
...~Happy Reading~...
Tino dan Krisna telah berhasil menemukan Adiva yang sempat melarikan diri tadi, bahkan sekarang keduanya sudah mengantar Adiva ke kosan milik seseorang yang menyuruh mereka untuk menculik Adiva.
Brak...
Adiva di lempar sehingga jatuh ke dalam pelukan sang pemuda, di mana Adiva lantas memberontak karena ulah pemuda tersebut.
"Diam! Atau aku tidak akan segan-segan menyakitimu!!" ancam Taksa membuat Adiva menghentikan berontak nya.
Adiva takut jika akan di sakiti oleh pemuda tersebut, mana dia sekarang mata di tutup menggunakan kain berwarna hitam sementara kedua tangannya di ikat dari belakang.
"Uang kalian akan saya transfer setelah ini! Jadi tunggu saja,"
Setelah mendengar ucapan pemuda tersebut Tino dan Krisna pun langsung melangkahkan kaki mereka keluar dari kosan Taksa, Taksa langsung menyeret Adiva agar masuk ke dalam kosannya dengan paksaan.
Setelah sampai di kamar Taksa lantas mendorong Adiva sehingga Adiva terbentur tembok kamar, Taksa menyeringai melihat di mana Adiva meringis kesakitan.
"Aku janji! Setelah ini aku akan bertanggung jawab!"
Sementara di rumah sakit Amber menahan rasa sakit di pergelangan tangannya karena ulah sang Ayah, Ayahnya terus-terusan memaksa dirinya untuk pulang ke rumah.
"Pah? Tangan aku sakit!" ujar Amber memohon pada sang Ayah.
"Papah gak peduli! Sekarang kita harus pulang ke rumah dan menghukum mu," jawab sang Ayah membuat Amber gelisah.
Dia tau apa yang akan di lakukan oleh sang Ayah, pasti kedua orang tuanya akan memukulkan ikat pinggang tersebut ke seluruh tubuhnya. Berkali-kali sudah dia mengalami tersebut, karena sang Ayah yang selalu tak peduli dengan ucapannya.
Aku ingin meninggalkan mereka secepatnya, batin Amber.
Berapa menit kemudian akhirnya mereka telah sampai di rumah mereka, kalau Devin sengaja orang tuanya mengirimkan anak laki-laki tersebut untuk tinggal dengan Tante Tina.
Brak...
Tuan Dirgantara mendorong Amber hingga kepalanya terbentur meja ruang tengah, setelah itu Tuan Dirgantara langsung melepaskan ikat pinggang dari celana yang dia kenakan.
Ctak...
__ADS_1
Ikat pinggang itu mendarat sempurna di tubuhnya, walaupun Amber masih mengenakan seragam sekolah tapi tetap saja rasa sakit itu masih terasa hingga ketulang-tulang.
Semoga Allah mendengar suara ku! Aku ingin meninggalkan dunia yang kejam setelah itu akan hidup dengan tenang, batin Amber memejamkan matanya untuk menahan rasa pada seluruh tubuhnya yang terus-terusan di pukul oleh sang Ayah menggunakan ikat pinggang.
Malam itu Amber selalu mendapatkan pukulan pada tubuhnya dari sang Ayah, sementara sepasang paruh baya yang bekerja di rumah mereka hanya menatap Amber dengan tatapan sedih dari dapur. Mereka ingin menolong Amber dari kedua orang tuanya, hanya saja mereka takut dengan kemarahan Tuan dan Nyonya besar.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Malam hari...
Amber memandangi suasana malam dari balik jendela kamar, dia sempat mengobati luka memar yang ada di seluruh tubuhnya.
"Kapan semua ini akan berakhir?" tanya Amber menoleh ke arah pohon besar sekilas.
Amber masih teringat di mana keluarga nya selalu percaya dengan ucapannya, sewaktu dirinya masih duduk di Sekolah Dasar. Tapi semuanya langsung berubah saat Amber sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, di mana waktu itu banyak sekali guru-guru yang mengatakan dirinya hamil di luar nikah.
Amber seketika langsung down mendengar semua guru mengatakan kalau dia hamil di luar nikah, waktu itu dia memiliki masalah dengan satu siswa lalu kenapa semua guru juga ikut adil?
Tapi untung saja tentang hamil di luar nikah itu langsung hilang dari berita sekolah, karena salah satu musuh Amber yang sangat membenci Amber tiba-tiba saja di nikahkan karena hamil di luar nikah. Amber tentu saja bahagia karena akhirnya terbukti kalau dia tidak berhasil, Amber sempat memberikan semua teman-temannya dengan sumpah kalau dia tidak bersalah maka teman-temannya akan hamil di luar nikah.
"Saya heran dengan semua guru-guru di sini! Kalian selalu saja mencari masalah dengan saya. Saat saya di fitnah hamil di luar nikah," ujar Amber waktu itu masih duduk di bangku SMP. "Saya akan selalu mengingat perbuatan kalian dengan saya! Saya tidak peduli mau kalian sebagai guru saya atau tidak. Yang penting saya masih mengingat masa-masa tersulit saya dan membuat saya hampir tak ingin sekolah," ucap Amber.
