
...~Happy Reading~...
Sepulang sekolah Adiva menunggu di depan gerbang sekolah, tapi Ayahnya belum kunjung datang untuk menjemput dirinya. Dengan perasaan kesal Adiva duduk di bangku yang ada di dekat gerbang sekolah, sambil memainkan kedua kakinya.
"Kapan Ayah akan datang? Aku sudah lapar," ujar Adiva menatap jalanan dengan perasaan sedih.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Adiva membuat gadis itu langsung beranjak dan menatap mobilnya dengan tatapan kesal, dia kira mobil itu adalah milik sang Ayah tapi sayangnya dua orang keluar dari mobil itu dengan pakaian hitam.
"Kalian siapa?!" tanya Adiva melangkah mundur.
Sayangnya kedua pemuda laki-laki itu semakin melangkahkan kakinya ke mendekat, sehingga gadis itu mati-matian berteriak untuk meminta tolong.
Hap...
Mereka langsung menyeret Adiva untuk masuk ke dalam mobil dengan paksaan, Adiva dari tadi sudah memberontak saat dirinya di paksa.
"Bos! Anaknya sudah saya culik!"
Salah pemuda itu mendekatkan ponselnya pada telinga kanan, dengan menatap Adiva yang sudah pingsan di pelukan temannya itu. Senyumannya semakin mengembang saat Adiva sudah tak sadarkan dirinya di dalam pelukan pemuda tersebut, setelah mendapat respon dari seseorang yang menyuruh nya dia pun menekan icon berwarna merah di layar ponselnya.
"Katanya bawa dia ke kosan teman Bos!"
"Ngapain Bos tinggal di kosan? Bukan, 'kah dia punya banyak rumah?" tanya temanya itu mengerutkan keningnya.
"Bos melarikan diri dari rumah karena Tuan besar hampir mengetahui rahasia terbesarnya Bos," jelas pemuda tersebut.
"Tino? Tolong bantu aku mengikat tangan dan kakinya ini,"
Pemuda bernama Tino itu langsung menoleh dan membantu temannya untuk mengikatkan tangan dan kaki Adiva, sebelum Adiva mulai sadar dari pingsannya.
"Setelah ini kita akan mendapatkan uang lebih dari Bos," ujar temannya tersenyum senang ke arah Tino.
"Tentu saja! Bos sudah berjanji akan memberikan kita uang lebih jika kita berhasil menculik anak ini," jawab Tino menganggukkan kepalanya.
Lalu keduanya menatap Adiva yang masih tidak sadarkan diri di samping temannya, setelah itu Tino pun menjalankan mobilnya untuk meninggalkan pekarangan sekolah yang sudah sepi.
Sepanjang perjalanan Adiva tak kunjung bangun dari pingsannya, membuat pemuda di sampingnya tertidur pulas.
Brak...
Laki-laki bernama Tino itu langsung menoleh ke belakang saat suara pintu mobil terbuka secara paksa, rahang Tino mengeras saat Adiva berhasil melarikan diri. Ternyata gadis itu dari tadi sudah siuman, hanya saja dia berusaha untuk tak sadarkan diri terlebih dahulu agar mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri.
"Sialan! Krisna bangun!"
Pemuda bernama Krisna itu lantas terbangun dari tidurnya karena mendengar teriakan dari Tino, setelah itu dia mengusap kedua matanya dengan cepat.
"Ada apa?" tanya Krisna dengan suara parau.
__ADS_1
"Anak itu melarikan diri! Cepat kita cari dia sebelum Bos mengetahuinya!!" perintah Tino.
Keduanya lantas keluar dari mobil dan menutup pintu mobil itu dengan secara paksa, mereka memutuskan berpencar agar segera menemukan Adiva sebelum Bos mereka mengetahui nya.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Amber baru saja sampai di rumahnya, dan meletakan tas sekolahnya dengan kasar di atas sofa. Entah kenapa setelah kejadian Dylan tiba-tiba menyatakan perasaannya di koridor sekolah tadi, Amber terus-terusan merasa kepikiran dengan kejadian tersebut.
Apa lagi terlihat jelas wajah Dylan seperti kecewa dengan jawaban Amber, tapi mau gimana lagi Amber tidak memiliki perasaan apa pun padanya bahkan Amber belum kepikiran untuk mencari kekasih.
"Kenapa aku terus-terusan kepikiran dengannya? Apakah karena aku kasian dengannya sebab aku menolak pernyataannya?" tanya Amber mengacak rambutnya dengan frustasi.
Lalu Amber menjatuhkan dirinya ke sofa yang berada di ruang tamu, sekarang masih pukul empat sore dan kedua orang tuanya tentu saja belum pulang dari tempat bekerja.
"Kapan Papah dan Mamah pulang?" gumam Amber menatap jam yang ada di dinding ruang tengah.
Setelah itu dia meletakan kepalanya ke sandaran sofa, memejamkan kedua matanya perlahan untuk menjernihkan pikiran nya terlebih dahulu. Akhir-akhir ini Amber selalu saja banyak pikiran, tentang keluarga dan pelajaran sekolahnya.
Amber membuka kedua matanya dengan terkejut, dia sempat tertidur karena merasa kelelahan. Entah kenapa dia tiba-tiba saja terbangun dari tidur singkatnya itu, sehingga mengatakan Amber tak boleh tidur sebelum malam tiba.
Amber beranjak dari sofa dan meraih tas sekolahnya yang masih berada di atas sofa, setelah itu dia membawa kedua kakinya menuju anak tangga. Menaiki anak tangga itu secara satu persatu lalu tiba dia berada di lantai dua, di mana kamarnya berada di lantai dua.
"Kok tiba-tiba pusing?"
