
...~Happy Reading~...
Flashback...
Berapa hari yang lalu seluruh siswa-siswi SMA masuk, bahkan sekarang adalah hari ketiga mereka masuk sekolah.
"Amber? Aku punya berita panas tentang Adiva!" ujar teman dekat Amber langsung mengajak gadis itu untuk menggosip ria seperti biasanya.
Amber yang di ajak oleh temannya itu tentu saja tidak menolak, karena walaupun dia tidak pernah membawa berita panas setiap hari tapi dia selalu yang berkomentar dan langsung melabrak jika itu bersangkutan dengan dirinya.
"Berita tentang apa?" tanya Amber mengerutkan keningnya bingung.
"Katanya Adiva bakalan mengikuti olimpiade biologi!" jawab Wirna membuat Amber langsung lesu.
Sebenarnya yang akan mengikuti olimpiade biologi itu adalah dirinya, tapi karena dia sudah masuk ke olimpiade matematika jadi dia tidak ada kesempatan untuk masuk olimpiade biologi tersebut.
"Katanya sih Adiva yang mau ikut olimpiade tersebut!" tambahnya.
Amber hanya melirik Wirna sekilas, dengan kedua sudut bibirnya membentuk senyuman manis.
"Kamu berkata yang sebenarnya, 'kan? Tidak berbohong seperti kemarin? Aku takut kalau kau malah bohong seperti tempo hari," ujar Amber sengaja membuat Wirna gugup.
"Tidak! Kemarin aku hanya lupa dengan kejadian itu jadi aku berbohong saja kalau aku tidak melihatnya," jawab Wirna membela dirinya sendiri.
Pintar sekali kau! Sayangnya suatu hari nanti kebusukan mu akan terungkap! batin seseorang sambil menatap keduanya dari kejauhan.
Seseorang tersebut masih menatap Amber dan Wirna yang nampak bergosip ria, Wirna masih setia membahas Adiva sehingga dirinya tidak sadar kalau seseorang bernama Adiva itu dari tadi sedang memperhatikan keduanya dengan serius.
"Adiva? Aku dengar-dengar katanya kamu ikut olimpiade biologi, ya?"
Gadis bernama Adiva itu tentu langsung menoleh ke belakang, di mana teman dekatnya si Luna sedang menatapnya dengan tatapan senang. Mereka sudah lama berteman satu sama lain, bahkan jarak rumah mereka sangat di bilang dekat.
"Iya! Soalnya guru-guru minta aku buat ikut serta dalam olimpiade tersebut," jawab Adiva dengan anggukan kecil.
Sementara Luna hanya menganggukkan kepalanya, jangan heran kalau gadis itu akan ikut lomba olimpiade biologi karena dulu waktu SMP gadis itu juga ikut serta dalam olimpiade sains.
"Lihat si Wirna suka banget ngajak Amber buat benci sama orang!"
Luna menarik kepala Adiva untuk menatap Amber dan Wirna, di mana kedua remaja perempuan tersebut sedang bergosip tapi lebih mencolok si Wirna karena Amber hanya mendengarkan cerita dari Wirna.
"Kamu percaya kalau Adiva ikut olimpiade biologi karena sogokan dia?" tanya Wirna sambil tersenyum kecil ke arah Amber.
Amber tak menjawab melainkan dirinya sibuk menatap layar ponsel dengan tatapan yang sulit di artikan, orang tuanya terus-terusan menuntut dirinya untuk belajar agar mendapatkan nilai yang sempurna.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
__ADS_1
Amber dan Wirna sudah duduk di meja kantin, di mana Wirna meletakan makanannya ke atas meja dengan perlahan.
Brak...
Luna secara tidak sengaja menyenggol meja mereka sehingga mangkok berisi Mie Ayam milik Amber langsung tumpah ke seragam sekolah Amber, Amber nampak terkejut dan beranjak dari tempat duduknya.
"Sialan! Baju ku kotor!"
Luna langsung menarik Adiva untuk berdiri di hadapan gadis bernama Amber tersebut, Amber yang tidak tau kalau yang menyenggol meja tadi adalah Luna.
"Kenapa kamu marah-marah dengan ku?" tanya Adiva bingung dan malah melirik Luna yang ada di belakang punggungnya.
"Kamu, 'kan yang nyenggol meja makan tadi?!" tanya Amber dengan suara keras.
Adiva lantas menggelengkan kepalanya cepat karena benar bukan dia yang menyenggol meja makan tersebut melainkan Luna sendiri, tapi lihat lah sekarang Luna malah menjauh dari tempat kejadian.
"Bukan! Luna tadi yang nyenggol meja," jawab Adiva jujur lalu menunjuk ke arah Luna tempat di dekat meja lain.
"Bukan aku! Sembarangan aja!" ujar Luna sambil menggelengkan kepalanya cepat. "Kalau gak percaya tanya aja sama Wirna pasti dia lihat kalau Adiva yang nyenggol meja tadi," tambah Luna sambil mengedipkan matanya sebelah kepada Wirna.
Wirna yang paham dengan ucapan Luna tersebut langsung menganggukkan kepalanya kecil karena paham dengan kode dari Luna.
"Iya! Aku lihat langsung kalau Adiva yang nyenggol meja tadi," jawab Wirna.
