Calon Malaikat Kecil

Calon Malaikat Kecil
24. Masalah (2)


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Adiva menatap dapur berharap jika Amber ingin membantunya dari kedua orang tuanya, dia mana mungkin bisa menjelaskan masalahnya pada mereka. Apa lagi Adiva belum ada kesiapan untuk menjelaskan semuanya, dia benar-benar takut jika mereka berdua akan mengusirnya dari rumah.


"Gimana?"


"Bu... Sebenarnya aku mau minta maaf sama kalian!" ujar Adiva berusaha untuk memberanikan diri meminta maaf.


"Minta maaf untuk apa?"


"Aku sedang mengandung!" jawab Adiva lalu menundukkan kepalanya takut.


"Astaga, Diva! Jangan bercanda! Mana mungkin kamu bisa mengandung sementara kamu aja tidak ada kekasih," sahut sang Ayah sambil tertawa canggung.


"Benar, Ayah! Ini gara-gara..."


Adiva sibuk menceritakan semuanya pada mereka, sehingga melupakan Amber yang sedang menahan rasa sakit di kepalanya. Amber mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu menekan nomor sang Tante yang selalu dia hubungi.


"Tante! Kepalaku kambuh lagi," cicit Amber saat ponselnya berada di telinga kanan.


Di seberang sana Tante Tina langsung terkejut mendengar suara lirih Amber, apa lagi Amber selalu mengeluh sakit pada kepalanya. Setelah memberikan kabar pada Tante Tina, Amber langsung mematikan sambungan telpon di antara mereka berdua.


Sekarang Amber terduduk lemas di atas lantai kamar mandi, sudah dari berapa menit yang lalu kepalanya kambuh dan terasa sakit.


"Ku mohon! Jangan pukul kepala ku!!" teriak Amber.


Untung saja kamar mandi Adiva kedap suara, jadi Amber tidak perlu khawatir jika mereka bertiga mendengar teriakan kesakitan Amber. Amber berharap Tante Tina dengan cepat menuju ke sini, walaupun tidak mungkin wanita itu datang dengan cepat.


Ponselnya berbunyi menandakan ada seseorang yang sedang menelepon nya, dia meraih ponsel tersebut lalu menekan icon berwarna hijau di layar ponsel.


"Halo Tante?"


"Sekarang Tante ada di luar! Agar kita bisa ke Rumah Sakit secepatnya,"


Sambungan telpon itu terputus membuat Amber bersusah payah beranjak dari lantai kamar mandi, berkali-kali dia gagal tapi Amber selalu berusaha agar bisa beranjak dari lantai.


Cklek...


Amber membuka pintu kamar mandi dengan perlahan, lalu menatap keluarga kecil itu dengan tatapan sendu. Dia merasa iri dengan kedekatan mereka bertiga, di mana kedua orang tua Adiva selalu ada di sisinya.


Dengan senyuman sendu gadis itu melangkah keluar, lalu mendekati sekumpulan keluarga tersebut.


"Permisi! Boleh, 'kah saya keluar dengan Tante saya?" tanya Amber dengan wajah pucat.

__ADS_1


Ketiganya langsung menoleh dan menatap Amber yang sedang menatap mereka dengan tatapan sayu, Adiva ingin beranjak dari sofa tapi langsung di tahan oleh sang Ayah.


"Kamu di sini saja!" ujar sang Ayah dengan nada dingin.


Ayahnya masih marah pada gadis tersebut, di mana Adiva sudah berani melanggar peraturan mereka berapa tahun yang lalu. Sang Ibu beranjak lalu mengelus puncak kepala Amber dengan lembut, membuat Amber langsung tersedak kaget.


"Asalkan kamu pulang dengan cepat, ya?"


Amber mengangguk lalu berpamitan pada ketiganya untuk keluar, setelah selesai berpamitan dengan mereka barulah Amber melangkah keluar.


"Ayo?"


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Setelah selesai bercerita dengan kedua orang tuanya, Adiva tentu saja mendapatkan kemarahan dari mereka berdua. Adiva juga menceritakan alasan kenapa dirinya bisa hamil di luar nikah, keduanya langsung marah saat Adiva pasrah-pasrah saja saat pemuda bernama Taksa itu melakukan hal macam-macam padanya.


"Sekarang bagaimana? Bu Karin sudah mengetahui ini, 'kan?" tanya sang Ibu sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Besok kalian di panggil ke sekolah untuk bertemu langsung dengan kepala sekolah," ujar Adiva memainkan kedua jarinya takut.


Sementara sang Ayah hanya menghela napas, ingin marah tapi kejadian ini sudah terjadi. Bahkan di dalam perut sang anak adalah cucu mereka, dan bagaimana pun caranya pemuda itu harus bertanggung jawab. Mereka berdua tidak terima jika pemuda itu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Adiva, maka mereka akan melakukan sesuatu pada pekerjaan orang tua pemuda tersebut.


"Kamu boleh ke kamar!"


Ketakutan terbesar mereka pun terjadi, gadis itu hamil di luar nikah seperti di alami oleh sang Ibu. Hanya saja seseorang yang sudah berani menghamili sang Ibu tak mau bertanggung jawab, akhirnya sang Ayah dengan rela hati bertanggung jawab walaupun Adiva bukan lah anak kandungnya.


