Calon Malaikat Kecil

Calon Malaikat Kecil
10. Hubungan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Sepulang sekolah Amber hanya duduk di halte bus sambil mengelus keningnya pelan, dia tertinggal oleh bus karena dia sempat membersihkan kelas terlebih dahulu sementara orang-orang yang piket hari ini tidak bertanggung jawab.


Dylan menghentikan motornya tepat di hadapan Amber, di mana gadis itu sedang memejamkan matanya sebentar. Dylan langsung melepaskan helmnya dari kepala, lalu menghampiri Amber yang masih memejamkan matanya.


"Amber?"


Merasa ada seseorang yang memanggil namanya itu langsung membuka kedua matanya secara perlahan, ternyata pemuda bernama Dylan itu berdiri tepat di hadapannya dengan senyuman manis.


"Dylan? Sejak kapan kamu di situ?" tanya Amber langsung beranjak dari bangku halte.


Dylan tidak menanggapi malahan dia ikut duduk di sebelah kiri Amber, membuat gadis itu kembali duduk sambil menatap Dylan dengan penuh tanda tanya.


"Kamu belum pulang, ya?" tanya Dylan basa-basi.


"Kamu gak lihat aku duduk di sini? Jadi aku belum pulang ke rumah," jawab Amber terdengar ketus.


Dylan diam tapi tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, suasana di sana mendadak canggung karena keduanya hanya diam tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Dylan ingin melontarkan beberapa pertanyaan untuk memancing Amber berbicara dengannya, tapi sayangnya dia langsung mengurungkan niatnya itu dan tetap diam di tempat.


"Mau bareng gak?" tanya Dylan setelah sekian lama mereka diam.


"Bareng?"


"Iya. Nanti ku antar kamu sampai rumah," jawab Dylan dengan anggukan setuju.


Amber diam karena dia berpikir, apakah dia setuju dengan ajakan Dylan untuk pulang bersama? Karena dari tadi dia tidak mendapatkan bus sekolah, jadi tidak ada pilihan lain untuk menolak ajakan Dylan.


"Boleh!" jawab Amber langsung menggendong tas sekolahnya.


Dylan hanya diam sambil menatap Amber yang sudah beranjak dari bangku halte? Kenapa gadis itu langsung beranjak dan menggendong tas sekolahnya ke punggung?


"Mau ke mana?" tanya Dylan mengerutkan keningnya bingung.


"Loh? Tadi katanya mau pulang bareng?"


Dylan langsung menghela napas saat gadis itu malah balik bertanya padanya, jadi itu alasan gadis itu cepat-cepat beranjak dari bangku halte?


Terpaksa Dylan ikut beranjak dan mengikuti langkah Amber yang sudah di dekat motornya, lalu menyodorkan helm penumpang pada Amber. Amber tentu menerima helm tersebut dari tangan Dylan, setelah itu memasang helm tersebut ke kepalanya.


"Ayo?"


Dylan dan Amber sudah menaiki motor, tapi Amber berpegangan pada kedua bahu Dylan. Dylan tentu saja bingung karena biasanya perempuan akan berpegangan pada pinggang kalau sedang menumpang dengan seseorang, Dylan menoleh ke belakang tepat Amber berada.


"Kok pegangan di bahu?" tanya Dylan bingung.


"Maaf! Tapi aku lebih nyaman pegangan di bahu mu saja," jawab Amber dengan lembut.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Sorenya Amber mengajak salah satu Tantenya untuk pergi ke Rumah Sakit, karena dokter pernah berkata kalau Amber ke Rumah Sakit harus bersama dengan walinya jika dirinya tak ingin mengajak orang tuanya untuk mengetahui penyakit nya tersebut.

__ADS_1


"Amber? Jadi selama ini kamu punya penyakit tanpa sepengetahuan orang tua mu?" tanya Tante Tina pada Amber.


"Iya, Tan! Cuman aku gak mau mereka tau kalau aku punya penyakit," jawab Amber sendu.


"Seharusnya kamu kasih tau mereka biar mereka bisa merawat mu," sahut Tante Tina.


Tiba-tiba saja Amber langsung tertawa kecil mendengarkan, apakah mereka akan peduli dengannya jika orang tuanya tau kalau dia punya penyakit?


"Tante? Apakah mereka masih tetap peduli saat kejadian berapa bulan yang lalu?" tanya Amber lalu berhenti tertawa.


Sekarang Amber mulai mengeluarkan tangisannya karena merasa sesak pada dada kirinya, bahkan Tante Tina langsung menarik tubuh Amber ke dalam pelukannya.


"Papah sama Mamah sudah gak peduli sama Amber, Tan! Bahkan mereka lebih percaya dengan orang lain daripada anaknya sendiri," ujar Amber terdengar isakan kecil di setiap kalimatnya.


Tante Tina mengelus punggung Amber karena Amber masih setia menangis di dalam pelukan Tantenya itu, setelah cukup lama menangis akhirnya Amber pun berhenti menangis dan melepaskan pelukan antara dirinya dan Tante Tina.


"Makasih, Tante! Cuman Tante yang masih percaya dengan ku walaupun orang tuaku sudah tak peduli dengan ku," ujar Amber.


Setelah itu keduanya masuk ke dalam ruangan Rumah Sakit, di mana Amber mendadak meremas ujung baju Tante Tina.


"Selamat datang kembali Amber! Akhirnya kamu datang sama orang tua mu, ya?" ujar Dokter melirik Tante Tina sekilas.


"Dia bukan orang tua Amber! Dia cuman Tante sebelah Mamah," jawab Amber cepat.


Sementara Tante Tina ikut mengangguk kan kepalanya, karena benar dia adalah Tantenya Amber sementara gadis di sampingnya ini adalah keponakannya.


"Jadi gini... Berapa hari yang lalu Amber sempat datang ke Rumah Sakit seorang diri. Lalu dia memeriksa penyakit nya pada saya," jelas Dokter Ridwan sambil menghela napas. "Amber memiliki penyakit Kanker otak. Untuk itu dia harus melakukan operasi agar Kanker otaknya karena itu lah saya meminta Amber untuk membawa orang tuanya atau wali agar mendapatkan persetujuan dari mereka," tambahnya.


Lalu Tante Tina melirik ke arah Amber, di mana Amber hanya menundukkan kepalanya takut untuk menatap mereka berdua.


Tante Tina menghela napas panjang, dia sudah menduga pasti gadis itu sering begadang untuk belajar. Salahkan orang tuanya yang selalu menuntut Amber mendapatkan nilai sempurna setiap Ulangan, Amber ingin mendapatkan kata maaf dari kedua orang tuanya makanya itu dia rela belajar setiap malam.


"Apakah dia bisa menyembuhkan penyakitnya itu?" tanya Tante Tina menatap Dokter Ridwan dengan tatapan penuh harap.


Amber langsung menarik Tante Tina untuk keluar ruangan sebentar, karena takut Tantenya akan tau kalau penyakit itu bisa di sembuhkan.


Flashback...


Amber sudah duduk manis di hadapan Dokter Ridwan, Dokter itu menatap Amber dengan tatapan bingung. Karena gadis itu datang kemari hanya seorang diri, tidak ada seseorang yang menemaninya.


"Amber punya penyakit Kanker otak! Untungnya di usia mu masih bisa di sembuhkan jika Amber berusaha untuk sembuh dari penyakit," ujar Dokter Ridwan.


"Gimana caranya, Dok?" tanya Amber memberanikan diri untuk menatap sang Dokter.


"Amber hanya perlu mendapatkan persetujuan dari orang tua untuk melakukan operasi Kanker otak secepatnya agar penyakit tersebut tidak bertambah parah," jawab Dokter Ridwan membuat Amber lesu seketika.


Dia tidak ingin orang tuanya tau tentang penyakitnya ini, apa lagi orang tuanya sudah tak peduli dengan dirinya atas kejadian sekolah lamanya itu.


Gimana ini? Bagaimana kalau Papah dan Mamah tidak percaya dengan ucapan ku? batin Amber sambil menggigit kukunya khawatir.


Dokter Ridwan yang melihat kegelisahan Amber hanya menatapnya dengan tatapan bingung, lalu beranjak dari tempat duduk dan melangkahkan kakinya untuk menahan tangan Amber.

__ADS_1


"Jangan di gigit!"


"Makasih, Dok!" jawab Amber tersenyum manis ke arah Dokter Ridwan tersebut.


"Sama-sama! Entah kenapa saat melihat Amber seketika saya teringat dengan anak saya yang masih kuliah," ujar Dokter Ridwan lalu kembali duduk di tempatnya.


"Maksud Dokter?"


"Saya punya anak dan berusia dua puluh satu tahun dan sekarang dia mengambil jurusan kedokteran," jawab Dokter Ridwan.


"Siapa anak Dokter?" tanya Amber tertarik dengan pembicaraan Dokter Ridwan.


"Namanya Deon!"


"Kayaknya Kak Deon bakalan jadi Dokter seperti Dokter Ridwan, ya?" tanya Amber.


"Panggil saya, Ayah saja!"


Dokter Ridwan tersenyum hangat karena Amber menganggukkan kepalanya, jadi gadis itu setuju kalau dia di panggil dengan sebutan Ayah?


"Ayah? Amber pulang ke rumah dulu, ya? Kayaknya Amber harus cepat-cepat belajar lagi karena sebentar lagi Ulangan Tengah Semester akan datang," ujar Amber berpamitan dengan Dokter Ridwan.


"Tunggu! Amber harus banyak istirahat walaupun sebentar lagi Ulangan akan datang tapi tetap saja kesehatan sangat penting untuk tubuh mu sendiri!"


Amber menganggukkan kepalanya, setelah itu melangkah keluar dari ruangan.


Flashback end...


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Sepulang dari Rumah Sakit, orang tua Amber sudah menunggu di ruangan tamu sambil menatap layar televisi dengan tatapan serius.


"Amber pulang!"


Keduanya nampak tak peduli dengan kedatangan Amber dan Tante Tina, bahkan anak keduanya juga sama persis tak peduli dengan teriakan Amber.


Huff...


Terdengar helaan napas berat dari Amber, bahkan air mata Amber sudah mengalir di kedua pipinya.


"Tante?"


"Assalamualaikum!"


Setelah itu orang tua Amber dan sang adik langsung menoleh ke sumber suara, di mana mereka melihat Amber dan adik kandung dari sang Mamah berdiri tepat di depan pintu utama.


"Waalaikumsalam!"


"Dari mana kalian? Kok bisa pulang bareng?" tanya sang Mamah sambil menatap Amber dengan tatapan tajam.


"Kami baru saja dari Rumah Sakit," jawab Tante Tina dengan santai.

__ADS_1


Detik itu juga Amber langsung menginjak kaki kiri Tantenya itu, bisa bahaya kalau orang tuanya tau kalau mereka ke Rumah Sakit karena Amber.


Bersambung...


__ADS_2