"Kamu tuh, ya? Selalu aja cari gara-gara sama aku!" ujar Amber mendudukkan dirinya di kursi lalu memijat pelipisnya yang sangat terasa pusing tersebut.
"Tapikan... Aku jawab jujur kalau Luna yang nyenggol meja tadi bukan aku," sahut Adiva yang masih membela dirinya sendiri.
"Diva? Seharusnya kamu jujur kalau kamu yang nyenggol meja terus jangan jadikan Luna kambing hitamnya," sahut Wirna sambil tersenyum kecil ke arah gadis tersebut.
Siapa yang menjadikan Luna kambing hitam sih?! Seharusnya aku yang di jadikan mereka kambing hitam bukan Luna, batin Adiva melirik ke arah Luna dengan tatapan tajam.
"Aku baru tau sifat asli kamu kayak gitu, Div! Bahkan kamu tega menjadikan aku kambing hitam kayak gini," ujar Luna menundukkan kepalanya sedih.
Adiva diam lalu memejamkan kedua matanya sebentar, lalu membuka kedua matanya secara perlahan.
"Sialan! Awas aja kalau sampai mereka minta maaf sama aku,"
Dengan perasaan kesal akhirnya Adiva melangkahkan kakinya keluar dari kantin, sehingga seisi kantin tadi yang mendadak hening tiba-tiba langsung heboh melihat Adiva keluar dari kantin.
"Sialan si Adiva! Sekarang seragam sekolah kamu kotor gara-gara dia!"
Amber tak peduli dengan ucapan Wirna, karena dia sibuk menatap dan membersihkan seragam sekolah yang kotor karena tumpahan Mie Ayam.
"Ganti dengan seragam olahraga kamu aja!"
__ADS_1
Amber langsung menoleh ke arah Wirna, karena dia baru ingat kalau di lokernya ada seragam olahraga yang tersisa. Tanpa pikir panjang dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari kantin, lalu menelusuri koridor sekolah yang lumayan banyak siswa-siswi berlalu lalang di sana.
Setelah sampai di depan lokernya, Amber langsung membuka loket tersebut dengan kata sandi. Lalu setelah berhasil terbuka gadis itu langsung menatap isi lokernya yang nampak aneh, hanya ada beberapa buku dan botol air mineral.
"Seragam olahraga ku mana?" gumam Amber.
Plak...
Amber menepuk keningnya pelan, dia baru ingat kalau Wirna mengetahui kata sandi lokernya. Bagaimana pun juga Wirna pasti tau di mana seragam olahraga nya, tidak mungkin kalau seragam olahraga milik Amber tertinggal di rumah nyatanya tadi pagi dia meletakan seragam olahraga nya ke dalam loker.
"Bentar! Kayaknya aku harus nanya sama Wirna dulu deh,"
Amber meraih ponselnya yang ada di saku seragam, dan setelah mendapatkan ponselnya dia langsung mencari nomor Wirna di kontak telpon.
"Wir? Kamu ada ngambil seragam olahraga ku, gak?" tanya Amber menatap dalam lokernya.
"Gak mungkin! Karena pagi tadi aku sudah memasukan seragamnya ke dalam loker," jawab Amber mendengus kesal.
"Aku berani sumpah kalau aku masih ingat!"
Seketika Amber terdiam dan melirik ke arah loker Wirna yang ada di samping lokernya, dia pun menyentuh loker tersebut dan menekan nomor kata sandi yang selalu dia gunakan.
Brak...
Seseorang sengaja menabrak tubuh Amber, di mana pemuda itu langsung menatap Amber dengan tatapan tak suka.
"Ngapain kamu ke lokernya Wirna?" tanyanya dengan suara dingin.
Amber tak sengaja menghirup parfum yang di gunakan oleh pemuda tersebut, parfum itu tercium seperti parfum miliknya. Apa lagi dia selalu menggunakan parfum itu setiap pakaian yang akan dia gunakan, pemuda di depannya ini adalah kekasih Wirna dan mungkin saja Wirna memberikan seragam olahraganya pada pemuda tersebut.
"Seragam ini punya ku! Bagaimana kau menggunakan nya tanpa izin dari ku?!"
Pemuda tersebut mengerutkan keningnya bingung, nyatanya seragam ini milik Wirna. Lalu bagaimana gadis di depannya ini mengakui kalau seragam yang dia gunakan adalah seragam miliknya?
"Nah! Parfumnya aja sama," ujar Amber meraih botol parfum yang ada di dalam loker.
"Itu cuman kebetulan! Siapa tau Wirna pernah meminta parfum mu dan menggunakan nya ke seragam olahraga nya," jawab pemuda itu mendapatkan lirikan tajam dari Amber.
"Wirna punya parfum sendiri! Bahkan dia gak suka kalau minta parfum sama orang lain walaupun dia gak sempat bawa parfumnya," sahut Amber masih menatap pemuda tersebut dengan tatapan tajam.
"Kita buktikan! Siapa yang jujur dan siapa yang berbohong,"
Amber mengangguk setuju dengan ucapan pemuda tersebut dan tak peduli dengan seragam yang dia gunakan ini, beberapa orang menatapnya dengan tatapan bingung. Seharusnya Amber menggantikan pakaiannya dengan yang lain, tapi sekarang dia tidak ada niatan untuk mengganti pakaiannya ke seragam yang lain.
Bersambung...
__ADS_1