Calon Malaikat Kecil

Calon Malaikat Kecil
22. Masalah


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Sekarang suasana di ruang tengah sangat hening, karena dari tadi Amber masih memejamkan matanya enggan untuk membuka mata untuk berbicara dengan Adiva. Setelah menunggu selama sepuluh menit akhirnya gadis itu membuka matanya lalu menoleh ke kiri, di mana Adiva menatap dirinya sedari tadi.


"Kamu jangan pernah berpikir seperti itu! Apa lagi ada nyawa yang harus kamu perjuangin," ujar Amber menatap perut rata Adiva.


"Aku takut kalau Ayah dan Ibu akan marah besar dengan ku," sahut Adiva menggigit bibir bawahnya takut.


"Mungkin mereka berdua mengerti kalau kau di paksa oleh Taksa!" ujar Amber menggelengkan kepalanya pelan.


"Tapi... Aku juga menginginkan nya," cicitnya.


Brak...


Amber menendang meja ruang tengah dengan kasar, pantasan saja gadis itu pasrah kalau ternyata dia juga menginginkan Taksa untuk melakukan hal macam seperti itu. Amber menatap Adiva dengan tatapan tajam, sementara gadis itu menundukkan kepalanya takut untuk menatap gadis tersebut.


"Kenapa kamu ingin melakukan hal itu?" tanya Amber dengan nada lirih.


"Sebenarnya aku tau kalau selama ini Taksa memiliki banyak kekasih tapi aku berusaha untuk tidak memikirkan nya dan berharap Taksa akan mencintaiku selamanya," jelas Adiva.


Amber masih diam walaupun matanya tak bisa di kondisikan, dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan otak Adiva tentang masalah ini. Gadis itu membiarkan Taksa untuk menghancurkan masa depannya, lalu kenapa gadis itu hanya diam saat dia tau kalau pemuda brengsek itu memiliki banyak kekasih?


"Aku terpaksa harus memasrahkan diri untuk melakukan itu agar Taksa akan bersama ku selamanya," sahut Adiva membuat Amber yang melamun tadi langsung sadar.


"Serah kamu!"


Amber beranjak dan melangkahkan kakinya meninggalkan Adiva sendirian di ruang tengah, kepalanya benar-benar pusing untuk memikirkan Adiva yang mau saja pasrah dengan tindakan Taksa ternyata gadis itu juga tidak ingin kalau Taksa akan memilih orang lain.


"Aku benar-benar menyesal! Seandainya waktu bisa terulang kembali mungkin saja sekarang aku masih berbahagia dengan teman-teman ku,"


Adiva memukul kepalanya untuk meredakan rasa marah dan malu, Adiva malu menceritakan masalahnya dengan Amber makanya dia baru sekarang memberitahu.


Sementara di dalam toilet lantai bawah, Amber mendudukkan dirinya di lantai lalu memegang kepalanya yang berdenyut sangat kencang. Sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Adiva sendirian di ruang tengah, tapi karena kepalanya teramat sakit makanya dia langsung bergegas ke dalam toilet untuk menahan rasa sakitnya.


"Ku mohon! Jangan menyiksa ku seperti ini!" pekik Amber tertahan.


Dia tidak ingin Adiva tau tentang penyakitnya, biarkan dirinya, Tante Tina dan Dokter Ridwan yang mengetahui penyakit yang ada di dalam diri Amber.


"Jangan kambuh!"


Amber berkali-kali tidak bisa berdiri dari lantai, tapi selalu gagal karena rasa sakit pada kepalanya masih ada dan bertambah parah. Kedua kakinya sengaja dia luruskan lalu menyenderkan kepalanya pada dinding tembok toilet, memejamkan matanya berharap rasa sakit akan mereda.


Di waktu yang bersamaan keduanya sama-sama menangis dengan keadaan mereka, Adiva yang menyesal atas perbuatannya sambil mengelus perutnya yang berisi buah hati. Sementara Amber menangis karena rasa sakit pada kepalanya kian bertambah, hanya mereka dan Tuhan yang tau atas penderita mereka.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Malam hari sekitar pukul tujuh, Amber rencananya akan memasak makan malam untuk mereka berdua tapi isi kulkas ternyata kosong.

__ADS_1


Apakah dia harus membeli mie instan di minimarket terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa lapar mereka?


"Diva? Aku keluar bentar, ya?" pamit Amber pada Adiva.


"Mau ke mana?" tanya Adiva mengerutkan keningnya bingung.


"Aku mau ke minimarket buat beli mie instan! Ku liat isi kulkas kosong," jawab Amber jujur.


Adiva mengangguk paham dan ikut bersiap-siap, Amber mengerutkan keningnya menatap Adiva sedang memasang jaket pada tubuhnya itu.


"Kamu jangan ikut! Ingat ada bayi dalam perut mu,"


Lalu Amber melangkah pergi keluar dari rumah Adiva, membuat Adiva langsung melamun menatap punggung Amber yang mulai menghilang dari balik pintu. Amber mengerutkan keningnya saat baru sadar bahwa dia tidak tau arah menuju minimarket, bahkan Amber langsung keluar saja tanpa bertanya langsung pada Adiva.


"Mungkin bertanya dengan orang-orang sekitar," gumam Amber.


