
...~Happy Reading~...
Keesokan harinya...
Pagi yang cerah dengan sinar matahari menembus dari balik gorden kamar, Adiva menggeliat saat sinar matahari mengenai kedua matanya sehingga dia merasa silau.
"Ngapain matahari menyinari tuan putri?" tanya Adiva mengusap kedua matanya pelan.
Amber yang kebetulan baru bangun itu mendadak ingin muntah mendengar ucapan Adiva, lalu Amber langsung beranjak dari ranjang dan menatap Adiva dengan tatapan malas.
"Bangun! Kita harus mandi dulu," ujar Amber.
"Gak mau!" Jawab Adiva terdengar menyebalkan menurut Amber.
"Oke lah!"
Amber meraih sapu yang ada di pinggir tembok lalu melayangkan sapu tersebut ke arah Adiva, dengan tatapan tajam lalu meminta Adiva untuk mandi terlebih dahulu.
"Mandi sana! Aku mau masak buat kita dulu,"
Adiva langsung ciut saat Amber memarahinya dengan cara melayangkan sebuah sapu padanya, lantas dia beranjak dari ranjang lalu berlari kecil ke arah kamar mandi.
"Sumpah! Sikap dia mirip seperti anak kecil," gumam Amber menatap pintu kamar mandi dengan aneh.
Amber merasa kalau Adiva mirip seperti anak kecil, karena sikapnya yang ingin di mengerti dan ingin Amber menuruti keinginannya. Lalu tanpa pikir panjang lagi Amber melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dia harus memasak makanan untuk mereka berdua nanti.
Mana mungkin Amber membiarkan Adiva memasak sementara dirinya menginap selama seminggu di sini, apa lagi orang tua Adiva sudah baik dengannya. Amber benar-benar sibuk di dapur, karena dia harus memasak semua bahan makanan yang hanya sisa sedikit di dalam kulkas.
"Apa aku harus membawanya ke rumah sakit? Takutnya malah gila," ujar Amber sedikit meringis.
Amber takut kalau Adiva tiba-tiba gila karena sikapnya, lalu aktifitas terganggu saat mendengar teriakan dari lantai atas. Dia menatap lantai atas dengan tatapan malas, lalu keluarkan Adiva dengan rambut yang basah.
"Amber? Masa tadi aku muntah," ujar Adiva memberitahu.
Amber memejamkan matanya mendengar keluhan dari Adiva, jadi sekarang gadis itu muntah? Harus, 'kah dia mengantar Adiva ke rumah sakit? Untuk memeriksa penyakit Adiva?
"Iya! Nanti kita ke rumah sakit buat periksa!" jawab Amber dengan sabar.
"Gak mau! Aku takut kalau Dokter malah memberikan suntikan," sahut Adiva langsung berteriak histeris.
Tante! Paman! Semoga kalian berdua cepat pulang, batin Amber menahan kepalanya yang terasa pusing.
Lalu Adiva melangkahkan kakinya turun dari anak tangga, lalu menatap Amber dengan tatapan gembira. Wajahnya segar karena barusan saja dia mandi di pagi hari, mendudukkan dirinya di salah satu kursi dekat meja makan.
"Kamu gak mau bantu aku?" tanya Amber dengan tatapan penuh harap.
"Gak deh! Soalnya aku takut minyak gorengnya meletus," jawab Adiva polos.
__ADS_1
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Sepanjang koridor rumah sakit Amber masih setia menarik tangan Adiva untuk menuju ruangan, dia sudah tidak tahan dengan sikap Adiva yang aneh ini. Bahkan saat selesai makan gadis itu malah muntah di depannya, ayo lah nafsu makannya tiba-tiba langsung hilang melihat Adiva berusaha memuntahkan isi perutnya menuju wastafel.
"Kita ngapain sih di rumah sakit? Aku gak saki kok," ujar Adiva berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Amber.
"Gak! Kayaknya kamu lagi sakit deh," jawab Amber tanpa menatap Adiva.
Lalu keduanya sudah sampai di depan ruangan Dokter Ridwan, lalu mendorong tubuh Adiva secara pelan takut gadis itu akan menangis.
"Assalamualaikum, Yah!" sapa Amber saat keduanya sudah masuk.
Dokter bernama Ridwan itu lantas menoleh ke arah Amber, di mana gadis itu sedang membawa temannya dengan raut wajah kesal.
"Waalaikumsalam!" jawab Dokter Ridwan. "Ada apa Amber?" tanyanya penasaran.
Lalu Amber menarik Adiva untuk duduk di sebelahnya, dan menatap Dokter tersebut dengan tatapan sedih.
"Ada apa? Penyakit kamu kambuh lagi?" tanyanya dengan khawatir.
"Bukan gitu, Yah!" jawab Amber setelah itu menghela napas terlebih dahulu. "Jadi akhir-akhir ini Diva teman saya selalu bersikap aneh... Terus sikapnya itu mirip seperti anak kecil," jelas Amber melirik ke arah Adiva.
"Pokoknya dia benar-benar aneh, Yah! Tiba-tiba saja mengajak Amber untuk makan seblak seperti orang mengidam," tambah Amber terdengar kesal.
"Kenapa gak bawa dia ke Dokter kandungan aja?" tanya Dokter Ridwan menampilkan senyuman manis ke arah Amber.
