
...~Happy Reading~...
Amber mengepalkan tangannya di sisi tubuh, lalu kembali menatap siswi-siswi yang sedang dia tanyai tadi.
"Apa yang terjadi dengan Diva? Kenapa harus Bu Karin yang mengantarnya?" tanya Amber seolah-olah tidak ingin Bu Karin tau kalau Adiva sedang mengandung.
"Tadi siang sehabis makan di kantin Diva langsung berlari ke toilet dan memuntahkan semua isi perutnya ke wastafel karena Bu Karin kasian dengan Diva akhirnya mereka berdua memutuskan untuk ke Rumah Sakit untuk memeriksa penyakit apa yang ada di dalam diri Diva," jelas siswi bernama Putri itu.
"Makasih infonya, ya?"
"Iya. Amber!" jawab keduanya kompak.
Lalu tanpa pikir panjang lagi Amber langsung berlari menelusuri koridor sekolah yang sepi, dia harus sampai ke Rumah Sakit tepat waktu agar Bu Karin tidak mengetahui rahasia keduanya. Saat sampai di luar gedung sekolah, Amber menghentikan langkahnya karena melihat Pak Satpam sedang duduk santai di pos.
"Masa iya aku harus manjat tembok buat ke Rumah Sakit secepatnya?" gumam Amber menatap Pak Satpam itu dengan tatapan tak suka.
Amber menarik kedua sudut bibirnya saat mendapatkan sebuah ide agar bisa keluar dari pekarangan sekolah, dia harus berbohong pada Pak Satpam kalau salah satu guru sedang memanggilnya di Ruang Guru. Dengan langkah pelan gadis itu menghampiri Pak Satpam yang sedang duduk santai di pos, akhirnya gadis itu pun sampai di depan pintu pos.
"Permisi, Pak!"
Pria paruh baya itu tentu saja menoleh ke arah Amber, lalu beranjak dari bangkunya menuju Amber.
"Amber? Kenapa ada di sini? Bukannya sekarang masih jam pelajaran?" tanya Pak Satpam seperti mengenali Amber.
"Itu... Pak! Pak Harto menyuruh saya untuk memanggil Bapak. Katanya Bapak di panggil ke Ruangannya," jelas Amber sambil menaiki kaki kanannya gelisah.
Jujur saja Amber mulai gelisah karena sudah berbohong dengan Pak Wino, si teman dekatnya Papahnya sendiri. Pak Wino adalah teman dekat Papahnya semasa SMA, lalu sekarang mereka masih berteman walaupun jarang sekali berkumpul bersama.
"Oh baiklah!"
Pak Wino langsung keluar dari pos dan mengunci pintunya dari luar, sehingga Amber berjalan tepat di belakang pria tua tersebut sebelum pria itu masuk ke gedung sekolah.
Setelah memastikan Pak Wino tidak menyadari dirinya berada di belakang punggung, Amber langsung berlari keluar dan menuju pagar sekolah. Untung saja kunci pagarnya masih ada di tempat, karena terburu-buru Amber sempat menjatuhkan kunci tersebut sehingga dirinya kembali jongkok untuk meraih kunci tersebut.
Kenapa harus jatuh sih? Takut Pak Wino menyadari kalau aku akan kabur dari sekolah, batin Amber dengan tergesa-gesa keluar dari pekarangan sekolah.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
__ADS_1
Amber berlari menelusuri koridor Rumah Sakit, karena sesuai dengan informasi Putri anak kelas sebelah kalau Adiva ke Rumah Sakit bersama dengan Bu Karin. Jantungnya semakin berdenyut kencang saat tiba bangku tunggu, menjatuhkan dirinya di sana lalu mengatur napasnya terlebih dahulu.
"Tolong! Bantu saya!"
Amber menoleh ke kanan dan melihat kedua orang tuanya sedang mendorong ranjang Rumah Sakit, Amber yakin kalau suara itu adalah suara orang tuanya. Amber menatap mereka dengan tatapan sedih, kenapa mereka terlihat khawatir saat mengantar Devin sementara dirinya mereka langsung membawa Amber pulang ke rumah saat sakit.
Amber ingin mengeluh tapi dia sadar kalau itu bukan waktunya untuk mengeluh, apa lagi adiknya dengan sakit parah.
Bisakah Amber menyerah?
Lalu mata Amber langsung beralih pada ruangan yang terbuka, itu adalah Bu Karin dan Adiva.
"Amber? Kamu tau kalau Diva mengandung?" tanya Bu Karin dengan nada datar.
Amber langsung beranjak dan menundukkan kepalanya takut, dia sudah yakin pasti Adiva akan di keluarkan di sekolahan karena hamil. Amber khawatir kalau orang tua Adiva akan kecewa dengannya karena sudah berani melakukan hal itu, Adiva belum cukup umur dan dirinya belum ada ikatan pada laki-laki tersebut.
"Maaf, Bu!" jawab Amber sambil menundukkan kepala.
Sementara Adiva sudah menangis di belakang punggung wanita paruh baya itu, di dalam ruangan tadi Bu Karin sudah memarahinya dan melontarkan beberapa pertanyaan padanya.
"Ibu akan menceritakan semuanya pada Pak Kepala Sekolah tentang kehamilan mu,"
"Jika aku keluar dari sekolahan! Aku ingin kau tetap di sisi ku," lirih Adiva menatap Amber dengan tatapan berharap.
