
...~Happy Reading~...
Hari Senin kemudian...
Hari ini semua murid SMA Tunas Bangsa harus melaksanakan Ulang Tengah Semester yang sudah mereka rencanakan beberapa waktu lalu, bahkan sebagian siswa sudah mempersiapkan dirinya dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai yang sempurna.
Amber memasuki ruang kelas dengan wajah yang dia tekuk, beberapa hari ini dia rela begadang untuk belajar sendirian tanpa di bantu oleh Rehan tentunya. Setelah kejadian di mana dirinya mengeluarkan darah di hidung, dia memutuskan untuk berhenti meminta tolong pada Rehan untuk membantu dirinya belajar.
Rehan awalnya biasa-biasa saja karena sepertinya Amber akan belajar sendirian untuk mandiri, tapi lama-kelamaan pemuda itu merasa rindu belajar bersama dengan gadis bernama Amber tersebut.
"Kamu baik-baik saja? Belum mulai kamu sudah lesu aja," ujar Rehan saat baru menyadari kedatangan Amber.
"Aku lelah setiap hari harus belajar buat Ulangan Tengah Semester," jawab Amber lalu duduk di bangkunya.
"Walaupun mempersiapkan diri untuk Ulangan tetap saja kamu harus banyak istirahat karena tubuh mu akan mudah sakit jika di paksakan," ujar Rehan membuat Amber tersenyum tipis.
"Makasih, ya?"
Rehan menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan kegiatannya untuk belajar sebelum bel masukan berbunyi, waktu selama dua haru itu tidak cukup baginya untuk mempelajari materi-materi yang lama.
Berapa lama kemudian Adiva dan Oliver datang secara bersamaan sambil berbicara dengan serius, mereka berdua lantas menghampiri bangku mereka masing-masing. Adiva mengerutkan keningnya bingung melihat Amber sedang menutup wajahnya menggunakan buku tebal fisika, karena penasaran akhirnya dia menghampiri Amber.
"Amber? Kamu tidur, ya?" tanya Adiva menepuk pundak kanan Amber.
Karena merasa tidurnya di ganggu oleh seseorang, Amber langsung mengangkat kepalanya saat Adiva menepuk pundak kanannya tersebut. Amber menatap gadis itu dengan tatapan datar, berani dia menganggu tidurnya.
"Iya. Jadi jangan ganggu aku!" jawab Amber terdengar kasar.
Amber meletakan kedua tangannya ke atas meja, lalu meletakan kepalanya di atas tumpukan tangannya tersebut. Memejamkan kedua matanya untuk pergi ke alam mimpi sebelum bel masukan akan berbunyi, setidaknya dia bisa tidur sebentar sebelum bel masukan berbunyi nanti.
"Aneh! Ada apa dengan dia?" tanya Adiva pada Oliver.
"Mungkin dia lelah setiap hari harus belajar?" opini Oliver mendapatkan anggukan setuju dari yang lain.
"Mungkin!" jawab mereka.
Sementara Rehan menatap Amber dengan tatapan yang sulit di artikan, emang ada yang aneh dengan wajah lelah Amber. Apa lagi Amber berapa hari ini selalu menolak ajakannya untuk belajar bersama, tapi Rehan merasa itu cuman Amber ingin belajar seorang diri.
Apa jangan-jangan dia lagi sakit? batin Rehan mulai berpikir negatif tentang Amber.
Amber selama ini selalu diam kalau itu bersangkutan dengan hal pribadinya, itu lah kenapa Amber selalu mengurus masalahnya sendirian tanpa di bantu oleh orang lain.
Brak...
Elvan memukul meja belajarnya dengan keras membuat seisi kelas langsung menatapnya dengan tatapan yang berbeda, bahkan Nanda langsung terjatuh dari kursi karena terkejut.
__ADS_1
"Jadi kamu sama Adiva sudah jadian?!" tanyanya dengan terkejut.
Amber langsung mengangkat kepalanya saat mendengar kalau Adiva dan Taksa sudah jadian, bagaimana bisa pemuda itu bisa dekat dengan Adiva?
"Sejak kapan?" bukan Amber yang bertanya melainkan Oliver yang bertanya pada Adiva.
Adiva langsung tersipu malu, lalu menutup wajahnya menggunakan buku pelajaran.
"Kemarin siang!" jawab Taksa dengan lantang.
"Dia nembak kamu di mana?" tanya Oliver penasaran.
"Secara chating sih!" jawab Adiva malu.
"Sialan! Kamu cuman berani nembak dia secara chating aja? Gak berani nembak secara langsung?! Pengecut!"
Sekarang seisi kelas langsung menatap Amber yang tiba-tiba saja beranjak dari bangkunya lalu menatap Taksa dengan tatapan tajam, apa lagi mendengar Amber menyumpat secara langsung.
"Ternyata kamu menjadikan Adiva sebagai korban mu selanjutnya, ya? Kasian kekasih mu yang lain pasti mereka belum tau kalau mereka di jadikan korban mu kesekian kalinya," ujar Amber.
"Adiva? Seharusnya kamu jangan terima dia menjadi kekasih mu! Kamu belum kenal sepenuhnya dengan Taksa," ujar Oliver pada Adiva.
"Kata siapa? Aku sudah kenal dengannya! Bahkan kami dekat sudah sebulan lebih," jawab Adiva tak suka.
"Hanya sebulan, 'kan? Belum setahun atau sepuluh tahun?" tanya Amber meliriknya dengan lirikan tajam.
