Calon Malaikat Kecil

Calon Malaikat Kecil
5. Perasaan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Sebulan kemudian...


Dylan tidak tau, sejak kapan perasaan nya ini muncul. Dylan juga tidak tau, kenapa perasaan ini bisa muncul saat Amber tiba-tiba datang menjadi anak baru di kelasnya. Mungkin Dylan bisa menerima kalau dia benar-benar mencintai Amber, tapi satu yang tidak bisa dia terima yaitu Agama yang sedang mereka anut.


Ternyata begini lah perasaan seseorang jika mencintai seseorang yang berbeda Agama, apa lagi saingan dia itu bukan hanya orang lain. Melainkan saingan terberatnya adalah Tuhan, sungguh Dylan tidak tau dan bagaimana bisa perasaan itu masih tetap muncul dan bertahan selama berminggu-minggu.


Awalnya Dylan kira perasaan nya pada Amber hanya perasaan kagum, karena Amber adalah sosok yang baik hati.


Sekarang Dylan harus memperhatikan Amber yang sedang belajar di kelas, gadis itu sedang belajar bersama dengan Rehan. Karena Rehan lah yang sudah membantu gadis itu selama seminggu ini, bahkan Rehan tak mempermasalahkan nya karena dia juga ikhlas membantu Amber untuk belajar.


"Terus yang sin ini di kalikan sama sin X," ujar Rehan membuat Amber mengerutkan keningnya bingung.


"Loh? Bukannya sin X gak di ketahui, ya?" tanya Amber bingung.


Sementara Rehan hanya tersenyum senang mendengar pertanyaan Amber, ternyata gadis itu sudah paham tanpa di jelaskan lebih detail lagi.


"Iya. Karena Cos X dan sin X tidak di ketahui maka kamu tulis Cos X dan Sin X nya di bawah terus tinggal kamu hasilkan," jawab Rehan.


Soal yang di maksud.



Cos ( X - 45° ) \= Cos X . Cos 45° + Sin X . Sin 45°


                            \= Cos X . 1/2 √2 + Sin X . 1/2 √2


                            \= 1/2 √2 ( Cos X + Sin X )



Amber menghela napas saat soal nomor lima di bukunya itu sudah di kerjakan dengan baik, walaupun dia harus meminta bantuan dengan Rehan. Tapi setidaknya dia tau rumus-rumus soalnya, dan bisa dia gunakan untuk mengerjakan soal-soal yang lain.


"Amber? Kamu sudah selesai?" tanya Adiva dengan senyum manisnya.


Amber tentu menatapnya dengan tatapan malas, selama sebulan ini juga Adiva terus-terusan meminta jawaban darinya. Jadi sudah hal biasa baginya kalau Adiva merengek meminta jawaban dari Amber, walaupun Amber kesal tapi tetap saja Amber akan memberikan jawabannya pada gadis tersebut.


"Sembarangan aja! Mana mau aku," jawab Amber sinis.


"Kata orang, ya? Orang pelit bakalan gak dapat jodoh," sahut Adiva sengaja mengejek Amber.


"Sialan! Nah!"


Dengan perasaan kesal Amber melemparkan buku tebalnya ke arah Adiva, sehingga Adiva dengan cepat mengambil buku tersebut.

__ADS_1


Hanya dalam hitungan hari lagi, mereka akan melaksanakan Ulang Tengah Semester.


Adiva tersenyum senang karena Amber memberikan bukunya pada Adiva, dengan perasaan senang gadis itu mengucapkan kata Terima kasih pada gadis yang lebih pendek darinya itu.


"Terima kasih! Semoga kamu dapat laki-laki yang tulus mencintaimu," ujar Adiva sambil mengedipkan matanya sebelah pada Amber.


Jijik! batin Amber menatap Adiva sinis.


Sementara gadis yang baru saja mengedipkan matanya sebelah pada Amber hanya tertawa kencang, Amber langsung memukul pelan mulut Adiva karena gadis itu tertawa sangat kencang.


Plak...


"Sialan! Mulutmu itu," tegur Amber setelah memukul mulut Adiva.


Adiva tak merespon melainkan langsung duduk, dan menyalin jawaban milik Amber.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Suara bel istirahat sudah berbunyi, membuat seluruh siswa-siswi SMA Tunas Bangsa langsung berhamburan keluar kelas menuju kantin, perpustakaan dan lain-lain.


"Kita ke kantin, yuk?" ajak Adiva pada keduanya.


Oliver langsung mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban, sementara keduanya langsung menatap Amber yang sedang mengeluarkan alat tulisnya dari tas sekolah.


"Kalau aku kayaknya gak bisa! Soalnya mau ke perpus sama Rehan," ujar Amber karena mereka berdua langsung menatap Amber dengan tatapan penuh harap.


"Tapikan hampir setiap hari juga kamu selalu nyalin jawaban ku," jawab Amber terdengar sarkas bagi Adiva.


"Gara-gara kita jarang ke kantin bareng! Jadi tidak ada alasan lain untuk menolak ajakan kami," ujar Oliver mendapatkan anggukan setuju dari Adiva.


Adiva tentu setuju dengan ucapan Oliver, karena gadis bernama Amber Nandria Putri itu jarang sekali ke kantin bersama dengan mereka berdua. Terdengar helaan napas berasal dari mulut Amber, terlihat jelas kalau dia sedang menghela napas pasrah dengan ucapan Oliver.


