari dompet serta ponselnya, ia juga mengambil semua uang tunai yang dia simpan di brangkas pribadinya.
Gadis itu tak membawa pakaian sama sekali, baginya uang lebih penting , ia bisa membelinya nanti. Lavender kemudian menghubungi Arimbi, meminta sahabatnya itu untuk datang menjemputnya. Sedangkan tugas Valentin mengintai keadaan rumah.
Ketika Valentin berkata keadaan rumah cukup aman, lavender langsung melompati balkon dan berlari ke arah mobil Arimbi. Dan tanpa pikir panjang Arimbi membawa lavender ke tempat yang tak ada seorang pun tau selain mereka bertiga.
"Kau tinggal di sini dulu, bahan makanan masih tersedia banyak sekali, kau aman berada di sini". Arimbi memeluk tubuh lavender dan menepuk punggung gadis itu.
__ADS_1
Arimbi langsung kembali ke rumah nya agar Rangga tak mencurigai nya. Lavender ingin sekali menghubungi Alex, namun ia urungkan, ia tak mau Alex masuk ke dalam masalah pelarian dirinya.
"Lavender melarikan diri". Bryan membentak Rangga.
"Maaf kan aku, aku tak tau jika anak itu begitu cerdik". Ujar Rangga, ia menundukan kepalanya, ia tak berani menatap Bryan. Bryan lebih menakutkan dari pada Rafael, dan itu terbukti nyata. Bahkan desas desus mengatakan bahwa, Bryan telah menghabisi nyawa mantan tunangan putranya beserta keluarga besarnya.
"Kalian segera datangi rumah Alex , intai pergerakan pemuda itu, jangan sampai ada yang terlewat". Bryan mengerahkan semua anak buahnya guna mencari keberadaan lavender.
"Aku sudah mengerahkan anak buahku untuk mendatangi semua rumah teman - teman putriku". Rangga mencoba meresahkan emosi Bryan.
"Bawa semua teman-teman lavender ke sini, aku akan memberikan tawaran pada mereka yang mengetahui keberadaan calon menantu ku". Ujar Bryan.
"Putriku tak memiliki banyak teman, ia hanya punya 2 orang sahabat, malam ini juga aku akan membawa mereka padamu".
Rangga meminta izin pada orang tua Arimbi juga Valentin, untuk membawa mereka. Kini Valentin tengah duduk di dalam ruang kerja Rangga, Arimbi melirik Valentin. Gadis itu cukup tenang.
"Ya trus aku harus apa, aku tak tau kemana lavender pergi, jadi untuk apa aku takut". Valentin sengaja mengeraskan suaranya, ia tau pasti ada cctv atau alat penyadap di ruangan itu.
"Ya, kau benar.. tapi sahabat kita menghilang, apa kau tak khawatir". Arimbi mengikuti permainan Valentin
"Sahabat kita itu bukan anak kecil yang akan mati begitu saja di jalanan, ia sanggup untuk melakukan apapun, kau tenanglah dulu". Valentin tersenyum.
Pintu ruangan itu terbuka, Rangga dan Bryan masuk. Langka kaki kedua pria paruh baya itu membuat mata Arimbi dan valentin menoleh, betapa kagetnya Valentin melihat siapa yang datang.
Tanpa sadar Valentin langsung berdiri dari tempat ia duduk.
"Apa yang kau lakukan, duduk lah". Arimbi menarik lengan Valentin, hingga gadis itu kembali duduk di samping nya.
"Ada apa dengan mu". Bisik Arimbi.
__ADS_1
"Tutup mulut mu Arimbi, kita berurusan dengan orang yang salah". Ujar Valentin. Wajahnya menjadi lebih tegang, namun ia berusaha untuk kembali tersenyum.
"Jadi, apa kalain mau mengatakan kepada kami di mana lavender berada". Rangga menatap kedua muda mudi itu.
"Kami sudah katakan sejak awal, kami tidak tau.. lagipula beberapa hari yang lalu kami mendatangi om Rangga bukan , om Rangga yang bilang lavender melarikan diri Karna tak mau menikah dengan Alex, sekarang megapa om Rangga mulai mencurigai kami? ". Dengan sangat lancar dan berani Valentin mengutarakan isi hatinya.
Namun begitu, Valentin tak bisa dan tak mau menatap mata Bryan.
"Kau benar Valentin, om Rangga anda sangat mencurigakan". Arimbi langsung berdiri dari tempatnya duduk.
"Siap yang menyuruh mu untuk berdiri". Rangga membentak arimbi.
"Om Rangga, jangan macam-macam dengan ku ataupun valentine, kami bukan lavender yang bisa kau bentak SE enaknya, aku dan Valentin bisa mengadukan perbuatan mu pada orang tua kami". Arimbi berjalan ke arah pintu sambil menggenggam jemari Valentin .
"Tunggu dulu". Dada Valentin naik turun mendegar Bryan berusaha menghentikan langkah kaki mereka berdua. Namun Arimbi sama sekali tak gentar, ia terus melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
"Aku bilang berhenti, jangan sampai salah satu dari kalian menyesal karna sudah membangkang". Suara Bryan memenuhi ruangan. Arimbi langsung menatap Valentin, ia tau ada yang tidak beres pada Valentin. Telapak tangan Valentin basah, tubuhnya gemetaran. Arimbi menyentak tangan Valentin, agar gadis itu menatap mata nya.
"Jangan takut, ada aku di sisimu, aku akan melindungi mu dan lavender bagaimanapun caranya". Valentin menatap nerta indah Arimbi. Ia sangat mempercayai pemuda itu, namun lawa mereka kali ini bukan orang biasa.
Arimbi berbalik kemudian, memasuki kembali ruangan itu.
"Kalian tengah mengancam kami". Pemuda itu menyeringai.
"Kami tidak mengancam kalian, hanya saja jika kalian bersikap kurang ajar padaku, bisa ku pastikan hidup kalian tidak akan baik-baik saja". Bryan menatap Arimbi, pemuda itu seperti tak memiliki rasa takut saja.
"Sebelum mengatakan hal itu baiknya kian berdua pelajari dulu latar belakangku tuan-tuan, aku bukan lah pemuda yang bisa kau sentuh begitu saja". Arimbi menatap lurus ke arah Bryan.
"Dan kau orang tua, lebih baik kau jaga pandangan mu dari para gadis muda yang cocok untuk jadi putrimu, dasar tidak tau malu".
__ADS_1