Calon Malaikat Kecil

Calon Malaikat Kecil
8. Sepasang Kekasih


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Setelah selesai berbelanja di supermarket, Nanda dan Adiva sama-sama mengantri di tempat pembayaran atau kasir.


"Kalian adalah sepasang suami istri?" tanya salah satu Mba kasir membuat Adiva dan Nanda lantas tersedak ludahnya sendiri.


Adiva langsung menggelengkan kepalanya, aneh saja dirinya dan Nanda saja baru duduk di bangku SMA kelas sebelas lalu Mba kasir itu langsung menanyakan dirinya dan Nanda adalah sepasang suami-istri.


Nanda langsung salah tingkah saat Mba kasir itu malah tersenyum manis ke arahnya, walaupun dia dan Adiva bukan sepasang suami istri tapi tetap saja dia senang.


"Bukan, Mba! Kami berdua hanya teman," jawab Adiva cepat.


"Saya lihat kalian berdua belanja bulanan seperti sepasang suami istri," sahut Mba kasir tersebut membuat Adiva langsung menatap trolinya.


Di dalam troli tersebut emang di isi oleh belanja bulanan bersama dengan Nanda tadi, tapi jujur saja dia senang karena Nanda mau menemaninya belanja ke supermarket.


"Div? Kamu mau ketemu sama Taksa, 'kan?" tanya Nanda memasang wajah masam.


Adiva langsung menggelengkan kepalanya sambil membawa troli tersebut ke arah kasir, dia tidak mau lagi ketemu sama laki-laki bernama Taksa itu karena jujur saja laki-laki tersebut tidak mengabarinya kalau dia sedang ada urusan. Adiva benar-benar lelah karena hampir setengah jam dirinya menunggu di bangku taman kota tanpa kabar dari Taksa, tapi setelah dirinya tak sengaja bertemu dengan Nanda membuat dirinya tau kalau Taksa ada urusan mendadak.


"Bilang aja! Aku sudah di rumah," jawab Adiva tersenyum kecut. "Sepertinya aku harus belajar buat mempersiapkan diri untuk Ulangan Tengah Semester," tambahnya.


Diam-diam Nanda tersenyum manis, karena Adiva terlihat kecewa dengan pemuda bernama Taksa tersebut. Dia sibuk membalas pesan dari Taksa, karena pemuda itu sudah menunggu Adiva di taman beberapa menit tapi dirinya tak bertemu dengan Nanda dan Adiva.


"Sialan! Seharusnya kamu bilang kalau kalian berdua sudah pulang!!"


Adiva langsung menoleh kearah Nanda, di mana Nanda sedang memutar note voice dari Taksa. Nanda langsung berdecak kesal mendengarnya, karena pemuda itu tidak pernah sadar diri.


Apakah dia tidak sadar? Kalau dia juga tidak mengabari Adiva kalau dirinya ingin bertemu dengan sang kekasih?


Ingin sekali Nanda membuang Taksa ke gang sempit yang dekat dengan komplek rumahnya, di sana banyak sekali anjing-anjing peliharaan orang-orang di sana yang terkenal galak itu.


Nanda memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu menolong Adiva membawakan kantong plastik berisi belanjaan mereka tadi. Lalu membawa kedua kaki mereka menuju keluar dari supermarket tersebut, dan barulah mereka menuju parkir mobil.


"Pak? Antar Diva ke rumahnya dulu, ya?"


Adiva langsung merasa tak enak dengan Nanda, mereka berdua akan mengantar dirinya ke rumah. Ayo lah! Perempuan mana yang merasa biasa-biasa saja saat di antar oleh teman nya? Apa lagi dirinya dan Nanda baru kali ini dekat satu sama lain.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Mobil milik Nanda sudah berhenti tepat di depan pagar rumah Adiva, sehingga gadis itu lantas keluar dari mobil sambil membawa semua belanjaannya.


"Terima kasih, ya? Sudah mengantar ku sampai rumah," ujar Adiva menatap Nanda dan supir pribadi milik laki-laki tersebut.


"Sama-sama! Lain kali kita bisa belanja bersama seperti ini," jawab Nanda dengan senyuman manis.

__ADS_1


"Baiklah!"


Keduanya langsung tertawa bersama, hanya saja supir pribadi milik Nanda hanya diam menatap keduanya dari arah dalam mobil. Mereka berdua sepertinya melupakan dirinya, kalau dirinya masih ada di sekitar mereka berdua.


"Gini amat nasib ku!"


Sementara di rumah Amber, gadis itu sedang melakukan video call dengan Rehan. Mereka berdua sedang belajar bersama dengan cara daring, awalnya mereka berdua berencana untuk belajar bersama di sebuah cafe tapi mengingat dirinya tak di perbolehkan oleh kedua orang tuanya terpaksa dirinya harus belajar sendirian di dalam kamar.


Untung saja Rehan ingin membantu Amber untuk mengerjakan soal-soal yang lain, membuat Amber beberapa kali mengucapkan terima kasih pada laki-laki bernama Rehan tersebut.


"Soal Matematika wajib ini gimana?" tanya Amber mendekatkan wajahnya ke layar ponsel.


"Soal nomor berapa?" tanya Rehan menatap bukunya.


"Nomor delapan tentang Matriks itu!"