"Ketakutan kita akhirnya terjadi! Adiva hamil di luar nikah seperti ku dahulu," ujar sang Ibu menatap punggung Adiva yang sudah menghilang dari balik tembok kamarnya.


"Semoga saja pemuda itu mau bertanggung jawab!"


Sang Ibu menganggukkan kepalanya, tentu saja dia ingin pemuda bernama Taksa itu bertanggung jawab atas kehamilan Adiva.


Sementara di Rumah Sakit Tante Tina dan Amber sedang menatap selembar kertas dengan tatapan sendu, kertas tersebut adalah kertas persetujuan dari orang tua untuk operasi Amber.


"Gimana ini Tante?" tanya Amber menatap Tante Tina.


"Kamu harus memberitahu orang tua kamu tentang ini! Tante takut kalau suatu hari nanti penyakit mu akan bertambah parah," sahut Tante Tina membuat Amber tambah gelisah.


Amber tidak ingin memberitahu penyakit nya pada mereka berdua, apa lagi mereka terlihat tak peduli dengan kehadirannya. Amber tak ingin dirinya menjadi beban mereka seperti sebelum-sebelumnya, membuat Amber harus mengurungkan diri selama berhari-hari karena ucapan mereka.


"Amber? Itu bukan kamu, 'kan?"


"Amber bagaimana bisa kamu melakukan hal ini?"

__ADS_1


"Amber? Mamah dan Papah benar-benar marah dengan keputusan mu,"


Tuan Dirgantara langsung terbangun dari tidurnya, barusan saja dia mendapatkan mimpi buruk mengenai anak pertamanya. Di dalam mimpi kalau sang anak melakukan bunuh diri yang membuat seisi rumah langsung heboh, melihat tubuh sang anak tergantung di atas langit-langit kamar.


"Kenapa perasaan ku tidak enak?" gumamnya.


Lalu matanya menatap layar ponsel, di mana layar ponsel tersebut menunjuk angka dua belas malam. Tadi dia sempat tertidur di meja kerjanya, dengan cepat dia beranjak dari bangku menuju kamar mandi. Gara-gara mimpi tadi dia langsung merasa gelisah dengan Keluarganya, mana mimpi itu adalah mimpi ke sepuluh mengenai Amber.


Brak...


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Keesokan harinya...


Sinar matahari menembus jendela kamar Adiva, membuat gadis itu langsung terbangun dari tidurnya. Matanya beralih pada tempat sebelah kiri, ternyata Amber belum pulang juga dari tadi malam.


"Kemana dia? Kok tiba-tiba menghilang?" gumamnya.


Lalu setelah itu dia langsung beranjak dari ranjang dan membawa kedua kakinya menuju kamar mandi, sekarang baru enam pagi dan sejam lagi bel masukan akan berbunyi.


Berapa menit kemudian Adiva keluar dari kamar mandi dengan pakaian seragam sekolahnya, dia menatap seragamnya itu dengan tatapan sendu. Sebentar lagi dia tidak akan bisa mengenakan seragam sekolah ini, karena pasti Bu Karin akan memberitahu semua guru mengenai masalah ini.


"Selamat tinggal seragam sekolah ku!"


Setelah itu dia meraih tas sekolah dan dirinya sempat mengelus perutnya dengan lembut, walaupun hanya beberapa mimggu saja nyawa itu hadir tapi Adiva begitu menyayangi anaknya dan tidak sabar menunggu lahirnya calon malaikat kecilnya ini.


Saat membuka pintu kamarnya, dia menatap sang Ibu dengan tatapan bingung. Ternyata wanita itu sudah berdiri di depan untuk membangunkan sang anak dari tidurnya, tapi mendengar ucapan Adiva mengenai calon anaknya membuat wanita itu menintikan air matanya karena sedih.


"Ibu ngapain?" tanya Adiva tersenyum.


"Gak ada apa-apa!" jawab wanita itu lalu melangkah pergi meninggalkan Adiva sendirian.


Adiva menatap punggung sang Ibu dengan tatapan sedih, dia merasa Ibunya masih marah atas masalah yang menimpanya. Apa lagi dia menginginkan hal itu agar Taksa selalu tetap bersamanya, Adiva ingin Taksa selalu ada untuknya dan berharap pemuda itu memilih nya dari gadis lain.


"Aku tau kalau aku sudah membuat kesalahan! Jika saja Taksa tak ingin bertanggung jawab maka aku harus pergi dari rumah untuk merawat anak ini sendirian," gumam Adiva mengelus perutnya dengan lembut.


Adiva sudah memiliki rencana jika Taksa tidak mau bertanggung jawab maka dia harus pergi dari rumah untuk merawat anaknya seorang diri, agar orang lain tidak mengetahui keberadaannya dan sang anak.


Pagi itu Adiva selalu berpikiran tentang calon malaikat kecil yang masih di dalam perut ratanya, walaupun anak itu tidak di inginkan olehnya tapi tetap saja dia harus merawatnya dengan baik tanpa paksaan. Dia sudah menerima takdir yang akan datang setelah ini, menerima caci makian dari teman-temannya jika mereka sudah mengetahui atas kehamilannya selama ini.


Tentang Oliver... Gadis itu sekarang masih menjauhkan diri dari mereka berdua, tapi tetap saja dia bersyukur karena Amber masih ada di sisinya bahkan gadis itu juga membantunya saat masa mengidam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2