
...~Happy Reading~...
Karena keduanya penasaran, siapa pemilik seragam olahraga yang di gunakan oleh pemuda tersebut akhirnya mereka berdua memutuskan untuk ke kantin bersama-sama untuk menghampiri Wirna tentunya.
"Sayang? Kamu dari mana aja?" tanya Wirna sedikit berteriak.
Seketika Wirna terdiam saat melihat Amber menatapnya dengan tatapan datar, dia baru ingat pagi tadi dia sempat mencuri pakaian Amber dari lokernya tersebut.
Mana Wirna lupa mengembalikan pakaiannya ke asalnya, lalu bagaimana caranya untuk selamat?
Amber tentu saja tau seragam miliknya gimana, karena semua seragam sekolahnya selalu dia gunakan parfum miliknya sehingga orang-orang pasti tau khas wangi Amber.
"Wir? Aku cuman nanya... Seragam olahraga yang di kenakan sama pacar mu itu seragam punya siapa?" tanya Amber seketika dirinya berhadapan dengan Wirna.
Wirna tak menjawab langsung, melainkan dirinya diam lalu melirik ke arah kekasihnya dengan rasa khawatir.
"Punya ku kok. Karena waktu itu aku sempat minta parfum mu gara-gara aku lupa bawa," jawab Wirna kikuk.
"Tapikan... Kamu pernah bilang kamu gak bakalan menggunakan parfum tersebut karena baunya aneh dari pada parfum milik mu," sahut Amber lalu menaiki sebelah alisnya.
Deg...
Wirna meneguk saliva nya dengan bersusah payah, Amber emang susah untuk di bohongi oleh bersangkutan dengan seragam sekolahnya.
"Panggilan untuk Amber dan Adiva kelas sebelas IPA dua agar menemui saya di ruang BK!"
Amber mendengus kesal karena lagi-lagi dia harus menemui guru tersebut, guru itu adalah guru BK yang selalu mengurus siswa-siswi yang bermasalah. Dengan perasaan kesal Amber menendang meja makan dengan kasar, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kantin tersebut.
"Siapa lagi yang cari masalah dengan ku?" gumam Amber. "Pasti Adiva? Tapi mana mungkin dia yang melapor sementara dia juga di panggil ke ruang BK," tambahnya sambil mengacak rambutnya dengan frustasi.
Sepanjang perjalanan Amber sibuk memikirkan siapa seseorang yang telah melapor dirinya dan Adiva ke ruang BK, dan dia juga sedang memikirkan sesuatu apa yang salah yang sudah dia lakukan sehingga di laporkan oleh mereka.
Setelah sampai di depan pintu ruangan BK, Amber dan Adiva saling bertemu satu sama lain sehingga keduanya mengerutkan kening mereka secara bersamaan.
"Ada apa?" tanya Amber pada Adiva.
"Tidak tau!" jawab Adiva sembari mengedikkan bahunya tidak tau.
Keduanya sama-sama membuka knop pintu ruang BK, di mana guru yang menjadi guru BK menatap keduanya secara bergantian.
"Kalian berdua selalu aja cari masalah! Bapak heran sama kalian berdua!"
Adiva dan Amber sama-sama melirik satu sama lain, apa yang terjadi dengan mereka berdua?
"Maksud Bapak?" tanya Amber mengerutkan keningnya bingung.
"Ada seseorang yang melapor kalau kalian berdua sama-sama membully adik kelas," jawab Bapak sambil menatap keduanya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku membully adik kelas? Sementara dekat aja gak ada, batin Amber mendengus kesal.
Maksud nya? Aku membully mereka? batin Adiva sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sudah saya peringatan pada kalian kalau melakukan masalah lagi maka saya tidak segan-segan meminta Kepala sekolah untuk mengeluarkan kalian dari sekolah ini!" tegasnya.
"Kok gitu? Saya benar-benar jujur kalau saya gak membully adik kelas bahkan saya saja tidak dekat sama mereka," sahut Amber membela dirinya sendiri.
"Mana buktinya kalau kamu gak membully mereka?" tanyanya dengan menantang.
Setelah mengucapkan kata tersebut, beberapa siswi masuk dengan menundukkan kepalanya takut.
"Coba jelaskan! Bagaimana cara mereka membully kalian?"
Salah satu dari mereka mulai mengangkat kepalanya lalu menatap Adiva dan Amber dengan perasaan takut, dari situ lah Amber langsung bertambah bingung.
"Kak Adiva sama Kak Amber pernah meminta saya untuk mengerjakan tugas-tugasnya lalu setelah itu mereka langsung pergi ke kelasnya tanpa berterima kasih," jelas siswi tersebut mendapatkan anggukan dari teman-temannya.
"Hah? Aku aja gak kenal sama kalian bertiga," sahut Amber menatap ketiganya dengan tatapan tajam.
"Percuma Amber! Karena mereka sudah mengaku kalau mereka di bully oleh mu," ujar Pak Lino.
"Gak bisa gitu dong, Pak! Seharusnya Bapak cari cara buat menyelesaikan masalah ini," sahut Adiva. "Apa lagi masalahnya tentang bully harus ada bukti berupa video dan lain-lainnya," tambah Adiva.
"Saya juga bisa bilang kalau saya jadi korban bully tanpa barang bukti sekali pun," tambah Amber.