"Itu mah mudah! Kamu tinggal mengubah angka yang berada dalam baris dan kolom itu," jawab Rehan.


"Bagian kolom yang mana? Dan bagian baris yang mana?" tanya Amber mengacak rambutnya frustasi.


"Bagian baris itu yang seperti Horizontal dan bagian kolom itu seperti Vertikal," jelas Rehan. "Kamu tau, 'kan Horizontal dan Vertikal?" tanya Rehan mendapatkan anggukan dari Amber.


"Tentu! Terima kasih, ya?"


Amber diam karena dia sedang mengerjakan soal yang di maksud oleh mereka tadi, sementara Rehan melanjutkan kegiatannya seperti menyelesaikan jawaban di dalam buku tulisnya.


"Amber? Aku mau nanya,"


Amber menghentikan kegiatannya dan menatap wajah Rehan dari layar ponsel, terlihat jelas dari wajah Rehan sedang serius membahas sesuatu dengan Amber.


"Mau nanya apa?"


"Misalnya ada orang yang suka sama kamu... Reaksi kamu kayak gimana?" tanya Rehan memiringkan kepalanya ke kiri.


"Gak gimana-gimana sih! Malahan aku gak ada reaksi apa pun kalau ada seseorang yang suka sama aku karena, 'kan itu sudah hak dia buat suka sama aku," jelas Amber dengan senyuman.


Lalu Amber kembali melanjutkan kegiatannya seperti menyelesaikan soal-soal Matematika, sementara Rehan hanya diam menatap Amber yang nampak serius menjawab soal-soal di buku pelajaran.


"Kalau misalnya aku suka sama kamu gimana?"


"Hah? Kamu ngomong apa?" tanya Amber menatap layar ponselnya dengan tatapan bingung.


"Gak. Cuman nyari jawaban aja," jawab Rehan langsung menegakkan tubuhnya.


Sementara di rumah Dylan, pemuda itu sedang memejamkan matanya di ruang tengah. Barusan saja dia selesai belajar sendirian di kamarnya sendiri, tapi dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

__ADS_1


"Lah? Rehan video call sama Amber?" gumam Dylan karena di status milik Rehan ada Amber sedang video call-an dengan Rehan.


"Sialan! Kenapa semakin hari mereka semakin dekat!"


Dylan melemparkan ponselnya ke samping sofa, di mana dia langsung menutup kepalanya menggunakan bantal sofa.


"Kayaknya aku gak pantas buat dia,"


Lalu suara dering ponselnya berbunyi, menandakan ada seseorang yang menelpon dirinya. Dylan langsung membuka bantal sofa tersebut dan melirik ponselnya yang ada di samping, ternyata Gilang menelpon dirinya.


"Ngapain tu anak nelpon-nelpon?" tanya Dylan sambil menghela napas panjang.


Lalu dia pun meraih ponsel tersebut dan menekan icon berwarna hijau di sana, sehingga Dylan mendekatkan ponselnya pada daun telinga kanan.


"Halo? Ada apa?" tanya Dylan dengan nada sedikit tinggi.


"Gimana perasaan anda saat melihat postingan Rehan?" tanya Gilang bersamaan dengan tawa mengejek.


Sialan! Lihat aja aku bakalan balas dendam, batin Dylan langsung menekan icon berwarna merah di sana.


Dylan meletakan ponselnya di atas meja ruang tengah, lalu beranjak dari sofa dengan perasaan kesal.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Amber dan Rehan masih mengerjakan soalnya dengan baik, sehingga tiba-tiba Amber mengeluarkan darah dari hidungnya.


"Rehan? Kayaknya siang ini sampai sini aja, ya? Aku mau istirahat bentar," ujar Amber mematikan kameranya.


"Iya! Gak papa. Kita harus istirahat terus baru lanjut belajar," jawab Rehan dengan lembut.


Amber hanya menganggukkan kepalanya pelan, setelah itu sambungan telpon antara keduanya pun terputus. Setelah mematikan sambungan mereka, Amber langsung beranjak dari bangku lalu meraih tisu yang ada di samping meja belajar.


Entah kenapa sekarang dia mengeluarkan darah dari hidung sehingga dirinya mendadak pusing,


"Apakah aku harus memeriksa penyakit ku? Aku takut penyakit ini akan bertambah parah," ujar Amber beranjak dari bangkunya.


Amber meraih tas kecilnya yang ada di atas nakas dekat dengan kasurnya, lalu menggendong nya di punggung belakang. Setelah itu dia juga meraih ponsel yang sempat dia letakan di atas meja belajar, lalu dia melangkah keluar dari kamar.


Sementara Rehan di rumahnya hanya senyum-senyum sendiri setelah sambungan telponnya terputus, dia masih menatap layar ponselnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Salah, 'kah kalau aku menyukaimu? Entah kenapa saat kita dekat berapa bulan ini aku memiliki perasaan pada mu," gumam Rehan masih menatap layar ponselnya yang tertera jelas nama Amber di sana.


Dia senang karena Amber adalah gadis yang selalu menemaninya ke perpustakaan untuk belajar bersama, bahkan mereka berdua selalu memiliki janji untuk mengerjakan tugas-tugas melalui daring. Walaupun hanya melalui daring, dia tetap senang dan bersemangat untuk membantu Amber mengerjakan tugas-tugas dengan senang hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2