Jujur waktu itu Amber sempat tidak ingin sekolah karena seluruh sekolah mendengar berita tentang Amber hamil di luar nikah dari teman-teman sekelasnya, sang Ayah dan ibunya terus-terusan memaksa dirinya untuk tetap sekolah.
Sungguh Ayahnya itu tidak pernah mengerti dengan perasaan nya waktu itu, Amber ingin sendirian dan meratapi nasibnya yang seolah-olah tak ada satu pun orang yang memberikan dirinya dukungan. Tapi Amber mulai bangkit saat sang Tante datang dan memeluk tubuhnya dengan erat, setelah itu dia mulai sekolah walaupun dia tidak memiliki teman satu pun.
Masa itu juga Adiva tau lika-liku kehidupan Amber, hanya saja dia tidak terlalu peduli dengan kehidupan Amber karena dia juga harus sibuk dengan kehidupannya sendiri.
Dulu waktu masa SMP, Adiva selalu saja di jadikan babu oleh teman-teman sekelasnya. Adiva awalnya menolak karena tidak ingin dirinya menjadi babu oleh teman-teman, tapi mereka langsung memaksa Adiva dengan cara dibully.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Pagi hari...
Amber sudah sampai sekolah dengan selamat, sekarang sudah pukul tujuh tapi Adiva belum juga datang sama sekali. Dia meletakan tas sekolahnya ke bangku, lalu mendudukkan dirinya di sana sambil menoleh ke arah Oliver.
"Oliv? Adiva belum datang?" tanya Amber pada Oliver.
__ADS_1
"Entah!" jawab Oliver nampak cuek.
Dia kira Oliver cuek dengannya karena Oliver sibuk dengan buku pelajaran, tapi Amber sepertinya tidak tau kalau Oliver marah dengan Amber karena gadis itu menolak pernyataan cinta Dylan. Malam tadi Dylan cerita-cerita tentang dirinya yang sempat menyatakan perasaannya pada Amber, tapi Amber menolak karena dirinya belum memikirkan masalah percintaan seperti itu.
Amber diam seolah-olah tidak mau mengganggu Oliver sedang belajar, setelah cukup lama akhirnya bel masukan berbunyi membuat Amber langsung gelisah karena hari ini adalah hari keempat mereka untuk melaksanakan Ulangan Tengah Semester.
"Adiva ke mana? Bukan, 'kah bel masukan sudah berbunyi?" tanya Amber gelisah.
Dia terus-terusan menatap pintu kelas dengan pandangan gelisah berharap Adiva datang ke sekolah dengan selamat, sementara Taksa nampak biasa-biasa saja dari awal dirinya datang ke sekolahan.
"Taksa? Kamu tau, 'kan di mana Adiva?" tanya Amber beranjak dari tempat duduknya.
Matanya menatap Taksa dengan tatapan tajam, entah kenapa dia merasa Taksa tau di mana Adiva sekarang. Makanya Amber langsung memastikan terlebih dahulu, apakah Taksa berbohong atau tidak.
"Tentu saja tidak!" jawab Taksa acuh.
Amber sudah mengepal kedua tangannya di sisi tubuh, lalu memejamkan matanya untuk menahan amarahnya agar tidak meledak. Setelah itu dia membuka matanya secara perlahan, lalu kembali menatap Taksa dengan tatapan tajam.
"Awas aja kalau berbohong! Ku pastikan kamu tidak akan tenang setelah itu,"
Oliver mendengus kesal mendengar ucapan Amber, kenapa pula dia khawatir dengan keadaan Adiva? Bukan, 'kah mereka berdua selaku bertengkar di mana pun dan kapan pun?
Berapa menit kemudian seseorang memasuki ruangan kelas mereka dan saat itu Ulangan hari ini segera di mulai, berkali-kali Amber menatap pintu kelas dengan khawatir dan selalu tak fokus dengan soal-soal Ulangannya.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Di dalam kosan Taksa, gadis itu langsung mencari cara agar keluar dari kosan tersebut. Tubuhnya terasa remuk karena perbuatan laki-laki yang sudah berani mengambil keperawanan nya, Adiva tak menyangka kalau dia pasrah pada laki-laki tersebut.
"Bagaimana ini? Aku takut dia tidak akan bertanggung jawab atas perbuatannya," ujar Adiva menatap pintu kosan yang terkunci dari luar.
Seketika Adiva terdiam karena menatap jendela kosan, lantas dia mendekat ke arah jendela tersebut dan membukanya secara perlahan. Dia langsung memasukkan tubuhnya untuk melewati jendela tersebut, sehingga sekarang dia sudah keluar dari kosan tersebut.
"Aku harus bisa pulang ke rumah! Sebelum Ayah dan Ibu menyadari kalau aku belum pulang ke rumah," gumam Adiva.
Adiva dengan susah payah meninggalkan pekarangan kos tersebut, dengan keadaan tidak baik-baik saja. Dia mengenakan pakaian kaos milik Taksa, karena tidak mungkin dia mengenakan seragam sekolahnya yang kotor di dalam kosan Taksa.
Bersambung...
__ADS_1