Entah kenapa Adiva sudah merasa kalau Amber adalah sahabatnya, waktu itu dia tidak menyangka kalau masa ngidamnya gadis itu berada di sisinya. Walaupun dahulu mereka tak sedekat ini tapi tetap saja Adiva menyayangi Amber karena gadis itu mau menemaninya, Adiva tak menyesal sudah mengenal gadis tersebut karena dirinya Adiva tau apa artinya persahabatan yang sebenarnya.
"Tenang saja! Aku akan selalu ada di sisi kamu,"
Keduanya memutuskan untuk mengikuti langkah Bu Karin yang sudah mulai menjauh dari mereka, Amber juga membantu Adiva melangkahkan kakinya takut Adiva akan tersandung benda-benda di lantai.
Bu Karin menghentikan langkahnya saat mereka sudah keluar dari gedung Rumah Sakit, lalu membalikkan tubuhnya menatap keduanya.
"Amber? Kamu bolos pelajaran, ya? Barusan saja Pak Harto menghubungi saya kalau kamu melarikan diri dari sekolahan," ujar Bu Karin sambil menunjukkan ponselnya pada Amber dan Adiva.
Amber menggigit bibir bawahnya karena dirinya ketahuan telah melarikan diri dari sekolahan, apa lagi guru yang dia korbankan adalah guru yang dekat dengannya. Adiva paham kalau Amber rela melarikan diri dari sekolah untuk menghampiri nya yang kebetulan bersama dengan Bu Karin, dia menepuk pundak kiri gadis tersebut lalu tersenyum tipis.
"Makasih! Kamu rela bolos pelajaran demi menghampiri ku di Rumah Sakit," Amber tak menjawab melainkan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
Dia tidak merasa keberatan kalau dia harus mendapatkan hukuman sebab membolos, lalu Bu Karin membuka pintu mobilnya agar mereka langsung masuk ke dalam kecuali Amber karena gadis itu datang ke Rumah Sakit itu menggunakan Taksi.
"Amber? Kamu gak mau masuk?" tanya Bu Karin membuka kaca mobilnya.
Amber menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum manis.
"Tidak, Bu!" jawab Amber singkat. "Saya datang ke sini menggunakan Taksi jadi saya harus pulang ke Sekolah menggunakan kendaraan lain," tambah Amber.
"Kita satu tujuan jadi kamu ikut dengan saya dan Adiva ke Sekolah,"
Amber pun menaiki mobil milik Bu Karin, masalahnya mereka bertiga akan menuju sekolah yang sama.
...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Sepulang sekolah Adiva dari tadi hanya diam di dalam bus sekolah, Amber dari tadi sudah berada di samping gadis itu takut terjadi apa-apa padanya. Amber merasa sedih melihat Adiva yang hanya diam tanpa pergerakan sekali pun, seketika tanpa sadar Adiva mengeluarkan cairan bening dari kelopak matanya.
Benar! Kalau Adiva sedang menangis, dia belum siap kalau kedua orang tuanya tau kalau Adiva sedang mengandung anak Taksa. Adiva berdoa dalam hati kalau Amber berhasil meminta Taksa untuk bertanggung jawab atas kehamilannya, Adiva benar-benar takut kalau Taksa benar-benar tidak bertanggung jawab dan meninggalkan seorang diri.
"Apa sebaiknya Ibu dan Ayah harus tau tentang ini?" tanya Adiva menoleh ke kiri.
"Tentu saja! Ibu dan Ayah mu harus tau dari mu. Mereka akan kecewa kalau mereka mendengar secara langsung dari orang lain," jawab Amber mengangguk setuju dengan pertanyaan Adiva.
Lalu Adiva meletakan kepalanya pada jendela bus, untung saja jendela tersebut tertutup dengan rapat jadi Adiva bisa bersender untuk meredakan rasa sakit pada kepalanya.
"Aku ingin menyerah,"
Amber membulatkan kedua matanya terkejut, apakah gadis itu gila?!
"Wey? Apa kau gila?!" tanya Amber menatap Adiva dengan tatapan tajam.
Sekarang keduanya menjadi pusat perhatian di bus sekolah, karena mwndengar teriakan nyaring dari Amber. Amber sadar kalau semua atensi seluruh penumpang bus menatap dirinya dengan tatapan bingung, lalu Amber meminta maaf dan lanjut menatap Adiva.
"Kita harus membicarakan hal penting ini saat di rumah!"
Amber tak ingin membahas masalah Adiva, karena sekarang keduanya masih di tempat umum bahkan banyak siswa-siswi dari sekolah mereka berdua.
Berapa lama kemudian akhirnya mereka berdua turun dari bus, dengan cepat Amber menarik tangan Adiva untuk meninggalkan halte bus. Jarak rumah Adiva dari halte lumayan dekat, jadi mereka memutuskan untuk berjalan kaki dengan cepat agar sampai rumah.
__ADS_1
Setelah sampai di pekarangan rumah Adiva, Adiva langsung membuka pintunya setelah selesai membuka kunci tersebut. Mendudukkan diri mereka di sofa, Amber memejamkan kedua matanya sebentar sebelum berbicara dengan Adiva.
Bersambung...