Lalu Amber tiba-tiba saja terdiam di tempat duduknya, mengingat kalau Adiva pernah melakukan hal itu pada Taksa. Setelah itu kedua tangannya terkepal kuat menahan amarahnya pada Taksa, karena ulah Taksa sikap gadis itu tiba-tiba saja aneh padanya.
"Jadi Adiva lagi hamil, ya?" tanya Amber menatap Dokter Ridwan dengan tatapan sendu.
"Mungkin saja!"
Lalu setelah itu Amber memberikan salam sebelum keluar dari ruangan, lalu menarik tangan Adiva menuju ruang Dokter kandungan. Dia benar-benar penasaran apa penyebab gadis itu bertingkah seperti anak kecil?
"Permisi!"
Amber mengetuk pintu ruangan itu berkali-kali, barulah seseorang yang merupakan Dokter kandungan itu menoleh ke arah pintu.
"Iya? Silakan masuk,"
Amber lagi-lagi menarik tangan Adiva untuk masuk ke dalam, karena dia ingin tau apakah gadis itu sedang mengandung?
Setelah itu keduanya duduk dengan tenang walaupun Adiva berkali-kali meminta untuk pulang ke rumah secepatnya, Amber langsung menatap Dokter perempuan tersebut dengan tatapan memohon.
"Dok? Saya mau antar Kakak saya untuk periksa kandungan," ujar Amber berbohong kalau keduanya adalah saudara.
"Baiklah!"
__ADS_1
Dokter dan Adiva langsung masuk ke balik tirai berwarna hijau tua, menyisakan Amber yang sedang menghela napas panjang karena terlalu pusing. Setelah cukup lama memeriksa Adiva di Dokter kandungan, akhirnya keduanya keluar dari balik tirai lalu menuju bangku mereka masing-masing.
"Selamat! Karena Kakak kamu sudah mengandung. Usia kandungannya sudah seminggu,"
Amber menjatuhkan rahangnya ke bawah, dia gak salah dengarkan? Kalau Adiva sedang mengandung?
Sialan! Awas aja kalau Taksa tak ingin bertanggung jawab, batin Amber melirik ke arah Adiva sekilas.
"Kenapa terkejut seperti itu? Emangnya Kakak kamu hamil di luar nikah?" tanya Dokter itu menatap keduanya dengan tatapan bingung.
Deg...
Entah kenapa pertanyaan itu membuat Adiva mulai menangis sedih, karena ucapan Dokter itu benar kalau dia hamil di luar nikah.
"Enggak, Dok! Kami berdua sudah punya suami cuman... Suaminya nitip ke saya buat nemani dia periksa," jelas Amber canggung.
Dokter itu mengangguk paham dengan jawaban Amber, lalu memberikan beberapa resep obat pada Amber.
"Kamu tebus obatnya di apotek, ya? Terus juga jangan lupa berikan susu ibu hamil,"
"Iya, Dok!"
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Amber menghempaskan tubuhnya di kasur, lalu menatap langit-langit kamar Adiva dengan tatapan sendu. Selama dua hari ini dia benar-benar lelah dengan sikap Adiva, ternyata gadis itu sedang mengandung.
Pantasan saja sikapnya seperti anak kecil, lalu menatap Adiva yang sedang mengerutkan keningnya aneh. Adiva juga sedang menatapnya dengan kesal, Amber berjanji padanya untuk mengajaknya bermain di lapangan bermain tapi Amber malah membawanya ke rumah sakit.
Tentu saja Adiva kesal dengan Amber, karena mengingkari janji. Lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang membuat Amber memekik kaget, ingatkan kalau Adiva sedang mengandung dan takut kalau anak Adiva terjadi sesuatu.
"Diva? Kamu lagi mengandung!" pekik Amber membuat Adiva menoleh.
"Biarin! Kamu tadi ingkar janji katanya mau ke lapangan bermain tapi malah ke rumah sakit," jawab Adiva santai.
"Aku ngajak kamu ke rumah sakit itu karena takut kamu tiba-tiba gila benaran," gumam Amber.
Untung saja Adiva tak mendengar gumaman Amber, jika saja gadis itu mendengar gumaman nya mungkin saja dia akan marah besar dengan Amber.
Semoga saja orang tuanya Adiva pulang dengan cepat biar aku terhindar dari sikap anehnya ini, batin Amber melirik Adiva sekilas.
Lalu Adiva menarik tangan Amber untuk keluar dari kamar, dan membawanya ke ruang tengah. Amber tentu saja bingung dengan Adiva yang tiba-tiba mengajaknya ke ruangan tengah untuk menonton film kartun, dan membawanya untuk duduk di sofa.
"Kamu temani aku nonton kartun, yuk?" ajak Adiva.
Amber hanya mengangguk dan menyenderkan kepalanya pada kepala sofa, kedua matanya menatap layar televisi yang sudah menyala. Tayang lah kartun nya waktu kecil, si kembar yang gak pernah tumbuh-tumbuh.
Si Adiva tidak menyadari kalau Amber sudah tertidur di sebelahnya, menutup wajahnya menggunakan buku majalah yang ada di atas meja ruang tengah. Membiarkan Adiva menonton sendirian tanpa di temani oleh Amber, karena gadis itu sudah kelelahan membawa Adiva ke rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung...