
...~Happy Reading~...
Keesokan harinya...
Pagi ini merupakan hari Senin yang cerah, karena Amber menginap di rumahnya Adiva sekarang sudah berangkat sekolah bersama menggunakan bus sekolah. Selama tiga hari ini kemarin Adiva masih menguji kesabaran Amber dengan cara bertingkah layaknya anak kecil, tentu saja Amber hanya diam-diam karena mana mungkin dia memberitahu keluhannya pada gadis tersebut.
"Amber? Nanti temani aku ke kedai es krim, yuk?" ajak Adiva lalu mendapatkan balasan dari Amber.
"Iya. Habis pulang sekolah ya?" jawab Amber cepat.
"Tentu saja! Masa iya sekarang kita ke kedai buat beli kan bentar lagi bel mau masuk," sahut Adiva membuat Amber tersenyum kecil.
Amber tak peduli dengan sahutan Adiva, lalu dia melanjutkan langkahnya menuju pintu kelas. Keduanya tak sengaja berpapasan dengan Oliver, saat Adiva menegur gadis itu Oliver hanya diam sambil menatap Adiva dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Sialan! Sok polos," gumam Oliver masih dapat di dengar oleh Amber.
"Maksud kamu?!" tanya Amber menatap Oliver dengan tatapan kesal dan penasaran.
"Tidak mungkin kamu salah dengar Amber! Apa yang ku omong tadi," jawab Oliver menaiki sebelah sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
Amber mengepalkan tangannya kesal lalu menunjukkan jari telunjuknya pada Oliver, wajahnya sudah memerah menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak.
"Aku benar-benar lelah dengan sikap mu akhir-akhir ini, ya? Aku dan Adiva tentu saja tidak tau kenapa kamu langsung berubah seketika seperti itu," ujar Amber.
"Kamu gak usah peduli dengan ku! Urusin saja Dylan yang pernah menembaki mu," kesal Oliver.
Amber diam dan menatap manik mata Oliver dengan serius, lalu menaiki sebelah alisnya karena barusan saja dia mengetahui kalau Oliver berubah hanya karena Dylan.
"Ternyata karena ini, ya? Kamu mulai menjauhi ku dan Adiva?" tanya Amber membuat Adiva mengerutkan keningnya bingung.
"Kamu jangan bangga karena sudah mendapatkan pernyataan cinta dari Dylan! Karena mu pemuda itu selalu curhat dengan ku kalau kamu menolak cintanya!!" sahut Oliver sambil menunjuk Amber dengan nada kesal.
"Kamu mau tau gak? Alasan apa yang membuat ku menolak cintanya?" tanya Amber melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Oliver tak menjawab pertanyaan dari Amber, melainkan dirinya diam untuk mendengar jawaban Amber secepatnya.
"Aku menolak cintanya karena satu orang! Ada seseorang menyukainya dan mereka memiliki Tuhan yang sama," jelas Amber tersenyum manis ke arah Oliver. "Aku mana mungkin merebut Dylan dari Tuhan nya! Lebih baik aku menolak cintanya agar Tuhan ku dan Tuhan nya tak cemburu atas cinta kami," tambah Amber.
Oliver menatap Amber dengan tatapan tak percaya, entah kenapa dia merasa kalau Amber tau siapa seseorang yang menyukai Dylan itu. Tanpa di sadari olehnya, cairan bening mulai keluar dari kelopak mata yang membuat Adiva langsung memekik kaget.
"Aku menolak Dylan itu demi kamu. Karena aku sadar kalau kalian berdua itu pantas untuk berjuang sebab kalian satu Tuhan,"
Sekarang Amber melangkahkan kakinya untuk menjauh dari koridor sekolah, dia harus meredakan amarahnya pada Oliver. Dia tidak menyangka kalau Oliver menjauhi mereka berdua karena Amber sudah menolak cinta Dylan, tapi dia tidak tau kenapa gadis itu menolak cinta Dylan karena seseorang dan Tuhan.
Masih ada laki-laki di luar sana, dan itu mungkin akan membuat Amber bahagia dengan cinta mereka.
__ADS_1
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Bel istirahat berbunyi, Amber seperti biasa langsung ke perpustakaan bersama dengan Rehan. Untuk menghindari Dylan dan Oliver, Amber juga melupakan seseorang yang harus dia jaga yaitu Adiva.
Adiva sudah melesat ke kantin untuk makan siang, anehnya dia langsung menghabiskan makanan yang lumayan banyak itu. Adiva menjadi pusat perhatian kantin karena cara makannya yang seperti bukan manusia pada umumnya, bisa menghabiskan beberapa mangkok makanan.
"Senangnya!"
Adiva tersenyum manis sambil memegang perutnya yang sudah kenyang itu, tapi kebahagiaan nya ternyata sampai situ saja karena tiba-tiba perutnya terasa sakit. Adiva beranjak lalu dengan cepat membayar semua makannya pada Ibu kantin, jujur saja dia sudah tidak tahan dengan perutnya yang sakit.
Setelah selesai membayar semua makanannya, Adiva langsung berlari menuju keluar kantin agar cepat ke toilet perempuan.
Sementara di perpustakaan Amber dan Rehan sama-sama duduk di meja yang sama, dengan Amber yang menjelaskan semua materi pada Rehan. Amber mana mungkin tak membantu Rehan untuk menjawab soal-soal matematika, karena pemuda itu sudah membantunya sebulan yang lalu sebelum Ulangan Tengah Semester datang.
"Cara menyelesaikan Sin A di kurangi enam puluh derajat?" tanya Rehan lalu menunjukkan buku tulisannya pada Amber.
Amber langsung menatap buku tulis milik lelaki tersebut, lalu kepalanya mulai mengangguk tanda mengerti dengan pertanyaan Rehan.
"Pertama-tama kita harus mengikuti rumus yang kemarin!"
Tangan kanan Amber memegang pena miliknya lalu menuliskan jawaban dan rumus pada sebuah kertas coretan, Rehan tak mereaksi apa pun karena dia hanya fokus menatap wajah Amber yang nampak serius menjelaskan materi matematika.
Sin ( A - 60° )
Sin ( A - 60° ) \= Sin A . Cos 60° - Cos A . Sin 60°
\= Sin A . 1/2 - Cos A . 1/2√3
•°• Sin ( A - 60° ) \= 1/2 (Sin A - √3 Cos A)
Setelah selesai menjelaskan rumus matematika pada Rehan, akhirnya gadis itu menatap Rehan yang hanya diam sambil menatap manik mata Amber. Amber mengerutkan keningnya bingung melihat Rehan yang hanya diam, lalu melambaikan tangannya ke arah wajah pemuda tersebut.
"Hai?"
Akhirnya Rehan sadar dari lamunannya, membuat Amber tersenyum manis pada Rehan.
Please! Jangan manis-manis seperti itu!! jerit Rehan tertahan dalam hatinya.
"Kamu kenapa?" tanya Amber memiringkan kepalanya ke kanan.
"Gak papa!"
__ADS_1
"Emangnya kamu dengar aku jelasin jawaban tadi?" tanya Amber menatap Rehan dengan tatapan sedih.
"Tentu saja! Aku dengar kok," jawab Rehan cepat karena gadis itu sebentar lagi akan sedih.
"Emangnya cara jawabannya gimana?" tanya Amber mendekatkan kertas jawaban tadi pada Rehan.
Rehan menjelaskan rumus pada soal tersebut, Amber mengangguk kecil karena penjelasannya ternyata di dengar oleh Rehan. Dia kira pemuda itu tak mendengar dirinya sedang menjelaskan, terbukti karena pemuda itu malah melamun tepat menatap matanya.
"Wah! Ternyata kamu paham dengan rumusnya, ya?" tanya Amber sambil bertepuk tangan dengan heboh.
Keduanya langsung menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang ada di perpustakaan, karena mendengar tepuk tangan Amber yang sangat heboh itu.
"Eh? Maaf karena menganggu!"
Rehan menggelengkan kepalanya melihat Amber yang menundukkan kepalanya meminta maaf, lalu menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman manis.
Sebenarnya aku paham dengan rumusnya! Hanya saja aku sengaja agar kau menjelaskan nya langsung pada ku, batin Rehan lalu membersihkan meja mereka dari buku-buku.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Sepanjang pelajaran Amber dari tadi tak nyaman karena Adiva tak kunjung datang ke kelas, bahkan tidak ada satu pun yang melihat Adiva ke mana. Karena terlalu khawatir akhirnya gadis itu meminta izin untuk ke toilet sebentar, tapi tujuan utamanya bukan untuk ke toilet melainkan ke kantin sekolah untuk mencari keberadaan Adiva.
"Kenapa anak itu?" gumam Amber saat dirinya tak menemukan Adiva di kantin sekolah.
Dia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya keluar dari kantin, lalu menelusuri koridor sekolah sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari Adiva lagi.
"Lalu? Ke mana lagi aku harus mencari?" tanya Amber dengan kedua kaki masih menelusuri koridor sekolah.
Dua siswi keluar dari toilet perempuan, mereka berdua adalah teman yang beda kelas. Amber langsung berlari menghampiri keduanya, dan berhenti tepat di hadapan mereka.
"Permisi! Kalian tau Adiva kan?" tanya Amber saat dirinya sudah di depan keduanya.
Kedua siswi tersebut langsung menatap Amber yang sedang mengatur napasnya, lalu menatap satu sama lain untuk sebelum menjawab pertanyaan dari Amber.
"Diva kan? Anak kelas sebelas IPA satu?" tanya salah satu dari mereka.
Amber menjawab dengan anggukan kecil, matanya menatap keduanya dengan tatapan memohon. Dia sudah lelah untuk mencari Adiva, bagaimana pun juga dia harus mencari keberadaan Adiva karena gadis itu sedang membawa kandungannya yang baru menginjak seminggu.
"Kalau gak salah dia tadi ke Rumah Sakit di antar oleh Bu Karin," jawab temannya mendapatkan jawaban dari siswi yang mengenakan ikat rambut berwarna merah muda.
Deg...
Jantung Amber langsung berdenyut dengan kencang mendengar jawaban dari keduanya, siapa yang tidak tau Bu Karin?
Guru yang memiliki mulut yang susah untuk di tahan, guru itu juga akan mudah membongkar semua rahasia siswanya karena mulut embernya itu.
__ADS_1
Bersambung...