Calon Malaikat Kecil

Calon Malaikat Kecil
16. Rahasia


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Adiva menutupi tubuhnya menggunakan selimut, kemarin sang Ayah tak dapat menjemput dirinya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Dia tidak menyangka pemuda bernama Taksa itu bisa mengambil mahkota berharganya, dia benar-benar menyesal sudah mengenal pemuda tersebut.


Dia baru tau kalau pemuda itu adalah pemuda yang kasar, seandainya dia mendengar larangan Amber padanya bersangkutan tentang Taksa mungkin dia akan baik-baik saja sekarang. Dia menatap jam yang ada di dinding kamar, dia tersenyum tipis saat melihat jarum jam menunjuk angka dua belas siang.


Dia segera meraih ponsel yang ada di atas nakas, lalu membuka ponsel pintarnya. Dia berusaha mencari nomor milik Amber, dan menekan nomor tersebut dan mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanan.


Entah kenapa hanya Amber lah yang dia butuhkan sekarang, dia tersenyum tipis saat Amber mengangkat sambungan telpon di antara mereka berdua.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" jawab Adiva lalu mengubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang.


"Ada apa, Div?" tanya Amber dari sebrang sana.


"Kamu sudah pulang sekolah, 'kan?" tanya Adiva tiba-tiba saja batuk.


"Iya. Kenapa?"


"Aku boleh minta tolong gak? Nemani aku untuk hari ini saja?" tanya Adiva menggigit bibirnya ragu.


Dia takut Amber menolak ajakannya, mereka berdua bukan sahabat baik melainkan musuh selama bertahun-tahun. Jadi kemungkinan Amber akan menolak ajakannya, lalu membiarkan Adiva sendirian di rumah ini dengan perasaan menyesal dan bersalah.


"Boleh! Kebetulan aku sudah di rumah jadi tinggal berangkat ke sana aja," jawab Amber.


Adiva diam lalu menjauhkan ponselnya dari telinga kanan, menatap layar ponsel dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa gadis itu menerima ajakannya untuk menemaninya di rumah? Bahkan mereka berdua tidak pernah sekali pun akur dengan masalah kecil.


Sambungan di antara mereka berdua pun terputus, karena Amber akan bersiap-siap terlebih dahulu agar cepat-cepat ke rumah Adiva.


Mereka berdua sudah pernah ke rumah masing-masing karena ada tugas kerja kelompok, tapi keduanya sama-sama tidak ada niatan untuk berteman seperti orang-orang di luaran sana.


Berapa jam kemudian Amber baru saja sampai di rumah Adiva karena dia sempat memiliki masalah dengan kedua orang tuanya, hanya karena dia tidak ingin makan bersama akhirnya dia bertengkar hebat dengan keduanya tersebut.


Jujur saja Amber tidak suka makan bersama dengan mereka, karena dia terus-terusan merasa dirinya seperti anak tiri dari pada anak kandung. Sebenarnya Amber lelah dengan kehidupannya, tapi dia berusaha untuk sabar karena mungkin sebentar lagi dia akan meninggalkan dunia ini.


"Kenapa baru datang?" tanya Adiva mempersilakan Amber untuk masuk ke dalam.


Amber langsung mencari alasan yang masuk akal, dia tidak ingin Adiva tau kalau dia sedang bertengkar dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Biasa! Aku sempat ke minimarket buat beli camilan untuk kita," jawab Amber menenteng kantong plastik besar berisi camilan untuk mereka nanti.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Sekarang di sini lah mereka berdua, mereka duduk di lantai berlapis karpet milik Adiva. Sebentar lagi Adiva akan menceritakan semua pada Amber, entah kenapa Adiva merasa kalau Amber akan menyimpan rahasianya dengan baik.


"Kamu mau cerita apa?" tanya Amber sambil memasukan camilan ke dalam mulutnya.


Adiva tak menjawab dengan cepat melainkan dirinya menggigit bibir bawahnya takut kalau Amber akan marah padanya, Adiva menghela napas panjang lalu menatap Amber dengan tatapan serius.


"Aku mau cerita. Tapi kamu jangan marah, ya?"


Amber mengerutkan keningnya bingung, karena aneh dengan respon dari Adiva. Untuk apa dia marah kalau itu bersangkutan dengan Adiva? Amber sama sekali tidak ada hak untuk marah jika Adiva ingin bercerita.


"Marah kenapa? Kamu, 'kan punya hak untuk cerita sama aku," jawab Amber bingung.


"Bukan itu maksud aku,"


Lagi-lagi Adiva menggigit bibir bawahnya, karena Amber tak paham dengan maksud dari ucapannya.


"Sebenarnya aku gak sekolah karena Taksa mengurungku di dalam kosannya," ujar Adiva mulai menceritakan semuanya pada Amber.


Sementara Amber hanya diam sambil mendengarkan Adiva bercerita, dia harus mendengar ceritanya sampai akhir agar dia tidak salah paham dengan Taksa.