Sudut bibir Amber mulai terangkat saat melihat sekumpulan anak laki-laki di depan gang, Amber berlari kecil ke arah sekumpulan laki-laki tersebut. Amber menunduk sopan saat berhadapan dengan mereka semua, entah kenapa Amber sedikit takut berhadapan dengan mereka karena jumlah mereka sangat banyak.


"Permisi! Boleh, 'kah saya bertanya tentang menuju minimarket terdekat?" tanya Amber.


Salah satu dari mereka langsung bersiul saat Amber berada di dekat mereka, tubuh Amber langsung menegang mendengar siulan darinya itu.


"Boleh!"


"Jalan menuju minimarket di mana, ya?" tanya Amber mengatur napasnya terlebih dahulu.


"Tidak usah! Kalian bisa memberitahu ku ke arah minimarket," jawab Amber cepat.


"Baiklah! Kamu jalan saja di depan lalu belok ke kanan pasti di sana sudah ada minimarket," jelasnya sambil mengeluarkan smirk.


Amber mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada mereka yang sudah berbaik hati memberitahu jalan menuju minimarket, setelah Amber mulai menjauh barulah mereka melangkah kaki mereka untuk menyusul Amber. Sebenarnya mereka tidak memberitahu jalan menuju minimarket, tapi malah memberikan jalan buntu.


"Sepertinya aku tidak pernah melihatnya di sekitar sini," ujar salah satu dari mereka.


"Bukan, 'kah itu sebuah keberuntungan? Jadi kita bisa menipunya dan bermain-main dengannya?" tanya sang Ketua dengan senyuman tipis.


Mereka langsung menarik kedua sudut bibir mereka saat melihat Amber menatap jalanan buntu itu dengan tatapan bingung, bukan kah mereka tadi memberitahu jalan menuju minimarket berada di belok kanan?


Saat Amber membalikkan badannya, dia melihat kelima pemuda yang sempat berkumpul di depan gang dengan pakaian berantakan.


"Di mana minimarket nya?" tanya Amber menahan diri untuk tidak menangis.


"Tidak ada!" jawab sang ketua dengan nada santai.


"Terus... Kalian mau ngapain?" tanya Amber memundurkan langkahnya.


Amber benar-benar tidak bisa bernapas saat kelima pemuda itu malah mendekatkan diri ke arah nya, dengan perasaan panik akhirnya Amber berlari untuk mencari tempat selamat dari mereka. Amber berlari menuju balik pohon besar dan mendudukkan dirinya dengan kasar, lalu menatap kelima pemuda yang sibuk mencarinya sambil berpencar.

__ADS_1


Ya Allah! Bantu hamba, batin Amber memejamkan matanya akibat kelelahan.


Brak...


"Bos! Dia ada di sini!!" teriak pemuda yang menggunakan kaos hitam.


Amber langsung membuka matanya saat mendengar teriakan dari pemuda tersebut, berusaha untuk bangkit tapi sayang pemuda itu malah menahan kepalanya agar tidak bisa bangkit dari duduk.


Sialan! umpat Amber di dalam hati.


Sang ketua langsung berlari menghampiri keduanya, dan mengeluarkan smirk saat bertatapan dengan mata Amber.


"Ternyata kau di sini, ya? Kenapa menghindar?" tanya Sang ketua lalu menarik dagu Amber agar menatap kedua matanya.


Karena Amber tak berani menatap mata laki-laki tersebut, akhirnya dia memejamkan matanya untuk menghindari kontak mata di antara mereka berdua. Dia berharap agar ada seseorang yang menolongnya dari sekumpulan pemuda ini, siapa pun orangnya Amber berjanji suatu hari nanti Amber dapat membalas jasa tersebut dengan baik.


Brak...


Sang ketua langsung terpental agak jauh dari Amber, lalu sang ketua menatap pemuda yang sudah melayangkan sebuah pukulan di pipi kirinya.


"Sedang apa kalian dengan nya?!" tanya pemuda itu dengan tatapan tajam.


"Aduh, Kak! Kami hanya bermain-main dengannya," jawab sang ketua mendapatkan anggukan setuju dari teman-temannya.


Rahang pemuda tersebut langsung mengeras, mendengar jawaban yang sangat menyebalkan baginya. Dia langsung memberikan sebuah pukulan lagi pada sang ketua, sehingga lagi-lagi laki-laki itulah terpental jauh.


"Sialan! Kalian harus pergi dari sini sebelum saya melaporkan kalian pada polisi atas pelecehan pada seorang gadis,"


"Sialan!"


Lalu sekumpulan pemuda tersebut langsung melangkah pergi meninggalkan Amber berserta laki-laki yang menolongnya tadi, pemuda tersebut meratakan tubuhnya agar sejajar dengan Amber.


"Hai?"


Amber membuka matanya perlahan, lalu membulatkan kedua matanya terkejut.


"Kak Deon?" tanya Amber memastikan kalau pemuda tersebut adalah Deon Nandrio Putra Ridwan.


Pemuda di panggul Deon itu lantas tersenyum manis dan membantu Amber untuk bangkit, Amber masih mematung menatap wajah Deon yang semakin tersenyum ke arah gadis itu.


"Lain kali kamu jangan keluar rumah malam hari," ujar Deon. "Tapi... Bukan, 'kah kamu bukan warga di sini," tambah Deon sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hehehe... Aku nginap di rumah teman, Kak!" jawab Amber polos.


Deon tak menjawab melainkan dia mengelus puncak kepala Amber dengan lembut, Amber emang suka sekali membuat jantungnya berdenyut kencang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2