"Kamu suka, 'kan sama Taksa?" tanya Adiva membuat Dylan dan Rehan langsung tersedak.
Amber membulatkan kedua matanya sempurna, dari segi mana dia menyukai Taksa? Bahkan Amber mengetahui keburukan Taksa dari semua teman dekatnya.
"Dari segi mana pula aku suka sama Taksa? Aku tanya... Emangnya dari wajah ku ini terlihat sedang menyukai seseorang?" tanya Amber mendudukkan dirinya di bangku.
Adiva dan Oliver sama-sama menatap manik mata Amber, di mana mata Amber terlihat sedang serius bahkan Amber terlebih seperti tidak menyukai seseorang.
"Aku belum memikirkan hal seperti itu! Karena perjalanan ku masih panjang dan tugas ku sekarang harus menyelesaikan sekolah ku terlebih dahulu baru aku memikirkan pasangan," sahut Amber dengan wajah datar.
Dylan sama Rehan sama-sama menatap Amber yang sedang menutup kepalanya menggunakan buku tebal, bukan karena apa melainkan gadis itu sedang pusing sekarang.
Sialan! Jangan pusing dulu sebelum ulangan di mulai, batin Amber menahan air matanya yang akan keluar dari kelopak mata.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Bel istirahat pertama sudah berbunyi berapa menit yang lalu, tapi Amber sama sekali tidak keluar kelas. Dia masih duduk sambil membaca bukunya dengan tatapan serius, berulang kali dia membersihkan hidungnya yang dari tadi terus-terusan keluar.
"Apakah penyakit ku akan kambuh?" tanya Amber dengan suara pelan.
__ADS_1
Ingat. Di kelas itu hanya tersisa lima orang saja, jadi tidak mungkin Amber akan bertanya dengan suara lantang dan keras.
"Kepala ku sakit!"
Amber sudah gagal untuk menahan rasa sakitnya di kepala, karena nyatanya sakit di bagian kepala yang dia alami itu bukan main-main. Empat orang yang kebetulan berada di dalam kelas langsung panik karena Amber mengeluh rasa sakit di bagian kepala, bahkan Amber sudah terduduk lemas di bawah lantai sambil memegang kepalanya.
Siti dan yang lainnya langsung beranjak dari bangku mereka menuju Amber berada, mereka langsung menghampiri Amber yang sedang meringis kesakitan.
"Amber? Amber? Kamu baik-baik saja?" tanya Siti dengan perasaan khawatir.
Pluk...
Tangan kecil Nina mendarat sempurna di kepala Siti, karena dia kesal dengan Siti yang bertanya pada Amber.
"Bodoh! Dia sudah mengeluh sakit kepala jadi dia tidak baik-baik saja!" jawab Nina mengelus keningnya dengan kasar.
"Lalu bagaimana?" tanya Siti menatap ketiganya.
"Panggil laki-laki ke sini buat bawa Amber ke UKS!" jawab Nina membuat Siti ingin beranjak.
"Jangan! Sepertinya aku masih bisa bertahan," sahut Amber.
Tangan Amber menahan tangan Siti yang ingin beranjak itu, seketika tangan Amber langsung di jauhkan dari tangan Siti.
"Kamu kayaknya lagi sakit! Jadi kamu harus beristirahat agar tidak makin parah," ujar Nina mendapatkan anggukan dari teman-temannya.
"Tidak apa-apa! Habis pulang sekolah nanti aku bisa tidur," jawab Amber tersenyum pada mereka agar mereka percaya dengan jawaban Amber.
Keempatnya tentu menganggukkan kepala mereka, mereka kira Amber akan beristirahat dengan benar. Nyatanya gadis itu rela menunda tidur malamnya untuk belajar, dia takut kalau orang tuanya akan bertambah benci dengannya jika dirinya gagal mendapatkan nilai yang sempurna.
Keempat temannya itu langsung beranjak dan meninggalkan Amber yang sudah duduk di bangkunya, Amber meletakan kepalanya ke atas meja belajar agar sakit kepalanya sedikit mereda.
Berapa menit kemudian...
Suara bel masukan sudah berbunyi membuat seluruh siswa-siswi yang ada di luar kelas langsung melangkah masuk. Amber yang sedang tertidur sebentar di kelas langsung terbangun dan cepat-cepat mengusap wajahnya yang masih terasa mengantuk.
"Sana kamu cuci muka di kamar mandi! Ku lihat kamu kayaknya tidur tadi," ujar Rehan pada Amber.
Amber langsung menoleh ke arah Rehan, di mana pemuda tersebut tersenyum lembut padanya.
"Makasih!"
Amber beranjak dari bangku lalu membawa kedua kakinya untuk melangkah keluar kelas, pokoknya dia harus bisa bertahan untuk hari ini agar bisa mengikuti Ulangan sampai jam berakhir. Apa lagi Ulangannya berlangsung sampai tujuh hari, di mana Senin dan Selasa depan masih melaksanan Ulangan Tengah Semester.
"Dylan? Kamu merasa aneh dengan Amber tidak? Kayaknya dia terlihat lelah dari tadi pagi?" tanya Abian.
__ADS_1
Dylan tak menjawab tapi matanya masih menatap pintu kelas yang terbuka lebar itu, sebenarnya bukan cuman orang lain saja yang menyadari perubahan wajah Amber tapi dirinya juga.
Bersambung...