"Setelah berhasil menangkap ku mereka langsung menyerahkan ku pada Taksa yang kebetulan masih berada di kosannya! Kamu tau Taksa memaksaku untuk melakukan hal yang tidak mungkin kami lakukan,"


Detik itu juga Amber menggenggam botol mineral dengan erat sehingga botol tersebut tak berbentuk lagi, mendengar cerita itu tentu saja Amber marah karena ulah Taksa.


"Jadi dia sudah melakukan hal itu pada mu?" tanya Amber menatap Adiva dengan tatapan tak percaya.


"Iya. Awalnya aku tentu saja memberontak tapi tiba-tiba saja aku pasrah saat dia memukul tubuh ku menggunakan ikat pinggang," jawab Adiva.


Tubuh Amber langsung menegang karena teringat di mana sang Ayah memukulnya menggunakan ikat pinggang kemarin sore, tanpa sadar cairan bening keluar dari kedua kelopak matanya.


"Besok kita harus menghajar Taksa mati-matian agar Taksa tau kalau dia tak pantas melakukan hal itu padamu," ujar Amber menatap Adiva dengan serius.


"Tapikan... Aku takut kalau Taksa tidak akan bertanggung jawab jika kamu menghajarnya," cicit Adiva.


"Aku tau sifat orang bagaimana! Tidak mungkin semudah itu dia bertanggung jawab. Lihat saja dia memaksa mu untuk melakukan hal itu dengannya?" sahut Amber dengan nada dingin.

__ADS_1


Adiva tak menjawab melainkan dia meratapi nasibnya yang sudah tak suci lagi, seandainya waktu itu dia berhasil melarikan diri mungkin ini tak akan terjadi. Seketika Adiva merentangkan tangannya ke arah Amber, agar gadis itu memeluk dirinya yang sedang hancur ini.


Amber dengan senang hati memeluk Adiva, karena dia tau Adiva pasti sedang hancur sekarang. Membiarkan Adiva yang terus-terusan menangis sebab ulah Taksa, setelah cukup lama menangis di dalam pelukan Amber akhirnya Adiva menghentikan tangisnya lalu melepaskan pelukan di antara mereka berdua.


"Makasih, ya? Jujur setelah menceritakan semuanya pada mu hati ku langsung tenang," ujar Adiva tersenyum manis ke arah Amber.


Amber tentu menganggukkan kepalanya lalu meraih camilan yang masih di dekat mereka, keduanya mulai bercerita walaupun kebanyakan Adiva yang bercerita pada Amber. Sementara Amber hanya memperhatikan Adiva yang sibuk menceritakan masalahnya dengan Amber, sampai-sampai Adiva tidak menyadari kalau Amber mendadak merasa sakit di kepalanya.


"Setelah lulus SMA nanti mau lanjut ke mana?" tanya Adiva pada Amber.


Amber diam dengan tatapan yang sulit di artikan, jujur saja dia tidak ada niatan untuk memikirkan masalah itu. Karena dia belum yakin akan bisa masuk ke sekolah tinggi, sebab dia yakin penyakit nya akan bertambah parah kalau di biarkan.


"Gak tau! Mungkin ngikut ucapan Papah," jawab Amber.


"Seharusnya kamu pilih jurusan yang kamu inginkan! Bukan keinginan mereka," sahut Adiva sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapikan... Aku hidup sama mereka jadi aku harus mengikuti ucapan mereka," jawab Amber tersenyum tipis.


"Kamu punya hak untuk memilih pilihan mu sendiri! Karena tidak ada satu pun yang bisa melarang pilihan mu walaupun itu orang tua mu sendiri," ujar Adiva membuat Amber terdiam.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Malam harinya...


Amber sudah pulang ke rumahnya dengan cepat, kedua orang tuanya dan Devin masih keluar rumah untuk makan malam bersama. Mata Amber menatap kertas yang berada di atas ruang tengah tersebut, dan membaca isi dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya.


Ternyata selama ini orang tuanya selalu memperhatikan Devin karena anak itu memiliki riwayat penyakit bocor jantung, Amber menyentuh kepalanya karena terasa sakit menyerang tiba-tiba.


"Pantas saja! Mamah dan Papah selalu memperhatikan Devin!" ujar Amber lalu menjatuhkan dirinya untuk duduk di sofa.


Setelah lama terdiam di sofa, Amber membuka kedua matanya dan menatap jam yang ada di dinding ruang tengah.


"Sebentar lagi mereka akan pulang,"


Amber beranjak dari sofa lalu melangkahkan kakinya menuju anak tangga, dia sempat menghentikan langkahnya saat di pertengahan tangga.


"Bi? Jangan lupa buatkan susu hangat untuk Devin nanti, ya? Takutnya Devin akan susah tidur jika malam hari tanpa susu," ujar Amber sebelum melanjutkan langkahnya.


Wanita paruh baya itu lantas tersenyum tipis mendengar ucapan Amber, walaupun dirinya seperti tidak di anggap oleh keluarganya tapi tetap saja Amber peduli dengan mereka dan selalu memberitahu kegiatan mereka pada dirinya.

__ADS_1


"Semoga! Kamu akan bahagia setelah ini,"


Bersambung...


__ADS_2