Amber menjatuhkan tasnya ke lantai sambil memegang kepalanya yang terasa sakit itu, berapa menit kemudian pelayan yang berkerja di rumahnya pun langsung berlari menghampiri Amber yang sudah tergeletak di atas lantai sambil meringis kesakitan.
"Nona? Nona kenapa?" tanya Wanita paruh baya itu langsung memegang kepala Amber.
Wanita itu lantas berteriak memanggil pekerjaan lainnya untuk membantu mengangkat Amber ke kamarnya, berapa detik kemudian akhirnya seorang pria tua berlari menaiki tangga dengan tergesa-gesa.
"Ada apa? Nona Amber kenapa?" tanya pria itu pada wanita yang memangku kepala Amber dengan cairan bening yang masih mengalir di kedua sudut pipinya.
"Dia terus-terusan mengeluh sakit kepalanya! Aku takut terjadi apa-apa pada Amber," jawabnya dengan nada khawatir.
"Kamu jangan khawatir! Kita harus membawa Amber ke rumah sakit," sahut pria tua itu segera mengangkat tubuh Amber.
"Kalau gitu... Aku harus menelpon Tuan dan Nyonya tentang ini,"
Wanita paruh baya itu beranjak dari lantai, dia ingin berlari menuju kamar untuk menelpon Tuan dan Nyonya besar di rumah ini.
"Jangan! Mereka tidak akan percaya dengan ucapan kita kalau Amber sedang sakit," ujar pria itu sedikit berteriak.
"Lalu? Kita harus bagaimana? Orang tuanya harus tau tentang anaknya," tanya wanita itu dengan wajah khawatir.
"Setelah mendapatkan kabar dari Dokter baru kita memberitahu mereka kalau Amber sedang sakit," sahutnya.
Lalu keduanya memutuskan untuk keluar dari rumah, mereka harus mengantar Amber ke rumah sakit yang masih mengenakan seragam sekolah.
__ADS_1
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Tuan Dirgantara dan Nyonya Dirgantara langsung berlari menelusuri koridor rumah sakit dengan terburu-buru, berapa jam yang lalu mereka mendapatkan sebuah telpon dari pelayan mereka kalau putri sulungnya masuk rumah sakit.
Setelah tiba di ruang UGD, mereka berhenti dan mengatur napas mereka terlebih dahulu.
"Bagaimana dengan Amber?" tanya Tuan Dirgantara dengan keringat membasahi pelipis nya.
"Nona Amber lagi di periksa oleh Dokter! Mungkin sebentar lagi Dokter akan keluar," jawab Wanita paruh baya yang bekerja sebagai pelayan itu dengan nada takut.
Tuan Dirgantara dan Nyonya Dirgantara lantas duduk di bangku tunggu dengan wajah kelelahan karena berlari, berapa menit kemudian seseorang keluar dari ruang UGD dengan seragam putih panjang.
"Dengan keluarga Nona Amber Dirgantara?"
"Saya, Dok! Saya adalah Ayah dari Amber," sahut Tuan Dirgantara langsung mengangkat tangan kanannya ke udara.
"Baiklah! Jadi Nona Amber hanya kelelahan makanya itu saya sarankan agar Nona Amber beristirahat dengan cukup," jelas sang Dokter.
Dokter itu adalah Dokter Ridwan, Dokter Ridwan sudah di anggap oleh Amber sebagai Ayahnya karena pria itu sudah pengertian dengan suasana hatinya.
"Baiklah! Kalau begitu permisi!"
Dokter Ridwan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan orang tua Amber, dan para pembantu mereka di luar ruangan tersebut.
"Cuman kelelahan, 'kan? Jadi untuk apa kalian mengantar anak itu ke rumah sakit? Membuang waktu berharga saya aja,"
Dengan perasaan kesal Tuan Dirgantara melangkah masuk ke ruangan tersebut, dan memanggil nama Amber dengan suara berat.
"Amber? Ayo kita pulang?" ajak Tuan Dirgantara.
Sementara Amber yang masih terbaring lemas di atas ranjang itu pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap manik mata sang Ayah yang seolah-olah sedang marah padanya, Amber sudah bersusah payah meneguk saliva nya.
"Tapi... Pah! Aku lagi sakit," jawab Amber menatap sang Ayah dengan tatapan memelas.
"Tidak ada alasan! Kamu cuman kelelahan. Jadi jangan menghindar dari kewajiban kamu!"
Tuan Dirgantara tak segan-segan menarik tangan Amber untuk keluar dari ruangan, Amber sudah berkali-kali memberontak dari genggaman erat sang Ayah.
"Pulang atau Papah pukul kamu menggunakan ikat pinggang?!!" tanyanya dengan sedikit ancaman.
Amber lantas beranjak dari ranjangnya lalu mengikuti langkah sang Ayah yang membawanya keluar dari ruangan tersebut, dia tidak ingin mendapatkan sebuah pukulan di tubuhnya lagi seperti hari-hari sebelumnya.
Rasanya sakit! Kapan aku akan meninggalkan dunia yang kejam ini? batin Amber mengeluarkan cairan bening di kedua kelopak matanya.
Keduanya keluar dari ruangan dengan wajah yang berbeda-beda, sang Ayah yang memasang wajahnya dengan kemarahan. Sementara Amber menatap wanita dan pria paruh baya yang mengantarnya ke rumah sakit itu dengan tatapan sendu, tak peduli dengan tatapan tajam sang Ibu.
"Kamu itu, ya! Bikin Mamah dan Papah meninggalkan pekerjaan demi mendatangi kamu yang lagi masuk rumah sakit,"
__ADS_1
Amber tak menjawab dengan ucapan sang Ibu, hatinya terasa sakit mendengar ucapan tersebut.
Bersambung...