Pak Lino mengeluarkan smirk andalannya setelah melihat Amber dan Adiva sama-sama mengusap wajahnya dengan kasar, keduanya benar-benar tidak tau apa yang terjadi bahkan mereka bukan lah pelaku pembullyan yang Pak Lino maksud.
"Saya jujur kalau saya gak membully adik kelas! Bahkan nama mereka bertiga saja tidak tau," sahut Amber. "Iya, Pak. Saya juga gak kenal sama mereka bertiga," lanjut Adiva.
"Pokoknya saya gak mau tau! Kalian harus mendapatkan hukuman dari Bapak Kepala sekolah,"
"Jika suatu hari nanti pelakunya bukan kami... Maka saya berani bersumpah hidup kalian bakalan tidak tenang!" Adiva menekan semua katanya membuat Amber terlonjak kaget. "Enak banget nuduh-nuduh kami jadi pelaku terus langsung mengeluarkan kami dari sekolahan," tambah Adiva lalu melirik Pak Lino dengan lirikan tajam.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Sekarang Adiva dan Amber sama-sama berhadapan dengan Kepala Sekolah mereka, di mana Pak Lino sudah melaporkan kalau keduanya menjadi pelaku bully yang di alami adik kelas mereka.
"Pak Lino bilang kalian berdua adalah pelaku pembullyan?" tanya bapak Kepala Sekolah menatap Adiva dan Amber duduk saling bersebelahan itu.
"Enggak, Pak! Kamu bukan pelakunya," jawab Amber sambil menggelengkan kepalanya kuat.
"Tapi... Pak Lino memiliki bukti kalau kalian berdua lah pelakunya," ujarnya lalu memperlihatkan video pada mereka berdua.
Adiva dan Amber seksama menonton video yang di berikan oleh bapak Kepala Sekolah itu, ternyata ada dua siswi yang membully adik kelas dengan cara menyiram air yang ada di dalam ember.
"Pak? Bagaimana bisa Bapak percaya kalau itu kami berdua? Buktinya saja video ini di blur," sahut Amber menatap bapak Kepala Sekolah itu dengan tatapan sendu. "Iya, Pak. Apa jangan-jangan si pelaku sebenarnya sengaja biar kita tidak tau kalau pelakunya itu adalah mereka?"
__ADS_1
"Sayangnya... Ketiga korban sudah memberitahu saya kalau kalian berdua lah pelaku tersebut dan sehingga salah satu dari mereka harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari," jelasnya.
Adiva dan Amber sama-sama melirik satu sama lain, ada yang aneh! Mereka berdua tidak pernah bersama-sama, bahkan mereka berdua saja tidak dekat satu sama lain.
"Terus gimana, Pak?"
"Jadi... Saya akan mengeluarkan kalian berdua dari sekolah karena sudah melakukan kekerasan pada warga sekolah,"
Deg...
Amber tak bisa menahan air matanya, bagaimana cara dia membicarakan masalah ini dengan kedua orang tuanya?
Amber saja tidak terlalu dekat dengan orang tuanya, sungguh Amber takut kalau orang tuanya akan memarahinya dan membuat dirinya sedikit terluka karena ucapan mereka.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Brak...
Brak...
Brak...
Amber melempar semua barang-barang di kamarnya ke lantai, bahkan wajahnya terlihat memerah karena menahan amarah dan sedih bercampur aduk.
"Sialan! Kenapa mereka bilang kalau aku dan Diva yang bully mereka?"
Amber menjatuhkan lututnya ke lantai saat merasa kedua kakinya terasa lemas, Amber belum siapa menerima pukulan dari sang Ayah kalau pria tua itu mendengar kalau Amber di keluarkan dari sekolahan karena pelaku pembully.
"AMBER?! KEMARI KAMU! BERANI-BERANINYA KAMU MEMPERMALUKAN SAYA DI DEPAN SEMUA GURU-GURU MU!"
Amber langsung bangkit dari lantai, lalu berlari menuju pintu kamarnya. Dia tidak ingin Ayahnya akan semakin marah jika dirinya lama turun ke bawah, apa lagi ini bersangkutan dengan sekolah Amber.
Sementara di rumah Adiva, Adiva sedang menangis di dalam pelukan sang Ayah dan Ibunya. Karena kedua orang tuanya percaya jika Adiva hanya di jebak oleh teman-temannya, bagaimana bisa Adiva jadi pelaku pembully kalau gadis itu saja tidak pernah bergaul dengan orang lain kecuali Luna sendiri.
"Bu... Gimana sama sekolah aku?" tanya Adiva mengeratkan pelukannya pada mereka berdua.
"Ayah berusaha buat mencari sekolah baru untuk mu! Tenang saja suatu hari nanti mereka akan tau semuanya,"
Sang Ayah langsung memeluk tubuh sang anak dengan erat, karena gadis itu nampak ketakutan.
"Aku takut terjadi sesuatu pada Amber! Apa lagi orang tuanya sangat keras pada anak-anaknya," sahut Adiva.
"Untuk apa kamu peduli dengan orang lain? Kalian berdua sama-sama di keluarkan dari sekolah jadi pikiran diri sendiri saja,"
Sang Ayah melepaskan pelukannya pada sang anak, karena mendengar anaknya itu nampak peduli dengan orang lain.
Flashback end.
__ADS_1
Bersambung...