Amber emang suka ke Perpustakaan, bukan hanya untuk membaca atau belajar dengan Rehan. Terkadang dia bisa tidur di meja paling pojok kalau dia sedang kelelahan, dan itu lah tujuannya ke Perpustakaan Sekolah.


"Baiklah!" jawab Amber meletakan bukunya ke atas meja.


Sebenarnya dia tidak ingin ke kantin, tapi mau gimana lagi keduanya sudah memaksa dirinya untuk ke kantin bersama. Adiva dan Oliver tentu langsung tersenyum senang melihat Amber melangkahkan kakinya keluar dari kelas tanpa membawa buku tebal, sehingga mereka berdua segera menyusul Amber yang sudah di koridor sekolah dengan seorang diri.


"Oliv? Aku dengar-dengar katanya anak sekolah kita bakal tanding sama sekolah sebelah?" tanya Adiva melirik Oliver sekilas.


"Tanding apa dulu nih? Basket atau futsal?" tanya Oliver mengerutkan keningnya bingung.


"Kalau gak salah Basket sih cuman pemainnya Putri semua," jawab Adiva menganggukkan kepalanya kecil.


Dia baru dengar kalau sekolahnya nanti akan tanding Basket dengan sekolah sebelah, di mana kedua sekolah tersebut selalu tanding untuk main-main.

__ADS_1


"Iya. Katanya sih gitu," jawab Oliver menganggukkan kepalanya seolah-olah ucapan Adiva benar.


...°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...


Setelah tiba di kelas, Adiva langsung duduk dan mengeluarkan peralatan sekolahnya dari tas. Bentar lagi bel masukan akan berbunyi, dan pasti semua guru-guru akan masuk ke kelas sesuai jadwal yang sudah di tentukan oleh pihak sekolah.


"Kalian sudah belajar PPKn gak sih?" tanya Adiva pada seisi kelas.


"Tentu saja belum. Aku aja lupa kalau hari ini ada Ulangan Harian PPKn," jawab Cinta mendapatkan anggukan setuju dari William.


Adiva juga ikut-ikutan mengangguk, karena dia juga lupa dengan semua teman-teman di kelasnya ini. Setidaknya ada salah satu dari mereka yang mengingatkan mereka untuk belajar, tapi ternyata seisi kelas sama-sama lupa dengan Ulangan Harian PPKn yang seharusnya di laksanakan habis istirahat pertama ini.


"Semoga kita di kasih waktu untuk belajar, ya?" tanya Adiva dengan tatapan penuh harap.


"Kalau kamu cepat menghapal dan mengingatkan jawabannya," sahut Amber sehingga terdengar menyebalkan bagi Adiva.


Ni anak! Nyaut-nyaut terus, batin Adiva melirik Amber sinis.


Amber sadar kalau Adiva sempat meliriknya dengan lirikan sinis, tapi Amber nampak tak peduli dan sibuk dengan buku pelajaran PPKn.


"Dih? Sok rajin banget belajar sebelum bel masukan bunyi," ujar Adiva sengaja mengibarkan bendera perang di tengah-tengah mereka.


"Apakah wajah saya terlihat peduli? Tentu saja tidak." jawab Amber sengaja dia tekankan setiap kata di dalam kalimat tersebut.


Amber benar-benar tidak peduli dengan Adiva yang mengajaknya untuk berperang, nyatanya dia harus fokus belajar agar dia mendapatkan nilai sempurna di Ulangan Harian.


"Sialan! Lihat nanti," ujar Adiva mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh.


Oliver yang duduk tidak jauh dari mereka hanya menghela napas pasrah, sudah bukan hal aneh kalau kedua temannya itu selalu bertengkar. Bahkan masalah kecil saja mereka akan bertengkar, bagaimana dengan masalah yang cukup besar?


Kring... Kring... Kring...


Suara bel berbunyi, membuat sebagian siswa yang berada di luar langsung berlari masuk ke dalam kelas takut guru yang mengajar hari ini masuk lebih dulu.


"Ulangan nanti nyontek, ya?" tanya salah satu dari mereka.


"Enak aja. Mereka kita belajar mudah apa?" gumam Amber.


Amber menatap kedua pria yang baru masuk itu dengan tatapan malas, dia tau kalau salah satu dari mereka adalah pria yang harus dia awasi.


Taksa tentunya, pria itu sudah beberapa kali berhasil mendekati Adiva bahkan gadis itu juga sama sekali tidak pernah menolak ajakan laki-laki tersebut.


Apakah dia akan percaya dengan ajakan laki-laki itu? Amber hanya takut Adiva menjadi salah satu korban kesekian kalinya.


Tentu Amber sudah tau dari Oliver kalau pria bernama Taksa itu sudah kedapatan menghabiskan waktunya di malam hari bersama dengan gadis-gadis lain, hanya saja Oliver tak memiliki keberanian untuk melaporkan kebusukan Taksa ke guru dan orang tua laki-laki sekali pun.

__ADS_1


Waktu itu pernah salah satu gadis yang menjadi korban Taksa ingin melaporkan tindakannya ke pihak sekolah, tapi Taksa langsung mengambil tindakan seperti mengancam gadis itu untuk tetap tutup mulut.


Bersambung...


__ADS_2